Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Belum Kelihatan Hilalnya


__ADS_3

# Ruang Presdir #


Beberapa hari ini, kehidupan Ray seperti roller coaster, memainkan adrenalin sesungguhnya, meski begitu ia merasa mendapat booster energi setelah menghabiskan malam manis bersama istrinya. Namun pagi ini ia mendapat kejutan lagi, yakni sebuah surat permintaan maaf dari seseorang yang dicarinya, Thanos01.


Maafkan dia. Dia sudah menyesalinya. Dia masih sangat muda, dia menjual foto itu karena butuh biaya untuk kuliah. Jangan letakkan beban marah di sakumu, melepaskan itu melegakan.


Ray tersenyum sinis dengan memainkan pena di jarinya mengingat pesan istrinya saat ia menyerahkan surat itu. Seumur-umur baru kali ini Ray disuruh memaafkan seseorang yang telah melakukan kesalahan padanya. Ironisnya, ia juga tidak bisa selain berkata iya pada Litha. Rayyendra benar-benar takluk sepenuhnya pada istrinya.


"Ray, anak ini apa benar dia meminta maaf? Atau dia menyindirmu karena tidak melakukan apa-apa. Lihat baca ini!" kata Abyan menunjukkan dua baris tulisan tangannya yang tintanya berpendar karena terkena airmata.


Tuan Muda bisa percaya padaku. aku akan mengembalikan citra baik Tuan Muda seperti sebelumnya. Itu janjiku pada Nyonya tanpa diminta.


"Aku sangat penasaran dengannya dan ingin sekali menginjak mukanya. Tapi Litha memintaku untuk memaafkan bocah sialan itu, huh! Menyebalkan sekali. Kenapa juga dia mudah sekali memaafkan orang?"


Abyan terbahak-bahak mendengarnya, yang dirasakan Ray seperti sebuah kentut yang ditahan karena takut ketahuan, sangat tidak enak.


"Kau sudah jadi budak cintanya Litha. Tidak ada kata tidak buatnya meski di dalam hatimu menolak keras, hahahahahaha ... Oh Tuhan, semoga nanti aku tidak sepertimu, hahahahahaha ..."


Ray hanya tersenyum kecut melihat sahabatnya menertawakannya.


"See! Kau bahkan tidak mengumpatku. Kau membenarkan ucapanku, hahahahaha ... "


"Berhenti menertawaiku! Hidupku ini sudah kuserahkan pada Litha, aku bisa kehilangan apapun tapi tidak jika aku kehilangannya. Sekarang aku mau lihat apa yang dilakukan Si Thanos01 itu untuk memenuhi janjinya. Hebat sekali istriku bisa membuatnya datang dengan sukarela, mengakui salah, meminta maaf, menyesali dan berjanji memperbaikinya."


"Hahahahahahaha ... Sekarang prioritas Pradipta Corp. bukan lagi prioritas teratasmu. Apa kau kena sebuah kutukan, Ray? Akibat terlalu sombong, hahahaha ..."


Abyan masih saja tertawa tapi tidak dengan Ray yang merasa aneh dengan ledekan bahwa ia terkena sebuah kutukan karena terlalu sombong?


Ray ingat, ia pernah menghina Litha sebagai gadis kampungan yang memanfaatkan kebaikan Nenek untuk keuntungan pribadinya. Untuk pertama kalinya, hatinya terusik akan kehadiran seorang perempuan di hidupnya. Entah mengapa sejak saat itu, tanpa sadar dan tidak sengaja Ray terus memikirkan gadis yang membuatnya penasaran, hingga akhirnya ia mendapatkan ciuman pertama gadis itu dan rasanya bagaikan mendapat sebuah lotere.


"Yan, apa kau pernah mencium seorang gadis?" tanya Ray tiba-tiba melenceng dari topik pembicaraan.


"Hah! Apa yang mau kau dengar? Kau mau aku menjawabnya ya dan kau adukan pada ibuku, kan?"


Gantian Ray yang terbahak-bahak, "Apa Bibi masih mengejar siapa jodohmu, ha?!?"


"Untunglah dia tinggal di rumah utama. Kalau di apartemenku, mungkin aku sudah jadi acar karena sindirannya begitu asam."


Huahahahahahahaha ...


Ray tertawa sampai mengeluarkan airmata, "Jadi kau belum pernah berciuman?"


"Hah! Sialan kau, Ray! Berhenti membahas itu!" Abyan jengkel dan melempar bantal sofa di sampingnya.


"Atau jangan bilang kau tidak tertarik pada wanita?"


"Kau kira aku penyuka sesama jenis apa?!? Aku masih normal tahu!"


"Kalau begitu tunjukkan kenormalanmu, hahahaha ..."


Ray puas membalas ledekan Abyan yang tadi menertawainya sebagai budak cinta istrinya.


"Lebih baik menjadi budak cinta daripada menjadi budak kesepian," seloroh Ray masih tergelak. Ia puas membuat Abyan tidak berkutik membalas kata-katanya. Itu artinya Abyan membenarkan ucapan Ray.


...***...


Adalah Nezar Abigail, berusia 20 tahun yang tinggal nomaden, artinya selalu berpindah-pindah dimana teman-temannya mau menampungnya untuk tidur. Jika punya uang cukup, ia akan membayar sewa kost dan menetap sementara. Namun begitu, Nezar anak yang menyenangkan dan ringan tangan meski tanpa upah. Inilah yang membuatnya memiliki banyak teman dari berbagai kalangan.


Nezar lulusan SMK jurusan TI, Teknologi Informasi. Kemampuannya tidak bisa dianggap remeh, makanya ia sangat sedih ketika keinginannya kuliah di jurusan yang sama tidak bisa dikabulkan kakaknya karena terkendala biaya. Sejak itu, ia bekerja serabutan dan menabung mati-matian selama 2 tahun untuk masuk kuliah, namun belum cukup juga karena kampus yang diidamkannya mematok biaya pembangunan yang besar bagi mahasiswa baru.


Tapi sekarang dewi fortuna berada di pihaknya, saldo di rekeningnya lebih dari cukup untuk biaya kuliah sampai selesai di kampus impiannya. Berkat Nyonya Muda Pradipta yang menaruh kepercayaan padanya bahwa ia akan menjadi besar dengan keahlian yang dimilikinya.

__ADS_1


"Pokoknya aku mau besok pagi harus trending dan jegal semua berita ataupun komentar yang mengarah Tuan Muda melakukan perselingkuhan. Hubungi yang lainnya, setelah kita balikkan isunya, semua akan dapat bagian." Nezar memberi arahan pada salah satu temannya yang biasa menjadi pendengung atau istilah kerennya Buzzer.


"Apa Tuan Muda yang menyuruhmu? Pasti kau mendapat bayaran besar darinya."


"Sebelum dia membayarku, aku yang duluan mampus. Sekarang dia sedang mencariku dan melacak akunku yang memposting foto-foto itu. Aku hanya merasa bersalah pada istrinya yang sedang mengandung, aku tidak mau hidupku menjadi sial karena menganiaya mahluk yang lemah. Sudahlah kau kerjakan saja, untuk bayarannya biar jadi urusanku."


"Oke, tidak masalah. Kau bisa andalkan kami, besok pagi kau lihat sendiri di ponselmu hasil kerja kami."


"Sip. Do you best, bro."


Nezar menggunakan jasa kawan-kawan yang dikenalnya sebagai Buzzer. Biasanya mereka digunakan oleh para pelaku bisnis dan politikus. Tim yang Nezar bidik memiliki lebih dari 500 akun media sosial. Mereka ditugaskan untuk mendorong isu bahwa Tuan Muda Pradipta tidak berselingkuh, justru sebaliknya ia ingin meninggalkan mantan yang belum move on dengan menuruti permintaan terakhir si mantan yang meminta dipeluk Tuan Muda. Isu yang sebenarnya fakta itu di cuitkan melalui media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram secara masif.


...***...


# Ruang Makan Rumah Utama #


"Bibi, duduklah. Jangan mengikuti Pak Is dan Pak Sas yang selalu menolak untuk makan satu meja dengan kami," pinta Litha pada Lidya saat makan malam.


Lidya tersenyum canggung dan sungkan. Selama ia tinggal di Rumah Utama sejak remaja, ia dan yang lainnya tidak pernah diperkenankan duduk di meja makan bersama Keluarga Pradipta.


"Mas ..." rengek Litha meminta bantuan suaminya untuk memaksa Lidya duduk.


"Duduklah, Bi. Putra Bibi saja duduk disini saat sarapan dan makan malam. Lagipula Bibi sudah membuat istriku senang, ia jadi punya teman cerita."


"Tapi, Tuan--"


"Duduklah."


Lidya ragu-ragu mengambil kursi, tapi Pak Is mengodenya agar menurut saja apa yang dititahkan Tuan Muda.


"Duduklah, Bi. Jangan membuatku malam ini tidur dipunggungi istriku karena tidak berhasil membuat Bibi duduk disitu."


Hati Lidya menghangat setelah duduk dan merasa layaknya bagian dari Keluarga Pradipta. Ia duduk di samping Litha karena wanita hamil itu menunjuk kursi di sebelah kirinya.


"Nah, gitu dong, Bi. Jangan kayak Bik Tati, sungkannya minta ampun setelah aku menikah dengan Suamiku, padahal dulunya kami se-frekuensi."


"Oh, iya Mas, Asisten Yan kok tumben tidak ikut makan malam?" tanya Litha, mengambilkan lauk untuk suaminya.


"Tidak malam ini, Lith, karena dia harus ke rumah Pak Prasojo mengatur jadwal kapan dr. Vivian akan diperiksa sebagai saksi."


"dr. Vivian? Namanya seperti tidak asing," kata Lidya dalam hati.


"Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Litha lagi.


"Tentu saja. Kau tidak usah khawatir. Pak Prasojo sudah berpengalaman menghadapi situasi seperti itu."


"Oh. Sebelum Kak Vivian diperiksa, aku ingin bicara dengannya terlebih dahulu. Bisa kan, Mas?"


"Engg ... Nanti akan kusampaikan ke Abyan, karena dia sendiri yang menemani dr. Vivian selama diperiksa. Jadwalku sangat padat minggu ini."


Litha mengangguk, "Mas, aku senang sekali Bibi tinggal disini. Ternyata Bibi Lidya punya basic sebagai perawat dan tahu banyak tentang ibu hamil. Tadi saja aku belajar mengolah nafas yang berguna untuk persalinan nanti. Besok Bibi juga janji untuk mengajakku senam ibu hamil."


Ray tersenyum bahagia mendengar istrinya begitu bersemangat dengan matanya yang berbinar-binar.


"Mas Sas sangat menyayangi Nyonya seperti menyayangi Dinda, sampai akhirnya dia mengizinkanku kembali ke rumah ini hanya demi untuk menemani Nyonya. Tapi memang, Nyonya sangat polos dan menyenangkan. Ah, andai saja Abyan punya istri seperti Nyonya, tapi anak itu terlalu nyaman sendiri sampai tidak ingat umur, ck. Tuan Muda saja sudah mau punya anak, sedangkan Abyan ... wanitanya saja belum kelihatan hilalnya, masih dia sembunyikan."


"Bi ... Bibi melamun? Kenapa? Makanannya tidak cocok di lidah Bibi ya? Nanti akan kuminta pelayan membuatkan makanan yang sesuai dengan selera Bibi." Litha menepuk pelan pundak Lidya.


"Tidak-- Tidak Nyonya, masakannya cocok di lidah saya kok. Saya hanya memimirkan sesuatu."


"Memikirkan sesuatu? Apa aku terlalu menyita waktu Bibi untuk menemaniku? Apa Bibi tidak betah disini? Mas ..." Litha mengadu lagi pada suaminya.

__ADS_1


"Tidak-- Bukan itu, Nyonya. Hanya saja--"


Pppfffttt ...


Ray menahan tawanya, ia mungkin bisa menebak apa yang dipikirkan ibu sahabatnya itu.


"Lith, Bibi sedang memikirkan Abyan yang belum punya pendamping, hehehehe ..."


Mata Litha membulat, ia memutar badannya ke Lidya, "Benarkah? Kalau begitu kita sama, Bi. Aku juga sangat ingin Asisten Yan punya seseorang yang ia cintai sebagai wanita."


"Maaf, Nyonya kalau saya lancang. Tadi Tuan dan Nyonya menyebut nama dr. Vivian, apa dia bekerja di Pradipta Hospital?"


"Loh, kok Bibi tahu?" tanya Litha kaget sama halnya dengan Ray.


"Karena kemarin Bibi melihat nametag dari seorang dokter Pradipta Hospital yang bernama dr. Vivian di kamar Abyan."


Litha dan suaminya saling berpandangan, sama-sama terkejutnya.


"Benar kan dugaanku, Mas? Asisten Yan menyukai Kak Vivian. Aih ... kenapa mesti Kak Vivian yang disukainya?"


"Nyo-- Nyonya tahu?" tanya Lidya terbata.


"Hanya menerka-nerka saja, Bi."


"Sayangnya, Kak Vivian sudah memiliki tunangan," ujar Litha lagi.


Ray menghentikan makannya, membathin kaget, "Duh, Sayang. Kenapa kau mengatakan itu pada Bibi? Lihat saja Abyan akan menjadi acar besok."


"Ckckck ... Abyan, sudah tahu kau susah jatuh cinta. Kenapa kau malah jatuhkan cintamu pada wanita yang sudah bertunangan? Kau pasti patah hati pada akhirnya ... dan semakin lama lagi kau akan menikah. Besok pagi kau harus menjelaskannya pada Ibu, Yan!" Lidya membathin dengan kesal.


"Bibi, makanlah dulu, lalu istirahat biar besok Bibi punya tenaga untuk menuntut jawaban dari Asisten Yan," ujar Litha yang direspon anggukan Lidya.


Ray tercengang, kemampuan alien istrinya semakin hari semakin baik, dia mampu menebak apa yang dipikirkan orang lain. Iseng, Ray ingin coba mengetesnya, "Sayang, coba tebak apa yang aku pikirkan saat ini?"


"Aiihhh ... Mas ingin membenamkan wajah ke dadaku lagi, kan? Mas bilang semakin besar dan empuk. Padahal ibu hamil pasti mengalami pembesaran di bagian itu. Iya kan, Bi?" jawab Litha enteng.


Lidya mengambil lauk dengan menundukkan kepalanya tapi bahunya nampak bergetar menahan tawa, Pak Is juga demikian bahkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Wajah sampai telinga Ray memerah, tidak bisa berkomentar apapun kecuali deheman yang terdengar. "Awas kau Litha, aku bukan membenamkan wajahku lagi di dadamu. sekalian saja tongkat saktiku ku tancapkan disitu. Ah, dasar perempuan Ragnaya, menyebalkan!"


- Bersambung -


Pernah dengar istilah Buzzer kan, apalagi saat masa kampanye 😁


Dari berbagai sumber di Google.


Buzzer bila diartikan secara harfiah adalah lonceng. Lonceng ini digunakan sebagai penanda bagi orang-orang agar berkumpul untuk melakukan sesuatu atau dapat diartikan sebagai tanda khusus akan suatu kejadian. Namun, saat ini di era digital, istilah buzzer bergeser ke ranah media sosial.


Di media sosial, buzzer berfungsi sebagai seseorang atau organisasi yang bertindak sebagai lonceng bagi orang-orang di sekitarnya dan memberikan informasi mengenai isu-isu terhangat kali ini dari sudut pandangnya. Jika mengacu pada suatu kegiatan, kurang lebih tugasnya adalah mendengungkan informasi sampai heboh, lalu netizen pun mempercayai hal tersebut.


Kegiatan buzzing memiliki dua aspek penting, yakni pesan yang ingin disampaikan dan cara agar pesan itu tersebar seluas-luasnya.


Dalam beraksi, ada tiga model yang dilakukan buzzer. Pertama, menggunakan BOT, yaitu perangkat lunak atau aplikasi untuk menjalankan komando secara otomatis di internet, termasuk memposting hal berbau politik yang memihak. Kedua, pakai akun-akun palsu. Cirinya memiliki jumlah post, followers, dan following yang sedikit. Ketiga, meminta banyak akun untuk retweet atau like postingannya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Terimakasih dukungannya buat semua like, komentar, vote dan koin tipsnya. Semua itu sangat membuat Author semangat up, meski beberapa hari terakhir Author dalam kondisi yang tidak sehat.


Semoga masih enak dibaca ya, Kak...


Minta pendapat jujur dong Kak, Dari tema, alur, penokohan sampai bahasanya sampai sejauh ini, kalau boleh dikasih rate antara 1 - 10, karya ini bisa dapat berapa ya? Untuk masukan ke depannya, terimakasih ☺️

__ADS_1


__ADS_2