
Semenjak Rianti Maheswari, wanita yang di cintai Sebastian dan Edwin, meregang nyawa akibat perbuatan Sebastian namun itu juga tidak menyadarkannya. Ia masih berambisi untuk memiliki perusahaan besar seperti Pradipta Corp. Sakit hatinya pada Rianti yang lebih memilih Edwin ketimbang dirinya, yang bukan siapa-siapa masih bercokol dalam jiwa Sebastian. Ia berpikir Rianti memilih Edwin karena pria itu adalah pewaris Pradipta Corp.
Mulailah ia mencari istri, beruntung ia mendapatkan seorang putri dari keluarga pebisnis yang terpandang, Winda Riguna. Sebastian sangat lihai merayu Winda hingga jatuh dalam pelukannya, bahkan ia pun diberi nama belakang Riguna oleh mertuanya agar ia memiliki muka di hadapan orang-orang. Setelah menikah dengan Winda, Sebastian keluar dari Pradipta Corp. dan ikut mengelola usaha Keluarga Riguna di bidang percetakan skala besar dan memiliki kantor perwakilan di lima kota besar di negerinya, harapannya akan mengalahkan Pradipta Corp.
Pernikahannya dengan Winda Riguna dikaruniai seorang putra yang diberi nama Lucas, sayangnya ketika Winda melahirkan, dokter terpaksa mengangkat rahimnya karena ia memiliki kista yang tergolong berat sehingga tidak bisa memiliki anak lagi. Namun itu tidak masalah bagi mereka, Sebastian dan Winda merasa sudah cukup memiliki seorang anak saja
Tidak berapa lama setelah Lucas lahir usaha Keluarga Riguna pelan-pelan mengalami penurunan omset dan pemutusan hubungan kerja secara sepihak yang diakhiri penutupan semua kantor perwakilan di semua daerah dan hanya menyisakan kantor pusat yang keadaannya juga tidak bagus.
Sebastian yang memang tidak ada malunya, bukannya bahu membahu ikut membangun kembali usaha yang selama ini ia turut lakoni, malah pergi meninggalkan begitu saja, ibarat kata, saat kekalahan sudah di depan mata, bukannya semakin berjuang sampai titik darah penghabisan, malah lari menyelamatkan diri sendiri seperti pecundang. Sebastian kembali memohon pada Edwin untuk menerimanya lagi di Pradipta Corp. dan menghiba meminta posisi yang layak. Ia menjual kesusahan dan kesedihan usaha keluarga istrinya yang makin merugi.
"Ed, usaha keluarga istriku sudah tidak ada harapan, aku sudah tidak memiliki pekerjaan. Kau tahu aku tidak punya siapa-siapa. Hanya padamu aku menggantungkan nasibku. Kumohon Ed... " mohon Sebastian merengek meminta pekerjaan.
"Ed, masak kamu tega ngasih posisi itu ke aku sih. Bagaimanapun aku juga pernah menjadi bagian dari Keluarga Pradipta. Paling tidak posisi yang bisa dipandang lah, Ed ... " protes Sebastian saat ia mulai kembali bekerja sebagai staf di gedung kantor pusat. Padahal meski hanya setingkat staf di gedung kantor pusat Pradipta Corp., manajemen memberikan fasilitas dan tunjangan yang sama seperti manager kantor cabang perusahaan di daerah dan tidak sembarangan karyawan yang berkantor di sana, hanya yang benar-benar berkompeten.
Suatu ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, ia terjebak macet di jalanan yang biasa ia lewati, ada kebakaran hebat disana. Riuh ramai orang lalu lalang, belum lagi suara sirene bersahut-sahutan dengan jeritan-jeritan pilu warga yang kehilangan tempat tinggal bahkan anggota keluarga mereka.
Sebastian kemudian memarkir mobilnya di pinggir jalan melepaskan diri dari kemacetan yang mengular. Ia turun hendak melihat-lihat kejadian di tempat perkara. Suasana saat itu sudah tidak bisa digambarkan sangking kacaunya, kakinya pun sampai terinjak beberapa kali dan badannya ditabrak-tabrak orang yang mondar mandir dengan panik.
"Hah! Buat apa juga aku kesini, aku tidak bisa bernafas, sesak dan kacau! Aku pulang saja, cari jalan memutar." gumam Sebastian.
Ketika ia hendak kembali ke mobil, matanya menangkap seorang balita sekitar tiga atau empat tahunan duduk sendiri memeluk lutut menangis di sebuah warung yang tutup. Wajahnya sangat cantik, Sebastian bisa membayangkan jika anak itu besar, maka ia bisa memikat banyak pria. Tiba-tiba ide liciknya muncul dalam otaknya.
"Anak ini sepertinya seumuran dengan Rayyendra, kalau kubawa dan kurawat, ia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, bukan tidak mungkin Rayyendra akan terpikat. Ah! Benar! Mengapa baru sekarang terpikirkan olehku." Sebastian berbicara sendiri dengan senang, seperti mendapat lotre.
"Hai, Nak. Kenapa kau sendiri disini? Dimana keluargamu?" tanyanya pada gadis kecil itu.
Gadis itu menggeleng, masih dengan isak tangisnya berkata, "Aku sedang menunggu Kakak yang mencari Ayah dan Ibu, tapi sampai sekarang Kakak belum kembali."
"Apa kau tinggal di dalam rumah yang terbakar disitu?" tanya Sebastian menunjuk lokasi kebakaran yang hanya dijawab dengan anggukan kepala.
"Benar dugaanku! Anak ini korban kebakaran, mungkin saja keluarganya terbakar di dalam rumah jadi tidak ada yang mencari anak ini."
"Kau sudah lama menunggu disini?"
Gadis kecil itu mengangguk lagi, matanya masih berkaca-kaca.
"Kau lapar?"
Gadis itu mengangguk lagi.
"Ayo ikut aku! Kuberi makanan untukmu."
"Kalau Kakak mencariku bagaimana?"
"Kalau Kakakmu mencarimu pasti sudah dari tadi dia menjemputmu disini."
"Aku sudah berjanji akan menunggu Kakak disini."
__ADS_1
"Baiklah. Tapi makanlah sesuatu agar kau kuat menunggu Kakakmu. Ayo ikut denganku! Setelah makan kau akan kuantar kembali kesini, dan lihat kalau Kakakmu memang mencarimu pasti dia akan menunggumu disini, seperti yang kau lakukan disini."
Gadis kecil itu mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti lelaki ini bicara apa, yang ia mengerti adalah ikut dengannya, makan lalu kembali ke tempat ia menunggu Kakaknya. Akhirnya gadis kecil itu ikut dan Sebastian membawanya ke kediamannya.
"Namamu siapa?"
"Mmmm ... Ayah, Ibu dan Kakak memanggilku Bella."
"Oh, oke Bella. Kau akan ke rumahku dan boleh makan apapun yang kau mau."
Sesampainya di rumah, Winda kaget bukan main melihat Sebastian membawa pulang anak perempuan cantik. Ia meminta istrinya untuk memberinya makan.
"Siapa anak itu?" tanya Winda berbisik
"Namanya Bella, dia korban kebakaran, rumah dan keluarganya habis terbakar. Aku kasihan melihatnya menangis di sebuah warung setelah diselamatkan. Aku pikir, sangat berbahaya gadis kecil cantik ini dibiarkan sendiri. Jadi, aku berniat untuk mengadopsinya. Dia akan menjadi kakaknya Lucas."
"Apa?!? Kenapa kau tidak berdiskusi dulu denganku? Ini keputusan besar tapi kau mengambilnya sepihak tanpa bertanya padaku."
"Jangan marah dulu, Sayang? Aku yakin kau setuju
jika mendengar terlebih dahulu rencana besarku. Ini rencana jangka panjang yang kita sudah lakukan mulai sekarang."
Winda diam, tapi matanya mengisyaratkan berkata 'apa?'
"Kau lihat, anak ini sangat cantik, bisa kau bayangkan dia besar, pasti cantik dan banyak lelaki yang menyukainya. Dan kau bayangkan lagi jika Rayyendra salah satu diantara mereka yang menyukai anak ini nanti. Kita mertua dari pewaris tunggal Pradipta Corp. dan sedikit banyaknya punya kuasa."
Winda terperangah dengan ide gila suaminya, tapi ia harus mengakui bahwa idenya merupakan ide brilian. Winda langsung membayangkan betapa senangnya jika ia menjadi ibu mertua dari pemilik Pradipta Corp., dia bisa ikut bergabung kembali di kumpulan sosialitanya dengan bangga tentunya.
"Sial!! Kenapa baru sekarang muncul di benakku. Jika aku tidak bisa mengalahkan Pradipta dari luar, kenapa aku tidak menyerangnya dari dalam. Anggota keluarga itu hanya empat orang termasuk anak sialan itu, begitu aku sudah menjadi bagian resmi dari keluarga sialan itu, aku akan menyingkirkan mereka semua dan otomatis seluruh harta kekayaan Pradipta aku kuasai lewat anak ini. Ah, aku sangat beruntung." Sebastian bicara dalam hatinya, saat itu yang dilihat istrinya adalah seringai licik yang sedang menyusun rencana dalam otak suaminya.
Sebastian sengaja mengajak Bella ke tempat menunggunya semalam keesokan hari, tidak sesuai janjinya, setelah memberinya makan. Ia menunjukkan bahwa kakak Bella tidak akan pernah menjemputnya dengan menunjukkan tempat itu dalam keadaan kosong, padahal Kakaknya sedang mencari Bella kesana-kemari dengan menangis dan memanggil-manggil namanya.
"Lihat Bella, kalau Kakakmu mencarimu pasti ia menunggu di sini karena dia sendiri yang menyuruhmu, padahal kau hanya sebentar pergi untuk makan di rumahku," ucap Sebastian licik pada gadis cilik itu yang pelupuknya sudah menggenang.
"Kakak jahat! Kakak menipuku! Kakak tidak datang menjemputku! Kakak jahat! Kakak, aku membencimu!" teriak suara mungil itu meraung-raung, wajah mungilnya sudah dibanjiri airmata, mengingat Kakaknya mengatakan ia akan menjemputnya setelah mencari kedua orangtuanya.
"Sudah, tenanglah. Ada aku disini. Bagaimana kau ikut saja denganku? Aku bisa memberimu makanan enak setiap hari sampai kau besar."
Bella diadopsi dan diberi nama Ramona Citra Riguna. Sebastian akan mencari cara membuat Ramona berjodoh dengan Rayyendra kelak, setelah itu ia akan melanjutkan ke rencana semulanya.
Sayangnya, celah untuk mendekatkan Ramona dengan Rayyendra sangat sempit, Sasmita sangat waspada terhadap Sebastian, terlebih setelah tragedi hilang kontaknya pesawat yang ditumpangi Edwin dan Tuan Besar, Sasmita makin mengetatkan segala perlindungan pada Nyonya Besar dan Tuan Muda Rayyendra. Suatu takdir yang begitu pas, Rayyendra meminta untuk homescholling hingga SMA.
Kemudian Nyonya Besar tidak sengaja bertemu dengan bocah lelaki yang mengesankannya, lalu ia mengangkatnya resmi sebagai cucu dan diberi titah seumur hidup untuk menjaga dan melindungi Rayendra seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya. Namun, Rayyendra menolak keras kehadiran bocah lelaki itu di rumah utama yang baginya telah merebut sesuatu yang paling berharga, Neneknya.
Setahun sebelum Rayyendra mengikuti ujian persamaan, tingkat SMA, neneknya mempertimbangkan Rayyendra akan dibiarkan hidup mandiri, meski dalam artian bukan mandiri sesungguhnya karena ia tetap difasilitasi mewah selama menempuh pendidikan di negeri orang.
Awalnya Nyonya Besar ingin agar Rayyendra dan Firza, nama bocah lelaki itu, bisa tinggal dan sekolah di satu negara dengan Firza yang terlebih dahulu menempuh pendidikan lanjutannya di London, tapi tentu saja Rayyendra menolak keras. Ia ingin memulai di tempat yang baru dari awal tanpa mengenal siapapun disana.
__ADS_1
Secara mendadak Nyonya Besar ke daerah tempat Lidya, adik perempuan Sasmita tinggal. Sebuah daerah yang secara geografis bersebelahan dengan Kota A, Lidya hidup dengan keluarga kecilnya, seorang anak laki-laki, Abyan dan anak perempuan, Dinda yang berkebutuhan khusus, autis. Setelah suaminya meninggal dalam kecelakaan proyek di tempat kerja saat Dinda masih berumur 2 tahun, Lidya membuka sebuah apotik dengan menyediakan beberapa tempat yang disewa untuk praktek dokter sebagai mata pencahariannya, menghidupi kedua anaknya meski Sasmita selalu mengirimkan semua gajinya pada adik perempuannya, tentu saja ia melakukannya kerena ia tidak memiliki anak dan istri, namun Lidya tidak ingin bergantung.
"Siapa namamu?" tanya Nyonya Besar pada anak laki-laki berusia sekitar 17 tahun, di ruang tamu rumah Lidya yang sederhana namun sangat nyaman. Disitu juga ada Sasmita dan Lidya.
"Abyan ... Abyan Pratama, Nyonya," jawabnya sopan.
Abyan Pratama, siswa pandai yang sangat menyayangi ibu dan adik perempuannya, karena ia merasa tanggungjawab ayahnya yang sudah meninggal itu berada dipundaknya.
"Kudengar kau bermimpi ingin mendapatkan beasiswa untuk sekolah di luar negeri."
Abyan tersenyum, "Ya, Nyonya."
"Aku bisa memberikan beasiswa eksklusif dari Pradipta Asa Foundation. Kau ingin melanjutkannya dimana?"
"Maaf, Nyonya. Saya memang pernah mengimpikannya, bersekolah di negeri yang memilki empat musim dengan penduduk yang heterogen. Tapi itu dulu, dua tahun belakangan ini saya berubah pikiran, kalau saya pergi hanya untuk keinginan saya sendiri, bagaimana Ibu dan Dinda disini? Saya akan merasa sangat merasa bersalah pada mereka kalau ada apa-apa sepeninggal saya."
Mata Nyonya Besar terbuka lebar mendengar pernyataan Abyan. Anak semuda dia, sudah memiliki pemikiran panjang dan menekan rasa egoisnya demi orang yang berarti bagi hidupnya.
"Jadi?" tanya Nyonya Besar sembari menyesap tehnya.
"Saya mengurungkan niat saya untuk mencari beasiswa itu, Nyonya. Saya hanya ingin melanjutkan sekolah saya di sini, dekat dengan Ibu dan dan Dinda."
"Aku tahu kau pasti sangat menyayangi mereka-- Lidya, kau mendidiknya dengan sangat baik," ujar Nyonya Besar berbicara dua arah pada Abyan dan ibunya.
"Terima kasih, Nyonya," sahut Lydia hormat.
"Apa kau senang ia melakukan itu untukmu?" tanya Nyonya Besar menoleh ke arah Lidya.
Lidya mengangguk, tapi hatinya sangat berdebar. Ia mengira-ngira apa yang akan Nyonya Besar katakan padanya. Lidya tidak akan bisa menolak jika ia diminta untuk membalas budi kebaikan Nyonya Besar. Ia dan kakaknya tidak akan ada sekarang berpijak disini tanpa peran Nyonya Besar dalam hidup mereka.
"Lidya, apa kau keberatan jika aku menagih janji setiamu yang kau ucapkan padaku dan mendiang suamiku?"
Wajah Lidya mengkaku, ia melirik Sasmita yang berdiri di belakang Nyonya Besar, namun Sasmita menutup matanya, tidak ingin menatap Lidya, ada perasaan yang harus ditekannya. Ia memang pernah berjanji setia melakukan apapun yang diperintahkan Tuan dan Nyonya Besar setelah Sasmita pulang dari rumah sakit. Ia akan melakukan apapun sebagai balasan rasa terima kasihnya atas apa yang dilakukan oleh pasangan Pradipta itu.
"Apa-- apa yang Nyonya-- inginkan-- dariku?" tanyanya terbata.
"Aku ingin Abyan menjadi penjaga berkedok teman untuk cucuku, Rayyendra tanpa ia ketahui. Tahun depan ia akan bersekolah di Universitas QW di Amerika, Abyan juga akan didaftarkan di universitas yang sama melalui beasiswa eksklusif dan pamanmu ini akan menyewakan di apartemen yang sama juga dengan Rayyendra. Jika beruntung kau akan bekerja di Pradipta Corp. bersamanya."
Mata Abyan membulat, "Bu ..."
Sesaat hening menggelayut diantara mereka. Hati Lidya berat melepas Abyan, namun ia sudah terikat janji setia dengan Keluarga Pradipta.
Lidya menarik dan menghembuskan nafasnya, "Yan, ikuti kemauan Nyonya Besar. Ingatlah, Ibu dan Pamanmu tidak akan ada sekarang di sini jika bukan karena Tuan dan Nyonya Besar. Ibu dan Dinda bisa menjaga diri."
"Tapi, Bu--"
"Maaf, Nak. Ibu memutuskan sepihak tanpa meminta persetujuanmu, tapi hanya ini cara Ibu membalas kebaikan Keluarga Pradipta. Bukankah juga ini mimpimu, Nak."
__ADS_1
Hati Abyan bergemuruh, meski tidak rela tapi ini juga keinginan Ibunya yang selalu didengarnya dari kecil, bahwa ibunya ingin sekali membalas kebaikan-kebaikan Keluarga Pradipta namun Ibunya tidak tahu caranya. Tanpa mempertanyakan alasannya, Abyan mengangguk, menyetujui perintah Nyonya Besar untuk berada di samping Rayyendra.
- Bersambung -