
# Ruang Sidang Pengadilan #
Suasana ramai di ruang sidang pengadilan negeri setempat sebab hari ini pembacaan vonis untuk terdakwa kasus narkoba yang ditangkap beberapa bulan lalu di Amore Club&Party. Ketiga terdakwa cukup menyita perhatian publik, yakni Renata Swastika, artis yang sedang naik daun, Evan Dellano Kusuma, putra tunggal pemilik waralaba kafe yang tengah viral di media sosial. Sedangkan Lucas Riguna, tidak akan begitu tersorot apabila tidak berurusan dengan Keluarga Pradipta terkait dibukanya kembali kasus pidana lima tahun lalu.
Untuk pertama kali setelah melahirkan, Nyonya Pradipta keluar rumah karena ingin mendengar langsung vonis hakim terhadap mereka, Zean sementara dititipkan pada Lidya dengan stok ASIP (Air Susu Ibu Perah). Litha didampingi Ray, Abyan dan Vania, juga ada Keluarga Kusuma dan Bona ikut bersama para wartawan untuk mendengarkannya.
Tok. Tok. Tok.
Palu hakim sudah diketuk, tanda putusan telah dijatuhkan. Renata dengan hukuman 6 tahun penjara, selain sebagai pemakai ia juga mengajak orang lain untuk ikut memakai. Evan dengan hukuman 2 tahun 8 bulan sekaligus penangguhan guna rehabilitasi dan Lucas dikenakan kurungan penjara seumur hidup -terdakwa dengan hukuman paling berat- karena selain sebagai pengedar paling aktif beberapa bulan terakhir, dia juga terbukti bersalah atas kasus pidana asusila lima tahun silam. Bahkan dalam penyidikan lebih lanjut, Lucas Riguna juga terlibat dalam pembunuhan berencana dengan modus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban meninggal -ayah korban tindak pidana asusila- agar tidak ada laporan lanjutan.
Airmata Litha jatuh, tapi sulit untuk menggambarkan perasaan hatinya. Sedangkan Vania hanya tersenyum sinis menembak tajam ke arah Lucas, ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan orang yang paling bertanggungjawab atas kehancuran keluarganya.
"Kau baik-baik saja?" bisik Ray memeluk Litha, istrinya mengangguk pelan, "Semoga hukuman ini adil, Mas. Jadi Ayah dan Ibu bisa tenang." Ray hanya bisa menguatkan dengan memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya.
Perhatian Keluarga Kusuma dan Bona tertuju pada Evan yang selalu menunduk. Lelaki itu menyesal dan sangat malu telah mencoreng nama keluarga besarnya yang selama ini selalu terjaga dari generasi sebelumnya, lebih-lebih pada Ninda sampai ia tidak berani beradu pandang.
Ketika terdakwa akan dibawa kembali ke sel, Vania dengan cepat melangkah maju, ingin dekat melihat seperti apa rupa lelaki bang*sat bernama Lucas Riguna itu.
"BAJI*NGAN KAU LUCAS!!! MEMBUSUKLAH DI PENJARA!!!" teriak Vania lantang di depan si punya nama, sengaja memprovokasi. Lucas tidak menghiraukan, mata dan tubuhnya terpaku pada sosok yang berdiri di pintu masuk ruang sidang.
"Tisha ..." gumam Lucas pelan.
Vania langsung berbalik setelah nama kakak sulungnya disebut, "Kak Tisha!"
Pekikan gadis itu spontan membuat Litha, Ray dan Abyan berbalik, benar saja ... Tisha ditemani dr. Siska sedang menatap nanar ke arah lelaki yang menorehkan luka di hati dan tubuhnya.
Litha dan Vania ingin berlari ke arah Tisha, namun dihentikan masing-masing oleh Ray dan Abyan karena dr. Siska mengode dengan gerakan kepala agar membiarkan Tisha melakukan apa yang ingin dilakukannya, ia ingin menghadapi trauma dan masa lalunya. Gadis itu telah dinyatakan sembuh secara medis, namun dengan inisiatif sendiri, ia berniat untuk mencoba berani melangkah melewati masa kelamnya, yakni dengan menghadapi Lucas langsung.
"Kak Tisha ...," sebut Litha dan Vania pelan ketika Tisha melewati kedua adiknya dengan tersenyum pada mereka.
Abyan segera menghampiri petugas yang mendampingi para terdakwa, menyampaikan agar diberi sedikit waktu pada Tisha untuk bertemu muka dengan terdakwa yang masa hukumannya paling berat.
"Bagaimana kabarmu, Lucas?" Tisha bertanya menatap mata lelaki itu dengan keberanian penuh, keberanian menghadapi luka masa lalunya.
Lucas terhenyak, lidahnya kelu tidak sanggup berucap, suaranya pun terkungkung di dalam diafragma. Namun, hatinya sangatlah perih -seperti dilukai sebuah belati lalu ditaburi garam- apalagi ia melihat senyum yang selama ini selalu membayangi di tiap malam hingga akhirnya ia memilih tanaman Cannabis Sativa atau lebih dikenal ganja sebagai narkoba pertamanya. Ia gunakan untuk menghilangkan insomnia akut karena didera rasa bersalah yang sangat menyiksa.
Mata lelaki itu memancarkan penyesalan luar biasa terhadap wanita yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya. Tiba-tiba Lucas berlutut di hadapan Tisha tanpa berbicara sepatah kata pun, ia tidak bisa menemukan kata yang mewakili penyesalan dan rasa bersalahnya saat ini selain hanya menangis.
Tisha tersenyum pahit mengingat akibat perbuatan lelaki yang pernah ia cintai sepenuh hati sekaligus ia benci sampai dasar hati paling dalam.
"Aku sudah berdamai dengan diriku dan masa laluku. Aku memaafkanmu, Lucas ... Aku tidak lagi memiliki perasaan apapun padamu sekarang. Kau seperti orang lain yang tidak ada artinya buatku. Habiskanlah penyesalan dan rasa bersalahmu yang tidak berguna itu seumur hidup di dalam penjara. Itu bukan hukuman dariku, tapi Tuhan ingin menunjukkan kuasa-Nya."
"Ti-- Tisha--"
Tenggorokan Lucas tercekat, air matanya berderai. Gadis itu memberikan senyumnya untuk terakhir kali sebelum ia berbalik, tidak menghiraukan panggilan yang ditujukan padanya, tetap berjalan mendekati kedua adiknya yang lama ia tidak temui, meraih kerinduan yang terpendam selama lima tahun.
Abyan mengode petugas bahwa waktu yang ia minta telah selesai. Lucas tidak mau beranjak dari tempatnya berlutut sampai para petugas harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membawanya ke mobil tahanan dengan gerakan meronta dan teriakan pilu memanggil-manggil nama Tisha.
"Kak Tisha ..." lirih Litha berlinang airmata, ia langsung memeluk tubuh kurus saudara perempuannya disusul Vania yang ikut memeluk mereka.
Pemandangan penuh haru meliputi ketiganya, saling melepas kerinduan dengan pelukan dan isakan. Dua orang lelaki bertubuh tegap melindungi mereka dari bidikan kamera wartawan yang memenuhi ruang sidang. Terlihat seorang pemuda yang penasaran dengan gadis pernah sengaja menabraknya di rumah sakit, tapi ia tidak yakin dengan penglihatannya.
...***...
# Kota A #
SMA Nusa Bangsa 2 tengah melangsungkan seremonial kelulusan siswi kelas 3. Rayyendra turut hadir sebagai tamu undangan kehormatan sebagai donatur terbesar dan pemilik yayasan beasiswa yang bekerjasama dengan sekolah, sedangkan undangan wali murid untuk Vania di isi oleh Litha dan Tisha.
"VANIA KIRANA LARASATI, SISWI DENGAN NILAI TERBAIK."
Melihat Vania naik ke atas panggung dengan penuh percaya diri membuat Litha dan Tisha saling menggenggam erat tangan mereka.
"Kau berhasil, Tha."
Airmata Litha keluar di sudut matanya, betapa bahagianya ia hari ini. Selama ini ia hanya berharap adiknya dapat lulus dengan nilai yang baik, tetapi gadis itu malah memberikannya nilai terbaik, siapa yang tidak bangga? Bahkan lelaki di luar aula yang mendengar nama Vania disebut dan melihatnya menerima penghargaan melalui TV juga ikut merasa bangga.
"Diluar mulutnya yang sangat berisik itu, aku akui dia hebat, bisa membuktikan siapa dirinya," gumam Abyan.
Setelah menerima penghargaan, Vania mengangkatnya tinggi ke atas, ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia berhasil menaklukan sekolah ini, tentu saja meski tidak bisa dipungkiri ada kekuatan besar yang mendukungnya dari belakang.
__ADS_1
"Tuan, kami bangga memiliki Vania sebagai siswi sekolah kami. Masa depannya sudah dipastikan cemerlang," kata Kepala Sekolah yang ditanggapi senyum sinis Ray, ia tahu persis bagaimana kisah suram adik iparnya sampai Litha meletakkan harga dirinya di kaki kepala sekolah.
"Bukankah roda selalu berputar, Ibu Kepala Sekolah? Vania yang dulunya dianggap sebagai kotoran dan harus dibuang kini diletakkan di piring emas, hahahahaha ..."
Kepala Sekolah itu memucat dan tidak lagi bersuara untuk menjilat Tuan Muda Pradipta, bagaimanapun ia tidak bisa menyinggungnya jika tidak ingin donasi pribadi Tuan Pradipta dan kerjasama yayasan beasiswa Asa Pradipta Foundation di batalkan.
.
.
.
"Kakak, terimakasih ... Aku bahagia sekali hari ini. Padahal aku mengira aku akan melalui hari kelulusanku sendirian, tapi ternyata semua kakak-kakakku hadir," kata Vania senang ketika mereka berkumpul makan siang di salah satu saung Rumah Makan Gubuk Ikan, tempat favorit me time mereka bersama Aryasena dulu.
"Kau pantas mendapatkannya, Nia. Kau sudah berusaha keras," sahut Litha mengusap pipi adiknya.
"Kau hebat sekali, Ayah dan Ibu pasti bangga padamu," ujar Tisha menggenggam tangan Vania, "Tapi kemana Bibi dan Paman? Kenapa mereka tiba-tiba menghilang? Apa ada yang kulewatkan?" tanyanya lagi.
Vania melirik ke arah Ray, canggung.
"Tidak tahu juga, Kak. Terakhir aku bertemu ketika mereka datang ke Ibukota untuk wisuda dan ulangtahunku, lalu mereka bagai hilang ditelan bumi. Tidak ada komunikasi setelahnya, iya kan Nia? Apa mereka pernah menghubungimu?" tanya Litha ke adiknya.
"Eng ... tidak-- tidak pernah," jawab Vania gelagapan, matanya meminta jawaban ke kakak iparnya.
"Entah apa yang mereka lakukan dan dimana, yang jelas mereka baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Bibi pernah menghubungiku dengan nomor lain, dia menanyakan kabar saat mendengar berita penusukanmu. Bibi mengatakan akan mencari waktu untuk menemui kita." Akhirnya Ray membuka suara.
"Kenapa Mas baru memberitahukannya sekarang? Apa Bibi berganti nomor telepon?"
"Aku tidak ingin membuatmu berpikir terlalu jauh. Nomor yang Bibi pakai saat meneleponku sekarang sudah tidak aktif lagi."
Litha mengerutkan kening, aneh dan sepertinya ada yang disembunyikan darinya, tapi apapun itu ia tidak ingin merusak suasana bahagia hari ini dengan segala kemungkinan yang ada dalam kepalanya.
"Setelah makan siang, kita akan ziarah ke makam mendiang Ayah dan Ibu Nyonya, lalu kita akan segera pulang ke Ibukota," sela Abyan menerangkan jadwal mereka di Kota A hari ini.
"Ah ya, tapi tunggu aku selesai memompa ASI dulu," ujar Litha.
"Apa boleh aku melakukannya sekarang, Mas?"
Ray mengangguk, "Tentu saja, kau pasti menahan nyeri dari tadi. Kau tidak usah khawatir, aku akan makan duluan dengan Nia dan Abyan."
.
.
.
Di ruang laktasi, dengan telaten Tisha membantu Litha memompa ASI yang meringis kesakitan.
"Bengkak sekali Tha, kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Aku tidak nyaman kalau memompa di sekolahnya Nia, sengaja aku menunggu sampai tiba di sini,"
Tisha tersenyum pahit, "Pasti tidak mudah tiap kali kau menginjakkan kakimu di sana. Nia sudah cerita padaku kejadian itu."
"Ahh ... anak itu bocor sekali embernya. Apa dia tidak bisa menyimpan sedikit saja rahasiaku yang memalukan?"
"Maafkan aku Litha ... Karena aku, kau sendirian mengurus Nia dan Ibu, bahkan juga diriku yang tidak waras, padahal saat itu keadaanmu pasti tidak baik-baik saja," kata Tisha tertunduk sedih.
"Kak, sudahlah. Tidak usah mengingat yang lalu, semua sudah terlewati, bagian jahatnya juga sudah mendapatkan hukuman. Kita hanya perlu bahagia ke depannya."
Tisha tersenyum sembari mengusap tangan adiknya, "Hatimu sungguh lapang, Dek. Tidak heran Tuhan memberi hadiah jodoh terbaik buatmu. Semoga kalian selalu bahagia."
"Mulai sekarang, Kak Tisha harus menata hidup kembali dan temukan jodoh yang baik sepertiku, yang bisa menerima Kak Tisha apa adanya."
"Hahahaha ... Kau ini, baru saja aku waras kau ingin aku gila lagi apa?"
"Bukan begitu. Justru aku ingin Kakak bahagia dengan menemukan pasangan yang bisa menemani sampai tua. Kak Tisha tidak perlu khawatir, Mas Rayyendra punya banyak koneksi, mungkin salah satu dari mereka ada yang cocok."
"Tidak semudah itu, Litha," sahutnya membantu melepas pompa elektrik dari payu*dara Litha yang sudah tidak bengkak, memindahkan ke payu*dara satunya.
__ADS_1
"Tidak mudah bukan berarti tidak ada, kan?"
"Ya, tapi tetap saja tidak mudah. Kau kira suatu hubungan itu hanya terdiri dari dua orang saja?"
"Aku dan Mas Rayyendra hanya berdua saja."
"Hahahaha ... Bodoh! Itu hanya berlaku untuk kau dan suamimu saja karena kalian sama-sama yatim piatu dan tidak ada keluarga lainnya. Kalaupun ada mereka pasti menerimamu dengan baik, beda halnya denganku. Mungkin seseorang bisa menerima masa laluku, tapi belum tentu dengan orangtua dan keluarganya."
Litha baru menyadari kalau ia dan suaminya hanya berdua saja, masih untung ia punya dua saudari sedangkan suaminya benar-benar sebatang kara, artinya Baby Zean adalah keturunan satu-satunya Keluarga Pradipta.
"Pantas saja, Mas Rayyendra pernah memintaku untuk memberinya banyak anak, tapi begitu melihatku melahirkan dia menyerahkan keputusan itu padaku," gumam Litha sembari menyudahi kegiatan memompa.
"Hehehehe ... tugas negaramu sungguh berat, Tha. Kau bertanggungjawab atas kelangsungan generasi Pradipta," kekeh Tisha memasukkan botol-botol ASIP yang telah penuh isinya ke dalam cool bag.
"Ya, sangat berat dan melelahkan, Kak." Litha dan kakaknya sama-sama terkekeh meninggalkan ruang laktasi menuju saung tempat mereka makan siang.
"Tha, apa Nia punya masalah dengan Asisten Yan? Mereka nampak tidak akur dan kalau kusebut nama Asisten Yan, wajah Nia sedikit tidak senang."
"Hahahaha ... Iya Kak, mereka berdua selalu ribut, yang satunya suka menyindir, satunya lagi tidak mau kalah."
"Biasanya orang-orang yang seperti itu jika berjauhan akan saling merindukan."
"Suatu kejaiban kalau mereka saling merindukan, Kak. Yang jelas kalau mereka sedang dalam pertempuran, sebisa mungkin kita tidak terlibat, biarkan mereka berdua mengakhirinya sendiri," ujar Litha mewanti-wanti. Tisha tergelak keras, ia tahu persis bagaimana adik bungsunya itu kalau berdebat, yang bisa membuatnya diam hanya tatapan tajam ibunya.
.
.
.
Tiga saudari itu terperangah mendapati tempat pemakaman umum dimana orangtuanya dikuburkan. Dulu hanya ada pohon randu di tengah-tengah makam, sekarang selain dipagari dan ditata rapi juga dibuat taman yang indah.
"Sejak kapan makam di kampung ini jadi bagus?" tanya Vania heran.
"Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda."
"Benar itu, Mas?"
Ray hanya tersenyum mendengar nada suara istrinya yang terkejut senang.
"100 juta untuk pemugaran kompleks makam ini dan setiap bulan ada dua orang dari warga setempat yang bertanggungjawab akan kebersihannya, tentu saja membuat makam disini terawat."
Litha menoleh ke arah Ray tidak percaya dengan perhatian sang suami pada keluarganya, "Hanya itu yang bisa kulakukan untuk ayah ibu mertuaku."
"Terimakasih, Mas, sudah mencintaiku satu paket, bukan hanya memperhatikan diriku, tapi juga saudari dan mendiang kedua orangtuaku," kata Litha memeluk suaminya. Ia menyesap dalam aroma minyak telon di tubuh Ray, mengingatkan pada bayi mungil yang dititipkannya hari ini pada Bibi Lidya.
"Ayah, Ibu, seperti yang kalian lihat ... kami baik-baik saja tanpa Ayah dan Ibu. Aku minta maaf telah menyusahkan kalian dan kedua adikku. Sikapku yang lemah membuatku tidak sekuat mereka, harusnya aku yang menjaga mereka, tapi ini malah sebaliknya-- Aku berjanji ... mulai sekarang aku yang menjaga mereka." Tisha bersimpuh dan menangis di tengah pusara Aryasena dan Asmarini yang dikubur berdampingan, ini pertama kalinya ia kesini.
"Kak Tisha, jangan begitu. Kita akan saling menjaga," ujar Litha
"Tidak perlu khawatir, ada aku, menantu terbaik Ayah dan Ibu. Mereka akan hidup di bawah tanggungjawabku sampai mereka menemukan jodoh yang baik dan menyayangi mereka seperti aku menyayangimu," kata Ray masih memeluk istrinya
"Janji di depan makam adalah janji yang harus ditepati, kalau tidak hidupnya akan penuh kesialan."
"Cih, kalimat itu milikku."
"Milikmu adalah juga milikku." Litha mendongakkan wajahnya ke muka Ray, menatap mesra hingga dihadiahi sebuah kecupan di bibirnya.
"Haiiisshhh ... Konon katanya bermesraan di kuburan akan ditempeli sampai ke rumah. Ingat ada ponakanku! Bisa kena sawan dia," kata Vania gerah melihat kebucinan yang tidak tahu tempat.
"Maksudnya?"
"Tidak usah dipikirkan. Mereka semua jomblo makanya tidak bisa mengerti. Kalau mereka sudah menemukan pasangan, toh juga sama dengan kita. Kalaupun nanti ada yang nempel, palingan gak kuat pegangan di ekor pesawat," sanggah Litha sebal.
Ray mengeratkan pelukan saking gemasnya mendengar Litha menggerutu, "Ya, mereka membuat banyak alasan hanya karena iri tidak bisa seperti kita."
Litha malah semakin menelusupkan kepala ke dalam dada bidang milik suaminya. Tidak peduli jika mereka ditempeli setan kuburan atau semacamnya, karena orang yang sirik lebih menakutkan dari setan kuburan.
...***...
__ADS_1