
Grey Savanna Restaurant, restoran kelas atas yang mengedepankan eksklusifitas pelanggannya. Ramona sengaja memilih tempat itu dengan mengajak kekasihnya, karena hanya cara itulah dia bisa kesana,
Rayyendra merupakan salah satu member yang sering mengajak rekan bisnisnya, namun tidak pernah mengajak seorang wanita. Ramona ingin diakui bahwa dia merupakan orang spesial bagi Tuan Muda Pradipta corp.
"Ray," sahut Nyonya Besar melihat seseorang yang menghampiri mejanya.
Litha yang berada dihadapannya spontan berbalik. Dilihatnya Tuan Muda Congkak dengan seorang wanita cantik menggandeng lengannya. Para pemilik mata yang dilihatnya pun juga menatap heran Litha. Pandangan mereka semua bertemu. Ada banyak pertanyaan terbersit kemudian.
"Nenek makan siang disini hari ini?" tanya Ray. Nyonya Besar mengangguk sembari tersenyum melihatnya, hanya melihat cucunya, tidak termasuk wanita di sampingnya yang menggandeng mesra.
"Lalu kenapa ada dia disini?" tanyanya lagi ke Nyonya Besar, namun matanya menunjuk Litha yang sudah membalikkan pandangannya ke depan.
"Nenek mengajaknya untuk menemani makan siang."
"Nenek bisa panggil aku, kan?" nada suaranya sedikit meninggi.
"Sejak kapan kau ada waktu hehehehe... Kau selalu disibukkan dengan pekerjaanmu. Tapi, apa Nenek tidak salah lihat sekarang? Kau membawa Ramona kesini?"
Ray hanya diam. Ramona langsung mengambil kesempatan untuk menyapa Nyonya Besar dengan ramah, "Selamat siang, Nyonya. Tidak menyangka bertemu dengan Nyonya disini. Sudah lama saya tidak melihat Nyonya dan nampaknya Nyonya makin terlihat awet muda."
Toengggg....
Alis Litha bertaut, menurutnya basa-basinya agak berlebihan untuk karakter Nyonya Besar.
Nyonya Besar terkekeh, "Kau mau tahu rahasianya?"
Ramona merasa gayung bersambut, dia sangat senang dengan reaksi Nyonya Besar kali ini, biasanya yang ia dapat hanya raut wajah dingin. Dia tersenyum manis sekali dan mengangguk berkali-kali.
"Dia ...," jawab Nyonya Besar menunjuk Litha dengan matanya. Ramona keheranan dengan apa yang dimaksud wanita tua itu.
"Nek ..." suara Rayyendra terdengar gusar.
"Nenek sudah selesai makannya, ayo kita pulang Litha."
Nyonya Besar berdiri dari kursinya, diikuti Litha kemudian dengan cepat ia menghampiri Nyonya Besar dan memegang lengan Nyonya Besar, hal yang sama ia lakukan sewaktu memasuki restoran ini.
Ramona menatap lekat sosok Litha. Hanya mengenakan kaos murah, celana jeans, sepatu kets yang nampak usang dan tas selempang rajutan sederhana. Diperhatikan lagi wajahnya, polos tanpa riasan, hanya lipbalm yang melembabkan bibir tanpa warna, rambutnya agak sedikit ikal diikat satu ekor kuda.
"Siapa dia? Apa bagusnya dia?"
"Jangan lupa menu yang akan dibawa pulang, Nek." Litha mengingatkan.
"What?!?? apa kupingku tidak salah dengar! siapa sebenarnya dia? Mengapa menyebut Nyonya Besar dengan Nek? aku saja, tidak diijinkannya." Hatinya tidak terima, mata Ramona membulat tidak percaya yang didengarnya barusan.
Rayyendra menyadari keterkejutan kekasihnya, lalu ia berujar pada neneknya, "Dia tidak membuatmu malu dengan makan menggunakan tangannya, kan Nek?"
"Tenang saja, dia sudah mempelajarinya."
"Hehhhhh... aku juga tahu tempat Tuan Muda Congkak! Lagian apa kau belum pernah merasakan nikmanya makan menggunakan tangan hahh ..." protes Litha dalam hati.
"Nek, sebaiknya berikan batasan yang jelas padanya agar dia tidak besar kepala."
Litha terhenyak, "Kau mulai lagi Tuan Muda?"
"Litha tidak memiliki batasan denganku," sahut Nyonya Besar singkat tapi sangat jelas, ada ketegasan yang tidak bisa dibantah dalam suaranya.
Nyonya Besar mendekati cucunya dan berbisik pelan, sangat pelan hingga tidak ada yang bisa mendengarnya, kecuali Rayyendra.
"Sebaiknya kau mengajari pacarmu itu cara menjilatku dengan benar."
Air muka Rayyendra seketika langsung berubah pias, tubuhnya mematung di tempat, bibirnya kaku tidak bisa bergerak membalas apa yang dibisikkan Nyonya Besar.
Hanya kedua telapak tangannya yang mengepal kuat. Geram... entah geram kepada siapa? Neneknya sendiri atau gadis yang mendampingi neneknya?
Nyonya Besar beringsut dari sisi Rayyendra, tersenyum sinis dan balik menggandeng lengan Litha. Mereka berdua berjalan perlahan, mengambil pesanan yang dibawa pulang, lalu menghilang dibalik pintu restoran.
"Damn.....!!!" umpat Rayyendra begitu punggung keduanya sudah tidak nampak dalam pandangannya.
"Siapa dia sayang? Kenapa dia begitu dekat dengan Nyonya Besar?"
"Sudahlah, berhenti membicarakannya, suasana hatiku buruk melihatnya."
"Apa? Kenapa kau terganggu dengannya? Bagaimana bisa kau mengenal wanita lain selain aku?"
__ADS_1
"Tapi aku penasaran sayang? Apalagi tadi dia menyebut Nyonya Besar dengan Nek."
"Mona! Kalau aku bilang jangan membicarakannya itu artinya aku tidak mendengarnya. Paham?!" amarah Ray mulai tersulut.
Ramona makin penasaran, ia ingin menyelidiki siapa gadis itu, namun dia tidak punya keberanian menanyakan langsung pada Ray.
"Iya ... iya ... aku minta maaf ya sayang, kita lebih baik membicarakan diri kita saja." Mona membujuk Ray, namun Ray masih dalam suasana hati yang buruk.
"Kau mau makan apa sayang?" tanya Mona ketika pelayan membawakan buku menu.
"***** makanku hilang, bawakan aku segelas Citron Presse saja," sahut Ray pada pelayan.
"Sayang, aku lapar, aku ingin makan."
"Makan saja. Aku akan menemanimu."
Wajah Ramona menunjukkan ketidaksukaan, tapi mau bagaimana ia tidak bisa membantah sama sekali, kemudian ia menyebutkan salah satu jenis makanan dan minuman sebagai menu makan siangnya.
Ramona menikmati makan siangnya ditemani sang kekasih, sayangnya Ray tidak melihatnya, justru Ray mengalihkan pandangannya ke dinding kaca tembus pandang menikmati indahnya ciptaan Tuhan.
"Nenek, kali ini aku tidak mengerti apa maumu, yapi aku biarkan karena Nenek terlihat sangat bahagia saat bersamanya."
"Ray, kau melamun?"
"Tidak." Ray menoleh ke arahnya, lalu tersenyum.
"Senyummu palsu. Ada apa denganmu? Apa yang kau pikirkan? Apa ada hubungannya dengan gadis itu? Kenapa kau tertarik dengannya walau tidak suka? Aargghhhhhhh......"
Ramona maupun Ray tenggelam dalam pikirannya masing-masing, saling menerka-nerka dengan apa yang dipikirkannya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Aaaaaaaaaaaa......." Ninda menutup mulutnya, menggeleng-gelengkan tidak percaya ketika Litha menceritakan bahwa dia baru saja makan siang di Grey Savanna Restauran bersama Nyonya Besar.
"Tha, tahu gak? itu impian semua orang, termasuk orang kaya."
"Yaelah, orang kaya mah gak susah kali Nin, masuk aja, pesan, makan dan bayar. Nah, kalau orang kayak saya ini yang bingung, makan bayarnya pakai apa, cuci piring setahun juga gak bisa nebus."
"Ihhh... emang bener nih orang, gak tahu informasi. Itu restoran biar kata kamu punya duit segunung kalau bukan membernya gak bisa makan disana, dan hanya member yang bisa pesan meja, bill nya itu langsung masuk ke tagihan kartu kredit yang sudah terdaftar."
"Tha, malu-maluin banget sih!"
"Kamu ini pintar di akademik kuliah tapi informasi seperti ini kayak baru keluar dari goa," gumam Ninda.
Lith hanya nyengir. Ninda antusias heboh mendengar bagaimana tempatnya, pemandangan dari balik dinding kaca, belum lagi menu mewah prancis yang namanya baru kali itu ia dengar.
"Nin, masa Nyonya Besar mau memberi nama Pradipta di belakang namaku," ujar Litha santai.
Ninda melongo, matanya membelalak maksimal, bungkus keripik yang dipegangnya jatuh menumpahkan seluruh isinya ke lantai.
"Nin ...!!!"
"Nin .... " Sekali lagi Litha memanggil sambil menggoyang-goyang tubuh sahabatnya yang mematung.
"Tha, coba ulangi apa yang barusan kamu bilang?"
"Manggil nama kamu?"
"Bukan-- bukan itu, sebelumnya yang Nyonya Besar katakan."
"Ohhh ... Nenek mau memberiku nama Pradipta di belakang namaku."
Brukhhhh....
Ninda jatuh di kasur, antara percaya dan tidak percaya.
"Huaaaaaa......... Ya Tuhan, aku sungguh iri padamu Litha. Kau akan menjadi keluarga Pradipta, hidupmu sudah terjamin sampai tujuh turunan."
"Hehehehe... aku tolak Nin."
"Eh.. apaaaa?!?!" Ninda langsung bangun dari rebahnya, duduk menghadap Litha, lekat menatap wajahnya, kali ini dia tidak percaya.
"Terlalu tamak Nin kalau aku menerimanya, belum lagi reaksi Tuan Muda Congkak kalau aku masuk jadi keluarga Pradipta."
__ADS_1
"Tapi, Tha..." Ninda masih tidak percaya, digeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali
"Aku yakin Nin. Semoga penolakanku adalah hal tepat dan tidak kusesali nantinya hehehehe...."
"Litha ...." Suara Ninda memelan.
"Bisakah kau katakan ke Nyonya Besar aku siap menggantikan tawarannya yang kau tolak?"
"Hah.....?!? Enak saja!" Litha melempar bantal ringan ke Ninda, ia tahu sahabatnya hanya bercanda. Ninda tertawa.
"Beneran kamu gak nyesal, Tha?" Ninda masih tidak percaya. Litha sudah malas menanggapi jadi ia hanya mengangguk saja.
"Ehh... tadi pas mau pulang, kita ketemu Tuan Muda Congkak, dia datang bersama wanita cantik dan wanita itu menggandeng Tuan Muda." Litha mengalihkan pembicaraan.
"Pasti Nona Ramona, pacarnya Tuan Muda Rayyendra"
"Oohhh ...." Litha membulatkan bibirnya.
"Tapi Nin, sepertinya Nenek agak kurang suka padanya, apalagi pas dia menyapa Nenek dan mengatakan Nenek awet muda hahahahaha.... mungkin bagi wanita lain mau muda ataupun tua akan senang mendengarnya, tapi tidak untuk Nenek. Dia wanita yang tidak suka berpura-pura."
"Kabar yang kudengar juga begitu, tidak tahu alasannya. Kehidupan pribadi keluarga Pradipta benar-benar tertutup, kecuali darimu, sumber berita yang akurat hehehehe..."
"Awas kalau kau menyebarkan apapun yang kuceritakan padamu!" Litha mengancam Ninda namun Ninda hanya terkekeh.
'Ahh... Litha, entah mengapa firasatku kau akan menjalani takdir yang rumit ya ... Apapun itu semoga saja kau bahagia, Tha ..." Ninda bergumam pelan memandang punggung Litha saat ia beranjak masuk ke kamar mandi untuk mandi.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sementara itu di ruang kerja rumah utama Nyonya Besar memanggil Pak Is sepulangnya dari makan siang.
"Nyonya memanggil saya?" tanya Pak Is hormat.
"Ya, aku ingin berterima kasih padamu Is, kau menjalankan tugasmu dengan baik," ujar Nyonya Besar. Pak Is bingung yang dimaksud Nyonya Besar dengan tugas.
"Kau mengajari Litha dengan baik. Dia terlihat begitu elegan, hanya pakaiannya saja tadi tidak pas hehehehe..."
Nyonya Besar mengetahui kebingungan Pak Is dalam hati. Dia sangat senang hari ini, sebelum bertemu dengan dua anak muda di penghujung makan siangnya.
"Nona Litha adalah gadis yang cerdas, Nyonya. Saya hanya mengajarinya sedikit, dia langsung mengerti."
"Bagaimana dia tidak mengerti kalau kau galak mengajarinya hehehehe....." Nyonya Besar terkekeh, air muka kepala pelayan rumah utama itu memucat.
"Maaf Nyonya, jika Nona Litha menganggap saya galak padanya, padahal saya hanya sedikit tegas." Kepala Pak Is menunduk.
"Hahahaha... Guru yang baik memang seharusnya seperti itu. Aku percaya padamu, kuharap kelak kau tetap setia padaku." Nyonya Besar menepuk pelan bahu Pak Is.
"Saya berjanji dengan nyawa saya, Nyonya tidak perlu khawatir, kesetiaan saya pada Nyonya tidak akan berubah."
"Tidak akan berubah meski aku sudah tiada." Nyonya Besar meneruskan janji setia seorang Iskhak.
"Nyonya...." Pak Is mengangkat wajahnya, pucatnya sudah hilang, kini yang terlihat hanya gurat kecemasan.
"Aku sudah makin menua, Is. Tidak ada yang tahu sampai kapan aku jantungku bisa berdetak. Aku hanya mempercayai kau dan Sasmita. Ku harap kalian bisa tetap memegang janji setia kalian."
"Baik Nyonya." Pak Is kembali menundukkan kepalanya.
"Ini ambillah, Foie Grass dan Escargot untukmu, anggap saja tanda terima kasihku kau sudah menjadi guru yang baik bagi Litha."
"Terima kasih, Nyonya."
Nyonya Besar keluar dari ruang kerja setelah menunjukkan makanan yang dibungkus di atas meja.
Pak Is keluar membawa menu favoritnya ke dapur, ingin segera menyantap, namun niatnya terhenti sejenak. Ada Pak Sas disana.
"Kau sungguh beruntung Nyonya membawa pulang makanan kesukaanmu, aku saja yang mengantar tidak diingatnya," sahut Pak Sas melihat bungkusan mewah di tangan Pak Is.
"Yahh, setidaknya aku sudah tidak menyimpan marah lagi pada Nona Litha yang selalu menginjak kakiku sewaktu kuajari dia cara berdansa hahahaha..."
"Is, kau tahu kan tugas terakhir kita nanti tidak mudah, bahkan bisa lebih sulit dari yang kita bayangkan?" Pak Sas tidak peduli dengan gurauan rekan kerja yang sudah seperti saudara sendiri.
"Bagaimanapun sulitnya kita tetap harus melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, Sas." Pak Is serius mengucapkannya.
Pak Sas mengangguk lalu berkata "Nikmati makananmu, aku akan menemui Pak Tino."
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, Pak Is menyantap Foie Grass Escargot dengan lahap, 'panjar' yang diberikan Nyonya Besarnya sebelum ia 'bertempur' nantinya
- Bersambung -