Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Bocah Egois dan Anak di Bawah Umur


__ADS_3

Litha menghampiri Asisten Yan yang sudah menunggu tidak jauh dari pagar rumah kost.


"Asisten Yan, Tuan menunggu di sana."


Litha menunjuk dengan arah matanya. Ray memarkirkan mobilnya paling jauh dari daya pandangnya ke Litha, sesuai yang diinginkan gadis kurus itu namun tetap dalam penjagaannya.


Abyan mengangguk mengerti, yang ia tidak mengerti mengapa jarak parkir Ray agak jauh sehingga ia harus berjalan kesana.


"Terima kasih, Asisten Yan. Selamat malam dan selamat beristirahat. Tolong sampaikan terima kasih saya ke Tuan Muda, tadi saya tidak sempat mengucapkannya."


"Baik, Nona."


Kira-kira dua puluh meter lagi Abyan mendekati mobil, Ray keluar, berpindah ke tempat semula.


"Nona Litha mengucapkan terima kasih, Tuan," ujar Abyan begitu duduk di balik kemudi.


"Heh ... Kenapa tidak diucapkannya sendiri?"


"Katanya tidak sempat."


Rayyendra tidak membalas, masih dilihatnya dari kejauhan rumah kost itu, kemudian berkata,


"Yan, apa menurutmu Litha orang yang tulus?"


"Saya tidak begitu dekat mengenalnya, tapi sejauh yang saya amati, saya rasa dia tulus, Tuan."


"Gak usah pake Tuan-tuanan, di dalam mobil ini hanya ada aku dan kamu."


"Biasanya di mobil juga kau tetap menginginkan ada tuan dan anak buah," gerutu Abyan.


"Tapi aku masih belum percaya sepenuhnya, Yan. Dia bisa saja merebut nenek seperti yang Firza lakukan."


"Merebut Nenek bagaimana, Ray? Kau pikir Nyonya Besar itu barang yang bisa diperebutkan? Pemikiranmu masih tetap sama kayak dulu, Bocah Egois!" lagi-lagi Abyan menggerutu dalam hati.


"Nenek tidak pernah membagi kasih sayangnya untukmu, Ray. Masih tetap dengan takaran yang sama, yang Nenek lakukan itu justru menambah kasih sayangnya ke yang lain seperti aku dan Bona kan juga dianggap cucunya."


"Tapi tidak diberikan nama Pradipta."


"Apa patokan bagimu itu sebuah nama? Kalau kau berpikiran seperti itu, suatu saat nama Pradipta akan jadi boomerang buatmu sendiri."


"Hei! Siapa yang menyuruhmu mengguruiku? Jalankan mobilnya! Jangan berkata santai padaku kalau bukan di klubnya Bona."


"Hhhhhhhh.... Dasar bocah!!! Tadi kau sendiri yang bilang tidak pake Tuan-tuanan!" rutuk Abyan, lagi-lagi dalam hati.


Asisten Tuan Muda itu memutar bola matanya, jengah. Kalau saja bukan Nyonya Besar yang memohon padanya untuk berada di sisi Rayyendra, ia lebih memilih pekerjaan lain meski gajinya lebih kecil. Berhadapan dengan mood sahabatnya yang suka naik turun, butuh penanganan khusus dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menanganinya, begitulah yang dikatakan Nyonya Besar padanya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Ninda bergegas memasuki klub malam dengan tulisan besar 'Amore Club and Party', namun ia ditahan oleh penjaga berbadan kekar di depan pintu masuk.


"Anak di bawah umur di larang masuk!"


"Hah?!?"


Dahi Ninda mengkerut, tidak salah jika penjaga itu mengatakan demikian. Tubuh Ninda yang hanya 155cm. Celana jeans dan baju kaos adalah pakaian yang melekat di tubuhnya ditambah tas selempang berukuran sedang. Rambutnya sebahu, berponi dengan hiasan bando di kepalanya cukup mendeskripsikan dirinya masih pelajar SMA.


"Pak, saya sudah 23 tahun, sudah mahasiswa, dan sudah cukup umur masuk ke klub ini!" seru Ninda menunjukkan KTPnya.


Si penjaga melihat KTPnya, lalu wajahnya, kembali pagi melihat KTP dan wajahnya lagi.


"Nona, ini bukan KTP kakakmu, kan?"


Penjaga itu masih ngeyel Ninda anak SMA yang mencari kesenangan dengan jalan menipu identitas, ia sering menjumpai hal tersebut di jaman sekarang.


Ninda yang tersulut emosinya, menekan panggilan ke nomor yang menghubunginya tadi di cafe. Setelah nada sambung terjawab, Ninda langsung saja menyambar,


"Maaf Tuan, apa penjaga Tuan tidak bisa membedakan anak di bawah umur dengan orang dewasa. Saya ditahan penjaga Tuan di pintu masuk."


Tiiit.


Tanpa sapaan, basa basi dan salam penutup Ninda menutup begitu saja sambungan teleponnya. Ia tidak peduli seruan protes yang sempat didengarnya. Tangannya dilipat dan berjalan mondar-mandir bagaikan seterikaan.


"Kenapa?"


Tiba-tiba suara pria terdengar, si penjaga terkesiap melihat boss besarnya datang. Ninda pun menoleh ke arah sumber suara.


"Ijin lapor Boss! Anak ini memaksa masuk dan menyamar sebagai mahasiswa memakai KTP kakaknya," lapor si penjaga dengan tegap.


"Kau yang menutup teleponku barusan?" tanya Bona ke Ninda.


Bona mengerjap tidak percaya melihat sosok galak yang tadi ditangkapnya melalui telepon. Ia membayangkan seorang wanita dewasa layaknya wanita-wanita yang biasa ia jumpai di dalam klubnya. Tapi ternyata yang hadir malah seorang gadis dengan setinggi anak SMA, tampilan seperti anak SMA dan wajah seimut anak SMA.


"Ya, apa matanya rusak sehingga tidak bisa membedakan mana wajah anak-anak dan wajah dewasa?" kata Ninda mendelikkan matanya ke si penjaga.


Kontan saja Bona tertawa sangat keras. Kalau mata si penjaga rusak berarti matanya juga rusak dan mata semua orang rusak.


"Hahahahahahaha... matanya memang rusak, Ayo!" ajaknya ke Ninda.


"Eh, Boy, khusus dia, anak di bawah umur boleh masuk klubku, hahahaha.... " kelakar Bona.


Boy, si penjaga yang tidak mengerti maksud bossnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Ninda menggeram marah.


Bona membawa Ninda masuk ke suatu ruangan yang biasa disewa pelanggan jika ingin lebih privat. Ruangan ini nampak berantakan, banyak pecahan botol berserakan dan barang lainnya seperti kursi, meja, dan satu set TV karaoke hancur. Terlihat Evan dan tiga orang temannya terduduk di lantai. Kondisi mereka babak belur dan dijaga oleh dua penjaga yang badannya tidak kalah kekar dengan penjaga di depan pintu masuk klub.


Ninda yang melihat Evan, langsung berteriak marah,


"Van .... Apa-apaan ini? Kenapa kacau begini?"


Evan tidak menjawab, dia setengah teler tidak mampu menjawab dengan akal sehatnya.


"Dia kalah judi dengan temannya. Dia marah dan merasa dicurangi. Perkelahian antara mereka pun tidak terhindari," jawab Bona.


"Aihhh .... Kau ini senang sekali menyusahkan orang hah!!!"


Tanpa diduga, Ninda yang bertubuh paling kecil diantara mereka semua mengambil tas selempangnya dan memukul kepala Evan berkali-kali.


"Kapan kau sadar?!? Aku terus yang harus menyelesaikan urusanmu. Kau mau mati hah!!!"


Bona takjub melihat sisi garang Ninda dibalik wajah imutnya, tanpa takut memberikan penghakiman kepada laki-laki yang badannya lebih besar.


"Cukup! Kau tidak akan membuatnya mati, kalau kau mau dia mati, akan kubantu."


Bona menahan tangan Ninda, menghentikan pukulannya.


"Siapa dia?"


"Sepupuku yang brengsek!"


"Kau tau mereka harus ganti rugi berapa? Barang-barang yang mereka rusak adalah barang-barang kelas satu."


"Berapa? Aku akan coba membicarakannya dengan dia dan teman-temannya itu."


"Kenapa kau peduli? Dia hanya sepupumu."


"Lho memangnya kenapa? Meski dia brengsek, dia tetap keluargaku."


"Hmmm ya, ya, ya... Namamu Ninda kan? Mungkin kalau untuk kerugian materiil bisalah kita bicarakan tapi kerugian non materiil, bagaimana dia bisa ganti rugi?"


Ninda terdiam, ia sadar Evan dan teman-temannya memang salah, mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan ganti rugi yang diajukan pemilik klub.


"Kuberi tahu mami papimu, Van!"

__ADS_1


Sekali lagi Ninda memukul Evan, tapi yang dilakukan Evan justru bersimpuh memegang kaki Ninda,


"Jangan, Nin. Jangan! Aku akan melakukan apapun asal kau tidak melaporkannya pada Mami dan Papi," mohon Evan.


"Baiklah, kalau begitu lakukan apa yang dimau sama pemilik klub ini sebagai ganti rugi."


"Oooh tidak! Bukan dia yang harus melakukannya tapi kamu," tunjuk Bona ke Ninda, ada niat tersembunyi di balik senyumnya.


"Kenapa harus aku? Yang merugikanmu, kan dia, bukan aku."


"Lho, kan kamu sendiri yang bilang meskipun dia sepupu brengsekmu tapi kalian tetap keluarga. Dia tidak berguna, aku tidak butuh ganti rugi darinya. Hanya kau yang bisa mengganti rugi kerugiannya, kalau kamu tidak bersedia, aku akan melaporkan mereka semua ke polisi," tukas Bona.


"Jangan!!! Nin... tolonglah aku!" rengek Evan masih memegangi kaki Ninda.


"Ihhh.... jangan pegang-pegang kakiku!" teriak Ninda menendang tangan Evan yang berusaha meraih kakiknya.


"Tolong Nin.... kasian mamak dan bapakku di kampung kalau tahu aku berurusan dengan polisi," kali ini temannya juga ikut memohon.


"Apa urusanku!" cebik Ninda menjauh dari mereka.


"Ninda.... Ibuku punya penyakit jantung, bisa koleps nanti kalau dia dengar anak lelaki satu-satunya dilaporkan ke polisi."


Begitu terus selama beberapa waktu, Evan dan ketiga temannya memohon sambil bersujud agar Ninda mau melakukan penebusan dosa untuk mereka.


"Bagaimana Nona Ninda? Kalau kau setuju, kita bicarakan di ruanganku," tanya Bona.


"Eng...." suara Ninda menggantung ragu.


"Ninda ... tolong Nin ...."


"Nin ...."


"Please Nin ...."


Lagu-lagu permohonan berkumandang di telinga Ninda. Ia diam sejenak lalu mendekati mereka dan berkata,


"Baik. Karena sisi kemanusiaanku sangatlah besar, aku akan menolong kalian untuk mengganti rugi perbuatan kalian. Tapi kira-kira apa yang bisa aku dapatkan sebagai balasan?" tanya Ninda kepada empat orang laki-laki yang bersimpuh padanya.


"Wah.... nih cewek, licik juga rupanya. Kemanusiaan apa kalau meminta balasan? Menarik!" bathin Bona terkejut.


"Apa yang kau minta, Nin?" tanya salah satu temannya Bona.


"Aku belum memikirkannya sekarang. Tapi, ingat! Kalian berempat punya hutang budi padaku yang suatu saat akan kutagih, dan jika aku memintanya nanti kalian tidak boleh menolak dengan alasan apapun. Mengerti?"


Ninda bernegoisasi dengan mereka. Tanpa berpikir panjang mereka menyetujuinya.


"Van, kau jaminan mereka kalau-kalau mereka mengelak. Semua buku dosamu akan kubeberkan di hadapan mami papimu jika mereka melakukannya."


"Wow!!! Gadis ini benar-benar luar biasa! Dari tampilannya seperti anak kucing ternyata dia seekor kucing besar alias macan."


Bona berdecak kagum melihat cara Ninda bernegoisasi, padahal itu bukan hal sulit Ninda lakukan, dia biasa bernegoisasi dengan kakak-kakaknya yang berprofesi sebagai polisi.


Kini, Ninda berada di ruangan kerja milik Bona yang terletak di lantai paling atas klubnya, bersebelahan dengan ruang VVIP yang biasa Rayyendra gunakan.


"Terus terang, aku salut dengan caramu mengendalikan mereka tadi, kau tidak gentar padahal badan mereka besar-besar," ujar Bona sambil menyilakan Ninda duduk di sofa.


"Ini pujian atau sindiran?"


"Hahahahahaha... anggaplah pujian, Nona."


"Apa yang harus kulakukan sebagai ganti rugi mereka?" tanya Ninda to the point.


"Ternyata kau bukan orang yang suka basa basi ya? Baiklah. Dengarkan! Namaku Bona Santoso. Kau akan menjadi calon istriku yang akan kuperkenalkan kepada orangtuaku." tandas Bona.


"Hahhh!!!"


- Bersambung -


Litha menghampiri Asisten Yan yang sudah menunggu tidak jauh dari pagar rumah kost.


"Asisten Yan, Tuan menunggu di sana."


Litha menunjuk dengan arah matanya. Ray memarkirkan mobilnya paling jauh dari daya pandangnya ke Litha, sesuai yang diinginkan gadis kurus itu namun tetap dalam penjagaannya.


Abyan mengangguk mengerti, yang ia tidak mengerti mengapa jarak parkir Ray agak jauh sehingga ia harus berjalan kesana.


"Terima kasih, Asisten Yan. Selamat malam dan selamat beristirahat. Tolong sampaikan terima kasih saya ke Tuan Muda, tadi saya tidak sempat mengucapkannya."


"Baik, Nona."


Kira-kira dua puluh meter lagi Abyan mendekati mobil, Ray keluar, berpindah ke tempat semula.


"Nona Litha mengucapkan terima kasih, Tuan," ujar Abyan begitu duduk di balik kemudi.


"Heh ... Kenapa tidak diucapkannya sendiri?"


"Katanya tidak sempat."


Rayyendra tidak membalas, masih dilihatnya dari kejauhan rumah kost itu, kemudian berkata,


"Yan, apa menurutmu Litha orang yang tulus?"


"Saya tidak begitu dekat mengenalnya, tapi sejauh yang saya amati, saya rasa dia tulus, Tuan."


"Gak usah pake Tuan-tuanan, di dalam mobil ini hanya ada aku dan kamu."


"Biasanya di mobil juga kau tetap menginginkan ada tuan dan anak buah," gerutu Abyan.


"Tapi aku masih belum percaya sepenuhnya, Yan. Dia bisa saja merebut nenek seperti yang Firza lakukan."


"Merebut Nenek bagaimana, Ray? Kau pikir Nyonya Besar itu barang yang bisa diperebutkan? Pemikiranmu masih tetap sama kayak dulu, Bocah Egois!" lagi-lagi Abyan menggerutu dalam hati.


"Nenek tidak pernah membagi kasih sayangnya untukmu, Ray. Masih tetap dengan takaran yang sama, yang Nenek lakukan itu justru menambah kasih sayangnya ke yang lain seperti aku dan Bona kan juga dianggap cucunya."


"Tapi tidak diberikan nama Pradipta."


"Apa patokan bagimu itu sebuah nama? Kalau kau berpikiran seperti itu, suatu saat nama Pradipta akan jadi boomerang buatmu sendiri."


"Hei! Siapa yang menyuruhmu mengguruiku? Jalankan mobilnya! Jangan berkata santai padaku kalau bukan di klubnya Bona."


"Hhhhhhhh.... Dasar bocah!!! Tadi kau sendiri yang bilang tidak pake Tuan-tuanan!" rutuk Abyan, lagi-lagi dalam hati.


Asisten Tuan Muda itu memutar bola matanya, jengah. Kalau saja bukan Nyonya Besar yang memohon padanya untuk berada di sisi Rayyendra, ia lebih memilih pekerjaan lain meski gajinya lebih kecil. Berhadapan dengan mood sahabatnya yang suka naik turun, butuh penanganan khusus dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menanganinya, begitulah yang dikatakan Nyonya Besar padanya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Ninda bergegas memasuki klub malam dengan tulisan besar 'Amore Club and Party', namun ia ditahan oleh penjaga berbadan kekar di depan pintu masuk.


"Anak di bawah umur di larang masuk!"


"Hah?!?"


Dahi Ninda mengkerut, tidak salah jika penjaga itu mengatakan demikian. Tubuh Ninda yang hanya 155cm. Celana jeans dan baju kaos adalah pakaian yang melekat di tubuhnya ditambah tas selempang berukuran sedang. Rambutnya sebahu, berponi dengan hiasan bando di kepalanya cukup mendeskripsikan dirinya masih pelajar SMA.


"Pak, saya sudah 23 tahun, sudah mahasiswa, dan sudah cukup umur masuk ke klub ini!" seru Ninda menunjukkan KTPnya.


Si penjaga melihat KTPnya, lalu wajahnya, kembali pagi melihat KTP dan wajahnya lagi.


"Nona, ini bukan KTP kakakmu, kan?"


Penjaga itu masih ngeyel Ninda anak SMA yang mencari kesenangan dengan jalan menipu identitas, ia sering menjumpai hal tersebut di jaman sekarang.

__ADS_1


Ninda yang tersulut emosinya, menekan panggilan ke nomor yang menghubunginya tadi di cafe. Setelah nada sambung terjawab, Ninda langsung saja menyambar,


"Maaf Tuan, apa penjaga Tuan tidak bisa membedakan anak di bawah umur dengan orang dewasa. Saya ditahan penjaga Tuan di pintu masuk."


Tiiit.


Tanpa sapaan, basa basi dan salam penutup Ninda menutup begitu saja sambungan teleponnya. Ia tidak peduli seruan protes yang sempat didengarnya. Tangannya dilipat dan berjalan mondar-mandir bagaikan seterikaan.


"Kenapa?"


Tiba-tiba suara pria terdengar, si penjaga terkesiap melihat boss besarnya datang. Ninda pun menoleh ke arah sumber suara.


"Ijin lapor Boss! Anak ini memaksa masuk dan menyamar sebagai mahasiswa memakai KTP kakaknya," lapor si penjaga dengan tegap.


"Kau yang menutup teleponku barusan?" tanya Bona ke Ninda.


Bona mengerjap tidak percaya melihat sosok galak yang tadi ditangkapnya melalui telepon. Ia membayangkan seorang wanita dewasa layaknya wanita-wanita yang biasa ia jumpai di dalam klubnya. Tapi ternyata yang hadir malah seorang gadis dengan setinggi anak SMA, tampilan seperti anak SMA dan wajah seimut anak SMA.


"Ya, apa matanya rusak sehingga tidak bisa membedakan mana wajah anak-anak dan wajah dewasa?" kata Ninda mendelikkan matanya ke si penjaga.


Kontan saja Bona tertawa sangat keras. Kalau mata si penjaga rusak berarti matanya juga rusak dan mata semua orang rusak.


"Hahahahahahaha... matanya memang rusak, Ayo!" ajaknya ke Ninda.


"Eh, Boy, khusus dia, anak di bawah umur boleh masuk klubku, hahahaha.... " kelakar Bona.


Boy, si penjaga yang tidak mengerti maksud bossnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Ninda menggeram marah.


Bona membawa Ninda masuk ke suatu ruangan yang biasa disewa pelanggan jika ingin lebih privat. Ruangan ini nampak berantakan, banyak pecahan botol berserakan dan barang lainnya seperti kursi, meja, dan satu set TV karaoke hancur. Terlihat Evan dan tiga orang temannya terduduk di lantai. Kondisi mereka babak belur dan dijaga oleh dua penjaga yang badannya tidak kalah kekar dengan penjaga di depan pintu masuk klub.


Ninda yang melihat Evan, langsung berteriak marah,


"Van .... Apa-apaan ini? Kenapa kacau begini?"


Evan tidak menjawab, dia setengah teler tidak mampu menjawab dengan akal sehatnya.


"Dia kalah judi dengan temannya. Dia marah dan merasa dicurangi. Perkelahian antara mereka pun tidak terhindari," jawab Bona.


"Aihhh .... Kau ini senang sekali menyusahkan orang hah!!!"


Tanpa diduga, Ninda yang bertubuh paling kecil diantara mereka semua mengambil tas selempangnya dan memukul kepala Evan berkali-kali.


"Kapan kau sadar?!? Aku terus yang harus menyelesaikan urusanmu. Kau mau mati hah!!!"


Bona takjub melihat sisi garang Ninda dibalik wajah imutnya, tanpa takut memberikan penghakiman kepada laki-laki yang badannya lebih besar.


"Cukup! Kau tidak akan membuatnya mati, kalau kau mau dia mati, akan kubantu."


Bona menahan tangan Ninda, menghentikan pukulannya.


"Siapa dia?"


"Sepupuku yang brengsek!"


"Kau tau mereka harus ganti rugi berapa? Barang-barang yang mereka rusak adalah barang-barang kelas satu."


"Berapa? Aku akan coba membicarakannya dengan dia dan teman-temannya itu."


"Kenapa kau peduli? Dia hanya sepupumu."


"Lho memangnya kenapa? Meski dia brengsek, dia tetap keluargaku."


"Hmmm ya, ya, ya... Namamu Ninda kan? Mungkin kalau untuk kerugian materiil bisalah kita bicarakan tapi kerugian non materiil, bagaimana dia bisa ganti rugi?"


Ninda terdiam, ia sadar Evan dan teman-temannya memang salah, mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan ganti rugi yang diajukan pemilik klub.


"Kuberi tahu mami papimu, Van!"


Sekali lagi Ninda memukul Evan, tapi yang dilakukan Evan justru bersimpuh memegang kaki Ninda,


"Jangan, Nin. Jangan! Aku akan melakukan apapun asal kau tidak melaporkannya pada Mami dan Papi," mohon Evan.


"Baiklah, kalau begitu lakukan apa yang dimau sama pemilik klub ini sebagai ganti rugi."


"Oooh tidak! Bukan dia yang harus melakukannya tapi kamu," tunjuk Bona ke Ninda, ada niat tersembunyi di balik senyumnya.


"Kenapa harus aku? Yang merugikanmu, kan dia, bukan aku."


"Lho, kan kamu sendiri yang bilang meskipun dia sepupu brengsekmu tapi kalian tetap keluarga. Dia tidak berguna, aku tidak butuh ganti rugi darinya. Hanya kau yang bisa mengganti rugi kerugiannya, kalau kamu tidak bersedia, aku akan melaporkan mereka semua ke polisi," tukas Bona.


"Jangan!!! Nin... tolonglah aku!" rengek Evan masih memegangi kaki Ninda.


"Ihhh.... jangan pegang-pegang kakiku!" teriak Ninda menendang tangan Evan yang berusaha meraih kakiknya.


"Tolong Nin.... kasian mamak dan bapakku di kampung kalau tahu aku berurusan dengan polisi," kali ini temannya juga ikut memohon.


"Apa urusanku!" cebik Ninda menjauh dari mereka.


"Ninda.... Ibuku punya penyakit jantung, bisa koleps nanti kalau dia dengar anak lelaki satu-satunya dilaporkan ke polisi."


Begitu terus selama beberapa waktu, Evan dan ketiga temannya memohon sambil bersujud agar Ninda mau melakukan penebusan dosa untuk mereka.


"Bagaimana Nona Ninda? Kalau kau setuju, kita bicarakan di ruanganku," tanya Bona.


"Eng...." suara Ninda menggantung ragu.


"Ninda ... tolong Nin ...."


"Nin ...."


"Please Nin ...."


Lagu-lagu permohonan berkumandang di telinga Ninda. Ia diam sejenak lalu mendekati mereka dan berkata,


"Baik. Karena sisi kemanusiaanku sangatlah besar, aku akan menolong kalian untuk mengganti rugi perbuatan kalian. Tapi kira-kira apa yang bisa aku dapatkan sebagai balasan?" tanya Ninda kepada empat orang laki-laki yang bersimpuh padanya.


"Wah.... nih cewek, licik juga rupanya. Kemanusiaan apa kalau meminta balasan? Menarik!" bathin Bona terkejut.


"Apa yang kau minta, Nin?" tanya salah satu temannya Bona.


"Aku belum memikirkannya sekarang. Tapi, ingat! Kalian berempat punya hutang budi padaku yang suatu saat akan kutagih, dan jika aku memintanya nanti kalian tidak boleh menolak dengan alasan apapun. Mengerti?"


Ninda bernegoisasi dengan mereka. Tanpa berpikir panjang mereka menyetujuinya.


"Van, kau jaminan mereka kalau-kalau mereka mengelak. Semua buku dosamu akan kubeberkan di hadapan mami papimu jika mereka melakukannya."


"Wow!!! Gadis ini benar-benar luar biasa! Dari tampilannya seperti anak kucing ternyata dia seekor kucing besar alias macan."


Bona berdecak kagum melihat cara Ninda bernegoisasi, padahal itu bukan hal sulit Ninda lakukan, dia biasa bernegoisasi dengan kakak-kakaknya yang berprofesi sebagai polisi.


Kini, Ninda berada di ruangan kerja milik Bona yang terletak di lantai paling atas klubnya, bersebelahan dengan ruang VVIP yang biasa Rayyendra gunakan.


"Terus terang, aku salut dengan caramu mengendalikan mereka tadi, kau tidak gentar padahal badan mereka besar-besar," ujar Bona sambil menyilakan Ninda duduk di sofa.


"Ini pujian atau sindiran?"


"Hahahahahaha... anggaplah pujian, Nona."


"Apa yang harus kulakukan sebagai ganti rugi mereka?" tanya Ninda to the point.


"Ternyata kau bukan orang yang suka basa basi ya? Baiklah. Dengarkan! Namaku Bona Santoso. Kau akan menjadi calon istriku yang akan kuperkenalkan kepada orangtuaku." tandas Bona.

__ADS_1


"Hahhh!!!"


- Bersambung -


__ADS_2