Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Aku yang Akan Menjagamu


__ADS_3

"Kita tidak punya banyak waktu untuk membicarakannya, jadi aku langsung saja. Sejauh mana kau mengetahui asal usul ibumu?"


Glek.


"Ma-- maksud Kakak Ipar apa?" Vania pura-pura tidak mengerti.


"Kau kira aku tidak tahu kemampuan mengupingmu? Katakan saja dengan jujur."


"Enggg ..." Vania menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Kau tahu perihal Kerajaan Sungai Bulan, Suku Ragnaya dan Putri Mahkota, kan?"


Ray terus mencecar adik iparnya, perlahan ia mulai paham bagaimana cara menghadapi berisiknya si Tawon ini.


"Ma-- maaf Kak."


Vania menundukkan kepala, ia tahu, ia salah mencuri dengar pembicaraan orang lain.


"Aku tidak sengaja mendengar kalau Bibi Rima ingin membicarakan hal yang serius sama Kakak Ipar, karena selama aku mengenal Bibi, ia tidak pernah bercanda untuk hal-hal yang akan disampaikannya, beda dengan Paman yang banyak berguraunya. Jadi aku mengikuti kalian ke ruang kerja untuk mendengar lebih banyak."


"Tapi ruang kerjaku di rumah utama kedap suara. Bagaimana mungkin pembicaraan kami bisa di dengar olehmu yang berada di luar?" tanya Ray bingung.


"Bibi Rima menutup pintunya tidak sempurna, aku bisa mendorong pintu itu tanpa harus menekan handlenya, jadi ku dorong sedikit. Kakak Ipar dan Bibi sangat serius sampai tidak menyadari kalau aku membuat sedikit celah di pintu."


Ray menghela nafasnya panjang dan berat, matanya terpejam, terlihat sedang memikirkan sesuatu, "Bagaimana perasaanmu setelah mengetahuinya?"


Vania terdiam, perasaannya campur aduk, ia tidak bisa menjelaskannya.


"Tidak tahu, Kak ... Setelahnya aku mencari info mengenai yang ku dengar waktu itu. Tidak banyak literatur yang membahas Kerajaan Sungai Bulan baik cetak maupun elektronik, tapi setidaknya aku dapat sedikit kulit luarnya. Kerajaan itu sebenarnya bernama Kerajaan Ragnaya yang terletak di sisi Sungai Bulan yang membelah Pulau X, tepatnya di daerah BX setelah Suku Ragnaya memenangkan peperangan yang panjang antar suku dalam hal eksistensi wilayah. Suku itu berperang sendirian tanpa ada koalisi seperti suku-suku lainnya.


Sungai terbesar dan terpanjang di pulau itu menjadi penghidupan dan pusat peradaban bagi kerajaan suku yang memiliki keistimewaan pada gender perempuan. Seiring perkembangannya wilayah kekuasaan Kerajaan Ragnaya menjadi lebih luas dan akhirnya dikenal sebagai Kerajaan Sungai Bulan setelah mereka mengenal agama dari kepercayaan animisme yang dianut nenek moyang mereka sebelumnya.


Kerajaan itu tidak terlalu digaungkan namanya di publik seperti halnya Kerajaan atau Kesultanan lain, entah apa alasannya Sang Raja tidak ingin mengenalkannya pada dunia. Bahkan ada suatu desa yang diduga menjadi pusat kerajaan tidak bisa dikunjungi sembarangan, hanya penduduk asli dan keturunan dari hasil pernikahan untuk 3 generasi dengan orang di luar Kerajaan Sungai Bulan. Itupun harus dibuktikan dengan silsilah yang jelas pada petugas di sana yang biasanya menjadi Kepala Desa atau Lurah. Perda khusus daerah BX bagi seorang pendatang yang bermukim di sana diatur sangat detail dan ketat.


Penduduk di daerah BX secara ekonomi sangat sejahtera, ini yang menjadikan rakyat disana sangat loyal pada Raja mereka. Sedangkan pemerintahan dibawah Gubernur tetap mengacu pada regulasi dan Undang-Undang Nasional, tapi ada yang berhipotesa itu hanya topeng belaka, sebab jika ditilik lebih jauh peraturan daerah tetap lebih banyak menitikberatkan aturan milik Kerajaan Sungai Bulan. Menurutku hal inilah yang menjadi alasan kenapa Raja tidak mau mempublikasikan kerajaannya, untuk menghindari polemik antar daerah di negeri ini dan tetap bisa menjalankan aturan kerajaannya secara bawah tanah tanpa campur tangan pihak pemerintah pusat."


Ray tercengang, bagaimana bisa adik iparnya yang masih SMA itu mendapatkan dan menceritakan informasi itu dengan runut dan sangat jelas, bahkan ia memiliki pendapat sendiri di akhir kalimatnya. Meskipun dikatakan kulit luar tapi kulit luar itu seluruhnya. Satu kata buat adik iparnya, WOW ...


"Dari mana kau tahu, aku sendiri tidak menemukan apa-apa mengenai kerajaan itu?"


"Karena selama ini Kakak Ipar terlalu dimanjakan sama Asisten Yan. Kakak bergerak sendiri tanpa Asisten Yan karena Kakak tidak memberitahukannya, kan?"


Glek.


"Tawon ini mulai berisik. Sialan!"


"Kau belum memberitahu Kakakmu, kan?" tanya Ray tidak menanggapi berisiknya Si Tawon.


Vania menggeleng, "Dia bisa shock, Kak. Tapi suatu saat ia tetap harus mengetahui kebenarannya, apalagi ini adalah asal usul kami."


"Tidak. Tidak perlu memberitahunya, aku khawatir dia akan mencari tahu segalanya. Aku tidak mau kehilangannya."

__ADS_1


"Dengan menjadi putri mahkota begitu maksud Kakak Ipar. Sejak kapan Kak Litha tergiur pada harta duniawi. Dia suka uang tapi tidak menilai segalanya dengan uang, sama denganku."


"Bukan masalah harta duniawi, Nia. Ada cerita sedih di balik itu semua. Dan aku hanya takut kakakmu ingin memperbaikinya. Aku takut dia lebih memilih kerajaan itu dibandingkan Keluarga Pradipta."


"Haiyyaa ... Tidak mungkinlah. Bagi Kak Litha, rumahnya ya Keluarga Pradipta, dia sangat mencintai Kakak Ipar."


"Terserah apa katamu. Tapi aku tidak ingin dia tahu, titik. Awas kalau dia sampai mengetahuinya, berarti itu dari mulutmu. Dan aku tidak segan-segan mengambil uang sakumu kembali," ancam Ray.


"Cih. Tapi kalau suatu saat akhirnya Kak Litha tahu, aku tidak akan ikut campur. Aku cukup bilang mulutku dikunci Kakak Ipar, jadi nanti Kakak Ipar sendiri yang harus menghadapinya," balas Vania.


"Selama kau tidak memberitahunya, dia tidak akan tahu. Hal ini hanya diketahui oleh kita berdua selain Paman Tino dan Bibi Rima."


Hening sejenak.


"Tapi bagaimana kabar Bibi dan Paman? Apa mereka baik-baik saja?" Suara Vania berubah sendu, ia mulai terlihat menahan sesuatu di matanya.


"Aku tidak bisa menghubungi mereka karena mereka selalu berganti nomor saat meneleponku. Terakhir Bibi menelepon saat kakakmu di rumah sakit dan dia hanya berpesan jangan mengkhawatirkan mereka. Mereka akan mencari kesempatan untuk menjenguk kalian."


Vania masih tertunduk, Ray menangkap gerakan tangan yang cepat menyusut bulir di sudut mata. Ia terkejut melihat adik iparnya tiba-tiba menangis, dan tanpa suara.


"Kenapa tangisnya tanpa suara?" bathin Ray cemas.


"Aku merindukan mereka, Kak ... Kadang pikiranku selalu membayangkan hal buruk menimpa mereka."


Ray tersenyum kecut, "Beberapa hari terakhir, Litha mengeluhkanmu sulit tidur di malam hari. Sebaiknya periksakan dirimu, kalau kau mau aku akan mengenalkanmu dengan psikiater yang kompeten. Jangan menyimpannya sendirian, Nia."


Vania masih tertunduk memandangi ujung jempolnya.


"Kau adalah adikku, bukan adik iparku. Kalau kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengandalkan kakakmu ini. Mulai sekarang jangan panggil aku Kakak Ipar, cukup Kakak saja."


"Nia, lihat aku."


Vania mengangkat wajahnya melihat manik suami kakak perempuannya.


"Kau, Litha, dan Tisha adalah satu paket. Aku akan berusaha melindungi kalian dengan caraku dan tidak akan membuat kalian terluka. Sedangkan Bibi dan Paman memilih caranya sendiri untuk melindungi kalian. Kita doakan mereka akan baik-baik saja."


Vania mengulas senyum setelah mengusap matanya, "Kakak tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku, setidaknya aku bisa menjaga diriku. Justru istri Kakak lah yang harus ekstra dilindungi, kemarin saja kita nyaris kehilangannya."


"Ya, itu salahku, membiarkannya pulang sendirian bersama Pak Sas di tengah malam. Aku lupa sekuat apapun Pak Sas, beliau sudah berumur."


"Jadi ... apa aku boleh diizinkan belajar menyetir mobil? Dan satu lagi aku pengen ikut kickboxing, off the record yang ini ya Kak, bisa habis aku nanti diceramahi istri Kakak."


Ray terkaget-kaget, melihat perubahan mood Vania. Ia sudah seperti biasanya, berisik dan pandai mengambil kesempatan. Sudah lama niat Vania belajar untuk mengendarai roda empat, itu diutarakannya sejak Litha ulang tahun. Tapi istrinya menolak keras, ia merasa Vania belum saatnya membawa mobil sendiri. Ia terlalu khawatir akan keadaan adiknya, takut terluka baik fisik maupun bathin. Litha sangat menjaga sosok Vania.


"Cih. Belum diizinkan belajar menyetir malah ditambahi ingin ikut kickboxing," sahut Ray menopang keningnya dengan satu tangan.


"Itu adalah salah satu usahaku untuk memproteksi diri secara berlapis-lapis, Kak. Aku tidak mau suatu hari nanti merepotkan orang untuk menjagaku. Aku harus mandiri, bisa segala hal. Kakak cukup mengizinkan aku tanpa memberitahu Kak Litha," bujuk Vania.


Ray terkekeh, "Bagus sekali alasanmu, Nia. Tapi begitu istriku tahu, aku yang menderita. Kau tahu kan, aku tidak bisa pisah tidur dengan Litha."


"Aihh ... Tenang saja Kak ... Kak Litha sebelum mengatakan Kakak tidak tidur sekamar, ia pasti berpikir berkali-kali kok. Dia juga tersiksa kalau tidak mencium ketiak suaminya kalau mau tidur."

__ADS_1


Mata Ray membulat. Si Tawon mulai berisik, tapi ia senang mendengar kalau istrinya juga sama dengan dirinya, sama-sama tidak bisa pisah tidur.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau kalian LDR," celetuk Vania asal.


"Tidak akan. Aku tidak bisa berjauhan dari bidadari surgaku. Aku ikut dia atau dia ikut aku. Bahkan kalau dia mati aku juga ikut mati."


Vania terkesiap, jantungnya serasa berhenti berdetak. Raut wajahnya memucat dan tegang, "La-- lu-- aku bagaimana kalau Kakak berdua ma-- ti."


"Siapa yang mati?" sahut suara Litha dari pintu melirik suaminya tajam sambil berjalan masuk ke dalam ruangan diikuti Abyan.


"Kakak bilang kalau Kak Litha mati dia juga ikut mati, terus aku bagaimana? Semua orang pergi meninggalkan aku."


Bagi orang lain, mungkin sikap Vania lebay tapi itulah yang sesungguhnya di rasakan Vania, ketakutan akan ditinggal orang yang disayangi. Litha adalah segalanya baginya, bahkan dia rela bertukar nyawa untuk kakak perempuannya kalau bisa.


Saat Litha kritis, bukan hanya Rayyendra yang linglung. Semuanya fokus pada Ray dan melupakan perasaan Vania. Hatinya tidak kalah sakit dan kacaunya dengan suami kakaknya. Ia juga menangis, tapi tangisnya hanya dalam diam karena tanpa suara. Sejak SMA ia tidak bisa lagi mengeluarkan suara saat menangis, tangisannya selalu melebur dalam keheningan malam yang ia lalui. Ada pedih yang ia lewati hingga menjadi pengalaman menyakitkan.


"Aku yang akan menjagamu. Kau takut sekali kalau mereka mati, Tawon Kecil. Setiap mahluk yang bernyawa di dunia ini pasti mati," timpal Abyan.


Kali ini Vania tidak bisa bisa membalas kata-kata asisten kakak iparnya, ia hanya tersenyum sinis. Biasanya Abyan akan mengejeknya dan mengajak ribut, tapi ia tahu mata Vania menyatakan perasaan sedih tiada terkira yang sesungguhnya jika kakaknya akan meninggalkannya. Mata yang dimiliki Vania sama dengan milik Litha, mata tulus yang tidak pernah berbohong akan perasaannya. Mata yang membuat Nyonya Besar, Ray, Pamannya menyukainya, bahkan sekarang ibunya ikut-ikutan menyukai sinar mata itu.


"Mas, bicara apa sih!" Suara Litha ketus dan matanya tajam menyilet pandangan Ray.


Glek.


Ray salah tingkah, bingung bagaimana menjelaskannya. Litha memeluk dan mengusap lembut kepala hingga punggung adiknya seraya berbisik, "Kalau aku mati, aku akan jadi hantu yang terus mengikutimu. Jadi kau tidak akan merasa ditinggal, hehehe ...."


"Kakak! Iiihh ... aku sedih beneran loh ini," sungut Vania sebal mengurai pelukan kakaknya.


"Lagian, orang masih hidup malah membicarakan kematian. Kalian jangan membuatku takut karena sebentar lagi aku akan mempertaruhkan nyawa melahirkan penerus keluarga Pradipta. Haissshhh ..." gerutu Litha berjalan ke arah sofa, mau duduk.


Jantung Ray berdegup lebih cepat kali ini, ia baru sadar sebentar lagi waktunya Litha melahirkan. Seketika ia ingat kisah ibunya yang tidak selamat saat melahirkannya. Dirinya langsung bersimpuh dan berlutut di hadapan istrinya yang sudah duduk di sofa.


"Sayang ... Aku mohon, berjanjilah padaku, pada anak kita kalau kau akan selamat saat melahirkan. Kau akan berjuang hidup untuk kami, Litha. Aku mohon ... sangat memohon padamu, Sayang ..."


Litha mendelik ke Abyan yang juga bingung, kenapa Ray tiba-tiba bersikap seperti ini, tapi lelaki berwajah teduh itu hanya mengangguk mengisyaratkan Litha untuk mengikuti alur keinginan Ray.


Litha mengusap rambut tebal milik suaminya yang sering ia jambak di malam hari, "Iya, iya ... pasti. Aku juga mana bisa hidup tanpa kalian. Aku akan sekuat tenaga selalu bersama kalian, apapun yang terjadi, karena--"


"Karena rumahku adalah Keluarga Pradipta," potong Vania.


Semua melirik padanya, suasana romantis yang dibangun Litha buyar sudah. "Nia, itu bagianku. Dasar Tawon!" umpatnya kesal.


Gadis itu hanya terbahak, ia sengaja melakukannya agar kakak iparnya yakin dan percaya dengan apa yang dikatakannya tadi bahwa rumah istrinya adalah Keluarga Pradipta meski kesempatan putri mahkota ada di depan matanya.


...***...


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Terimakasih doanya Kakak-Kakak Readersku.

__ADS_1


Alhamdulillah udah bisa ngetik pelan-pelan setelah diurut, meski masih sakit berkat support dari Kakak-Kakak Readers semua.


🤗🤗🤗


__ADS_2