Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pertengkaran Dua Pradipta


__ADS_3

Rapat evaluasi rutin tiga bulanan pertama setelah pemecatan tidak hormat Sebastian di laksanakan di gedung kantor Pradipta Corp. Hal ini tentu saja masih hangat dibicarakan, terlebih-lebih ketika putri Sebastian masih bekerja disana, Ramona menjadi bahan pergunjingan para direktur Pradipta Corp.


"Tidak tahu malu, seharusnya dia mengundurkan diri setelah ayahnya dipecat. Beruntung Sebastian tidak dipenjara."


"Dia sudah tidak bisa menyombongkan diri lagi. Tuan Muda sudah memiliki istri. Dia hanya dikasihani saja sekarang."


"Dengar-dengar dia tidak becus bekerja, kepala manajer disana mengatakan selama ini ada yang membantunya, dia hanya bisa memarahi karyawan."


"Benarkah? Untung saja Tuan Muda tidak berjodoh dengannya, bisa kau bayangkan kalau Tuan Muda menjadi menantu Sebastian, Pradipta Corp. dipastikan diambang kehancuran."


Saling menyahut dan menimpali membuat telinga Ramona menjadi panas, ia pergi meninggalkan ruang rapat dengan kepala yang dipenuhi amarah.


"Heh, kutandai kau semua ya.... sedikit lagi setelah Ray bercerai akan kutendang kalian semua dari sini. Ayahku ya ayahku jangan kait-kaitkan denganku!" Ramona mengomel sambil berjalan di lorong lantai ruang rapat.


Tiba-tiba ada yang memegang bahunya dari belakang, "Ray bercerai?"


Mona menoleh ke belakang, kaget melihat ternyata Firza yang menyentuh bahunya. Ia sebenarnya agak kurang nyaman berdekatan dengan Firza tapi apa mau dikata, omelannya sudah terlanjur di dengar dan ia tidak bisa menghindar tanpa penjelasan.


"Ya, setahuku begitu," jawab Mona sekenanya.


"Kapan?"


"Kurang tahu, tanyakan saja ke Rayyendra."


"Heh, kau yakin tidak salah info, Nona?"


"Hahahahaha ... apa sebutannya suami istri yang berpisah tempat tinggal dan jika bertemu salah satunya menghindar. Aku melihatnya sendiri, Litha malu bertemu dengan Ray karena sekarang dia bekerja sebagai pelayan restoran."


Ada nada mengejek yang jelas dalam penjelasan meski itu fakta. Hati Firza bagai jatuh dari ketinggian, Beberapa kali ia menelepon menanyakan kabarnya dan Ray selalu dijawab seperti tidak ada apa-apa.


Apa benar Ray telah bercerai dengan Litha? Kenapa? Ia yakin tidak mungkin kesalahan ada di Litha, Firza sangat mengenalnya. Apa karena wanita didepannya.ini penyebabnya? Ray ingin kembali dengan Ramona? Tidakkah cukup Ray diperdaya oleh Sebastian hingga ingin kembali pada Ramona? Apa ia tidak pernah mencari tahu latar keluarga Riguna yang jahat dan licik? Firza merasa kecolongan, tangannya mengepal, menahan amarah di dadanya yang bergemuruh.


Rapat evaluasi tengah berlangsung, tapi seperti tidak lagi rapat. Suasana yang mencekam dan aura Presdir yang mendominasi tidak hadir di sana. Tiga orang penting di Pradipta Corp. sibuk dengan pikirannya masing-masing. Semua bingung, hanya Ramona yang cengengesan.


"Ray, selesaikan rapat ini dengan cepat, aku ingin memberitahumu bahwa Litha mengandung anakmu. Kau brengsek! Kali ini aku akan memakimu walaupun dengan mode asistenmu." bathin Abyan di posisi berdiri, menatap tajam Ray dari belakang. Rasanya ia ingin mencekik leher pria itu dari belakang.


"Kapan kau kehilangan kendalimu? Apa pada saat kau meminta whisky waktu itu? Teganya kau membayarnya dengan cek 30 Milyar? Ckckckckck, andai Litha itu adik perempuanku sudah kubunuh kau tadi malam." Abyan masih bersuara dalam hatinya


Begitu juga dengan Firza, ia mengetuk-ngetuk pelan penanya di meja dengan menatap tajam Ray dari tempat ia duduk.


"Benarkah kau sudah bercerai Ray? Siapa yang mengajukan perceraian? Apa kau ingin kembali pada Ramona? Tidak tahukah kau mereka keluarga yang busuk? Akan kubeberkan semua masa lalu Keluarga Riguna biar matamu terbuka! Tidak masalah kau menceraikan Litha, dengan senang hati aku akan memdekatinya lagi. Tapi tidak jika kau kembali dengan Ramona, carilah wanita lain."


Firza tidak sedetikpun melepas pandangannya dari Ray. Ia sedang mengatur emosi marahnya.


Diperhatikan secara intens dari depan maupun belakang, Rayyendra tidak terpengaruh. Matanya menatap laporan sambil mendengarkan para direktur bergantian memaparkan laporannya masing-masing, tapi tidak dengan pikirannya, pikirannya ke Litha.


"Apakah karangan bunga yang banyak ku kirimkan ke rumah duka bisa menggantikan kehadiranku? Ah, Litha, kenapa kau menyiksaku begini? Aku sangat rindu padamu. Mengapa kau menghindariku? Apa memang kau ingin bercerai denganku?"


Rapat selesai dengan tidak jelas. Laporan-laporan yang sudah dipaparkan dari para direktur tidak ada yang menanggapi. Ray dan Abyan ke lantai Presdir, Firza pun ke ruangannya mengambil sesuatu.


"Ray, mengapa kau melanggar perjanjianmu? Mengapa kau tiduri Litha dengan paksa?" tanya Abyan begitu ia menutup pintu ruang Presdir, Abyan sudah tidak tahan lagi.


Ray terkejut, Abyan tahu darimana? Hal ini tidak diketahui siapapun, hanya ia dan Litha yang tahu.


"Apa yang kau bicarakan, Asisten Yan? Ingat kau disini sebagai Asisten, kenapa berbicara santai denganku." Ray malah balik menegur Abyan.


"Ah, aku tidak peduli kalau kau marah denganku yang penting aku bisa memakimu, dasar brengsek!"

__ADS_1


"Hah! Apa! Apa yang barusan kudengar itu darimu? Sejak kapan kau berani memakiku hah!" Ray tidak terima dimaki Abyan terang-terangan.


"Ya, Kau memang brengsek, Ray. Wanita sebaik Litha kau perlakukan seperti itu. Kalau kau memang mau hidup layaknya suami istri sungguhan, lakukanlah dengan benar. Hapuskan itu kontrak perjanjianmu. Katakan perasaanmu sebenarnya padanya, jangan jadi lelaki pengecut yang sok berkuasa."


"Yan, kau sadar dengan yang kau katakan barusan?"


Ray sangat tidak percaya, Abyan yang selalu tunduk setia setiap perintahnya kini menyerangnya habis. Apa gerangan yang membuatnya begini?


"Tentu saja aku sangat sadar. Ray. Kau seharusnya tidak melakukannya. Selama ini aku kira kau lelaki yang menjunjung tinggi seorang wanita meski kau dicap arogan dan dingin. Tapi ternyata aku salah."


"Memang apa yang telah kuperbuat?" Ray masih saja mengelak.


"Membayarnya 30 Milyar setelah kau tiduri paksa, apa itu bukan mengubur harga diri istrimu. Litha tidak pernah mengecewakanmu selama masa kontrak kan? Bahkan Litha melayanimu seperti istri pada umumnya kecuali syarat yang ia ajukan."


Ray terhenyak, dia sudah tersudut, tidak bisa lari dari cecaran Abyan. Mereka tidak menyadari ada sepasang telinga yang mendengarnya dengan sangat marah. Ia langsung mendekat ke arah Ray, membanting sebuah amplop yang cukup tebal, lalu tanpa aba-aba ia mendaratkan tinjunya ke muka Ray.


Sudut bibir Ray mengeluarkan darah, ia tertawa mengejek sembari mengusap darahnya.


"Apa yang kudengar tadi benar, hah?!?" tanya Firza semakin berang.


Suara Firza makin mengencang. Ia sangat tidak menyangka bahwa Litha dan Ray menjalani pernikahan kontrak. Apalagi yang didengarnya terakhir dari Abyan, Ray meniduri paksa dan membayarnya dengan sejumlah uang.


"Jaga sikapmu. Ini ruanganku!" Ray memperingatkan.


Abyan diam, masih mengamati mereka berdua.


"Kau arogan sekali, Ray! Jika Nenek tahu ia pasti akan sedih sekali dan tidak akan mewasiatkan pernikahan itu."


Mendengarnya, emosi Ray terpancing kuat.


"Kenapa? Apa kau harap Nenek akan mewasiatkan pernikahan itu untukmu, hah!!!"


"Ya. Aku mencintai Litha jauh sebelum Nenek mewasiatkannya untuk menikah denganmu, dan aku masih mencintainya sampai sekarang."


Sesaat Ray tercengang, Firza melepaskan tangan Ray dari kerahnya, "Kalau kau memang mau menceraikannya, lakukanlah dengan bermartabat. Apa dia pernah menyakitimu? Jika tidak jangan kau injak harga dirinya, Ray. Aku tidak keberatan untuk melanjutkan wasiat Nenek dengan menikahinya setelah kalian resmi bercerai, toh aku juga seorang Pradipta."


Sekonyong-konyong, kepalan tangan yang sudah terkepal keras dari tadi menemukan sasarannya. Kini giliran sudut bibir Firza yang berdarah.


"Kau jangan berharap. Aku tidak akan menceraikannya!"


Amarah Ray sudah menyala-nyala dalam matanya, mendengar istrinya sudah siap dipersunting pria lain yang ia benci padahal mereka belum bercerai.


Abyan takjub dengan pertengkaran dua orang Pradipta yang mencintai wanita yang sama. Abyan masih memperhatikan dari tempatnya berdiri.


"Nyonya Muda sangat hebat bisa membuat dua Pradipta bertengkar. Apa aku harus merekamnya hahahahaha ..." Abyan malah merasa lucu dengan tingkah mereka.


"Jadi kau masih mau melanjutkan untuk menyiksanya? Padahal kau ingin kembali dengan Ramona, kan? Kuberitahu, lihat semua yang ada di dalam amplop ini. Kau akan temukan topeng keluarga Ramona yang sebenarnya."


Mata Ray dan Abyan langsung tertuju pada amplop yang ada di atas meja. Apa itu tentang Ramona? Tapi untuk apa bagi Firza?


"Kau tidak akan percaya dengan apa yang sudah Litha alami dalam hidupnya, Ray. Semoga kau tidak menyesali perbuatanmu setelah melihat isi amplop itu."


Sepeninggal Firza yang keluar ruangan, Ray dan Abyan langsung membuka amplop itu dan semua hasil penyelidikan tentang masa lalu keluarga Litha terungkap semua.


Abyan tidak bisa berkata apa-apa demi melihat sebuah fakta penting di hadapannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya melihat tabir kehidupan Litha satu persatu terbuka. Sedangkan Ray terlihat shock.


"Ray, istrimu begitu kuat menghadapinya seorang diri. Bahkan sekarangpun ia masih harus kuat menanggung semuanya disaat ibunya meninggal dunia dan terancam dicerai saat dirinya hamil."

__ADS_1


"Hamil?!?" Mata Rayyendra membelalak mendengar kata terakhir yang diucapkan Abyan.


"Ya, Litha hamil anakmu. Ia tidak ingin mengatakannya padamu karena ia tidak sanggup mendengar penolakanmu."


Hati Ray bergemuruh mengalahkan deburan ombak di pantai yang memecah karang. Ia tidak bisa menyatakan bagaimana perasaannya saat ini.


"Ray, aku bisa merasakan sakit yang dirasakan Litha. Firza benar, jangan terus membuatnya menderita. Kau harus tegas memilih dan mengerti perasaanmu sendiri padanya. Pertahankan ia atau lepaskan, ia juga berhak bahagia. Jika kau ingin mempertahankannya, lakukan yang memang seharusnya, rengkuhlah dia Ray, saat ini dia sangat butuh seseorang yang bisa ia jadikan sandaran. Tapi kalau kau memang ingin melepaskannya, lakukan dengan benar tanpa menyakitinya karena ia juga tidak menuntut apapun untuk anak dalam kandungannya, baik itu materi ataupun nama keluarga Pradipta."


Cresssssssshhhhhhh ....


Kalimat panjang Abyan menghujam keangkuhannya dan egonya. Ray tidak bisa membalas perkataan asistennya.


"Aku ijin hari ini dan besok, Ray. Terserah kau mau ijinkan atau tidak. Aku akan pergi ke Kota A sore ini. Kau putuskanlah segera."


Ray masih tidak bergeming, banyak kejutan hari ini yang ia terima. Abyan melangkah menuju pintu, namun sebelum semua langkahnya keluar, ia berbalik.


"Ray, bagaimana rasanya jika darah dagingmu sendiri memanggil Firza ayah?"


Tidak menunggu reaksi Ray, Abyan menutup pintu dan pulang mempersiapkan perlengkapannya untuk berangkat ke Kota A. Ia telah berjanji pada ibu Litha, bahwa akan memperlakukan Litha layaknya perempuan berharga meskipun itu menentang majikannya sendiri.


...-------...


Sisipan


Firza berkali-kali menelepon nomor Litha tapi tak jua diangkat. Ia ingin memastikan hubungannya dengan Rayyendra, apabila mereka sedang dalam proses perceraian. Ia akan maju untuk mengambil hati Litha lagi, kali ini ia tidak akan menyerah apapun alasannya.


Ditekannya nomor Pak Prasojo dan ditanyakan maksudnya.


"Tuan Muda memang berniat menceraikan Nyonya Muda, bahkan Nyonya Muda sudah menandatangani pernyataan bersedia dicerai. Tapi setelah saya akan membuat surat gugatan, Tuan Muda menundanya sampai sekarang."


Firza mengernyit heran. "Kenapa?" tanyanya.


"Karena di dalam surat gugatan harus ada alasan untuk bercerai, sedangkan menurut Tuan Muda, Nyonya Muda tidak memilikinya."


"Dasar bodoh! Tentu saja Litha tidak punya alasan untuk diceraikan kecuali Litha yang menceraikanmu," kata Firza di hatinya.


"Jadi, Rayyendra belum mendaftarkan perceraiannya di pengadilan?"


"Belum, Tuan."


"Pak Pras, apa Pak Pras tahu perjanjian nikah antara Rayyendra dan Litha?"


Setelah diseberang sana agak lama tidak terdengar suara, ia berujar, "Saya tidak tahu, Tuan. Tapi harta warisan Nyonya Besar sebanyak 20 persen diatas namakan Tuan Firza."


Firza kaget, "Oh ya?"


"Iya Tuan, sebagai syarat dari Nyonya Muda yang harus dipenuhi Tuan Muda jika ingin menikahinya."


"Apa?!? Jadi Litha meminta 20 persen warisan


harta Nenek untukku? Kenapa?"


"Saya juga kurang tahu alasannya apa, Tuan, tapi proses kepengurusannya sudah selesai dan tanda buktinya sekarang ada pada Tuan Muda."


Firza mengehela nafasnya pendek dan melonggarkan ikatan dasinya dan berbicara sendiri "Kamu dimana sekarang, Litha?"


...-------...

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2