
Hari mulai beranjak malam, Litha masih menekuni sesuatu, ya, dari siang dia sibuk mewawancarai Pak Is mengenai makanan dan bahan pangan apa yang disukai dan tidak disukai, pantangan dan anjuran serta citarasa atau selera suaminya, ia rangkum dalam buku catatan yang di sampulnya ia beri judul, 'Tentang Tuan Muda Yang Mulia'.
Kini di sofa kamar yang besar dan empuk, ia sibuk dengan laptopnya menjelajah di dunia internet mengenai pakaian kantor pria, padu padan outfit sehari-hari, olahraga, santai dan perjalanan bisnis.
"Aaaarrrggghhhhh .... kalau tahu begini, nilai kontrakku aku naikkan kemarin, bukan hanya jadi istri tapi juga jadi personal stylist dan tukang masaknya. Ini belajarnya lebih melelahkan ketimbang mata kuliahnya Bu Marisa," keluh Litha sembari meregangkan lengan dan lehernya.
Ceklek ....
Pintu dibuka, Ray baru saja pulang dari kantor, wajahnya terlihat sangat lelah, memeriksa perusahaan tambangnya butuh perhatian ekstra. Ia melewati Litha tanpa suara langsung menuju kamar mandi.
Satu jam berlalu, Litha keheranan, Ray masih berada di dalam kamar mandi.
"Biasanya perempuan yang berlama-lama di kamar mandi. Apa yang dilakukannya di dalam?" gumamnya.
Litha menuju interkom, dia meminta diantarkan segelas susu coklat hangat ke kamar.
Tidak lama pintu ruangan walk in closet terbuka, Ray sudah berpakaian kaos dan celana pendek kain. Ia duduk di sofa menyalakan TV, diliriknya Litha yang berada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Kau kan menyuruhku belajar, ini aku sedang belajar," jawab Litha memperlihatkan laptopnya.
Pintu diketuk, Pak Is mengantarkan segelas susu coklat hangat.
"Kau minum susu?" tanya Rayyendra begitu Pak Is meninggalkan kamar mereka.
"Ini buatmu. Kurasa kau sedang mengalami sesuatu yang buruk. Segelas susu hangat akan memperbaiki mood mu, sehingga pikiranmu yang berat bisa lebih ringan."
"Hah?!? Siapa bilang aku mengalami sesuatu yang buruk? Itu minuman anak-anak. Kau saja yang minum."
"Durasi mandimu lama, hampir satu jam. Seorang wanita selama itu di dalam kamar mandi pasti sedang memikirkan sesuatu entah itu khayalan atau masalah, tapi kalau pria kurasa lebih kepada masalah."
Ray terkejut, bagaimana bisa wanita di depannya ini bisa menganalisa dirinya hingga bisa menarik kesimpulan tidak hanya berdasarkan perasaan seperti wanita kebanyakan.
"Aku hanya melakukan yang biasa kulakukan jika aku merasa kesulitan. Aku akan butuh sesuatu yang hangat dan manis untuk memperbaiki mood ku. Minuman bersuhu hangat akan melancarkan peredaran darah di seluruh tubuh sampai ke otak, ditambah rasa coklat mampu meningkatkan senyawa endorfin hingga kita terasa lebih rileks. Jadi, bukan tentang minuman anak-anak atau dewasa, aku hanya lebih melihat ke fungsinya."
Litha menjelaskan panjang lebar tanpa kesan menggurui, Ray semakin takjub istrinya bisa menjelaskan dengan detail dan dapat diterima oleh nalar berpikir seorang pria.
"Hahahahaha.... kalau tidak mau ya sudah, aku saja yang meminumnya, aku juga pusing mempelajari tentang segala hal yang berkaitan dengan suamiku."
Litha mengambil gelas dan hendak meminumnya, namun tangannya dihentikan oleh Ray, ia ambil susu coklat itu dan langsung meminumnya.
"Tidak ada salahnya aku mencoba," pungkas Ray.
"Aku ingin cepat beristirahat. Pindahlah ke tempat tidur, aku akan tidur di sofa," sahutnya lagi.
"Eh, jangan! Aku saja yang tidur di sofa, kau tuan rumah disini." Litha mengelak, ia merasa tidak enak.
"Sudah, turuti saja apa kataku. Kau yang tidur disana, aku tidur disini, tapi kalau kau bersikeras mau tidur disini juga tidak apa-apa. Kita tidur berdua, kurasa sofanya muat, tapi aku tidak bertanggungjawab kalau terjadi sesuatu," goda Ray dengan mata genitnya
"Aaaaaaaaa..... tidak, Sayang. Kurasa aku lebih baik tidur disana saja. Badanku sakit kalau tidur di sofa hehehehe..," Litha langsung membereskan laptop dan bukunya, ia segera pergi dari situ sebelum Ray bertingkah aneh.
"Lith...."
"Eh, apa dia memanggil namaku?" Litha menghentikan gerakannya.
__ADS_1
"Bisa kau menciumku?"
"Hah! Apa?!? dia memintaku menciumnya, biasanya dia memaksaku melakukannya."
"Aku rindu Nenek mencium keningku."
Sesaat Litha merasa iba pada suaminya, ia sangat kehilangan Nenek, sosok yang ia jadikan sandaran saat ada masalah, sama ketika ia kehilangan ayahnya dulu. Litha tersenyum, ia kembali ke arah Rayyendra, mendekatinya yang tengah berbaring dengan mata terpejam, lalu mencium keningnya dengan lembut.
Begitu Litha ingin beranjak meninggalkan Rayyendra, lengan Litha ditariknya dan mendaratkan ciuman malamnya pada Litha.
"Whaaaaaa..... kau modus ternyata, lain kali aku tidak percaya padamu lagi kalau kau membawa-bawa nama Nenek." bathin Litha memukul-mukul bahu suaminya yang belum mau melepaskan pagutannya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Ray tidak mendapati Litha di kamar sewaktu bangun di pagi hari. Ia langsung mandi dan berpakaian. Ternyata Litha telah menyiapkan satu set pakaian kantor untuk dipakai hari ini, lengkap dari kemeja, celana panjang, jas, dasi plus penjepit dasi, ikat pinggang, kaos kaki, sepatu hingga pakaian dalamnya.
"Ckckckckck.... tidak rugi aku membayarmu 5 milyar, kau belajar dengan begitu cepat dan hasilnya memuaskan," kata Ray takjub memandang padu padan setelan kantor yang akan ia kenakan.
Di dapur, Litha sudah membuat sarapan untuk Ray. Bukan hal yang sulit baginya, ia telah terbiasa beraktivitas dari shubuh sejak masa sekolah. Menu sarapan pertama untuk suaminya adalah semangkuk oatmeal dengan toping buah segar, sebutir telur rebus dan segelas jus jambu klutuk, tidak lupa disertakan air putih hangat dicampur sesendok madu.
Litha memang cekatan dan telaten, inilah yang membuat Nyonya Besar menyukainya, memiliki kemauan untuk belajar yang kuat ia dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal tersebut terbukti bagaimana Litha dengan cepat diajari Pak Is manner, tata cara pergaulan kaum highclass, bahkan berdansa. Meski tidak terlahir dari kalangan atas, Litha mampu mendorong dirinya sendiri hingga ke atas.
Rayyendra memandang menu sarapan di depannya, menu sarapan sehat rumahan. Litha menghampirinya dari belakang, duduk berhadapan dengannya. Ray mencuri pandang, ia gengsi ketahuan menatap istrinya. Diakui, Litha berpenampilan dengan pakaian yang ada di kamar Rayyendra membuatnya sangat berkelas dan elegan meski hanya di rumah.
"Air ini dicampur apa? Rasanya agak manis," tanya Ray setelah meminum air putih di mejanya.
"Oh, itu air hangat yang kucampur sesendok makan madu murni. Baik untuk mengawali hari. Semoga harimu menyenangkan." Litha menjawabnya dengan senyuman.
Sekali lagi ia mencuri pandang, " Sial! kenapa ia tersenyum seperti itu."
"Apa rencanamu hari ini?" tanya Ray mengalihkan pandangannya.
"Maksudmu?"
Ray keheranan dengan mulutnya yang mengunyah telur. Ia harus akui sarapan ini sehat dan enak, ditambah air hangat dengan madu, ia menyukai menu sarapan ini.
"Rumah ini sangat besar, aku ingin berkeliling, melihat-lihat, karena selama aku menemani Nenek aku hanya tahu bagian rumah ini saja dan sedikit di rumah bagian belakang. Hanya penasaran saja. Apa aku dilarang melakukannya?"
"Hahah ... tentu tidak. Kau mau berkeliling sampai malam juga terserah, lakukan semaumu disini. Bukankah kau Nyonya rumah ini?"
Ray mulai menggoda Litha lagi dengan mengedipkan mata di akhir kalimat, tapi Litha hanya menghela nafasnya panjang dan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
# Ruangan Presdir Kantor Pusat Pradipta Corp. #
"Ada apa dengan Tuan? Gaya berpakaian Tuan sedikit berbeda, dan dari tadi Tuan tersenyum sendiri," tanya Abyan.
"Ternyata memiliki pelayan pribadi itu sangat memudahkan hidup ya, Yan. Aku serasa punya asisten pribadi di rumah, mengurusi segalanya, hehehehe...."
"Oh, Tuan sudah mulai mengerjainya ya?"
"Hmmm begitulah, tapi ia benar-benar melakukannya, dia melakukan riset tentangku, hahahahaha.... "
Abyan diam saja, ia khawatir malah Ray nantinya yang terjerat pada istrinya. Litha memang tidak secantik dan semodis Ramona, namun Litha memiliki kualitas seorang perempuan yang bisa diadu.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ...
Sasha masuk dengan tergesa dan berkata, "Maaf Tuan, saya hanya ingin memperlihatkan berita terkini sekarang."
"Berita apa?" tanya Abyan.
"Anda bisa melihat TV sekarang, hampir semua chanel memberitakannya, Tuan."
Abyan mengambil remote TV dan menyalakannya.
"Ray...." Abyan lupa mode asistennya, dia memanggil nama Tuannya. Ray menoleh ke Abyan, tapi yang ia lihat Abyan tengah terdiam dengan yang ditontonnya.
Kini, CEO Pradipta Corp. tidaklah sendiri lagi, ia telah menikah secara diam-diam di Kota A, namun bukan dengan kekasihnya yang selama ini kita kenal. Wanita yang menjadi istrinya tidak diketahui identitasnya, namun bisa dipastikan wanita itu sangat beruntung menjadi pasangan hidup dari pria yang diidam-idamkan hampir di seluruh negeri ini.
Apa alasannya menikah diam-diam ya? Ah, mungkin Tuan Presdir tidak ingin membuat hari patah hati nasional. Sayangnya foto-foto pernikahannya sudah tersebar luas dan viral, hal ini membuat kaum hawa sangat bersedih.
Dua orang MC di salah satu acara gosip saling menimpali dan menampilkan foto-foto pernikahannya dimana terdapat blur di sosok pengantin wanitanya.
Muka Ray dalam keadaan tidak baik, ia merampas remote TV di tangan Abyan dan mengganti chanel lain berkali-kali, tetap saja berita presdir tentu hangat dan heboh jadi semua stasiun TV berlomba-lomba menayangkannya entah itu di segmen gosip, bisnis ataupun liputan berita agar rating acara mereka naik.
"Yan, bagaimana bisa ini terjadi?!?" teriak Ray dan melempar remote itu dengan kesal.
"Aku sudah mencegah agar pernikahanmu tidak bocor. Kenapa bisa tiba-tiba muncul?"
"Cari tahu!" perintah Ray gusar.
Ray mengambil ponselnya, ditekan nomor kontak Ramona, namun tidak diangkat.
"Sasha, kapan berita ini muncul?" tanya Ray pada sekretaris tomboynya.
"Sebenarnya saya sudah melihatnya dari kemarin malam, sempat heboh di media sosial namun banyak yang mengatakan hoax dan tidak rela Tuan menikah. Namun sekarang media elektronik akhirnya ikut juga menayangkannya karena ratingnya pasti sangat tinggi."
"Yan, apa kau tidak memperingatkan media untuk tidak menayangkannya?"
"Maaf, Tuan. Saya tidak menyangka bisa bocor, semua tamu, hotel, staf disana sudah saya sterilkan waktu itu. Saya memang tidak memperingatkan media karena sama saja memberitahukan mereka secara tidak langsung bahwa Tuan Muda Pradipta menikah."
Ray memijit keningnya sendiri, ia ingat bagaimana malam itu Ramona sangat frustasi hingga mengancam bunuh diri. Saat itu ia sangat lelah menghadapi Ramona dan Bona. Beruntung, tanpa diperintah memorinya mengambil wajah Litha yang polos tanpa riasan dalam ekspresi terkejut. Ray tertawa kecil sambil bergumam, "Aku akan membuatmu terus-terusan terkejut selama kau jadi istriku, heheh ..."
Ray seakan menemukan mainan baru yang seru. Selagi memikirkan calon istrinya waktu itu, ponselnya berbunyi. Ada nama Ramona disitu memanggil, Ray malas mengangkatnya. Akhirnya bunyi ponsel berhenti disusul notifikasi pesan masuk. Dibukanya,
From : Mona
Ray, aku akan mengikuti apa katamu. Aku tidak akan menjadi orang ketiga dalam pernikahan kalian. Aku akan menunggumu bercerai dengannya. Aku mencintaimu sampai kapanpun, Ray. Tapi tolong lakukan sesuatu untukku, jangan sampai orang-orang tahu kau menikah, terutama ayahku.
Ray berpikir sejenak, bagaimanapun ia memiliki kisah dengan Ramona, ia sangat menghargai itu meski Ramona tidak lagi menjadi kekasihnya, sehingga Ray membalas pesan itu.
Baik. Aku jamin pernikahanku tidak akan muncul di media manapun. Tenangkan dirimu dan jangan berbuat bodoh.
Kini Ray tidak tahu apa yang terjadi pada Mona ketika ia melihat semua media memberitakan pernikahannya.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai, Kakak-Kakak pembaca setia karya ini, spesial malam ini Author double up.
__ADS_1
Semoga menghibur ya, terima kasih atas dukungan like, komentat, vote, hadiah, dan tips koinnya, semuanya menyemangati Author. 🙏🙏🙏
Salam sehat selalu buat kita semua 🤗🤗🤗