
"Ternyata kau bukan orang yang suka basa basi ya? Baiklah. Dengarkan! Namaku Bona Santoso. Kau akan menjadi calon istriku yang akan kuperkenalkan kepada orangtuaku." tandas Bona.
"Hahhh!!!" teriak Ninda, matanya membola.
Bona terpana melihat mata Ninda yang membulat kaget mirip Airin, yang selalu mengemaskannya.
"Tidak ... tidak ... bukan jadi calon istri tapi berpura-pura menjadi calon istri," tukas Bona.
"Berpura-pura? Apa kau tidak punya pacar hingga mencari orang untuk bersandiwara?"
"Kriteria orangtuaku adalah anak rumahan, tapi dengan lingkungan pergaulanku seperti disini tentu saja sulit."
"Anak rumahan? Hahahahahahahahaha.... "
Kini giliran Ninda yang tertawa, tapi biarlah, tidak masalah baginya kalau hanya bermain sandiwara menjadi calon istri, toh lelaki yang memintanya bermain-main juga tampan.
"Sampai kapan?"
"Ah .... benar, sampai kapan ya? Aku tidak memikirkan sampai disitu."
"Heh, kalau mau bermain sandiwara harus terkonsep biar terlihat sungguhan."
"Kalau begitu sampai kapan menurutmu?"
"Aku hanya bersedia satu bulan sebagai ganti rugi perbuatan Evan dan teman-temanya."
"Apa?!?"
Bona tidak menyangka Ninda menjawabnya dengan tegas.
"Satu bulan?"
"Ya, setelah satu bulan Tuan bisa saja nanti mencari alasan kita putus karena tidak ada kecocokan."
Bona masih mencerna ada yang ganjil dari kesepakatan dia dan gadis imut ini.
"Kalau kau masih ingin bermain sandiwara setelah batas waktu ganti rugi, Tuan bisa menyewaku, 5 juta per bulan."
"Kau gila! Ini namanya pemerasan!"
"Pemerasan bagaimana maksud Tuan? Saya kan hanya mengajukan penawaran, sewa jasa untuk peran calon istri. Namanya jasa tentu ada tarifnya tapi tidak bersifat memaksa, untuk yang berminat saja."
__ADS_1
"Ck! Terserahlah."
"Oke, deal ya, Tuan. Saya menjadi calon istri semu selama satu bulan menggantikan segala kerugian yang ditimbulkan Evan dan teman-temannya. Setelah satu bulan, kita tidak memiliki hubungan apapun, kecuali jika Tuan ingin melanjutkan sandiwara, tentu saja dikenakan tarif 5 juta per bulannya." jelas Ninda.
"Tapi selama statusmu adalah calon istri dalam sandiwara, kau harus bersikap seperti calon istri sungguhan. Aku sebagai calon suamimu, berhak melakukan seperti layaknya calon suami sungguhan," sahut Bona juga menambahkan klausul kesepakatan.
Ninda terhenyak, tapi menurutnya tidak ada ruginya, toh hanya berpura-pura, bermain-main dan bisa sedikit menyombongkan diri di depan teman kuliahnya di kampus bahwa selama ini ia bukan jomblo, ada lelaki yang tertarik dengannya dan tidak lagi dijuluki remaja tua.
Akhirnya mulai saat itu Ninda dan Bona adalah sepasang kekasih dalam sandiwara yang mereka buat selama satu bulan ke depan.
Bunyi telepon di tas Ninda berdering, diliriknya sekilas, ternyata Litha yang meneleponnya.
"Ya, Tha," Ninda menjawab teleponnya.
"Iya, bentar lagi aku pulang kok. Udah, udah, aman, gak perlu mengkhawatirkan apapun," ujar Ninda menjawab pertanyaan Litha.
"Sudah selesai, kan, Tuan? Saya mau pulang sekarang," katanya pada Bona setelah menutup sambungan telepon.
"Ya, nanti akan kuhubungi lagi. Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, tapi Sayang."
"Whoaaaahhhh.... ada yang akan mulai akting nih. Oke tidak masalah."
Tidak kalah sangkleknya, Ninda menyahut,
"Tidak perlu, Sayang. Kekasihmu ini adalah perempuan mandiri, jangan tertipu dengan dengan wajah luguku. Tapi .... kau bisa melakukan permintaan pertamaku, Sayang. Tentu tidak keberatan kan mengabulkan permintaan calon istrimu? Tolong antarkan sepupuku dan teman-temannya sampai ke rumah mereka masing-masing dalam keadaan selamat."
"A-- a-- pa? Kau--"
Ninda keluar dari ruangan dengan cuek. Bona tidak bisa berkata apa-apa, permainan belum mulai dia sudah kalah telak.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Hari ini, di ruangan kantornya, Firza menerima sebuah amplop cukup besar dari detektif yang disewanya untuk mengawasi Litha.
Pada awalnya Firza sama seperti Rayyendra, menaruh curiga motif Litha mendekati Nyonya Besar, hal ini ia lakukan semata-mata untuk melindungi Neneknya. Namun berbeda dengan Rayyendra yang bereaksi marah, Firza menanggapinya dengan tenang tetapi ia mencari tahu pasti di belakang layar.
Setiap laporan yang masuk dari detektif sejak insiden semu jengkol hingga sekarang malah membuat Firza jatuh hati pada Litha. Bahkan sekarang alasan ia masih menyewa detektif bukan lagi untuk melindungi Nyonya Besar karena ia yakin tidak ada motif apapun selain ketulusan, tetapi juga untuk mengetahui kisah hidup Litha yang sebenarnya.
"Apa ini semua informasi mengenai Tisha, Detektif Zeth?" tanya Firza sebelum membuka amplop yang ada di depannya.
"Iya, Tuan, semua informasinya ada di dalam." jawab detektif swasta itu.
__ADS_1
Firza membukanya, dilihat, dibaca dan diperhatikannya dengan seksama semua informasi yang didapatkan Detektif Zeth. Ia menemukan satu hal yang sangat menarik perhatian. Air mukanya berubah, ditelisiknya sekali lagi sesuai kronologis.
"Ahhhh.... Bedebah itu ternyata!!! Bagaimana dia hidup tenang setelah menghancurkan kehidupan bukan saja satu wanita tapi satu keluarga. Aaaarrrrrrgggghhhh........!!!" maki Firza kesal dalam hatinya.
"Terima kasih Detektif Zeth. Tetap awasi Litha, terutama saat dia sendirian. Marabahaya mulai mengintainya sejak pesta ulang tahun Nyonya Besar. Untuk informasi ini, bonus Anda akan segera saya transfer."
"Terima kasih, Tuan. Saya permisi."
Firza membalas dengan sekali anggukan. Dihelanya nafas sedalam mungkin, pikirannya terbang ke Litha. Ia bisa merasakan kegetiran yang Litha alami karena satu kejadian. Hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat setelah kematian ayahnya yang tiba-tiba. Litha beserta ibu dan saudaranya kehilangan 'nyawa' mereka. Mau tidak mau Litha yang paling memungkinkan kondisinya untuk menjaga dan merawat mereka semua. Litha yang manis dan manja kini berubah menjadi Litha yang kuat, mandiri dan melawan egonya demi keluarga.
Firza mengepalkan satu tangannya menahan amarah yang menyelimuti dirinya. Ia tahu siapa yang memperkosa Tisha, ia tahu siapa yang menutup kasus Tisha, ia tahu siapa dalang dari peristiwa tabrak lari ayah Litha, bahkan ia tahu siapa yang menyuruh dua orang preman untuk melakukan percobaan pemerkosaan pada Litha.
Firza ingin membuka kasus Tisha kembali meski sudah bertahun-tahun dilewati, ia bersedia mencari bukti baru untuk mencari keadilan bagi keluarga Litha. Namun, ia tidak berhak melakukannya tanpa persetujuan Litha, dan untuk meminta persetujuan Litha tentulah ia harus membuka semua informasi yang ia dapatkan. Sayangnya informasi itu justru membuka luka lama yang dalam dan kelam, yang susah payah ia menguburnya dan berdiri di atas luka itu.
Firza bingung apa yang harus dilakukannya, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah, mengusir kegelisahan yang melanda dirinya saat ini. Tujuannya satu, ia ingin melihat senyum Litha yang lepas tanpa beban di pundaknya.
Setelah diam dengan pikirannya sendiri, Firza mengirim pesan teks ke Litha.
'Lith, aku ingin bertemu denganmu hari ini. Ada yang ingin kusampaikan. Kujemput setelah makan malam di rumah Nenek ya.'
Ting ....
Pesan balasan Litha masuk.
'Oke, Kak.'
Firza membalikkan posisi duduknya menghadap kaca yang berada dibelakangnya. Ruangannya yang satu lantai di bawah ruangan Rayyendra di Kantor Pusat Pradipta Corp. memiliki view pemandangan ibukota. Beragam hiruk pikuk moda transportasi terlihat indah dari sana. Pandangannya lurus tidak berbatas, Firza berkata dalam hati,
"Litha, aku tahu bagaimana kau membangun batasan tinggi di sekitarmu hanya untuk mencegah fokusmu hilang demi keluarga yang membutuhkanmu. Aku minta maaf jika kemarin sempat berpikir kau menolakku karena ada lelaki lain di hatimu. Aku mencintaimu, Navia Litha Sarasvati."
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
...BIG NOTE :...
Terima kasih banyak buat Readers yang telah berkenan memberi dukungan berupa like, komentar, fave, rating dan vote. 🙏🙏🙏🙏🙏
Semoga ceritanya tetap menarik untuk diikuti dan kita semua diberikan kesehatan untuk menulis maupun membaca...
Love u, Readers 🤗
__ADS_1