
Litha bagai kesetanan melihat berbagai macam kudapan, hampir di setiap stand ia borong, setiap ditanya Pak Sas kenapa banyak sekali yang dibeli, Litha selalu berkilah untuk para pelayan di rumah utama. Kalau sudah begitu, Pak Sas sudah tidak dapat menghentikan 'kegilaan' Nyonya Muda-nya terhadap makanan.
"Nyonya, makanan yang tadi dibeli sudah memenuhi setengah bagasi mobil. Kalau Nyonya masih membeli, mau ditaruh dimana lagi?"
"Masih setengah Pak Sas, masih muat, masih ada tempat diantara aku dan Suamiku, bisa dipangku Pak Sas juga didepan. Lagian uang tunai yang Suamiku kasih belum habis, nanti aku dihukumnya kalau tidak habis," sanggah Litha sambil menyicip es krim gelato rasa strawberry, tidak nampak sama sekali bahwa ia seorang Nyonya Muda Keluarga Pradipta. Pak Sas menghela nafas, hanya bisa pasrah.
"Telur Gabusnya 20 yang kemasan 250gr ya Bu, 3-nya dipisah. Terus Almond Crispy 30, 5 keju dan 5 coklat dipisah, 20 sisanya campur saja variannya."
"Habis ini kita ke sana ya, Pak Sas, setelah itu baru ke kafe Koes menunggu mereka yang ikut lari. Tidak sabar mendengar cerita Asisten Yan lari pakai celana pink, hehehehehe ... "
"Baik, Nyonya." Pak Sas tidak membantah meski rasanya ia mau pingsan setelah Litha menunjuk area kuliner yang belum mereka singgahi.
.
.
.
"Whaaaaa .... "
"Whoooohoooooo .... "
"My baby pink .... "
"Siapa pinky boy itu? Sweet banget siiih ... "
Abyan menjadi pusat perhatian setiap mata yang memandang. Gerakan lari yang berpadu celana berwarna pink dengan lekuk betisnya menambah kesan sexy dan menggoda bagi kaum hawa. Benar yang Ninda katakan, Aura macho penuh kelembutan begitu terpancar dari Abyan, mengalahkan kharisma seorang Tuan Muda Pradipta. Bahkan para reporter yang mayoritas bergender wanita lebih menyorot sosok Abyan ketimbang acara Color Run Festival itu sendiri.
Suasana makin meriah ketika bubuk warna-warni di tembakkan ke udara, menghadiahi para pelari hujan warna-warni yang tengah berlari dan disambut dengan suka cita luar biasa. Teriakan, pekikan, dan kehebohan terjadi menggaungkan suara-suara kemeriahan acara tersebut hingga di area Litha membeli berbagai jenis kudapan.
Taburan bubuk warna yang menciptakan pelangi terlihat cantik untuk diabadikan dalam foto dan tak terlupakan sepanjang masa. Sebagaimana di berbagai kota lain di seluruh dunia, ajang ini seperti sebuah kotak raksasa crayon warna yang meledak di udara.
.
.
.
"Seandainya aku bisa menikmati ini bersama Litha, pasti jauh lebih menyenangkan. Tahun depan aku akan membuatkannya untukmu dengan kemeriahan yang sama bahkan lebih untukmu di tahun depan." gumam Ray dalam hatinya ketika tubuhnya tersiram bubuk warna saat tengah berlari.
"Kau pasti sedang memikirkan istrimu, kan?" tanya Abyan menepuk pundak Ray sambil berlari.
Kondisi mereka sekarang, dari rambut sampai kaki penuh bubuk warna, bahkan celana pink yang dipakai Abyan sudah samar ke-pink-annya. Dan disitulah ia lega karena tidak lagi menjadi sorotan publik. Bukankah memalukan disorot hanya karena sebuah warna celana?
"Iya, Yan. Aku merasa tidak adil, aku bisa merasakan hal yang menyenangkan seperti ini tapi istriku tidak."
"Hehehehe ... dia pasti cukup bahagia dengan aktivitas belanja kulinernya."
"Sepertinya begitu, tadi malam aku sudah memberikan banyak uang tunai untuk dia habiskan karena kalau tidak habis dia akan mendapatkan hukumannya."
"Hahahahaha ... Kau memberikan kerepotan pada Pak Sas kalau begitu."
"Yan, hari ini kau menjadi bintangnya. Litha membuatmu makin bersinar, setelah ini pasti banyak perempuan yang akan mengidolakanmu dan aku mendapat saingan. Tapi tidak apa, aku juga tidak butuh mereka, aku hanya butuh Litha-ku."
"Hah! Kalian berdua memang kompak sekali. Tapi dimana Bona, dari tadi aku tidak melihatnya?"
Mata Abyan mencari Bona, tapi yang didapati netranya adalah sosok gadis berkacamata yang tengah tertawa bersama pria yang dilihat sebelumnya saat berswafoto.
Tak dinyana, gadis itu juga menangkap netra Abyan, mereka tidak sengaja saling menatap, lalu sama-sama saling mengalihkan pandangannya dengan canggung.
.
.
.
__ADS_1
Bona dan Ninda saling melempar tawa penuh rasa, di bawah hujan bubuk warna, Bona mengamati dalam wajah Ninda.
Ninda tidak seperti wanita kebanyakan yang selama ini ia kenal. Wajah polos tanpa make-up-nya sangat baby face, ditambah tinggi badannya yang mungkin hanya sekitar 150cm membuat Ninda nampak seumuran dengan kedua adik kembarnya yang masih SMA.
Perkenalan mereka diawali dengan bermain sandiwara namun terhenti dan tidak berlanjut karena teror Airin, mantan pacarnya yang ingin kembali. Mengetahui Airin masih menyimpan rasa untuknya, Bona ingin membalas dendam menghancurkan perasaan Airin, seperti yang Airin lakukan dulu padanya. Ia butuh Ninda untuk memuluskan niatnya, tapi Ninda menolak meski ditawari imbalan lebih banyak dari saat ia bermain sandiwara sebelumnya. Alasannya sederhana, ia tidak ingin diteror.
Mulanya Bona menganggap itu hanya alasan yang dibuat-buat Ninda untuk menghindari keluarganya yang sangat menyukai Ninda dan berharap mereka bisa menjalin suatu hubungan yang nyata. Padahal memang itu alasan sebenarnya, Ninda memiliki trauma bullying masa lalu yang sangat membekas di dirinya. Sebisa mungkin ia menghindari konflik dengan siapapun. Namun apa yang didapatnya barusan, ia seperti melihat Ninda yang berbeda, Ninda yang gagah berani melindungi sahabatnya.
Ninda adalah sebuah misteri buatnya yang semakin membuatnya penasaran. Terutama penyebab kedua orangtua dan adik kembarnya sangat menyukai gadis mungil itu. Apa menariknya ia dibanding Airin? Karena sikap kedua orangtuanya lah yang membuat Airin meninggalkan Bona. Airin tidak disukai orangtua Bona, terlebih maminya.
Kini, Bona menyadari yang ia rasakan bukan hanya sekedar rasa penasaran tapi sesuatu lebih dari itu. Ia tidak senang jika mendengar Ninda membicarakan lelaki lain dan ia merasa lebih nyaman jika melakukan berbagai hal bersama Ninda.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa bubuk warna ini membuatku semakin cantik atau sebaliknya?" tanya Ninda menyadarkan lamunan Bona.
"Nin, kalau aku menyukaimu, apa kau mau jadi pacarku?"
Tanpa basa-basi Bona langsung menembak Ninda.
"Hah! Apa? Kau mau aku jadi pacarmu? Hahahahaha ... Kau mau membayarku berapa kali ini?"
Deg ...
Ternyata Ninda akan menganggap dirinya hanya sebatas peran sandiwara. Lidahnya kelu ingin menjelaskan bahwa yang ia sampaikan ini benar dari hatinya.
"Eh, itu Evan ya?"
Bona tersenyum kecut pada Ninda yang langsung mengalihkan pembicaraan
"Mana?" tanya Bona malas.
"Itu, di depan sana. Yuk, ah buruan, biar kita cepat sampai di garis finish, aku mau melihat langsung Asisten Yan," sahut Ninda yang semakin melajukan larinya.
"Apa! Nin, ada aku di sini, kenapa kau malah mencari Abyan." seru Bona mengimbangi lari Ninda.
"Ternyata Asisten Yan orangnya seru, berani pakai warna pink di acara seperti ini."
"Entahlah, karena tiap lelaki pembawaannya pasti berbeda, dan Asisten Yan ternyata cocok banget pakai pink, auranya makin keluar. Mulai sekarang pasti banyak yang nge-fans padanyal. Dia terlihat macho namun penuh kelembutan, aihh ... perempuan mana yang gak klepek-klepek."
Bona mencekal tangan Ninda, hingga lariannya terhenti, matanya menatap tajam, "Dan kau juga termasuk perempuan yang klepek-klepek padanya?"
"Apaan sih! Kalau aku gak klepek-klepek sama Asisten Yan tandanya aku gak normal. Udah ah, kok kamu menyebalkan begini, Bon!"
Ninda menarik tangannya dan melanjutkan larinya lagi, lebih cepat dari sebelumnya.
"Nin, tunggu ...!!!"
.
.
.
Ramona berdiri bersandar di tembok, memandang dari kejauhan keceriaan para peserta Color Run Festival. Ia tidak jadi ikut berlari karena satu kakinya baru saja diinjak.
"Semut Kecil itu tenaganya tidak sepadan dengan badannya, Kakiku sakit sekali ia injak. Huh! Awas kau!"
Dilihatnya juga dari kejauhan, Litha sibuk membeli dagangan para pedagang yang dibantu oleh Pak Sas.
"Ck, Pencuri itu sangat rakus! Buat apa dia memborong sebanyak itu? Untuk dia makan? Hah, Jangan-jangan perutnya besar karena kebanyakan makan bukan karena hamil."
Ramona bermonolog sendiri, memperhatikan sekitar. Hatinya sedih, dulu ia begitu diperhatikan, Ray, Bona bahkan Abyan yang walaupun tidak terlalu menyukainya, Abyab akan tetap berusaha untuk berbuat baik padanya. Namun, sekarang setelah kehadiran Litha di Keluarga Pradipta seakan menggeser tempatnya tanpa menyisakan sedikitpun buatnya. Perhatian, kekasih, kawan, kemewahan, prestise dan popularitas seakan ikut tergeser juga.
Tapi yang paling menyakitkan bagi Ramona adalah hilangnya sandaran hati, tempatnya berkeluh kesah, mengadu, berlindung dari ayahnya yang kerap berlaku kasar padanya. Kadang ia merasa seperti bukan anak kandung karena perlakuan ayahnya yang sangat jauh berbeda ketika memperlakukan Lucas, adiknya.
Ayahnya selalu mendoktrinnya untuk membalas budi, entah budi apa yang dimaksud. Bukankah membesarkan anak adalah kewajiban orangtua yang tidak dianggap hutang. Kenapa ia selalu di tuntut untuk membayar hutang? Hutang akan tempat tinggal, hutang akan pakaian bahkan hutang untuk segala yang ia makan selama ini?
__ADS_1
"Tidak ada yang tersisa selain kepedihan buatku. Apa jika Pencuri itu tidak ada, semua akan kembali seperti dulu?" tanya Mona pada diri sendiri dengan tatapan nanar ke arah Litha yang lagi tergelak senang karena tangan Pak Sas penuh dengan hasil belanjanya.
.
.
.
Gadis berkacamata yang tadi sempat bersitatap dengan Abyan sibuk menetralkan degup jantungnya yang berirama tidak karuan.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Ah, kenapa juga aku melihatnya. Salahnya juga memakai celana pink , jadinya kan menarik perhatian. Hahahahaha ... tapi dia lucu sekali, dia terlihat sangat menggemaskan memakai warna pink. Pinky Boy ... " ujarnya dalam hati sambil berlari, senyum-senyum sendiri hingga menampakkan kedua lesung pipitnya.
"Lagi mikirin siapa? Aku ya?" sahut pria berkacamata di sampingnya.
"Ah, enggak Kok. Gak mikirin siapa-siapa."
"Lah, terus apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri?"
"Aku hanya takjub melihat keberanian seorang pria mengenakan celana pink di acara seramai ini."
Vivian tidak berbohong tapi juga tidak jujur 100 persen pada Indra, tunangannya yang juga seorang dokter spesialis penyakit dalam di Pradipta Hospital.
"Apa menurutmu bagus jika seorang pria mengenakan pakaian warna pink?"
"Bagus untuknya, tapi belum tentu buat yang lain."
Ssshhhh ...
Vivian tidak menyadari jawaban yang ia berikan pada tunangannya berhasil dicerna sebagai ungkapan kekaguman yang tidak biasa dari seorang wanita kepada pria.
.
.
.
Ray dan Abyan beberapa saat yang lalu telah melewati garis finish, sekujur tubuh mereka dipenuhi dengan bubuk warna-warni, tidak lupa mereka berfoto-foto sejenak untuk mengabadikan moment. Danu Kusuma yang baru saja menyentuh garis finish mendekati mereka.
"Wah, Tuan Pradipta dan Tuan Abyan sudah sampai finish rupanya. Bagaimana menurut Tuan Pradipta mengenai perhelatan Color Run Festival tahun ini?"
"Sangat bagus. Konsepnya jelas, penyelenggaraan rapi dan tertata, kuliner yang mendukung bahkan Tuan Kusuma mengundang beberapa band papan atas. Color Run Festival tahun ini pasti akan sangat berkesan bagi semua yang menikmatinya, termasuk aku dan istriku."
"Terimakasih, Tuan. Semuanya berkat Anda yang menjadi sponsor utama, makanya kami bisa mengundang grup band papan atas. Kami sangat berharap tahun depan acara ini bisa diadakan kembali, tentunya dengan dukungan dari Tuan Pradipta."
"Tahun depan, aku sendiri yang akan mengadakannya untuk istriku karena ia tidak bisa ikut sekarang. Jadi Tuan Kusuma tidak perlu repot-repot lagi mencari sponsor. Kurang lebih konsepnya seperti ini tapi mungkin akan lebih meriah lagi"
Danu Kusuma memandang takjub lelaki berpostur tinggi itu ketika ia mendengar langsung bahwa Tuan Muda Pradipta akan mengadakan Color Run Festival hanya karena istrinya tidak bisa ikut tahun ini.
"Istri Tuan pasti sangat beruntung dicintai Tuan."
"Aku yang beruntung dicintai olehnya."
Lagi-lagi Danu memandang takjub tidak percaya, siapa gerangan yang bisa dicintai Tuan Muda Pradipta bahkan membuatnya bertekuk lutut.
"Istriku sangat menyukai beberapa menu dari kafe Anda, bahkan dia memilih untuk menungguku di situ. Jika istriku menyetujuinya, aku akan menjadi investor di kafe Anda."
"Benarkah, Tuan? Jika Anda menjadi investornya, Anda akan menjadikan kafe ini menjadi kafe nomor satu seperti Klub Amore. Semoga istri Anda berkenan, Tuan."
Baru saja Danu menyelesaikan kalimatnya, Abyan membisiki sesuatu pada Ray setelah menerima pesan teks dari pamannya. Raut muka Ray seketika berubah dingin dan rahangnya mengeras, tidak seramah barusan.
Danu dengan takut-takut memberanikan diri bertanya, "A-- Ada apa Tu-- Tuan?"
"Tuan Kusuma, antarkan aku ke kafe Anda. Istriku diperlakukan buruk oleh seseorang. Siapapun dia, orang itu pasti menyesal berurusan denganku."
"Ba-- baik, Tuan. Ma-- mari saya antar," ucap Danu gemetar melihat kemarahan Tuan Muda Pradipta.
__ADS_1
Tanpa berganti pakaian terlebih dulu dan masih dengan taburan bubuk warna-warni di seluruh badannya. Ray dan Abyan langsung bergegas menuju Koes Millenial Food & Baverage.
- Bersambung -