
"Kok udah pulang, Tha?" tanya Ninda melihat Litha pulang lebih awal.
"Iya, hari ini aku ijin gak ke rumah nenek. Kelamaan aku jalannya sama Kak Firza."
"Kemana emangnya?"
"Nengokin Kak Tisha."
"Apa?!?"
Ninda tahu, keadaan kakak perempuannya adalah hal yang ia paling tidak ingin orang lain ketahui. Tapi, kalau ia sudah membawa Firza menemui kakaknya, itu artinya....
"Aku terpaksa, Nin. Aku gak punya alasan untuk menolaknya," sahut Litha.
"Menolaknya? Ma-- maksudmu menolak apa?"
"Dia menyukaiku."
Meski bukan dia yang mengalami, tapi jantung Ninda serasa berhenti berdetak, kakinya lemas tak bertulang. Ia terduduk di atas tempat tidurnya, melongo tidak percaya.
"Akhirnya...." ucap Ninda menatap Litha.
"Akhirnya apa?"
"Ya akhirnya dia menyatakannya padamu, Tha. Apa kamu tidak merasa selama ini perhatiannya ke kamu itu berbeda?"
"Aku tahu kok. Meski aku tidak pernah pacaran, aku bisa merasakan kalau ada laki-laki yang menyukaiku. Bukankah insting wanita itu tajam?"
"Lantas?"
"Makanya selama ini aku berusaha menghindari Kak Firza sebisa mungkin, membalas chatnya atau menerima panggilan teleponnya dengan biasa saja. Bahkan tadi ketika aku diajak makan di Grey Savanna, kucari alasan. Aku tahu dia mencari tempat dan momen untuk menyatakan perasaannya," jelas Litha.
"Terus kalau kamu menolaknya, kenapa kamu bawa menemui Kakakmu, bukannya kau tidak suka kalau ada yang tahu tentangnya?"
"Dia bilang akan menungguku, aku tak bisa memberi kepastian padanya. Jadi aku hanya berpikir kalau menceritakan yang sebenarnya bukan hal buruk."
"Kamu juga menyukainya, Tha?" Ninda bertanya pelan dan hati-hati.
"Hhhhhhhh.... aku tidak tahu, Nin. Kak Firza sangat baik padaku. Aku tidak bisa menerjemahkan perasaanku padanya, yang jelas aku tidak ingin membuatnya kecewa, karena kita tidak tahu apa yang akan kita temui di depan nanti."
"Tha, kapan lagi ada seorang Firza Pradipta menyukaimu? Kenapa tidak kau coba dulu menjalin hubungan dengannya. Kan, tadi kau bilang dia sangat baik dan setidaknya saat ini ada hal yang membuat dirimu bahagia."
Ninda memandang sahabatnya, Ninda tahu, Litha terlalu hati-hati melangkah dalam hidupnya, segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya sendiri selalu dihadapi dengan keraguan.
"Jangan, Nin. kalau hanya sekedar mencoba. justru karena Kak Firza sangat baik makanya aku tidak ingin dia kecewa karenaku."
Ninda mengalah, menurutnya Litha berhak memutuskan yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri.
"Eh, malam ini kita makan diluar yuk, Nin. Aku yang traktir."
Litha mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membicarakan lelaki itu lagi. Baginya menikmati makanan enak sesuai seleranya sudah cukup membuatnya bahagia.
"Bolehlah."
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Malam ini Litha dan Ninda makan di sebuah cafe yang terletak di kawasan yang terkenal sebagai tongkrongan anak muda di ibukota. Mereka berceloteh riang, tertawa, saling mengejek dan bernyanyi bersama hingga hampir tengah malam. Bagi Litha Ninda adalah sahabat terbaiknya, begitu juga Ninda.
Tiba-tiba suara ponsel Ninda berdering, nomor tidak dikenal muncul di layar. Ninda sempat berpikir sejenak untuk mengangkatnya atau tidak.
"Siapa Nin?" tanya Litha, Ninda hanya mengedikan bahunya.
"Angkat aja Nin, siapa tahu penting."
Ninda menggeser button hijau, menerima panggilan telepon.
"Ya, Halo," ucap Ninda membuka suara.
Ninda terdiam, mendengarkan apa yang dikatakan di seberang telepon.
__ADS_1
"A-- A-- Apa?!? Ba-- baik, baik. Aku akan segera kesana. Tolong di sharelock lokasinya dan tolong jangan lapor polisi dulu," kata Ninda panik.
Belum sempat Litha bertanya ada apa, Ninda sudah menyela,
"Tha, yuk pulang! Aku harus ke klub malam, apa namanya tadi? Duh ... apa ya? Pokoknya harus kesana. Evan mabuk dan menghancurkan barang-barang disana. Sialnya namaku yang disebut untuk menjemputnya. Parah nih, si Evan..," terang Ninda kesal keburu-buru merapikan tasnya, bersiap pulang.
"Aku pulang sendiri aja, Nin. Kamu kesana saja langsung, biar cepat. Aku bisa cari taksi," sergah Litha.
"Beneran kamu gak apa-apa? Ya udah, aku langsung kesana ya? Kamu hati-hati, Tha."
Ninda pamit, ia mengecek lagi ponselnya untuk melihat lokasi yang dibagikan si penelepon. Litha juga bersiap pulang, setelah membayar di kasir dengan segera ia memesan taksi online di ponselnya sembari keluar dari Cafe.
Udara malam yang larut menusuk ke dalam tulang, begitu juga angin yang berhembus memainkan rambutnya kesana kemar. Di pinggir jalan ia menunggu taksinya datang.
Citttttt.....
Decit roda mobil yang dihentikan mendadak di hadapan Litha menarik perhatiannya. Kaca mobil bagian penumpang diturunkan, wajah tampan Rayyendra nampak disana. seringai senyum muncul mengikutinya.
"Mau kemana?"
"Pulang," jawab Litha singkat
"Masuklah. Ku antar," perintah Ray
"Tidak perlu, Tuan. Aku sudah memesan taksi. Terima kasih."
Litha menolak dengan sopan, taksinya juga sudah tiba.
"Kubilang ku antar, ya, ku antar! Masuk!"
"Hei, Tuan! Siapa Anda? Memerintahku seenaknya."
"Yan, kau tunggu aku disana," perintah Rayyendra pada asistennya.
"Baik, Tuan."
Abyan segera keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Litha masuk.
"Tapi-- " Litha memandang taksi yang berhenti di belakang mobil Ray.
"Biar aku yang mengurusnya, Nona masuk saja."
Tidak punya pilihan, Litha masuk dan duduk dengan bersungut.
"Kenapa juga aku mau menurutinya? Aaarrrghhhhh......"
Litha menengok ke belakang, Abyan sedang berbicara dengan sopir taksi.
"Tenang saja! Asisten Yan akan mengurusnya dengan baik."
"Kenapa Tuan selalu saja memaksaku?" Litha memberanikan diri bertanya.
"Kenapa? Tidak suka? Kalau tidak suka, ya, terima saja."
"Jawaban apa itu!!!"
"Lho, Asisten Yan kok ditinggal?" tanya Litha bingung, Ray segera menghidupkan mesin mobilnya.
"Dia yang akan menggantikanmu sebagai penumpang di taksi."
"Hah!!!"
"Berapa nomormu?" tanya Rayyendra, mengambil ponselnya di saku dalam jasnya.
Alis Litha menaut, "Untuk apa kau meminta nomorku, Tuan Muda Congkak?"
"Berapa?"
"08xxxxxxxxxxxx"
__ADS_1
Meski jengkel Litha tetap menyebutkan nomornya. Sesaat kemudian ponselnya bergetar, ada nomor asing masuk. Rayyendra yang melihatnya langsung mengambil ponsel dari tangan Litha.
'Tuan Muda Yang Mulia' ketiknya di nama kontak pada nomor yang baru saja memanggil.
"Nih! Angkat teleponku tidak lebih dari dua kali nada panggil," sahut Ray menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya.
"Hei!!!" seru Litha yang sudah tidak tahan dengan sikap seenaknya Rayyendra.
"Kenapa? Mau protes?"
Tatapan penuh ancaman Ray ke Litha menciutkan nyalinya untuk protes lebih keras, ditelannya lagi umpatan yang sudah di ujung lidahnya.
Dilihatnya nama kontak nomor barunya, Litha membathin, " Tuan Muda Yang Mulia, hah!!! yang benar saja, memang kau rajaku apa! Pretttt!!! Lihat saja di rumah nanti akan kuganti namamu."
"Jangan mencobanya untuk mengganti nama kontakku," sergah Ray mulai mengemudikan mobil.
"Ini manusia atau alien? Bisa baca pikiran orang. Coba katakan lagi apa yang aku pikirkan sekarang?"
Litha hanya berani mengumpat dalam hati, diliriknya pria di sampingnya Tidak bisa dipungkiri secara visual sosok Ray sangat menawan, lebih-lebih ketika sedang menyetir. Litha seakan tersihir menatapnya.
"Kau tahu, aku ini Alien. Lihat! Kau sampai mengagumiku seperti itu."
"Whooaaahhhh.... Dia benar-benar alien!"
Litha membathin lagi sambil bergidik ngeri membuang muka ke jendela mobil.
"Huahahahahahahahhahahaha........ " Ray tergelak senang melihat tingkah Litha.
"Oh ya, kabar nenekku bagaimana?"
"Hari ini aku ijin tidak ke rumah Nenek. Tapi kemarin aku menemaninya di rumah utama. Nenek agak berbeda, Nenek lebih banyak diam dari biasanya, entah apa yang dipikir dan dirasakan beliau. Kenapa juga Tuan tanya padaku? Seharusnya Tuan datang melihatnya sendiri."
"Aku sibuk."
"Setidaknya sesekali Tuan harus mengunjunginya. Apa Tuan pernah mendengar ungkapan, penyesalan adalah neraka terdalam di bumi? Jangan sampai Tuan berada di dalamnya."
"Kau tahu apa, sok tahu!"
Rayyendra tidak suka digurui, kecuali neneknya sendiri. Litha mengedikkan bahunya lalu menyandarkan kepalanya di kaca jendela, memandang jalanan yang memantulkan cahaya redup lampu jalan,
Begitu mendekati persimpangan minimarket, ia berkata, "Turunkan aku di depan minimarket saja, Tuan."
"Lalu kau jalan kaki ke kostmu?"
Litha menganggukkan kepala.
"Tidak. Apa kau sudah lupa kejadian yang menimpamu waktu itu?"
Litha terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Ray.
"Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan Tuan mengantar saya sampai di rumah."
Ray menghentikan mobilnya, ia berpikir sejenak, mencoba mencari cara.
"Turunlah. Kau bisa berjalan kaki seperti biasa, aku akan mengikutimu dari belakang sampai dekat dengan kost-an mu. Kalau nanti kau bertemu Asisten Yan, kau bisa memberitahunya untuk segera menghampiriku," tegas Ray.
Litha tidak bisa menolaknya, karena Rayyendra memang tidak menerima penolakan. Ia keluar dari mobil dan melakukan seperti yang Ray perintahkan.
Berjalan kaki di aspal dengan diikuti sorot lampu mobil yang direndahkan membuat Litha merasa terlindungi. Rasa yang sama ia dapatkan saat dulu mendiang ayahnya mengantar jemput kemanapun Litha pergi.
Rasa aman yang pernah menghilang, kini ia temukan kembali. Rasa aman yang membuatnya nyaman dan rasa aman yang tidak ingin dia lepaskan lagi.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Mohon dukungan like, komen, favorit dan vote jika berkenan Kakak...
Terimakasih dan salam sehat buat kita semua ....
__ADS_1
_LZ_