
Litha pulang ke Kota A sendirian menggunakan kereta paling pagi di hari itu. Kepalanya sedikit sakit karena menangis semalaman. Ninda yang menemaninya pun heran, Litha yang ia kenal adalah sosok yang kuat, tidak pernah menampakkan airmatanya dan selalu terlihat baik-baik saja kini menjadi cengeng. Hatinya gampang tersentuh, entah sedih atau bahagia.
"Kenapa, Nin? Kok melamun," sahut Bona membawa nampan berisi burger, kentang goreng dan dua gelas besar coke float di salah satu gerai kedai burger di mall.
Ninda baru saja mengantar Litha ke stasiun sebelum berjanji temu dengan Bona di mall milik Keluarga Pradipta. Sampai sekarang pun, Ninda belum memberitahu perihal pertemanannya dengan Bona ke Litha. Ia takut jika menyebut nama Bona, Litha akan sedih karena mengingat suaminya.
"Bon, boleh tidak aku bertanya sesuatu? Apa kau tahu kabar Tuan Muda?"
"Hah! Buat apa kau menanyakannya?" Bona tidak senang mendengarnya.
"Aku hanya ingin tahu saja kabarnya setelah bercerai dengan Litha."
"Cerai? Kapan? Dia atau Yan tidak pernah cerita apapun padaku. Ahhh ... sial! Meeka itu menganggapku teman atau bukan sih, mengapa aku selalu tahu dari orang lain perihal mereka. Tapi kenapa Mona tidak memberitahuku? Jangan-jangan dia juga belum tahu ?" gerutu Bona.
"Siapa? Mona? maksudnya Ramona, mantannya Tuan Muda?"
Bona mengangguk sembari menyeruput minumannya, "Mona sangat mencintai Rayyendra. Kalau ia tahu kabar ini pasti dia sangat senang, hehehehe ...."
"Haissshhhh ... wanita yang mulutnya penuh bisa itu apa bisa dipercaya? apa dia tulus?"
"Aku mengenalnya sejak kuliah di Amerika bareng Ray dan Abyan. Memang agak ngeselin orangnya, tapi dia wanita yang baik, kok."
"Kalau dia wanita yang baik, tidak mungkin sedengki itu dengan Litha sampai mengintimidasi Litha dengan kata-kata tidak pantas. Padahal ia tahu pernikahan Litha hanya sementara tapi tetap saja ia menyerang Litha dengan cara murahan dan norak. Untung sahabatku itu keren, dia bisa membalikkan keadaan membuat Mona tidak bisa berkata apa-apa lagi, hahahahaha ..."
Bona kaget, "Oh ya? Tahu dari mana?"
"Aku sendiri saksi matanya, kau mau dengar apa yang dikatakannya?"
Ninda mengambil ponselnya, mencari rekaman suara yang ia rekam saat Ramona memprovokasi Litha di spa beberapa waktu lalu. Diperdengarkan rekaman suara itu ke Bona.
"Bisa dengar sendiri, kan bagaimana mulutnya yang jahat itu? Aku tidak suka dia."
Meski di mata Bona, Ramona adalah gadis yang baik hanya saja dia terlalu mencintai Ray sampai posesif akut, tapi Bona memilih diam saja tidak mau berkomentar banyak. Ia takut Ninda akan marah padanya hanya karena dianggap lebih memihak Ramona daripada Litha. Tapi apa yang dikatakan Ninda juga ada benarnya. Siapapun yang dikata-katai seperti itu akan sakit hati, bahkan bisa saja terjadi perkelahian saling jambak, namun Litha membalasnya dengan elegan dan malah membuat Ramona tidak berkutik.
__ADS_1
"Tapi, aku kasihan lihat Litha sekarang, Bon. Dia gampang sekali menangis. Coretan pada skripsinya dan gosip di kampus bisa membuatnya menangis lama. Padahal dulu jangankan menangis, melihat wajah sedihnya pun jarang. Dia seperti bukan Litha yang ku kenal. Mana sekarang badannya tambah kurus dan wajahnya makin pucat."
"Gosip? Gosip apa?"
"Sewaktu Litha bekerja pada Nyonya Besar, satu kampus menggosipkan dia sugar baby dari om-om berduit yang menjemputnya di kampus. Evan pun sampai nanyain ke aku. Tahu siapa yang dimaksud om berduitnya? Pak Sas, hahahahahaha .... "
"Evan?"
Ternyata banyak yang ia belum tahu. Ninda dengan polosnya bercerita bagaimana perasaan Evan pada Litha dari pertama kali mereka bertemu di semester pertama hingga sekarang dan bagaimana reaksi terakhir sepupunya bertemu Litha terakhir kali di kost-nya.
"Hahahahahaha ... " Bona tergelak keras, ia sama sekali tidak menyangka, dunia memang sesempit ini. Apalagi ini Evan akan menunggu jandanya Litha, bagaimana kalau Ray dengar? Bona ngakak tidak berhenti membayangkan muka jengkel sahabatnya itu.
"Kok kamu ketawa sih, aku tersinggung nih ..."
"Maaf, Nin. Aku bukan ngetawain kamu. Aku cuma heran saja, apa dunia sesempit ini hahahahahahaha .... Evan menunggu jandanya Tuan Muda Pradipta huahahahaha .... "
Ninda jengkel, diambilnya tiga buah kentang goreng dan langsung memasukkannya ke dalam mulut Bona yang terbuka lebar karena tertawa, "Pelankan suaramu!"
"Hahahahahaha ... tidak mungkin! Sedih kenapa coba? Setahuku Litha juga ingin segera menyelesaikan pernikahannya dan menjalani hidupnya seperti sebelum bertemu dengan Keluarga Pradipta." giliran Ninda yang tertawa, tapi canggung.
"Menurut Abyan mereka berdua terjebak sendiri dengan perjanjian yang mereka buat."
"Maksudmu?" tanya Ninda mengunyah kentang gorengnya.
"Beberapa bulan belakangan ini Ray uring-uringan dan cepat naik darah. Dia seperti orang gila, senyum sendiri, lalu sedih dan marah-marah sendiri. Di kantor pun semua harus memaklumi mood bosnya yang lagi jelek. Hmmmpppffffhhh, aku saja dilemparnya minatur bola dunia. Untung bisa kuhindari kalau tidak sudah bocor kepalaku."
"Haaaa?!? Kenapa memangnya?"
"Ah, bukan apa-apa, hanya karena salah bicara." Bona tidak mau mengatakan ia dilempar karena meminta Ray agar Litha membujuk Ninda bisa bertemu dengannya. Malu.
"Cih. Menurutmu sendiri hati Tuan Muda sekarang ke siapa?"
"Entahlah, Ray sangat susah mengekspresikan perasaannya. Sewaktu dengan Ramona dulu pun, ia biasa saja, tidak pernah sekalipun Ray mengatakan cinta pada Mona. Mona saja yang cinta mati hehehehe...."
__ADS_1
Kompak sekali pertemanan mereka, tanpa disadari Bona dan Ninda sudah nyaman satu sama lain.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Litha gagal mendapatkan tiket pesawat tujuan Kota A karena penerbangan hari itu di jam paling pagi semuanya penuh, akhirnya kini Litha berada di kereta api express. Hatinya hilang mendengar kabar terakhir ibunya yang baru saja ia terima sebelum kereta berangkat. Keadaan Ibu semakin kritis, Litha diminta segera datang, Vania pun sudah dijemput Paman Tino dari asramanya.
"Tha, minta tolong kamu pakai pesawat pribadinya Tuan Muda saja kesini, biar cepat. Ibumu makin kritis, Vania sudah melihat ibumu, Paman takut kalau kamu terlambat ..."
Paman Tino tidak meneruskan kalimatnya, ia juga tidak sanggup meneruskannya, tapi ia harus sampaikan ke Litha agar setidaknya keponakannya itu bisa melihat ibunya terakhir kali. Para dokter sudah angkat tangan, kondisi yang awalnya membaik tidak tahu kenapa tiba-tiba turun drastis sejak dua minggu lalu dan semakin menurun sampai sekarang.
Airmata membanjiri wajah Litha, matanya bengkak, menangis terus, sudah keadaan ibunya yang kritis, Paman Tino mengingatkannya lagi pada Ray yang tadi malam tidak sengaja bertemu, dan dia bersama Ramona.
Keluarganya di Kota A belum tahu kalau Ray sedang mengurus perceraian dengannya. Sengaja ia tidak memberitahukan, menunggu setelah resmi menerima bukti perceraian berupa akta baru ia akan sampaikan.
Litha membuka dompetnya, ada foto keluarga bahagia sebelum peristiwa naas Kak Tisha datang. Litha mengusap-usap foto itu, Sedih sekali rasanya ia kehilangan satu-persatu orang di foto ini. Ayahnya yang telah pergi, ibunya yang kian kritis dan kakaknya yang masih dalam pengobatan membuat hatinya teriris.
Tidak sengaja ada benda kecil panjang mirip stick menyembul dari ujung dompetnya. Ah, ia lupa, minggu lalu ia merasa aneh kenapa ia belum datang bulan, padahal seharusnya ia sudah dapat beberapa kali.
Dengan takut Litha mengetes urin-nya dengan alat tes kehamilan yang dijual bebas di apotik. Serasa dunianya berhenti saat garis dua jelas terlihat di sana. Ia hamil, benih Rayyendra menetap dan berkembang dalam rahimnya.
Kehamilannya masih ia simpan sendiri, ia bingung harus bagaimana. Haruskah ia memberitahu Ray? Bagaimana jika ia menolak? karena ia sendiri mengatakan tidak sengaja, semua yang terjadi di malam itu di luar kendalinya, pasti akan sangat menyakitkan kalau Litha mendengarnya. Kalaupun pada akhirnya ia menerima, apa bagusnya terpaksa?
Aaaaaaarrrrrtggggghhhhhh ....
Litha rasanya ingin berteriak sekeras mungkin. Mengapa jalan takdirnya seperti ini? Apa ia harus menjadi single parent? Bukan ia tak sanggup, tapi ia tidak bisa membiarkan anaknya akan tumbuh tanpa sosok ayah. Seperti unicorn tanpa tanduk, itulah yang dirasakan seorang anak yang tumbuh tanpa ayah meski sang ibu dapat mengambil semua peran ayah.
- Bersambung -
Kutipan :
Unicorn tanpa tanduk,
diambil dari artikel Media Online Kompasiana, Dapatkah Ibu Mengganti Peran Ayah?
__ADS_1