Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Benang Merah


__ADS_3

"Evan ... ?!?" pekik Andika tertahan melihat sepupunya terjaring dalam misi penangkapan pengedar narkoba paling aktif di Ibukota.


Evan mengangkat mukanya, wajahnya yang tirus menampakkan keterkejutannya.


"Pak, Bapak mengenalnya?" tanya seorang polisi.


"Cepat selesaikan urusan disini dan bawa mereka ke kantor," perintah Andika tanpa mau menjawab pertanyaan dari juniornya.


"Dan Tuan Santoso, silahkan ikut kami ke kantor untuk memberi kesaksian," katanya pada lelaki yang masih kebingungan melihat fakta di hadapannya.


"Apa?!? Kenapa aku juga ikut?"


"Anda akan dimintai keterangan sebagai saksi karena klub malam ini milik Anda."


"Sial! Apa mungkin Ray juga dihubungi? Mampus aku!"


.


.


.


# Ruang Satuan Reserse Narkoba #


Suasana ruang Satuan Reserse Narkoba di malam dini hari ramai oleh penangkapan Lucas, Evan dan Renata. Ramai karena Lucas sebagai target penangkapan yang selama ini dibidik kepolisian dan Renata, seorang artis yang kini diperbincangkan netizen karena sikap buruknya yang menganiaya ibu hamil dan membuat pingsan seorang wanita yang terkena serangan panik di toilet wanita. Mereka bertiga diberi kesempatan untuk menghubungi keluarga masing-masing.


Para wartawan media online dan offline sudah menyebar di halaman kantor polisi setempat, setia menunggu kabar terkini apalagi yang tertangkap tangan adalah Renata, di klub malam terbesar di Ibukota yang tidak pernah tersandung skandal obat-obatan terlarang.


Pukul 03.15, CEO Pradipta Corp mendatangi Satuan Reserse Narkoba didampingi asisten setianya, Abyan. Ia kesal sekali dengan berita yang disampaikan oleh Pak Bagas, salah satu petinggi di Kantor Kepolisian Daerah Ibukota yang juga teman sekolah Edwin Pradipta, ayahnya.


Begitu Ray turun dari mobilnya, ia langsung diserbu para wartawan meminta tanggapan. Wajahnya yang masam tidak dapat ia tutupi meski tadi sebelum berangkat Litha sudah berpesan agar ia bisa mengontrol amarahnya sebab istrinya tidak ada disana.


Di dalam Bona sedang dimintai keterangannya sebagai saksi dimana tempat usahanya yang dijadikan tempat transaksi narkoba. Ray menghampiri Bona dengan tangan terkepal, ia hendak melayangkan pukulannya ke sahabatnya itu namun ditahan Abyan.


"Ray, tahan emosimu. Ini di tempat umum, jangan menambah tagline berita semakin heboh," bisik Abyan.


Ray menyadari ini bukan tempatnya, ia harus mengendalikan diri. Bisa dipastikan besok saham semua perusahaan yang dibawah naungan Pradipta Corp. akan turun, jika ia membuat gerakan tambahan, itu akan memperburuk lagi.


"Bon, kau masih berhutang penjelasan besok di ruanganku! Kalau kau tidak datang jangan harap Amore Club masih berdiri," ancam Ray mencengkram kerah kemeja Bona.


"Ba-- baik. Ray. Te-- tenangkan dirimu," jawab Bona terbata-bata.


"Selamat malam Tuan Pradipta. Saya Andika Kusuma, yang bertanggungjawab atas operasi malam ini. Maaf insiden ini membuat Anda tidak nyaman," sapa Andika pada Ray.


Kusuma, Andika Kusuma ...


Bona dan Abyan saling memandang, pikiran mereka sama, nama belakang pria berpangkat Inspektur Satu itu sangat familiar di telinga mereka, ataukah hanya kebetulan saja.


"Ia juga mengenal Evan. Ninda pernah bilang kedua Abangnya polisi, apa mungkin dia salah satunya?" bathin Bona gelisah. Jika benar, maka bukan hanya Ray yang akan ia hadapi tapi juga keluarga besar wanita yang ia cintai.


"Apa aku boleh melihat biang keladinya? Aku ingin tahu muka baji*ngannya."


"Mari ikut saya, Tuan."


Ray beranjak mengikuti Andika ke suatu ruangan, Abyan pun juga mengekori Tuan Mudanya, tapi tangannya di tarik Bona yang tiba-tiba berdiri dan membisikkan sesuatu.


"Pengedar itu Lucas, adik Ramona. Pemakai yang ikut tertangkap adalah Evan dan Renata."


Airmuka Abyan langsung berubah, ia langsung segera mengejar Ray mencegah agar Ray tidak bertindak bodoh, namun terlambat Ray sudah memandang mereka bertiga dengan tajam.


Wajah-wajah yang tidak asing bagi Rayyendra, hatinya bergemuruh begitu cepat. Ada Evan, penuding istrinya sebagai wanita simpanan. Kemudian Renata, penganiaya istrinya di toilet bioskop dan Lucas, sumber penderitaan keluarga istrinya. Mereka bertiga memiliki benang merah dengan Litha.


Abyan sudah cemas, Ray akan mengamuk. Tapi sungguh di luar dugaan, Ray tertawa terbahak-bahak hingga suara tawanya terdengar sampai keluar ruangan.


Abyan dan Andika bingung, kenapa sampai Presdir yang dikenal dingin dan kasar, kini tertawa dengan keras hingga mengeluarkan airmata di sudut matanya.


"Apa sekarang takdir berpihak pada istriku. Hahahahaha .... Ah ya, bisa saja Tuhan bermurah hati pada istriku karena kesabarannya selama ini. Sepertinya aku akan mengadakan syukuran. Terimakasih Pak--" Ray melirik nama polisi itu pada seragam lapangan di bagian dada sebelah kiri, "Pak Andika." Ray mengulurkan tangan ingin berjabat tangan. Andika menurut saja, ia membalas jabatan tangan Presdir Pradipta dengan bingung.


Abyan baru mengerti tawa Ray barusan, bahwa ketiga orang yang tertangkap adalah pembuat masalah pada kehidupan istrinya, dan pada akhirnya Ray tidak perlu mengotori tangannya lagi. Ia hanya akan memberi polesan terakhir, terutama buat adik mantan kekasihnya.


Ray keluar dari ruangan yang membuatnya terkejut. Ia menghampiri Bona dan berkata, "Kau tahu, Bon, mungkin aku orang yang paling senang mereka tertangkap, tapi kau tetap harus mempertanggungjawabkan kinerjamu bagaimana bisa sampai kau kecolongan di klubmu sendiri!"


"Ray, aku--"


"Evaaaan!!!"


Kalimat Bona terhenti kala ia mendengar teriakan dari suara yang sangat ia rindukan. Beberapa hari ini ia seperti kehilangan kontak dengan pacarnya, tidak ada komunikasi sama sekali sejak Ninda memakinya di malam ulang tahun Litha.


"Ninda!" seru Andika kaget melihat adik perempuannya mendatangi kantornya dini hari.

__ADS_1


"Bang Dika? Jadi Abang yang menangkap Evan?" pekik Ninda tidak kalah kagetnya.


Abang ...


Bona mau pingsan rasanya, mendengarnya. Benar, komandan dalam operasi ini adalah kakak pertama kekasihnya, yang kata Ninda sangat protektif pada adik perempuan satu-satunya.


Abyan dan Ray saling berpandangan, kemudian tanpa dikomando mereka melihat Bona yang sudah pucat.


"Iya. Abang tidak tahu kalau Evan pemakai."


"Tidak Bang. Dia bukan pemakai! Abang pasti salah tangkap. Aku jamin dia bukan pemakai."


"Kenapa kau sangat yakin? Kita lihat saja hasil dari tes urin dan rambut nanti. Apa ada narkoba dalam tubuhnya atau tidak. Jelas-jelas dia tertangkap tangan."


"Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya. Aku akan menanyakannya sendiri, Bang."


"Nin, jangan kesana."


Tiba-tiba ada suara memelas yang memohon dengan lirih. Bukan Ninda saja yang berbalik meilhatnya, semua yang ada di ruangan itu juga melihatnya.


"Kau ... !"


Ada banyak emosi yang tertahan pada satu kata yang dilontarkan Ninda. Marah, kesal, kecewa dan sedih bercampur jadi satu. Andika heran, dari interaksi adiknya dan pemilik klub malam ini mengatakan, bahwa mereka kenal cukup dekat.


Ray bisa memahami polemik antara Bona, Ninda dan Andika, dengan entengnya ia berkata, "Nin, dengarkan dia. Jangan kesana, kau akan bertemu dengan Re--"


"Bang, mana ruangannya?" tanya Ninda ke Andika, ia langsung berjalan, tidak mendengar sama sekali Ray bicara. Semua takjub Ninda bisa bersikap acuh tak acuh dengan Presdir Pradipta Corp.


"Sial! Dia berani bersikap seperti itu denganku. Kalau saja dia bukan sahabat baik istriku dan pacarmu, Bon, sudah kucekik dia," umpat Ray jengkel karena diam-diam ia melihat senyum yang tertahan di bibir Abyan.


"Ray, tolong cegah dia bertemu Renata. Dia bisa kena serangan panik lagi. Tolong Ray, aku tidak bisa kemana-mana karena masih dimintai keterangan," mohon Bona.


Ray diam saja, Bona memohon sekali lagi sampai petugas yang di hadapannya memintanya tenang dan melanjutkan kembali keterangannya.


"Ray, sebaiknya kita kesana. Abangnya tidak tahu Ninda bisa pingsan karena serangan panik dan kalau istrimu tahu kau tidak melakukannya, ia akan marah padamu." bisik Abyan.


"Ck. Menyusahkan saja."


Meski kesal Ray berjalan kembali ke ruangan yang sebelumnya ia kunjungi.


Disaat yang bersamaan saat Bona memohon, Andika melangkahkan kakinya dengan sejuta pertanyaan di benaknya. Kenapa adiknya begitu yakin Evan bukan pemakai? Kenapa justru Evan menghubungi Ninda sebagai pihak keluarga alih-alih ayahnya sendiri? Kenapa adiknya yang ia kenal lugu dan tidak pandai bergaul bisa mengenal pemilik klub hiburan malan terbesar di Ibukota dan Presdir Pradipta Corp.? Dan tadi ia mendengar kata Pacar, siapa pacar siapa?


Andika menarik lengan Ninda sebelum ia masuk ke dalam ruangan.


"Jelaskan apa?"


"Abang rasa kau menyimpan banyak cerita."


"Tidak. tidak ada."


"Jangan bohong, Ninda. Abang tahu yang mana bohong dan mana yang tidak."


"Nantilah Bang, Aku mau melihat Evan dulu," ujar Ninda membuka pintu ruangan.


Gadis bertubuh mungil itu terhenyak melihat ada Renata juga disitu. Tangannya tiba-tiba berkeringat begitu juga kening dan lehernya, namun Andika tidak menyadarinya. Renata tersenyum, ia tahu Ninda akan merasa terintimidasi meski hanya sekilas melihatnya.


"Ternyata kau yang dihubungi Evan. Semenyedihkan itu kah dirinya hingga tidak berani menghubungi orangtuanya. Hahahaha ..."


"Hah! Apa-apaan ini! Ninda mengenal artis ini? Ninda bagaimana sebenarnya pergaulanmu?" Andika masih saja bertanya di benaknya.


Ninda tidak menjawab, jantungnya berdetak sangat cepat hingga nafasnya menjadi pendek. Bulir-bulir keringat yang besar sudah bertengger di keningnya. Penglihatannya juga mulai mengabur.


"Kenapa kau diam? Aku yakin kau ingin bertanya pada sepupu bodohmu ini apa dia menjadi pecandu kembali? Jawabannya YA, karena dia tidak bisa bersaing dengan Tuan Muda mendapatkan gadis pecundang itu, sama pecundangnya dengan dirimu, hahahaha...."


Renata tertawa, ia sengaja terus memprovokasi Ninda yang semakin sesak nafasnya. Lucas yang berada di sampingnya ikut terbahak, ia melihat gadis itu sudah di ujung kesadaran.


"Menjadi pecandu kembali? Bersaing dengan Tuan Muda? Aku benar-benar seperti orang paling bodoh disini yang tidak mengetahui apa-apa. Ninda apa yang sebenarnya terjadi? apa yang kau sembunyikan?"


"Kau bilang istriku pecundang, ha!!!"


Suara keras Ray menggelegar marah istrinya disebut pecundang. Matanya menyalang marah, saat ia ingin bertindak pada wanita ular itu, tiba-tiba ...


Brukkkhhh ...


Tubuh Ninda lunglai ke lantai, dengan sigap Andika menangkap tubuh adiknya. Ditepuk-tepuk pipi adiknya tapi Ninda tidak juga merespon.


"Nin ... Ninda! Ren, apa yang kau lakukan pada Ninda?" Evan panik tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuding mantan pacarnya.


"Apa? Aku tidak melakukan apapun. Dia saja yang lemah jantung kalau bertemu denganku," jawab Renata santai menaham tawa, Lucas tersenyum mendengar jawaban Renata.

__ADS_1


"Bawa Ninda ke rumah sakit, ia harus segera di beri penanganan karena detak jantungnya sangat cepat. Wanita itu pernah membuat Ninda pingsan di toilet. Yan, kau saja yang bawa Ninda ke rumah sakit sekarang," perintah Ray setelah mengecek nadi di pergelangan tangan sahabat istrinya itu.


"A-- Apa?!?"


Andika dan Evan terperanjat kaget mendengar apa yang dikatakan Ray.


"Ja-- jadi berita Renata yang membuat pingsan seorang gadis di toilet bioskop adalah Ninda? Jangan-jangan ibu hamil itu Litha?" tunjuk Evan ke mukanya Renata.


Andika mengernyitkan dahinya mencoba berusaha mencerna semua benang merah yang kusut di kepalanya. Abyan segera mengangkat tubuh Ninda, "Pak Andika, aku akan membawanya ke Rumah Sakit. Aku akan mengabari Anda setelah Ninda ditangani."


"Terimakasih, Asisten Yan. Segera hubungi aku begitu Ninda sudah tertangani," ujar Andika dengan anggukan kepalanya.


"Hei! Aku tidak membuatnya pingsan. Dia yang tiba-tiba pingsan. Aku tidak melakukan apapun," sanggah Renata mengibaskan rambutnya.


"Memang kau tidak melakukan dengan tanganmu tapi dengan mulut berbisamu. Apa kau belum jera dengan karirmu yang hancur, hah?!?" Ray menatap tajam Renata yang langsung mengunci mulutnya, ia tidak punya nyali untuk menghadapi Tuan Muda Pradipta.


"Heh, Apa hobimu menghancurkan kehidupan seseorang, Tuan Muda Yang Terhormat?" sindir Lucas dengan senyum sinisnya diantara nyeri di betis kirinya yang terbalut perban.


Ray memicingkan matanya, menelisik perkataan Lucas.


"Apa kau tidak merasa berdosa menghancurkan kehidupan Kakakku hingga sekarang ia seperti tidak bernyawa?!?"


Ray masih diam, namun rahang bawahnya sudah mengetat, menahan emosinya. Andika, Evan dan Renata apalagi Andika tidak paham mengapa Si Pengedar seperti memiliki hubungan dengan Presdir Pradipta Corp.


"Istrimu tidak lebih dari perebut laki orang alias pe-la-kor. Apalagi yang ia inginkan selain harta kekayaan Keluarga Pradipta. Kuakui dia sangat pintar, mengambil hati nenek tua yang kesepian hingga akhir--"


Bugh.


Kepalan tangan Ray yang sudah mengencang sejak Lucas bersuara membungkam mulut besar Lucas hingga ia tersungkur dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Ia maju selangkah ingin menginjak lelaki tidak tahu malu itu. Renata berteriak histeris melihat kemarahan Ray.


"Tuan Muda, ini kantor polisi. Anda tidak bisa main hakim sendiri disini," kata Andika pelan yang disambut dengan tawa mengejek Lucas.


Ray menatap tajam Lucas beberapa saat hingga ia berhenti tertawa, Lucas tidak bisa menghindar dari kejaran tatapan mata tegas Rayyendra yang menjadi ciri khasnya.


"Silahkan kau tertawa sekarang, Lucas. Tuhan maha baik, mengantarkanmu pada tempat sejatimu. Kupastikan kau akan lama di dalam situ. Kau kira kau bisa menghapus tragedi yang menghancurkan hidup satu keluarga?"


Deg.


Lucas terdiam. Seketika memorinya kembali ke malam 5 tahun yang lalu saat ia menodai cinta yang ia punya hingga jatuh di kedalaman penyesalannya.


"Apa maksudnya? Keluarga Tisha kah yang dimaksud? Tapi apa hubungannya dengan Rayyendra?"


Ray masih menghujam Lucas dengan matanya, hingga akhirnya Andika menghentikan tatapan tajam Ray, "Tuan, ada yang ingin saya tanyakan. Bisa kita bicara sebentar?"


Ray tidak menjawab dengan kata, ia hanya melangkah keluar meninggalkan tiga anak manusia itu dengan pikiran mereka masing-masing.


"Maaf Tuan Pradipta, saya merasa seperti ini semua berkaitan dengan Anda dan Ninda, adik saya," ujar Andika menyesap kopi instant yang ia buat sendiri, Ray menolak ketika ditawari, ia tidak biasa makan makanan dan minum minuman yang dibuat instant.


"Ah, ternyata Ninda adik Anda, Pak--" Ray melupakan nama lawan bicaranya.


"Panggil saja Andika, sepertinya kita seumuran."


"Hem."


"Bagaimana Anda bisa mengenal Ninda?"


"Ninda satu-satunya sahabat istriku."


"Ah, ternyata dari Litha ya?"


"Kau mengenalnya?"


"Tentu saja. Hanya padanya kami mempercayakan Ninda untuk ngekost. Sejak mereka berkuliah dari tingkat pertama, kami sudah mengenal Litha. Ternyata Anda yang menikahinya di Kota A, kami baru tahu setelah pidato penutup wisuda kemarin."


Entah kenapa Ray sedikit terganggu dengan cerita Andika tentang istrinya.


"Kedua orang tua kami sangat menyukai Litha sampai menginginkan Litha kelak menjadi salah satu menantunya, sayangnya Ninda selalu tidak mau ikut campur untuk urusan asmara Litha. Anda beruntung memperistrinya karena pada akhirnya Anda lah pemenangnya." Andika menyesap kopinya lagi, matanya menatap langit yang tengah beranjak menuju pagi.


"Cih. Kenapa jadi membahas istriku. Kenapa kau bicara seakan-akan kau juga menyimpan perasaan, sama seperti Si Evan itu. Ah, rasanya malas sekali berhubungan dengan keluarga Ninda. Mereka semua menyebalkan! Kenapa juga sahabatmu hanya Ninda seorang Lith, bagaimana bisa aku melarangmu untuk tidak berhubungan lagi dengan Ninda."


"Ninda punya gangguan anxiety, selama ini istriku yang membantu memulihkannya, namun semua pemulihannya kembali dari awal karena dia bertemu dengan trigger terbesarnya. Litha memberitahuku bahwa Renata, mantan pacar Evan kerap membully Ninda semasa SMA. Tanyalah pada sepupu kalian untuk lebih jelasnya."


Andika terhenyak mendengar fakta Ninda yang keluarganya tidak pernah tahu, apalagi ia memiliki anxiety.


"Istriku dan adikmu yang menjadi korban pada berita insiden Renata di toilet wanita di bioskop," sambung Ray lagi.


Sekonyong-konyong mata Rayyendra bertemu dengan mata Ramona yang baru saja datang bersama dengan kedua orangtuanya.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2