Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Luka di Hati


__ADS_3

Litha sudah tidak tahu mau ditaruh dimana mukanya. Semua juga mengakui wajah suaminya itu tampan tak terkira tapi mengakuinya di dalam kegiatan resmi seperti ini dan direkam membuatnya seperti budak cinta yang menghamba.


Ray yang mengerti kondisi istrinya, mengusap lembut punggungnya untuk menenangkan sembari tersenyum. Ray tahu bagaimana harus bersikap, ia mengambil alih presentasi itu, melanjutkan apa yang dimulai Litha. Semua ia paparkan dengan gayanya yang khas, tegas, tidak bertele-tele dan on the point, tidak melebar kemana-mana. Jika Litha memaparkan dengan data dan lebih pada deskripsi sebuah obyek, Ray lebih menekankan pada tujuan secara global yang disertai target. Tanpa mereka sadari perpaduan gaya mereka yang berbeda saling melengkapi sekaligus menguatkan.


"Benar-benar botol ketemu tutupnya ini mereka. Semoga kalian bahagia terus." Abyan tidak sadar yang dari tadi sangat jengkel, kini mengembangkan senyumnya.


*"Tuan dan Nyonya Pradipta, saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda. Presentasi dari awal hingga akhir semua terekam dan rekaman tersebut akan disimak oleh Mr. Anderson. Bagaimana keputusan beliau, mohon untuk ditunggu, saya akan secepatnya mengabarkan kepada Anda."* Mr. Laurent mengulurkan tangannya menyudahi pertemuan ini.


*"Terima kasih Mr. Laurent, semoga kami mendapat kabar baik,"* kata Ray menjabat tangan Mr. Laurent.


*"Ya. Apa saya masih tidak boleh menjabat tangan Nyonya Pradipta?"*


*"Heheh. Tidak boleh, saya sudah bermurah hati membiarkan Anda menatapnya saat presentasi. Dan ini terakhir kalinya, karena saya menghargai Mr. Anderson."*


"Apaan sih!" pekik Litha tertahan mencubit perut kotak-kotak suaminya yang padat. Ray meringis tapi hatinya senang


Andrew yang melihatnya tersenyum kecut, tingkah Litha di matanya begitu mesra terhadap suaminya, "Grandpa, kau benar wanita negeri ini sangat menyenangkan. Semoga suatu saat aku bisa seperti Tuan Pradipta."


.


.


.


Ray menyulut rokoknya di balkon ditemani Abyan. Setelah pamit sebentar untuk berbincang dengan Abyan sebentar di balkon, Ray meninggalkan Litha di kamar dengan tontonan drama dan berbagai macam camilan.


"Nyonya senang sekali dengan dua kantong besar belanjaan yang semuanya berisi makanan," komentar Abyan mengingat wajah Litha yang begitu sumringah ketika dikabulkan permintaannya oleh Ray.


"Itu hadiah buatnya karena sudah tampil sangat baik saat presentasi, meski akhirnya dia kehilangan percaya dirinya karena mengakui sedang mengagumi wajahku hahahahahahaha .... dia lucu sekali dan sangat menggemaskan. Dia membuatku tidak bisa jauh darinya, Yan."


"Tampilan Nyonya sangat memukau, Ray. Ia mengenal Pradipta Corp. dengan baik sekali. Nyonya seorang pengamat yang cerdas."


"Padahal selama ini ia sama sekali tidak mau bicara tentang Pradipta Corp., kukira ia tidak peduli, ternyata-- ck."


Ray menyesap dalam rokoknya kemudian ia hembuskan ke udara bebas. "Aku tahu ia belum bisa melepas belenggu dalam hatinya, masih ada beban yang belum terangkat. Litha pandai berpura-pura menutupi perasaannya. Selama aku menjadi suaminya, aku tidak pernah mendengar dari mulutnya mengeluhkan sesuatu kecuali rasa lapar, heheh!"


Ada getir dalam nada suara Ray, Abyan menepuk pundaknya, "Aku tahu kau ingin membuat Nyonya bahagia di setiap sudut hatinya, Ray. Aku akan mengurus dr. Vivian agar dia bersedia menjadi saksi kunci, setelah itu Pak Prasojo bisa mengajukan untuk membuka kembali kasus Tisha."


"Hhhmmppffhh ... tapi Litha tidak ingin mengungkitnya kembali, itu seperti mengorek luka yang hampir mengering dan kembali menjadi basah. Aku takut itu akan melukainya."


Mata Ray menerawang ke langit malam tanpa ada cahaya bulan. Baginya sekarang prioritas utama hidupnya adalah Litha, ia tidak bisa hidup tanpanya. Ia menghi*sap dalam rokoknya mencoba melepaskan kegundahan dalam hatinya.


"Kau suaminya, Ray. Jika dia terluka, balutlah kembali seberapa banyak dan seberapa sering luka itu ada. Sandarannya adalah dirimu, jangan biarkan dia sendiri. Kejahatan yang dilakukan oleh Lucas dan Sebastian adalah hal yang berbeda, secara sosial kemasyarakatan memang mereka harus mendapat hukuman sesuai sanksi yang berlaku, agar tidak ada korban seperti keluarga Litha. Kalau kau biarkan, maka akan ada kejahatan yang lebih besar lagi karena mereka tahu tidak akan dihukum."

__ADS_1


Abyan berkata demikian karena berkaca dari tragedi menjelang kelahiran Rayyendra sendiri, saat cinta yang buta merasuk ke dalam jiwa iblis berwujud manusia. Tuan Besar dan Nyonya Besar bukannya tidak tahu itu perbuatan siapa, namun dengan berat hati mereka mengabaikannya karena takut membuat luka di hati putra mereka, ayah Rayyendra menjadi kian besar. Istri yang ia cintai dicelakai oleh sahabat yang sudah dianggap saudaranya sendiri.


Asisten Nyonya Besar saat itu, Pak Sas sudah mengingatkan bahwa jika Sebastian tidak ditindak maka akan ada kejahatan yang lebih besar lagi nantinya, alih-alih mendengarkan, Nyonya Besar malah menyuruh Pak Sas menutup mulut dan menguburkan semua kebenarannya. Ia terlanjur mengatakan pada Rayyendra bahwa ibunya meninggal karena sakit parah setelah dua hari melahirkannya. Ia tidak ingin cucu kesayangannya terluka mengetahui seseorang berbuat jahat pada ibunya hingga ia tidak dapat merasakan kasih sayang seorang ibu.


Abyan yang mengetahui fakta masa lalu, juga bimbang apakah harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak pada Ray. Termasuk status Ramona yang hanya merupakan anak adopsi Keluarga Riguna. Ia tidak ingin fakta masa lalu merusak kebahagiaan yang sudah tercipta. Ia tahu benar watak Ray, meski kasar dan temperamental ia punya sisi lembut yang tidak semua pria miliki. Jika seorang wanita mengenal sisi lembut yang membius itu, bisa dipastikan wanita itu akan jatuh cinta, seperti Ramona dan Litha. Kenyataan Ramona bukan anak kandung Sebastian akan membuat hati Ray goyah karena rasa iba, rasa yang sudah terbentuk sejak awal dari cerita-cerita kekejaman Sebastian pada gadis itu. Hal tersebut tentu akan menyakiti hati Litha karena ia tahu Mona juga memiliki cinta yang besar untuk suaminya.


"Aku akan coba membicarakannya lagi dengan Litha, sementara itu pastikan dr. Vivian bersedia menjadi saksi," ujar Ray mematikan puntung rokoknya.


"Baik, Ray. Aku akan menemuinya besok sore. Oh ya, bulan depan Nyonya berulang tahun, apa ada rencana untuk merayakannya?"


"Litha tidak suka perayaan untuk dirinya apalagi mengundang banyak orang. Kalau aku membuat pesta untuknya yang ada bisa-bisa aku 'puasa', aku tidak bisa berdekatan dengannya tanpa 'melahap'nya."


"Dasar maniak!"


"Hahahahaha ... Apa aku salah maniak pada istriku sendiri? Kau tahu Yan, aku tidak merasakan gai*rah apapun dengan wanita lain. Berbeda dengan Litha, dari kerlingan matanya dan gerak bibirnya saja membuatku candu. Ah, iya ... aku lupa kau kan, jomblo. Kau pasti tidak paham yang aku katakan, hahahaha ..."


"Sialan kau Ray! Bagus sekali kau mengejekku seperti itu padahal aku yang menemanimu saat kau jauh dari istrimu." Gantian sekarang mata Abyan menerawang di kelamnya langit, seperti kelam di hatinya yang belum menemukan cahaya bintang ataupun rembulan.


"Makanya Litha selalu mengatakan, 'Mas, carikan jodoh untuk Asisten Yan. Kasihan dia, selalu melihat kemesraan kita lalu ia lampiaskan ke pintu' hahahahaha ..." kata Ray menirukan gaya bicara istrinya.


"Cih. Bisa-bisanya kalian menceritakan aku di belakang."


"Itu tanda bukti kami menyayangimu, Yan. Kau bukan sekedar Asisten bagiku dan Litha, tapi keluarga. Kami juga ingin melihatmu bahagia sama seperti kami yang rasakan."


"Asisten Yan! Apa kau masih belum selesai dengan Suamiku? Kalian ini seperti enggan berpisah saja, padahal besok akan bertemu lagi, sedangkan aku sudah ditinggal lagi sama tembok-tembok ini."


Sontak Ray dan Abyan tergelak melihat Litha seperti anak kecil yang merajuk dan berteriak dari depan pintu kamar dengan kesal.


"Oke, lebih baik aku pulang sekarang, sebelum Nyonya mengomel lebih panjang," katanya pada Ray.


"Ya, hati-hatilah di jalan. Kau pikirkan apa yang akan aku berikan untuk ulang tahun Litha."


"Heh! Kau saja yang berpikir! Kapan aku bisa menemukan wanitaku kalau kau terus membebani pikiranku."


Ray kembali tergelak mendengar keluhan Asistennya. Tapi yang dilihat Litha mereka berdua enggan berpisah, masih saja mengobrol.


"Mas, kau temani saja Asisten Yan sampai pagi! Tidak usah tidur menemaniku!" kata Litha menaikkan nada suaranya kemudian ia masuk kamar dan mengunci pintunya.


"Hah! Apa?!? Lith, jangan begitu. Yan cepatlah pergi! Kau membuatku tidur di sofa malam ini."


Hahahahahahaha ... tawa Abyan membahana di seluruh apartemen Ray, ia suka dengan ending seperti ini. Biar Ray juga ikut merasakan kesepian yang ia rasakan tiap malam.


.

__ADS_1


.


.


"Mas, Mas. Ayo banguuun ... "


Litha menggoyang-goyangkan tubuh suaminya agar bangun. Ray menggeliat, ia buka matanya perlahan, dengan suara serak ia berujar, "Kenapa Sayang?"


"Tidurlah di dalam dengan baik. Mas pasti lelah seharian, aku minta maaf membiarkan Mas tidur di sofa sendirian, mana belum berganti baju lagi."


Ray tersenyum, istrinya memang sangat perhatian padanya, bahkan sejakdari statusnya sebagai istri kontrak.


"Tapi, kalau aku berganti baju sekalian membersihkan diri, aku pasti kembali segar dan tidak mengantuk. Jadi biarkan saja aku tidur disini sampai pagi," ujar Ray sengaja ingin melihat reaksi istrinya.


Litha tersenyum, "Bergantilah, Mas. Kalau kau segar kembali, aku akan membuatmu kembali mengantuk dan menjadikan tidurmu lebih nyenyak. Mas sudah bekerja keras hari ini, Mas berhak mendapat kualitas tidur yang baik agar besok bangun lebih semangat untuk bekerja lagi."


Ray terkekeh, ia mencubit hidung istrinya, "Kau memang istri terbaik. Selalu tahu apa yang suamimu inginkan."


Ray mencium kening istrinya dan berjalan masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur. Tidak lupa ia menelepon Abyan, begitu teleponnya diangkat ia matikan disusul dengan pesan teks yang mengatakan bahwa ia menang. Ray lalu tergelak, ia senang malam ini tetap tidur di kamar memeluk guling hidup seperti biasa.


"Apa yang menjadi gundahmu, Mas? Aku tahu bahwa ada hal serius yang memenuhi pikiranmu, jika kau berbincang dengan Asisten Yan sambil merokok," gumam Litha setelah Ray masuk ke dalam kamar.


Rasa haus di tengah malam menyebabkan Litha bangkit dan keluar kamar. Melihat suaminya tidur tanpa selimut di sofa dan masih mengenakan kemeja kerja membuatnya iba. Ia dekati dan menatap lekat tiap guratan wajah yang sangat ia sukai. Tiba-tiba Litha mencium aroma rokok di tubuh suaminya, ia tahu bahwa hati suaminya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Entah apa itu, Litha hanya ingin membuat suaminya lebih rileks dan mengusir keresahan itu dengan fokus hanya pada dirinya.


.


.


.


Dering bunyi ponsel di tengah malam begini saat Abyan sudah terlelap sungguh menjengkelkan.


"Ray ... Ada apa ia menghubungiku larut malam?"


Begitu telepon diangkat Ray malah memutuskan sambungan telepon, sesaat kemudian muncul pesan teks darinya.


Wee ... Aku menang Yan. Siapa bilang aku bakal tidur sendirian seperti kamu. Litha membuka pintu kamar untukku.


"Sial!!! Tidak bisakah kau memberitahuku besok pagi! Baru saja aku bermimpi akan mendekatinya kau sudah membangunkanku. Tidak bisakah kau menunggu mimpinya selesai. Ah, dasar kau Ray!!!" umpat Abyan kesal karena ia bermimpi melihat dr. Vivian dari kejauhan di seberang sebuah sungai yang berarus.


"Kenapa ia berada di seberang sungai menatapku ya?"


bathin Abyan kemudian, dan pada akhirnya membuatnya terjaga hingga menjelang subuh karena memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2