
Litha dalam suasana hati yang buruk. Mau marah tapi sama siapa? Bukan haknya melarang Ray untuk menceritakan kontrak mereka pada Ramona seperti halnya ia menceritakan ke Ninda.
"Sejauh mana dia tahu tentang kontrak itu? Apa Tuan Muda juga menyebutkan isi perjanjian kami? Termasuk ... Tidak! ... Tidak! ... Dia mengira aku menjual tubuhku, itu berarti dia tidak tahu. Entah apa aku harus senang atau tidak."
Litha melirik jam di meja nakas, menjelang sore, suaminya belum pulang dari pagi.
"Apa bermain golf itu sampai menjelang sore begini ya?"
Litha tidak tahu saja kalau Rayyendra meminta Abyan membelokkan mobilnya ke arah toko perhiasan milik Pradipta Corp.
"Aku ingin membeli kalung," jawabnya ketika Abyan heran mengapa ia minta diantar ke sana.
"Untuk siapa?"
"Istriku."
"Litha?" Abyan sudah lupa dengan mode asistennya sangking kagetnya.
"Siapa lagi?"
"Tapi kenapa? Kau menyukainya?"
"Kau? Ingat posisimu, Yan. Aku belum mengizinkanmu melepas mode asistenmu."
"Brengsek kau, Ray!" umpat Abyan kesal dalam hati.
"Tapi kenapa tiba-tiba Tuan ingin memberikannya kalung sekarang, kemarin baru saja Tuan memasangkannya Lift TV Cabinet?"
"Dia tidak menggunakan black card yang kuberikan untuknya, tidak ada laporan transaksinya sama sekali. Anggap saja ini dia yang membelinya sekalian saja aku mau menggodanya hahahahahaha...."
"Tuan ... " Abyan nampak tidak menyukai apa yang akan dilakukan Ray.
"Apa aku boleh berbicara sebagai teman?"
"Tidak lebih dari 5 menit."
"Ray, maaf, aku tidak setuju kalau kau memberinya perhiasan. Bagi seorang wanita, hal itu akan melambungkan hatinya. Kalau kau berniat hanya bermain atau menggodanya, pikirkan perasaannya Ray. Urusanmu dengan Ramona juga belum selesai, lihat bagaimana dia begitu berharap padamu dan betapa frustasinya dia kau tinggalkan. Apa kau mau masalah ini berlarut-larut?" kata Abyan memberi nasihat.
"Kenapa kau sok tua begini sih, Yan. Kembali ke mode asistenmu."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Aku dan Litha sama-sama menyadari bahwa apa yang kami lakukan ini bukan hal yang nyata. Aku hanya senang melihat matanya yang bulat ketika dia terkejut, begitu menggemaskan. Kau tahu, Yan, dia juga sering menggodaku sampai-sampai aku malu dibuatnya hahahahaha .... "
Ingatan Ray kembali pada puding buah yang disebutkan Litha sebagai sesuatu yang enak.
"Terserah padamu, Tuan Muda. Lihat saja kau nanti yang kerepotan, urusan Mona belum selesai malah kau tambahi dengan urusan Litha."
Ray memilih sebuah kalung berliontinkan sebuah berlian 10 karat dengan desain sederhana nan elegan, sesuai selera istrinya. Bisik-bisik pelayan toko terdengar karena Tuan Muda Pradipta datang langsung membelinya ke toko.
"Untuk siapa ya? Sampai Tuan Muda membelinya sendiri."
"Pasti istrinya, kan Tuan Muda sudah menikah tapi bukan dengan Nona Ramona, bagaimana seandainya kalau ia tahu hal ini ya?"
"Aku kasihan sama Nona Ramona, ditinggal nikah Tuan Muda. Aku penasaran seperti apa istri Tuan Muda sampai bisa mengalahkan Nona Ramona yang seperti artis."
"Namanya jodoh, tidak ada yang tahu. Nona-- "
Ehem ... ehem ...
Obrolan mereka terputus karena Abyan berdehem menyadarkan mereka kalau tengah bergosip.
"Jika kalian masih ingin bekerja, bekerjalah dengan baik."
Ray tidak peduli dengan mereka yang bergosip, pikirannya hanya ingin melihat ekspresi kaget Litha dari dekat ketika ia akan mengalungkan perhiasan ini di lehernya.
Sayangnya, begitu Ray tiba di rumah utama, dan masuk kamar, Litha tengah tertidur dengan headset di kepalanya, entah berapa lama Litha tertidur dengan posisi seperti itu. Ray tidak menyadari ada jejak airmata yang sudah mengering yang melewati pelipis Litha.
Suaminya mengambil headset dan mencoba dengar yang Litha dengarkan, ternyata instrument River Flows in You by Yiruma yang mengalun indah. Ray tersenyum dan menatap Litha yang tertidur. Diam-diam ia mengagumi ciptaan Tuhan yang terpahat pada wajah Litha. Meski tanpa riasan sama sekali, ia nampak seperti malaikat. Baru kali ini Rayyendra menatap lekat wajah Litha dari jarak yang begitu dekat dan tanpa keinginan untuk menciumnya.
Seketika di kepalanya teringat nasehat Abyan di toko perhiasan tadi. Diurungkan niatnya untuk memberikan kalung berlian pada istrinya. Akhirnya kalung itu disimpan di laci meja kerjanya karena Litha tidak pernah memasuki ke ruang kerja.
...πππππππ...
Ramona tengah menenggak minumannya di meja bartender. Hatinya sangat kesal begitu mendengar gosip yang beredar di toko perhiasan bahwa Tuan Muda Pradipta membeli dan memilih langsung kalung berlian untuk istrinya. Toko perhiasan itu merupakan bagian dari Prad's Fashion & Style, tidaklah heran Mona mengetahuinya.
Ia mengamati minuman di gelas yang ia miringkan ke kanan kiri hingga bahunya di tepuk, "Minum lagi, Mon?"
"Kau tidak suka aku ke sini? Aku akan mencari klub lain kalau begitu."
__ADS_1
"Hei, jangan marah! Kan, aku hanya bertanya padamu. Ada apa? Sepertinya kau mengalami hal yang buruk lagi. Bukannya Ray sudah mengatakan padamu kalau nanti akan bercerai dengan istrinya setelah perjanjian mereka selesai. Wahhhh.... terus terang, Mon, aku baru mengetahuinya darimu, mereka berdua tega sekali tidak memberi tahuku."
"Bon, kau hadir kan, waktu pernikahan mereka? Menurutmu Litha wanita seperti apa?"
"Apa!?! Hahahahaha ... kenapa kau ingin tahu tentangnya?"
"Aku hanya penasaran saja."
"Dia wanita yang sangat galak. Karena dia aku dipermalukan seperti itu, anehnya Ray malah mendukungnya. Sialan!" Bona masih ingat jelas bagaimana Litha mengeksekusinya.
Ray mendukungnya?
Ramona terkesiap mendengarnya. Ia makin penasaran dan Bona pun menceritakan dengan detail apa yang Ray sebut 'Kekacauan Pernikahan' akibat ulahnya. Hatinya mencelos, ada rasa panas yang menjalar di dadanya.
"Bona, apa Ray menyukai Litha?" Mona bertanya dengan harapan Bona menjawabnya tidak.
"Hmmmm ... kau takut dia berpaling darimu ya?"
"Aku sangat mencintainya, Bon. Aku tidak mau kehilangannya."
"Aku tahu Ray bagaimana orangnya, tapi aku tidak tahu isi hatinya. Kalau dibilang tidak menyukai istrinya kenapa dia bisa menyerahkan sahabatnya untuk dieksekusi semau istrinya. Dan lagi semenjak ia menikah, ia lebih banyak tertawa dan sampai sekarang tidak pernah ke klub ku atau sekedar Abyan membawakan minuman untuknya minum di rumah."
Hati Ramona makin tenggelam ke dasarnya. Perasaannya sebagai wanita mengatakan bahwa hati lelaki yang ia cintai sudah tidak berpihak padanya. Dan untuk mengembalikan posisi ya semula ke pihaknya tentu sangat sulit. Dia harus mencari jalan untuk membuat Ray kembali padanya.
"Mona, aku tahu kau mau melakukan sesuatu. Tapi kusarankan, tunggulah sampai kontrak itu selesai, di saat Rayyendra sudah tidak terikat pada pernikahan, barulah kau rebut kembali hatinya. Kalau kau melakukan sesuatu untuk menarik perhatiannya, aku khawatir justru jarak antara kau dan Ray akan semakin jauh. Dia menghargai Litha karena Nyonya Besar, kau yg tahu kan, arti Nyonya Besar baginya?"
Panjang lebar Bona memberi nasehat, tapi Mona tidak menghiraukannya, yang ada di kepalanya hanyalah Ray harus menjadi miliknya seorang. Pikirannya sudah buta, dibutakan cinta yang diletakkan oleh ayahnya sendiri. Kini Ramona harus berjalan menuntun sendiri hatinya dalam gelap meraih cinta Rayyendra.
Di tempat lain, Abyan duduk di sofa apartemennya. Dengan secangkir kopi, ia mencoba mengistirahatkan pikirannya. Pesan ibunya Litha selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Bukan siapa-siapa baginya, tapi sebagai manusia yang memiliki empati ia juga tidak sampai hati jika suatu saat melihat Litha tersakiti.
Mengetahui sejarah kehidupan Litha yang ia tidak sampaikan ke Rayyendra membuat Abyan makin iba pada gadis itu. Belum lagi Pak Sas yang selalu mengorek informasi mengenai hubungan pernikahan yang dijalani Ray dan Litha membuat Abyan bingung. Apa yang membuat Pak Sas berpikir demikian? Sebenarnya ada apa dibalik semua ini karena yang ia lihat Pak Sas sangat melindungi Litha ketimbang Tuan Muda Pradipta.
- Bersambung -
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Kali ini double up dari Author, semoga bisa menambah semangat Kakak-Kakak semua di hari senin ini βΊοΈβΊοΈ
Jangan lupa dukungannya yah Kakak...
__ADS_1
Terima kasih buat Like, Vote, Komentar, Hadiahnya...
Salam sehat buat kita semua π€π€