
# Rumah Utama #
Litha merasa bosan dua minggu lebih ia hanya di pembaringan. Entah sudah berapa banyak serial drama dan film yang ia tonton, sampai film dokumenter di National Geographic juga ia lahap. Belum lagi semua buku yang ada di ruang kerja suaminya sudah dibaca habis olehnya. Tetap saja yang namanya jaman sekarang tanpa update info terkini, minimal media sosial, serasa hidup di jaman purba.
Litha melirik jam meja di atas nakas, sepuluh menit lagi jam sepuluh tapi suami tersayangnya belum pulang. Perlahan ia berdiri sendiri dan beranjak keluar kamar tanpa memanggil Vania atau Bibi Lidya. Lukanya telah ?berangsur sembuh, jadi tidak ada salahnya Litha mencoba mandiri untuk mengambil cemilan di dapur. Perutnya yang makin membesar dan mendekati HPL juga harus dibiasakan banyak gerak untuk kelancaran bersalinnya.
Saking pelannya, ia membuka pintu tanpa suara, sayup-sayup ia mendengar adu debat antara tingginya suara Ray dan lengkingan suara Vania. Litha berjalan mendekati sumber suara, mendengarkan apa yang menjadi topik debat mereka. Ada Abyan, Bibi Lidya dan Pak Is juga disitu.
Tiba-tiba muka Litha memucat setelah pendengarannya menangkap suatu kalimat yang bagaikan palu godam menghantam dadanya.
"Be-- benarkah yang aku dengar barusan?" tanyanya dengan pupil mata yang membesar dan basah.
.
.
.
Beberapa saat sebelum Litha keluar kamar.
"Maaf Bi, ada yang harus aku selesaikan hari ini, jadi pulang terlambat," ujar Ray dibuntuti Abyan dari belakang saat mereka bertemu muka dengan Lidya.
"Tidak apa-apa, Tuan."
"Apa istriku sudah tidur?" tanya Ray seraya duduk di sofa dan melonggarkan dasinya.
"Sepertinya belum. Kak Litha keasyikan menonton film tentang hewan buas di alam liar," jawab Vania yang tiba-tiba muncul dari arah dapur diikuti Pak Is dari belakang yang membawa senampan berisi teko dan beberapa cangkir.
"Film apa?"
"Film dokumenter tentang kehidupan singa di gurun savana di Afrika. Katanya singa jantan yang di film itu mengingatkannya pada seseorang kalau mengamuk. Dan berkat amukannya itu berhasil membuat Kak Litha hamil."
Pppfffttt ...
Suara tawa tertahan menggema di dalam ruangan seiring dengan getar bahu orang-orang yang menundukkan kepalanya.
"Amukan Tuan Muda bagaimana ya? Hihihihi ... Abyan harus belajar sama Tuan Muda. Eh ... belajar bagaimana kalau betinanya tidak ada. Haishh ... Apa dia belum bisa merelakan dokter itu?" bathin Lidya melirik Abyan tajam, menyuruhnya berhenti tertawa.
Wajah Ray memerah, "Benar-benar anak ini! Mulutnya tidak ada pembatasnya sama sekali."
"Jangan marah padaku, Kakak Ipar. Aku hanya meneruskan yang Kak Litha bilang tadi siang, mana bilangnya sambil senyum-senyum sendiri lagi. Ckckckck ..." kata Nia cuek sambil menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir di atas nampan.
Mata Ray membelalak lebar menepuk jidatnya, "Astaga!"
Sementara, Abyan sedikit menjauh karena menerima telepon yang nampaknya serius.
"Nia, kapan kau kembali ke sekolahmu?"
"Aku kembali saat seremonial kelulusan, Kak," jawab Vania sambil menyodorkan secangkir teh pada Kakak Iparnya.
Walaupun terkesan cuek dan tomboy, sebenarnya Vania sosok yang perhatian dan sangat detail. Itu yang membuat Ray sangat menyayangi Vania seperti adiknya sendiri meski kadang ia harus menahan emosi dengan 'berisik'nya.
"Kau tidak sekolah memangnya?" Ray menyeruput tehnya.
Vania masih menuangkan teh ke cangkir yang lain buat Lidya, Abyan dan Pak Is. Mereka asyik bercengkrama, lupa kalau ada Nyonya yang dibiarkan sendirian di kamar.
"Aku sudah menyelesaikan ujian akhirku, nilaiku pasti bagus dan lulus. Lagipula aku sudah bilang sama wali kelas kalau aku diminta oleh Presdir Pradipta Corp. mendampingi istrinya dalam masa pemulihan. Tentu saja aku dijinkan, siapa yang berani menolak titah Tuan Muda."
Uhuk.
"Kau!"
Ray benar-benar tidak habis pikir, adik iparnya ini berani mencatut namanya sebagai alasan. Ia menatap tajam Vania, bukannya takut, gadis cantik itu malah tersenyum dan mengedipkan matanya, mata yang selalu membuatnya tidak bisa berkata tidak, mata yang sama seperti milik wanita kesayangannya.
"Hah! Terserah kaulah." Ray menyerah, ia menyeruput lagi tehnya, "Pak Is, tehnya enak."
"Nona Vania yang menggodok daun tehnya, Tuan."
"Nona Vania memang pandai meracik daun teh dari berbagai produk teh dengan takaran yang pas. Teh buatannya membuat saya ketagihan, beruntung Nona Vania tidak keberatan membuatnya kalau wanita tua ini ingin minum teh buatannya," sahut Lidya sambil menghirup aromanya.
"Aiihhh ... Bibi jangan terlalu memujiku. Kepalaku langsung membesar lho. Apa Bibi tidak melihatnya?"
Lidya dan Pak Is terkekeh mendengar celotehan gadis yang baru saja beranjak besar. Kerinduannya pada sang ibu kadang membuat Vania tidak sungkan bermanja pada Lidya.
"Ray ..." panggil Abyan tegang.
"Ya," jawabnya tanpa menoleh ke Abyan.
"Kabar dari Iptu Andika kalau Ramona baru saja meninggal."
Ray langsung meletakkan cangkirnya dan berdiri, "Kapan?"
"Sekitar jam 9 tadi. Jenazahnya sedang diperiksa polisi sebelum dimakamkan besok pagi."
Ray terlihat gusar dan Vania memperhatikan kakak iparnya dengan pandangan tidak suka. "Baguslah dia meninggal. Apa Kakak Ipar sedih mendengar beritanya?"
"Nia! Berempatilah sedikit! Ini kabar duka." Ray mulai meninggikan suara.
"Hah. Kabar duka bagi keluarga dan kerabatnya, tapi tidak bagiku. Itu justru kabar bagus," tandas Vania membalas teguran kakak iparnya.
Abyan, Lidya dan Pak Is saling memandang.
"Jaga bicaramu, Nia!"
"Kenapa aku harus menjaga bicaraku pada orang yang yang mau membunuh kakakku dan keponakanku? Jangan mendikte perasaanku!" balas Nia tidak kalah sengit dengan suara yang juga ditinggikan.
"Yan, Ibu tidak pernah melihat Nyonya berbicara dengan nada setinggi ini pada Tuan Muda, tapi Nona--" bisik Lidya ke Abyan.
"Sifat Si Tawon sama dengan Ray, mudah terpantik emosi. Jadi sebenarnya mereka berdua seperti melawan diri sendiri. Tidak ada yang mau mengalah."
"Si Tawon?"
"Julukan buat Nona Vania yang tidak takut 'berisik' di telinga Ray," jawab Abyan menggerakkan kedua jari tengah dan telunjuknya.
Lidya menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafasnya.
"Aku tidak kenal dia, tidak seperti Kakak Ipar yang notabene adalah mantan kekasihnya. Aku mengenalnya hanya sebatas adik dari korban yang hampir ia renggut nyawanya. Bukan satu nyawa tapi dua! Karena obsesi cintanya pada Kakak Ipar membuat Pak Sas harus mengorbankan nyawa untuk Kak Litha. Tidak berlebihan kan, kalau aku mengharapkan dia mendapat hukuman setimpal? Bahkan dia mati pun aku tidak keberatan, malah bagus lagi, sebab kalau dia hidup siapa yang menjamin dia tidak akan mencelakai Kak Litha lagi."
__ADS_1
Vania menohok telak Ray hingga tidak bisa membalasnya. Apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya dan apa yang dirasakannya adalah hal yang bisa dimaklumi. Ray hanya bisa mengepal kuat kedua tangannya, rahangnya sudah mengeras menampakkan urat-urat lehernya, bagaimana bisa ia dipermalukan anak kemarin sore di depan orang lain.
"Nona ... pelankan suara Anda. Nyonya bisa mendengarnya." Abyan berusaha meredam situasi.
"Mau sampai kapan kita menyembunyikan fakta dari Kak Litha? Menunggu dia tahu dengan sendirinya? Apa Kakak Ipar pikir Kak Litha akan baik-baik saja jika setahun, dua tahun atau sepuluh tahun baru diberitahu. Kita hanya menunda rasa sakitnya, bukan mengurangi, dan bukan tidak mungkin justru akan menambah rasa sakitnya," cerocos Vania tidak peduli, suaranya tetap saja keras.
Ray memijat keningnya, Tawon ini benar-benar berisik memekakkan telinganya.
"Nia, aku hanya tidak ingin Litha sedih kalau ia tahu Pak Sas sudah meninggal. Aku takut kesedihannya akan berpengaruh pada bayi yang ada di dalam perutnya," sahut Ray.
"Kak Litha tidak sepicik itu melarutkan dirinya dalam kesedihan hingga akan mempengaruhi anaknya, meski Pak Sas sangat berarti baginya," balas Vania.
Mereka berlima tidak sadar ada sepasang telinga yang berdiri dan mendengar percakapan mereka. Dengan memegangi perutnya, "Be-- benarkah yang aku dengar barusan?"
Mata Litha membeliak dan basah, berusaha menyangkal semua yang barusan ia dengar.
Semua menoleh ke arah Litha, salah tingkah dan gagap untuk bicara, terutama suaminya, hanya tatapannya saja yang memohon untuk tidak salah paham.
"Ja-- jadi Pak Sas sudah meninggal? Kapan?" tanya Litha menangis.
"Sa-- sayang, aku--"
Litha berbalik berjalan menuju kamar dengan cepat, mungkin jika kondisinya tidak hamil, ia akan berlari.
"Litha ... Aaarrrgghhh ... bagaimana ini? Gara-gara suaramu yang keras jadi Litha tahu sekarang!" berang Ray pada adik iparnya.
"Sampai berapa lama pun Kakak Ipar tunda faktanya, reaksi Kak Litha akan tetap sama," ujar Vania sembari beranjak mengikuti kakaknya ke kamar.
"Tapi, kalau Kakak Ipar menudingku penyebabnya, aku akan bertanggungjawab supaya Kak Litha tidak marah padamu," sambungnya dengan menolehkan kepalanya ke Ray.
"Cih. Percaya diri sekali kau!" sungut Ray.
Lidya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Nona Vania tidak bisa dianggap enteng. Tuan Muda saja kewalahan menghadapinya ... Sekarang pasti Nyonya sangat sedih. Ibu akan ke kamar Nyonya."
Lidya segera menyusul langkah Vania ke dalam kamar menghibur Litha. Tapi langkah kaki Ray lebih panjang dan cepat mendahuluinya.
.
.
.
Hati ibu hamil itu sakit bagai teriris-iris mendapati fakta sebenarnya. Ia duduk menangis di tepi pembaringan meratapi sosok pelindung setelah ayahnya.
Ceklek.
"Kak, apa aku boleh masuk?"
Litha diam saja, masih sesenggukan.
"Kakak diam berarti boleh masuk dan jawaban pertama yang berlaku," katanya memaksa.
"Maaf, Kak. Kami belum berani memberitahukanmu," ujar Vania lagi dengan posisi duduk di samping kakaknya.
Tiba-tiba Ray membuka pintu kamar tanpa di ketuk, "Sayang, ma--"
"Lith, jangan begini. Kau tahu kan aku tidak bisa pisah tidur denganmu."
Litha tidak menggubrisnya, airmatanya tidak mau berhenti.
Hiduplah dengan bahagia bersama suamimu, Nak. Apapun ujian dalam rumah tangga kalian, yakinlah tidak ada masalah sebesar cinta kalian.
Hatinya terasa sangat sakit, terlebih mengingat percakapan terakhirnya dengan Pak Sas. Rintihannya bertambah keras dengan mengeratkan tangan di perutnya yang berisi mahluk yang selalu dilindungi lelaki paruh baya itu.
"Sudah ... Kakak Ipar keluar saja dulu." Vania angkat suara dengan mengkode dengan matanya.
"Eh ... berani-beraninya kau me----"
"Ayo Ray, berikan Nyonya waktu. Pak Sas adalah orang yang paling dekat dengan Nyonya selain dirimu. Pasti tidak mudah menerima kalau Pak Sas sudah tidak ada," kata Abyan meremas pundak Ray.
Lidya mengangguk sembari tersenyum.Ray meninggalkan kamar dengan bersungut, hatinya bergemuruh. Ia sama sekali tidak bisa tidur tanpa memeluk istrinya.
.
.
.
"Kakak ... Maafkan kami."
"Kalian tega sekali ..."
"Kakak Ipar punya alasannya. Dia tidak ingin membuat Kak Litha sedih dengan kondisi seperti ini. Kakak Ipar takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya. Mengertilah posisinya sebagai suami, Kak."
Lidya mengamati Vania. Seringkali ia takjub dengan tindak tanduk remaja yang ia nilai dewasa dalam cara memandang sesuatu untuk gadis seusianya. Perkataannya juga seringkali mengunci mulut lawan bicaranya.
"Saat Kak Litha belum dinyatakan telah melewati masa kristis. Kakak Ipar terlihat tidak bernyawa. Rambutnya berantakan, mukanya kusut, tampilannya kumal, tatapannya kosong, diajak bicara gak nyambung, hanya Litha, Litha, selalu Litha saja dalam pikirannya. Tidak tidur, tidak minum juga tidak makan, nafasnya bau kalau bicara--"
"Nia! Jangan kurang ajar begitu mengatai Kakak Iparmu."
Nia menahan kekehannya, "Kakak Ipar seperti orang gila menunggu Kak Litha melewati masa kritis. Dia baru mau mengganti baju dan membersihkan diri setelah Kak Litha dipindahkan ke kamar rawat inap."
Pipi Litha bersemu merah, hatinya berbunga mendengarnya, tapi ia belum bisa menerima kalau suaminya menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang kalau Mas Rayyendra sekacau itu?"
"Dia melarangku bercerita sama Kakak bagaimana keadaannya saat itu. Kakak Ipar kan, ingin selalu tampak sempurna di mata wanita yang sangat dicintainya. Takut Kakak berpaling mencari kesempurnaan di pria lain. Bahkan malam itu kudengar bunyi kentutnya, kayaknya Kakak Ipar masuk angin. Ternyata bunyi dan bau kentut seorang Tuan Muda sama saja dengan kita-kita."
"Ya ampun, Nia ..." seru Litha tidak percaya, adiknya membeberkan aib bagi seorang Tuan Muda.
Lidya menahan senyum, takut kalau Nyonya Mudanya curiga yang dikatakan adiknya itu hanya kalimat hiperbola untuk menghiburnya.
"Jangan bilang padanya dengan apa yang kukatakan tadi ya, Kak. Nanti jatah uang sakuku akan dikurangi ... Eh iya, Kak ... ada satu rahasia lagi. Ini baru diketahui Kakak Ipar. Tapi janji setelah aku memberitahukanmu, jangan marah lagi sama Kakak Ipar."
"Sejak kapan kau jadi pendukungnya?" tanya Litha mendelik curiga.
"Hahahaha ... Aku akan jadi pendukung Kakak Ipar selama dia cinta mati sama Kak Litha, tapi kalau dia menyakiti hati Kakak, aku akan jadi musuh terbesarnya."
__ADS_1
Litha menatap adik perempuannya, hatinya menghangat setelah kesedihan tadi meliputinya.
"Katakan, rahasia apa?"
"Pak Sas adalah paman Asisten Yan dan kakak lelaki Bibi Lidya."
"APA!?!"
"Anak ini benar-benar-- Astaga-- Bisa-bisanya dia memberi kejutan setelah berita mengejutkan sebelumnya," bathin Lidya kaget.
"Benar, Bi?"
Mau tidak mau Lidya memberi anggukan pelan.
"Bagaimana ini? ... Karena melindungiku, aku membuat Asisten Yan dan Bibi kehilangan--"
Airmata Litha mengalir deras kembali, rasa bersalahnya kian bertambah setelah mengetahui hubungan keluarga Pak Sas dengan Abyan dan Lidya.
Lidya memberanikan diri memeluk Litha. "Jangan sedikitpun merasa bersalah, Nyonya. Itu sudah garis takdir beliau. Kami pun menerimanya dengan ikhlas, justru kalau Nyonya bersalah seperti ini akan membuat kami merutuki kepergiannya,"
Lidya mengusap lembut punggung Litha yang bergoncang karena menangis kembali.
"Sehat dan berbahagialah dengan Tuan Muda dan Tuan Muda kecil, Nyonya. Pak Sas pasti akan bahagia juga disana," ujar Lidya mengurai pelukannya.
"Maaf Bibi ..." ucap Litha lirih menunduk.
"Anggap Bibi pengganti Pak Sas ya kalau Nyonya membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan."
"Bibi ..."
Litha memeluk Lidya agak lama, menumpahkan segala rasa sedih di hatinya. Kehilangan sosok seperti orang tua di saat akan melahirkan tentulah tidak mudah.
"Aku akan memanggil Kakak Ipar, Kak Litha sudah tidak marah, kan?"
.
.
.
"Sayang ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya takut kalau kau terlalu sedih sedangkan hari bersalinmu semakin dekat."
Ray berlutut di hadapan istrinya. Kecemasan tertingginya adalah kesedihan istrinya.
Litha menggeleng pelan, "Harusnya Mas memberitahuku. Sepahit apapun kejujuran itu lebih baik daripada kebohongan."
"Kakak Ipar tidak berbohong, hanya menunda memberitahu. Kakak Ipar tidak pernah mengatakan kalau Pak Sas tidak meninggal, kan?" ceplos Vania cuek.
Semuanya tercengang dan membenarkan apa yang Vania katakan, Ray senang mendapat pembelaan dari adik iparnya.
"Lalu kabar Ramona bagaimana? Tadi sempat kudengar kalau dia baru--"
Vania langsung memotong kalimat Litha, "Dia sudah minggat ke alam baka."
Plak.
Lidya memukul bokong Vania, gemas dengan sifat ceplas-ceplosnya. Omongan yang keluar dari mulutnya tidak pernah dipikirkan dan disaringnya dulu.
"Berkatalah yang baik, Nia," kata Litha, "Kapan Mas?" tanyanya pada Ray.
"Baru saja," jawab Ray.
"Perkataan yang baik hanya untuk orang baik," seloroh Vania cuek.
Semua lagi-lagi tercengang.
"Jangan menyimpan kebencian dalam hati. Meski sakit, melepaskan rasa benci itu melegakan." Abyan mencoba menasehati.
Vania mendengus sebal, sambil berlalu keluar kamar dia menyindir, "Ya, akan kucoba. Karena melepaskan rasa benci itu lebih mudah daripada rasa cinta pada seseorang."
Muka Abyan merah padam, Vania dengan santainya mengembalikan perkataannya dengan menohok.
Pppffftttt ...
Lidya menahan tawanya, entah kenapa dia sangat menyukai anak perempuan ini.
"Pintar sekali kau bermain kata," desis Abyan.
Vania menghentikan langkahnya di ambang pintu, ia berbalik, "Tentu saja, kalau tidak, aku tidak akan terpilih sebagai Ketua OSIS di sekolah. Jangan merasa tersindir Asisten Yan ... Yang aku maksud tadi, adalah wanita gila yang hampir membunuh kakakku dan keponakanku karena cinta yang tidak bisa dia lepaskan. Kalau Asisten Yan merasa yaaaa ... Kenapa tidak dilepaskan saja? Jangan sampai menggila seperti dia. Ck, ... Aku kasihan sama Bibi, putra satu-satunya ternyata hanya memikirkan perasaannya sendiri."
"Nia! Sopan sedikit! Hormati orang yang lebih tua. Jaga mulutmu!"
Litha marah dan memperingatkan adik kandungnya untuk menjaga bicaranya. Ia sungguh tidak enak hati pada asisten Yan dan Bibi Lidya.
"Tidak apa-apa, Nyonya ... Toh, yang Nona ucapkan itu memang benar. Abyan saja yang keras kepala kalau diberi tahu," kata Lidya.
"Heh. Siapa suruh mendikte apa yang dirasakan orang lain, kalau diri sendiri juga tidak ingin didikte perasaannya," liriknya tajam ke lelaki bermata teduh itu,
Glek.
Abyan kali ini benar-benar mengerti arti kata 'berisik' yang sering disematkan Ray pada Si Tawon ini. Bahkan jika dia merasa terusik, dia tidak akan segan-segan untuk menyengat.
"Malam ini Kakak Ipar tidak jadi pisah tidur dengan Kak Litha. Aku sudah bertanggungjawab atas perbuatanku, kan? Setidaknya ... Kakak Ipar sekarang sudah bisa lebih tenang sedikit."
Vania bicara ke arah Ray dengan membuat kode kerlingan matanya, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. Alis Ray menaut, ia tahu gaya bicara adik iparnya ini. Ada sesuatu yang ingin ditujukan buatnya tapi masih ingin ia sembunyikan dari yang lain. Tapi apa itu?
"Mas, besok pagi aku ingin ke makamnya Pak Sas setelah berbelasungkawa pada keluarganya Ramona," ucap Litha setelah Vania hilang dari pandangan mereka.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi. Mas sudah melakukan kesalahan padaku. Aku akan memaafkan kali ini, tapi tidak di lain waktu. Aku tidak suka Mas menyembunyikan sesuatu dariku jika itu menyangkut tentang diriku. Aku memang istrimu yang Mas jaga dan lindungi, namun aku juga punya hak untuk tahu." Litha menegaskan titah dan posisinya.
Hening. Ray tidak berani bersuara membalas kalimat istrinya saat ini. Ia diam, tanda setuju.
"Ckckckck ... Dimana Nyonya Besar menemukan perempuan kakak beradik ini? Bisa membungkam mulut Tuan Muda dan Abyan yang perkataannya tidak pernah dibantah siapapun. Hahahaha ... mati kutu sekarang, kan kalian berdua!" sorak Lidya dalam hatinya seraya pamit dan menarik tangan putranya untuk keluar dari kamar majikannya.
- Bersambung -
__ADS_1