Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Restu Ibu


__ADS_3

# Di Kota A#


"Halo, Litha, bagaimana kabarmu?" Suara Firza terdengar setelah Litha mengangkat panggilan telepon darinya.


"Baik, Kak."


"Kudengar dari Pak Prasojo, kalau kau menerima pernikahan itu," suaranya jelas terdengar namun tersirat kegetiran disana.


"Eng... iya, Kak."


Firza di ruang kantor di gedung pusat Pradipta Corp. memejamkan mata, berharap ini mimpi dan lekas terbangun.


"Berarti pernikahanmu dalam waktu dekat ya?"


"Katanya sih begitu, semua diurusin sama Pak Sas dan Pak Is. Aku dan Tuan Rayyendra hanya menunggu hari H tiba."


"Tuan Rayyendra? Kau menyebut calon suamimu Tuan?"


"Hehehehe ... aku hanya belum terbiasa saja, Kak, menyebutnya selain Tuan."


"Apa aku harus memanggilnya suamiku atau sayang. Iiiiihhhhhhhhh......" Litha merasa geli sendiri mendengar suara hatinya.


"Oohh ... Tapi maaf Lith, aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu, ada agenda penting di London dalam waktu dekat ini yang tidak bisa ditunda atau diwakilkan. Kau tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, Kak."


"Sebenarnya aku dan Ray juga tidak mau dirayakan dengan pesta atau semacamnya karena ini hanya sementara, tapi kenapa sih Pak Sas dan Pak Is yang paling antusias ikutan rempong, bawa-bawa nama Nenek lagi sebagai alasan." Litha bergumam dalam hati.


"Halo Lith, masih disitu?"


"Eh, masih, Kak. Tidak apa-apa kalau Kak Firza berhalangan hadir, kami akan memakluminya."


"Semoga kamu dan Ray bahagia ya, doa Kakak selalu menyertai kalian berdua. Kalau ada apa-apa jangan segan memberitahu Kakak."


Kalimat yang sangat manis terdengar sebagai petuah dari seorang kakak untuk adiknya, tapi bisakah kalian membayangkan bagaimana hati Firza saat mengucapkannya, sebisa mungkin tidak ada getaran di suaranya.


"Terima kasih, Kak. Semoga Kakak juga segera menemui kebahagiaan," ucap Litha mengakhiri percakapan di telepon.


Firza yang malang, yang harus mengalah karena sebuah janji dan balas budi. Ia harus menahan segala rasa, rasa cinta, rasa rindu dan rasa tangis yang sekarang ia rasakan. Bahkan untuk menyatakan isi hatinya pun lidahnya kelu. Ia hanya bisa berdoa agar gadis yang menjadi cinta pertamanya hidup bahagia dengan pilihannya.


Beralasan pekerjaan yang tidak bisa ditunda dan diwakilkan, ia ingin lari sejauh-jauhnya, menutup mata dan telinganya, menguburkan semua harapan yang sudah lahir. Layu sebelum berkembang, seperti itulah keadaan Firza saat ini.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Rayyendra bersama Abyan kini berada di kota A, kota asal Litha. Sesuai persyaratan calon istrinya, ia harus meminta izin langsung kepada calon ibu mertuanya untuk menikahi putrinya dan melangsungkan acara pernikahan disini.


Sampailah mereka di tujuan, rumah keluarga Litha, sebenarnya bukan rumah keluarga Litha tapi rumah Pak Tino, salah satu asisten rumah tangga di rumah utama sekaligus paman Litha.

__ADS_1


Ray turun dari mobil diikuti Abyan. Kemudian di bukanya kap mobil belakang, Abyan menurunkan satu persatu bingkisan dengan berbagai bentuk dan ukuran, sangat banyak.


Kemarin Litha memohon padanya di telepon agar tidak membicarakan kontrak yang telah mereka sepakati mengingat ibunya dalam keadaan sakit.


"Kumohon, Tuan. Bersikaplah seperti calon menantu normal di depan Ibu, aku tidak ingin ia mengkhawatirkan anaknya."


"Apa untungnya buatku?"


"Memang tidak ada untungnya bagi Tuan, kalau Tuan tidak bisa memandangnya sebagai ibu mertua, paling tidak pandanglah ia sebagai wanita paruh baya yang layak dikasihani."


Ray menyetujuinya, ia penasaran dengan sosok ibu yang sangat dimohonkan Litha untuk menjaga perasaannya. Kini wanita itu sudah berada di hadapannya dan ia siap meminta restu darinya.


"Nak Rayyendra, sebenarnya Ibu sangat kaget sampai-sampai Ibu mau pingsan ketika Litha yang didampingi pamannya menyampaikan ia akan menikah denganmu. Apa itu benar?" tanya Ibu Litha setelah mempersilahkan Ray dan Abyan duduk di ruang tamu.


Ibu Litha, wanita sederhana yang tengah duduk di kursi roda, wajah cantiknya termakan kesedihan hingga yang nampak hanyalah wajah yang patut untuk dikasihani, seperti kata Litha ditelepon.


"Iya, Bu. Kami mohon maaf telah membuat Ibu tidak nyaman dengan pernikahan kami yang mendadak. Mohon maaf juga kedatangan saya kesini sangat tiba-tiba, Bu. Maksud dan tujuan saya adalah meminta restu Ibu di pernikahan kami. Tidak ada keluarga yang dapat mendampingi saya karena yang tersisa di keluarga saya adalah saya sendiri."


"Ya, Litha sudah menceritakan siapa calon suaminya. Ibu masih merasa ada sesuatu yang aneh, tapi Litha cukup meyakinkan Ibu untuk memberinya restu. Sekarang Ibu ingin mendapat keyakinan itu darimu, Nak Rayyendra?"


Walaupun suaranya lemah, tapi ada ketegasan disitu. Menggantikan peran ayah yang menelisik calon suami putrinya. Semua orang yang ada di ruangan itu pun saling berpandangan, terutama Ray dan Litha yang duduk berhadapan. Keyakinan apa yang dimaksud Ibu?


"Litha meyakinkan Ibu untuk menerimamu sebagai suaminya kelak karena ia mencintaimu, iya kan Litha?"


Ray dan Abyan kaget. Cinta???


Pppfffffttttt....


"Mampus aku!!! Mau ditaruh dimana mukaku ini. Kenapa Ibu mengatakannya sih!!! Aduh .... Aduh .... Aduh ...."


Litha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ditanya ulang alasannya menikah oleh Ibu di depan semua orang di ruang tamu. Paman Tino yang berdiri di belakang Litha mengutik tangan yang menggaruk itu.


"Aaauuwwwww .... Paman, sakiiiitttt." Litha protes dengan gerakan bibir tanpa suara.


"Litha, apa alasanmu ingin menikah dengannya?" Ibu mengulang lagi pertanyaannya.


"Eng .... eng ...."


"Apa perlu Ibu mengatakannya semua?"


"Hehehehe..." Litha malah tertawa tidak jelas. Abyan sudah merasa perutnya sakit karena menahan tawanya. Anehnya Ray masih bisa memasang wajah serius.


"Dalam sebuah hubungan, pengungkapan perasaan kepada pasangan itu perlu. Memang benar cinta itu perbuatan, tapi cinta juga perlu pengakuan agar suatu hubungan itu kuat dan mampu bertahan menghadapi badai."


Nasehat Ibu malah membuat Litha makin ingin tenggelam ke dalam lantai yang dipijaknya.


"Oh ibu, tidak mungkin aku mengatakan cinta pada Tuan Muda Congkak dan Pemaksa ini. Lihat! dia sebenarnya tertawa di balik mimik seriusnya itu," pekik Litha tanpa suara.

__ADS_1


"Hehehehehe... "


Litha tertawa paksa mencairkan suasana, tapi Ibu malah menatapnya dengan serius.


"Alamaaaakkk, kuatkan hatimu, Litha." (Litha)


"Hahahahahaha..... Ayo Miss Responbility, nyatakan cintamu pada calon suamimu huahahahaha....." (Abyan)


"Kita lihat sampai dimana kau bisa bersandiwara di depan ibumu. Ternyata aktingmu sangat buruk hahahahaha...." (Ray)


"Aku mencintainya, Bu," ucap Litha pelan menundukkan kepalanya, tidak sanggup ia melihat wajah Ray dan Abyan.


"Katakan dengan jelas, nya itu siapa?"


"Ibu kali ini benar-benar mengerjaiku!"


"Aku mencintai Rayyendra Putra Pradipta, Ibu."


Litha mengatakannya dengan cepat dan mata terpejam, kepalanya masih tertunduk dengan wajah yang memerah menahan malu. Ia rasanya ingin mempunyai kekuatan menghilangkan diri saat ini juga.


Abyan yang sedari tadi menahan tawanya, takjub jua mendengar apa yang Litha ucapkan.


"Kau dengar kan, Nak Rayyendra. Alasan Litha meminta izin untuk menikah adalah karena mencintaimu. Namun apa kau juga merasakan perasaan yang sama dengannya?" Ibu bertanya pada Rayyendra.


Pertanyaan Ibu membuat semua orang yang ada di ruang tamu menahan nafasnya, tidak terkecuali Paman Tino dan istrinya, Bibi Rima.


"Aku juga mencintai Litha, Bu. Aku ingin menikah dengannya karena ia adalah wanita terpilih untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak."


Jrenggggg......


Bagai disambar petir bagi siapapun yang mendengar jawaban Presdir Pradipta Corp. itu. Suaranya tenang, intonasinya jelas, tidak pelan, tidak terburu cepat, mengatakannya pun dengan mimik muka yang serius dan tatapan yang dalam. Tidak seperti Litha yang cengengesan dan maju mundur.


"Tuan, walaupun aku tahu kau hanya bersandiwara di depan Ibu tapi Tuan membuat bunga-bunga dihatiku mekar," gumam Litha, wajahnya makin bersemu merah.


"Ray, andai saja itu bukan bagian dari sandiwaramu, pastilah suasana saat ini akan penuh haru." Abyan membathin.


Tentu saja, hanya dengan sekali pernyataan, Ray dengan mudah meyakinkan Ibu. Pada akhirnya Ibu memberi restu pada Rayyendra dan Litha. Meski ia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan putrinya, namun ia yakin putrinya tidak tidak gegabah untuk mengambil keputusan.


...------...


Epilog


Dua hari yang lalu Paman Tino meminta ijin untuk pulang kampung bersama Litha untuk meminta restu pada ibunya. Sebelum menjemput keponakannya itu, ia menelepon istrinya,


"Bu, aku dan Litha pagi ini akan pulang ke Kota A. Katakan pada Kakak Ipar, waktunya telah tiba, semoga Kakak Ipar kuat."


Jauh sebelum Nyonya Besar wafat, Sasmita telah menyampaikan maksud dan tujuan Nyonya Besar untuk menjadikan Litha cucu menantunya. Itulah mengapa Paman Tino pulang kampung tanpa memberitahu Litha beberapa waktu yang lalu, dan Ibunya merasa bersalah karena demi membantu ekonomi keluarga Litha harus dihadapkan dengan wasiat Nyonya Besar.

__ADS_1


Sepanjang hari selagi menanti kepulangan putrinya, Ibu melamun dengan derai airmata. Tidak disangka Litha akan mengambil keputusan besar yang pasti merubah hidupnya. Ia hanya bisa memanjatkan doa pada Sang Khalik agar menumbuhkan rasa cinta dan menyemai kasih sayang antara Litha dan Rayyendra di dalam ikatan pernikahan.


- Bersambung -


__ADS_2