
Hati Litha kacau dan wajahnya sedikit memucat setelah melihat ponselnya tergeletak di lantai. Bathinnya memanggil-manggil nama suaminya, ia menoleh ke belakang melihat Ninda, keringat makin membanjiri wajah sahabatnya dan tubuhnya semakin gemetar. Tangan Ninda memegang dadanya sendiri untuk menahan nyeri.
"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Wanita ini sangat agresif, duh Nin, bertahanlah ..."
"Ren, sudahlah. Ayo kita lekas pergi." Airin menarik lengan Renata, ia tidak mau masalah ini berbuntut panjang.
"Tidak. Aku baru ketemu Ninda setelah sekian lama, dia pikir dia bisa menghilang dariku selamanya, hah! Karena dia memaksa Evan untuk memutuskan aku setelah Si Brengsek itu meniduriku, aku tidak akan melepaskannya sekarang! Biar dia ketakutan sampai mati!!!" Renata berteriak macam kesetanan sampai Airin melepaskan tangannya dari lengan Renata.
"Dan ... Kau! Tidak usah ikut campur!!!"
Renata gelap mata menyasar Ninda, tapi karena Litha memasang badannya untuk Ninda membuat Renata dengan kasar mendorong tubuh Litha ke samping untuk menyingkirkan dari jalannya.
Gerakan Renata sangat cepat dan tidak terduga sehingga Litha tidak sempat membuat dirinya bertahan, namun ia sadari ia tidak boleh terjatuh karena ada nyawa yang harus ia lindungi dalam tubuhnya. Ia lebih menyandarkan tumpuan jatuhnya ke tembok menghadap samping badannya.
Pranggg ....
"Aaauuwww ... Ssshhh ... "
Litha menabrak hand dryer dengan keras hingga benda yang tertempel dekat wastafel jatuh berserakan dan menimbulkan keriuhan. Bukannya berhenti, adrenalin Renata semakin terpacu hingga mukanya dilekatkan satu senti jaraknya dengan wajah Ninda dengan senyuman mematikan. Detak jantung Ninda semakin cepat, wajahnya terasa dingin dan perutnya mual.
Litha ingin menolong sahabatnya tapi lengan kanannya terasa sakit sekali, ia meringis tanpa suara memegang lengannya yang terasa sakit.
"Kumohon ... jangan sakiti Ninda. Dia-- " Litha pun merasa nafasnya menjadi tersengal-sengal, ia agak membungkuk memegangi perut bagian bawahnya yang tiba-tiba terasa kram.
Brakkkk ...
Pintu didobrak oleh seseorang dari luar.
"Litha!"
"Ninda!"
"Nyonya!"
Ray dan Abyan menghambur ke Litha, sedangkan Bona mendorong Renata menjauh dari hadapan Ninda. Di luar toilet ramai dengan suara, beberapa petugas keamanan dan pengunjung memadati pintu toilet yang dibuka paksa Ray.
Airin panik dan gugup, tapi ia lebih sakit hati melihat Bona begitu perhatiannya pada Ninda yang sudah luruh di lantai. Renata pun sama, ia baru menyadari setelah mendengar sorakan dari luar toilet, lebih kagetnya lagi hingga matanya mau meloncat keluar adalah Tuan Muda Pradipta yang tengah merengkuh Litha dengan sangat hati-hati.
"A-- apa Litha istri Tuan Muda?" tanya Renata dalam hati
"Lith, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai begini?" tanya Ray panik, "Perut-- perutmu tidak apa-apa kan?" Ray meraba perut istrinya, takut terjadi apa-apa pada anaknya.
Litha menggelengkan kepalanya, pikirannya masih tertuju pada Ninda, menatap Abyan ia berkata, "Asisten Yan tolong Ninda sekarang, bawa dia keluar dari sini."
"Baik, Nyonya."
Pandangan Ray menangkap kegugupan Renata dan Airin yang tidak jauh berada darinya. Dengan mata bak pisau tajam yang siap mengiris-ngiris yang ditatapnya, sangat sempurna dengan raut kemarahan melihat istrinya meringis menahan sakit di lengannya yang nampak membiru. Murka Ray sudah di depan mata Renata dan Airin yang ketakutan, tapi dengan secepat kilat Litha memalingkan wajah suaminya ke arahnya.
"Mas bantu aku keluar dari sini, aku sesak. Kalau Mas mau mengurusnya, lakukan di lain waktu saja, jangan sekarang."
Ray enggan, tangannya sangat gatal ingin menghancurkan kedua gadis itu minimal menampar pipi mereka hinga membiru seperti lengan istrinya, tapi dia tetap harus memprioritaskan kenyamanan Litha. Ray mengangguk.
"Ninda!" pekik Bona saat Ninda tidak sadarkan diri dalam pelukannya.
Terjadi kepanikan ketika Ninda diangkat Bona dan dibantu Abyan untuk memberi jalan. Litha dipapah Ray untuk keluar dari toilet.
"Urusan kita belum selesai, Nona. Kau akan membayar mahal atas perbuatanmu!"
Suara tajam menusuk kalbu Renata dan Airin yang memporak-porandakan kedamaian jiwa, karena semua tahu, akibat apa yang akan ditanggung si pembuat marah Tuan Muda Pradipta.
Suasana menjadi tambah riuh setelah ada yang berteriak, "Itu Renata Swastika. Apa yang terjadi? Apa dia melakukan hal yang buruk?"
"Ya, benar, itu bintang sinetron Ayah Tiriku ternyata Kekasihku, dan itu model majalah dewasa, Airin."
Orang-orang sibuk mengambil foto dan video untuk merekam wajah Renata dan Airin yang tertutup oleh telapak tangan mereka. Sesegera mungkin pergi dari situ.
.
.
.
# Pradipta Hospital #
Ninda yang tidak sadarkan diri diberi pertolongan langsung oleh dr. Vivian, yang mendapat jadwal jaga saat itu. Sedangkan Litha ditangani oleh dr. Lena.
"Apa seseuatu terjadi padanya, Dokter? Anak kami?" kekhawatiran Ray belum hilang sejak melihat Litha meringis sambil memegangi perut bagian bawahnya.
"Tidak perlu terlalu dikhawatirkan, Tuan. Nyonya dan bayinya dalam keadaan baik, hanya saja mungkin Nyonya kaget pada saat benturan. Kram bagian bawah perut juga akan berangsur sembuh dengan relaksasi. Dan lengan Nyonya akan membiru beberapa satu dua hari kedepan, ada benda tumpul yang menekan otot bisepnya yang menyebabkan memar dan rasa nyeri, nanti saya akan berikan obat penghilang nyeri yang aman buat ibu hamil."
"Terima kasih, Dokter." Jawaban Ray dan Litha secara bersamaan membuat senyum simpul dr. Lena.
Setelah memastikan bahwa dirinya tidak perlu terlalu dikhawatirkan, Litha meminta diantarkan ke kamar Ninda dirawat.
__ADS_1
Disana ada Bona, Abyan, dr. Vivian dan beberapa perawat. Wajah Ninda pucat dan dingin, detak jantungnya pun masih berdetak cepat.
Litha dan dr. Vivian untuk beberapa saat terpaku saling memandang.
"Ini Kak Vivian kan? Dia sangat keren memakai jubah putih itu. Seandainya saja Kak Tisha jadi dokter, pasti ia juga sekeren Kak Vivian."
"Dia-- Dia Litha, adiknya Tisha sekaligus Nyonya Pradipta. Ah, Litha yang dulu begitu polos sekarang sangat anggun."
Mereka saling melemparkan senyum dan memberi penghormatan sebelum Vivian kembali fokus pada Ninda.
"Apakah orangtuanya sudah dihubungi?" tanya dr. Vivian pada Bona yang sedari tadi di samping Ninda.
Hening, tidak ada yang menjawab.
"Maaf Dokter, apa perlu orangtuanya diberitahu karena Ninda sangat tidak menginginkan kedua orangtuanya tahu ia memiliki kecemasan yang berlebihan?" tanya Litha memecah kesunyian.
"Tapi kami membutuhkan wali Nona Ninda untuk penanganan lebih lanjut jika diperlukan, Nyonya." Vivian menjawab Litha dengan formal.
"Apa bisa kita menunggu sampai Ninda sadar dan menanyakannya terlebih dahulu padanya? Aku takut ia akan bertambah cemas, jika orangtuanya mengetahui kondisinya," tanya Litha lagi.
"Maaf Nyonya, prosedur rumah sakit menyatakan demikian."
"Mas, bagaimana ini?" Litha bertanya pada Ray yang berada di sampingnya sambil mengelus punggung istrinya.
"Tunggu sampai Ninda sadar, baru kita tanyakan padanya apakah dia bersedia memberitahu kondisinya pada orangtuanya atau tidak." Ray memberi perintah pada dr. Vivian.
"Tapi Tuan, prosedur rumah sakit--"
"Rumah sakit mana?" potong Ray ketus, ia tidak suka dibantah, bahkan Litha sekalipun jika mengatakan tidak, ia lakukan dengan sangat halus.
"Prosedur itu tidak berlaku untuk perintahku. Apa harus ku ulangi?!?"
Suara Ray makin meninggi. Litha ingin menenangkan suaminya tapi keburu disela Abyan, "Ray, ini rumah sakit, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Tenanglah."
Seolah nampak biasa saja Abyan melakukannya tapi justru hal yang tidak biasa yang ditangkap Litha. Bahasa tubuh lelaki yang hampir sama tingginya dengan Ray seolah memberi perlindungan bagi dokter manis itu.
"Lakukan apa yang Tuan Muda katakan, Dokter," sahut Abyan datar pada dr. Vivian.
Meski suaranya datar tapi sinar mata Abyan tidak bisa ditutupi. Ada secercah suka cita hanya dengan memandang wajah berlesung pipit itu. Samar namun hangat, seperti ketika Ayah mencuri pandang Ibu di sela-sela aktivitas. Meski begitu, nampak jelas ada rasa yang tulus dalam sinar mata Ayah juga Abyan, dan Litha bisa melihatnya.
.
.
.
Pertanyaan Litha membuat Abyan terkesiap, Litha sengaja menanyakannya dengan suara yang bisa ditangkap telinga Abyan, ingin melihat reaksinya.
"Lebih cantik istriku. Mau siapapun dia, kau tetap tercantik di duniaku." jawab Ray menatap mesra istrinya padahal baru saja ia sibuk dengan ponselnya.
"Ah, iya. Bagi Mas, aku yang paling cantik, paling istimewa, paling menawan, paling menggairahkan--"
Ehemm ...
Abyan berdehem mengingatkan Litha dan Ray yang mulai kumat bucinnya. Bona pun mendelik kesal, bisa-bisanya saling bucin di saat begini.
"Hehehe ... Maaf. Kalau begitu aku tanya Asisten Yan saja karena kalau Bona pasti yang paling cantik itu Ninda. Menurut Asisten Yan, dr. Vivian cantik tidak?"
Abyan belingsatan tidak bersuara, menutupi jantungnya yang bertalu-talu, bukan kenapa, tapi karena untuk menjawab pertanyaan Litha ia harus memasukkan bayangan wajah Vivian ke dalam pikirannya, dan itu hal yang saat ini ia hindari. Ia tidak mau memupuk bunga perasaannya tumbuh subur dan akhirnya layu tanpa ada yang memetiknya.
"Cantik tidak?" goda Litha sambil terkekeh.
"Emm ... emm ... ca-- cantik." Abyan menjawab terbata, tenggorokannya tercekat menyebut kata cantik, jantungnya serasa mau lepas.
Litha terbahak, lupa kalau sahabatnya sedang berbaring. Bona semakin kesal melihat Litha yang seakan tidak peduli pada Ninda.
"Mas ... apa dr. Vivian sudah bersuami? bertunangan? atau sudah punya pacar?" Litha menggelayut manja di lengan kekar Ray yang memelototi ponselnya lagi.
Ray kesal, istrinya dari tadi mengoceh tentang orang lain dan tidak memperhatikannya sama sekali.
"Sudahlah, ayo kita pulang saja. Dari tadi kau tidak melihatku. Dari Bona, Ninda, Abyan, sekarang dr. Vivian," sungut Ray.
"Iya, iya Mas. Nanti di rumah aku akan memperhatikanmu semalaman. Tapi cari tahu dulu status dr. Vivian?" rengek Litha.
"Ck. Itu gampang, jangankan status, sejarah kehidupannya juga akan kusuruh Abyan untuk mencari tahu. Sekarang ayo kita pulang. Aku sudah merindukanmu."
"Cih. Kalian ribut saja di kamar pasien. Ray, bukan berarti kau pemilik rumah sakit ini aku tidak bisa mengusirmu dari kamar ini," kata Bona kesal, masih di posisi yang sama, di samping Ninda.
"Aku juga tidak betah disini. Ayo Yan, kita pulang," ujar Ray sambil berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Litha bangkit dari duduknya. Abyan pun ikut berdiri.
"Mas, kita pulang berdua saja. Aku rindu melihatmu menyetir mobil sendiri. Biarkan Asisten Yan pulang sementara dengan mobil Bona dan Bona menunggui Ninda di sini."
Glek ...
__ADS_1
Tiga lelaki tampan itu saling bertatapan, saling mencari jawaban dengan pengaturan yang sedang dibuat Litha. Bahkan sebelum pulang Litha berpesan, "Asisten Yan, jangan menjadi obat nyamuk di dalam. Beri kesempatan buat Bona di dalam dan carilah kesempatanmu di luar kamar."
"Ah, cerewet sekali kau. Ayo pulang!" protes Ray menggeret tangan istrinya keluar kamar.
"Iya, iya. Bon, saat ini Ninda tanggungjawabmu." ujar Litha setengah berteriak.
"Masih saja bicara, hah!" Ray dengan cepat menyambar bibir Litha, melu*mat untuk membungkamnya tidak peduli tangan istrinya memukul-mukul bahunya. Bona dan Abyan memalingkan wajah mereka ke arah lain, malu sendiri.
.
.
.
Abyan menuruti kata Litha untuk mencari kesempatannya di luar kamar, meski ia sendiri tidak mengerti maksudnya. Tidak sengaja lelaki bermata teduh itu bertemu dengan dr. Vivian. Hati keduanya berdegup kencang, dan suasana canggung pun tercipta.
"Eh, maaf, menghalangi jalan Anda," kata Abyan gugup.
"Ah, iya, ma-- maaf," Vivian dengan cepat memalingkan mukanya dan berjalan menjauhi sumber kegugupannya, tanpa ia sadari ia menjatuhkan nametag dari saku jas dokternya.
Abyan memungutnya, sebenarnya ia ingin memgembalikan nametag tersebut, tapi diurungkan niatnya. Ia akan menyimpannya diam-diam karena ada foto Vivian tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipitnya yang manis.
Sementara itu si dalam kamar inap, Ninda membuka matanya dan menatap Bona yang tertidur di sampingnya. Ditelusuri setiap lekuk wajah tampan yang kadang membuatnya kesal tapi di sisi lain ia rindukan.
"Mengapa kau begitu menyebalkan. Jangan bercanda dengan hal-hal yang nantinya kuanggap serius."
Bona mengangkat wajahnya, "Sudah kubilang aku tidak bercanda. Sampai kapan kau akan berhenti menganggapku tidak serius?"
Wajah Ninda menegang. Ia mengira Bona tertidur, nyatanya tidak.
"Ninda ... " Bona menatap lekat netra gadis imut itu.
"Aku serius memintamu menjadi pacarku. Bukan sewaan atau bermain sandiwara. Aku menginginkannya dari dalam hatiku, Nin."
"Be-- benarkah?"
"Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayai ucapanku."
Aku selalu percaya kata hatiku.
Tanyakan pada hatimu.
Kalimat Litha berkumandang di indra pendengarannya, memenuhi pikirannya.
"A-- aku percaya."
"Benarkah, Nin? Kau percaya padaku!" Bona menggenggam tangan Ninda dengan kedua tangannya dengan tidak percaya, matanya berkaca-kaca. Ninda tersenyum melihatnya.
"Bon, pasti tadi aku terlihat sangat buruk. Kau mengetahui rahasia terbesarku. Tidak ada yang tahu kecuali Evan dan Litha, bahkan Litha-lah yang selama ini membantuku bernafas ketika aku sesak terkena serangan panik. Apa kau masih menginginkanku setelah melihatnya?"
"Heheh ... Tentu saja, bahkan aku semakin menginginkanmu untuk aku jaga dan lindungi. Aku tidak tahu bahwa kau bisa ke-trigger Renata seperti itu. Pasti dia melakukan hal yang sangat buruk padamu di masa lalu. Aku janji ia tidak akan berani muncul di depanmu lagi."
Ninda tersenyum kembali, "Terima kasih, menerimaku apa adanya."
"Apa ini artinya aku sekarang menjadi kekasihmu?"
Ninda mengangguk malu, pipinya merona kemerahan. Bona memekik senang sembari memeluk Ninda dan mencium pipinya berkali-kali sambil mengucapkan I love you berulang-ulang
"Ninda ... aku bahagia sekali, Nin. Rasanya aku ingin langsung menikahimu saja, buat apa pacar-pacaran, nanggung amat. Atau kita nikah aja yuk Nin, kayak Ray dan Litha."
"Hussshh! Jangan sembarangan bicara! Menikahiku tidak segampang yang kau pikirkan, aku memiliki keluarga besar."
"Aku akan mengambil hati keluarga besarmu. Tenang saja, percayakan padaku. Aku akan memperjuangkanmu sampai titik darah penghabisan."
"Berjuanglah." kata Ninda bahagia.
Bona mengangguk dengan senyuman yang merekah. Ia tidak menyangka cintanya berlabuh pada sang pujaan hati di rumah sakit.
.
.
.
Di dalam mobil, Litha tidak henti-hentinya memandangi Ray yang sedang menyetir.
"Suamiku, kau terlihat gagah sekali saat menyetir. Aku sangat menyukainya."
Ray tersenyum, kemudian mengelus perut istrinya dengan tangan satunya, "Hei Nak dengarlah, hari ini Ibumu sudah menjagamu dengan tubuhnya, kelak nanti kau besar gantian kau yang menjaga ibumu dengan tubuh kuatmu."
Mata Litha mulai berkabut karena terharu tapi kelopak matanya tiba-tiba membulat karena merasa tangan suaminya sudah tidak berada di perutnya lagi tapi di sebuah titik paling sensitif di bagian tubuhnya yang membuatnya mende*sah-de*sah menyebut nama suaminya.
- Bersambung -
__ADS_1