
Rayyendra mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga memerah dan menampakkan pembuluh darahnya. Rahangnya mengeras seperti siap akan memangsa,
"Apa kau mau melanjutkan kesediaanmu menjadi saksi?" tanya Ray bergetar, berusaha menahan amarahnya yang mendidih.
"Ti-- Tidak, Tuan. Keluarganya pun sepeninggal Om Sena tidak ingin mengajukan tuntutan apapun."
"Bagaimana kau tahu, hah! kalau mereka tidak ingin menuntut Lucas?" Ray menatap tajam Vivian.
"Karena a-- adiknya sendiri yang mengatakan seperti i-- itu."
"Adiknya?!?" ucap Ray dan Abyan bersamaan.
"Aku pernah mengunjungi Tisha di RS. Dharma Yasa keesokan hari setelah aku wisuda, seharusnya kami bersamaan wisuda jika Lucas tidak memperkosanya. Disitu aku bertemu adiknya, namanya Litha. Karena dia bertanya siapa aku, maka aku menjelaskan semuanya. Lalu aku bertanya padanya apakah keluarga Tisha akan melanjutkan untuk menuntut pelakunya. Adiknya Tisha menjawab, dia tidak akan membuka kembali kasus Tisha, dia tidak ingin Tisha mengingat peristiwa itu lagi. Bahkan jika pihak keluarga menuntutnya kembali akan percuma karena mereka tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Keluarganya hanya berharap Tisha sembuh, keluar dari rasa penyesalan dan bersalah yang membelenggunya selama ini. Dan dia memintaku berjanji agar tidak mengingat kembali apa yang kulihat malam itu, setidaknya demi Tisha. Dia lebih muda dariku tapi sikapnya jauh lebih dewasa dariku."
Ray memejamkan matanya, mencoba sekali lagi menahan emosinya yang nyaris meledak, namun begitu nama istri tercintanya disebut, ia tak lagi bisa menahannya. Abyan tahu bagaimana ia harus bersikap. Dihampirinya Vivian, kemudian menarik lengannya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu ke salah satu sudut ruangan dan menghadapkan badannya ke arah Vivian hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Prang ... !!! Prang ... !!! Bruakhh ... !!! Dugh ... !!!
"Aaaarrrrggghhhh ... !!!"
Ray menghancurkan apa saja yang ada di depannya, Vivian yang sedari tadi ketakutan, makin ketakutan. Ia memang tidak melihat Tuan Muda Pradipta mengamuk karena pandangannya terhalang oleh dada bidang Abyan, tapi tetap saja suara amukannya menakutkan, seperti singa yang mengamuk.
"Tutup telingamu, Nona," perintah Abyan, dan dituruti begitu saja oleh Vivian.
Ia terkesima oleh sikap Asisten Tuan Muda Pradipta yang berusaha melindungi dirinya dengan tubuh tegap itu sebagai tameng jika ada sesuatu yang melukainya.
"Ba*jingan kau Lucas!!! Sebastian bang*sattt !!"
Dugh ... !!! Dugh ... !!!
Ray masih dengan amukannya memaki bapak beranak tidak bermoral itu. Tidak ada yang berani membuka pintu ruang Presdir meski bunyi seperti genderang perang ditabuh terdengar sampai ke telinga Sasha, Pak Andi dan Pak Gito. Mereka memegang pesan Asisten Yan bahwa jangan ada yang mengganggu atau masuk ke ruang Presdir sampai dr. Vivian keluar ruangan.
"Yan, dimana rumah mereka! Antar aku ke sana, akan kubunuh dia." kata Ray marah dan berjalan ke arah meja kerjanya, satu-satunya barang yang masih selamat dari amukannya, menarik laci tersembunyi di bawah meja.
Abyan yang menyadarinya tanpa melihat apa yang Ray lakukan, ia langsung berbalik dan mencegah Ray mengambil sesuatu benda dari laci tersembunyinya.
"Jangan Ray! Jangan gegabah! Aku tahu kau marah. Aku pun sama, tapi setidaknya jangan bertindak sendiri tanpa berpikir. Sebastian bisa jadi akan memanfaatkan kemarahanmu jika kau kerumahnya dengan membawa ini. Ingat istri dan anakmu jika akhirnya kau akan berurusan dengan hukum!"
Abyan menarik tangan Ray yang sudah menggenggam senjata api dan mendorong laci itu hingga tertutup sempurna. Vivian menutup matanya begitu Abyan menghilang dari hadapannya, ia sangat-sangat takut sekarang karena tameng pelindungnya pergi.
Ingat istri dan anakmu jika akhirnya kau akan berurusan dengan hukum!
Kalimat itu sekali lagi terlintas dalam kepalanya, ya, Abyan benar. Dia tidak bisa bertindak tanpa berpikir seperti dulu karena sekarang ada istri dan anaknya.
__ADS_1
🎶🎶🎵🎶🎶🎵🎵🎶🎶🎶
Ponsel Ray berdering, diambilnya benda pipih itu dari saku celananya.
My beloved wife, Litha.
"Yan, kau saja yang angkat," titahnya pada Abyan di sampingnya seraya menyerahkan ponselnya
"Katakan aku di toilet jika ia menanyakanku," sambung Ray lagi, suaranya jauh lebih stabil dari saat ia mengamuk, meski belum reda sepenuhnya.
Abyan mengangguk mengerti, ia paham akan suasana hati Ray yang tidak ingin menimbulkan banyak pertanyaan buat Litha karena tone suara Ray dalam keadaan marah sangat kentara.
Sementara di sudut ruangan, masih dengan mata tertutup, namun dengan tangan yang tidak lagi menutupi telinganya sejak bunyi ponsel berdering mengernyit heran.
"Kenapa nada suaranya langsung tiba-tiba berubah drastis. Siapa yang meneleponnya? Istrinya kah? Kudengar Tuan Muda pernah mengantar istrinya memeriksa kandungannya di rumah sakit. Kalau benar hebat sekali dia bisa jadi tuas pengamannya Tuan Muda.' bathin Vivian yang membuka perlahan matanya karena keadaan sudah lebih jauh lebih tenang.
Selamat sore, Nyonya. Ini saya, Asisten Tuan.
"Nah kan benar kataku. Istrinya yang menelepon." (Vivian)
Tuan Muda Suamiku mana, Asisten Yan?
Enggg.... Tuan di toilet, Nyonya. Ada yang perlu saya sampaikan?
Tidak, tidak ada. Aku hanya menelepon untuk memastikan Suamiku baik-baik saja.
Baik-baik saja? Maksud Nyonya?
Abyan memutar badannya ke arah Ray dan menekan loudspeaker agar tuannya itu bisa mendengar. Mereka lupa ada sepasang telinga yang juga akan ikut mendengar suara dari ponsel.
Hanya perasaanku saja, Asisten Yan. Tiba-tiba aku ingin memastikan ia baik-baik saja. Tapi syukurlah tadi kau bilang ia di toilet. Toilett??? Asisten Yan, sudah berapa lama ia di toilet?
"Firasatmu tajam sekali, Nyonya. Kau menelepon di saat yang tepat." (Abyan)
"Aku penasaran seperti apa Nyonya Muda ini dan bagaimana ia bisa bertahan dengan suami sekasar Tuan Muda?" (Vivian)
"Litha, Sayangku ... Aku ingin memelukmu sekarang." (Ray)
Enggg ... engggg ....
Abyan bingung menjawabnya, kepalanya mengode untuk meminta jawaban pada Ray tapi Ray malah menggelengkan kepalanya pelan.
Berapa lama? Asisten Yan kau harus segera memeriksanya! Apa terjadi sesuatu padanya di dalam toilet? Suamiku bisa saja pingsan atau mungkin dia sembelit atau malah perutnya sakit tapi malu mengatakannya karena tadi pagi ia bilang perutnya tak nyaman saat aku menciumnya.
__ADS_1
"Lithaaaaaa .... Aku bilang sakit perut tadi pagi agar kau tidak terus menggodaku karena ada hal serius yang akan aku tangani, kasus kakakmu, Lithaaaa ...." pekik Ray gemas dalam hatinya.
Wajahnya sudah merah seperti tomat masak ditelanjangi kewibawaannya oleh istrinya sendiri di depan Abyan dan dr. Vivian, yang ia belum sadari.
Pppppfffffttttt .....
Abyan menahan tawanya sampai membungkukkan badan menahan perutnya dengan satu tangan. Tangan satunya yang memegang ponsel diarahkannya ke Ray untuk segera menjawab langsung kekhawatiran istrinya, tapi Ray malah menepis tangan Ray.
Abyan menarik nafas dulu beberapa kali karena ia masih menyisakan tawa di ujung suaranya.
Ya, ya, Nyonya akan kupastikan Tuan Muda baik-baik saja. Ia pasti baik-baik saja.
Abyan menutup mulutnya menahan tawa, sedangkan Ray sibuk memberi kode untuk segera mengakhiri sambungan telepon dengan mengibas-ngibaskan tangan kanan di lehernya.
Atau aku saja yang ke sana untuk memastikannya sendiri?
Tidak, tidak perlu, Nyonya. Tuan baik-baik saja. Percayalah Nyonya ...
Oke, oke, saat ini aku percaya padamu, tapi kalau nanti Suamiku pulang kulihat ia tidak seperti yang kau katakan, kau yang akan kuberi pelajaran, Asisten Yan!
Tiiiitttttt ...
Seperti biasa, Litha memutuskan sambungan telepon tanpa pamit.
"Ray, istrimu benar-benar memperlakukanmu seperti anaknya, hahahahaha .... Nanti begitu kau pulang, yakinkan dia kalau kau baik-baik saja, aku tidak mau bernasib seperti Bona hahahahaha ... " gelak Abyan yang menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya.
"Apa ini Tuan Muda yang sama dengan Tuan Muda yang mengamuk barusan? Mengapa ia seperti dua orang yang berbeda. Yang sebelumnya begitu menakutkan dan yang ini sangat manis sekali .... Dan ini juga tidak seperti hubungan Tuan Muda dan Asistennya, mereka lebih seperti teman," gumam Vivian dalam hati.
Abyan tergelak keras menepuk-nepuk bahu Ray dan memutar balik badannya, namun apa yang dilihatnya kemudian membuatnya mematung kaget. Ray mengikuti gerakan Abyan yang memutar balik badan, dan apa yang dipandangnya juga membuatnya mematung kaget.
Di sudut ruangan tempatnya berdiri dari tadi, dokter berkacamata itu juga tengah memandang mereka dengan terkejut.
"Abyaaaaaannnnn .... "
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jika Kakak mengklik Toon Carnival, ada pilihan untuk Lindungi Karya
Jangan lupa untuk pilih karya ini ya Kak, mungkin maksudnya biar gak di plagiat. Hancur hati ini jika karya yang susah payah dikerjakan meski gak sebagus dan sepopuler karya lainnya.
Tetap jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah yang banyaaaakkk yaaaa ....
__ADS_1