
Litha sudah mandi dan berganti pakaian. Ia duduk di tempat tidur bersandar pada kepala ranjang, diambilnya HP, memulai membuka aplikasi streaming film favoritnya dan menonton drama korea yang sedang booming.
Ray masuk ke kamar, sekilas melihat Litha asyik sendiri, tertawa kecil dengan HP di tangannya. Ia segera mandi dan berganti pakaian, setelah itu ia duduk di sofa menyalakan TV memilih chanel berita index saham. Dilirik lagi istrinya di tempat tidur, masih dengan posisi yang sama namun kali ini dengan ekspresi yang berbeda, raut wajahnya sedih dan ia mengelap ujung matanya.
"Apa yang kau lihat di HPmu?"
Ray mendekatkan kepalanya ke Litha melihat layar ponsel.
"Eh, mau ngapain?"
"Jangan kege-eran, aku hanya penasaran dengan apa yang kau lihat. Tadi aku masuk kau tertawa, barusan kau sedih."
"Oooohhh, hehehehe ... aku lagi nonton drakor yang lagi hits."
"Apa hanya bisa ditonton di ponselmu?"
"Tidak, bisa ditonton juga di TV kok." Mata Litha tidak lepas dari ponselnya
"Lah, terus kenapa tidak kau tonton saja di TV, apa matamu tidak sakit menatap lama layar HP?"
"Hahahaha .... aku sudah biasa. Lagian TV itu kan berada di daerah teriorialmu, Tuan Muda Suamiku. Aku tidak mau masuk wilayahmu tanpa alasan kuat karena akan memicu terjadinya perang."
"Tuan Muda Suamiku?!?"
"Heheheh, aku akan memanggilmu seperti itu saja, aku risih memanggilmu dengan Sayang, kan aku tidak sayang beneran soalnya."
"Kau ini!!!"
Litha cuek, tidak merespon, ia asyik dengan tontonannya, tidak peduli dengan protes suaminya.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu, Istriku Sayang."
"Apa!!!" Litha langsung teralihkan dari ponselnya menatap penuh tanya ke arah Ray.
"Hahahahahaha.... "
Ray puas membuat mata Litha membola, senang sekali ia menggoda istrinya itu hingga ekspresi kaget nangkring di wajahnya. Seketika ia lupa dengan Ramona yang seharian ia temani.
# Keesokan harinya #
"Yan, kapan TV nya dipasang?" tanya Ray mengecek pesanan TV LED yang akan dipasang di kamarnya.
"Saat ini sedang dipasang, Tuan. Tapi Kenapa tiba-tiba ingin memasang TV? Bukannya sudah ada TV di kamar?
"Litha tidak mau nonton dengan TV itu karena berada di depan sofa?"
"Kenapa memangnya?"
"Dia bilang itu wilayah kekuasaanku dan ia tidak mau masuk tanpa alasan kuat karena itu akan memicu perang, hahahahahaha......... perang apa yang dia maksud? hahahahahahaha...... " Ray tergelak keras.
"Kau tidur di sofa?" tanya Abyan memyimpulkan, ia kaget, tidak menyangka selama ini Ray tidur sekamar dengan Litha namun ia yang mengalah tidur di sofa.
Ray hanya mengangguk tapi dibalas gelengan kepala dari Abyan dengan tatapan tidak percaya.
Saat yang bersamaan, di rumah utama, Litha dikejutkan dengan pemasangan TV Lift cabinet for end of bed. Smart TV LED keluaran terbaru berukuran sesuai dengan lebar tempat tidurnya.
"Apa ini?"
__ADS_1
Akhirnya pertanyaan Litha terjawab setelah Ray pulang kantor, ia sengaja pulang lebih cepat demi melihat reaksi istrinya.
"Supaya matamu tidak sakit menatap HP terus." Ray memberi alasan ketika Litha menanyakan kenapa dia memasang TV yang bisa dinaik turunkan dalam kabinet dengan remote.
"Aaaaaaa.... terimakasih, Tuan Muda Suamiku. Sebagai hadiah akan kubuatkan sesuatu yang enak, mau?"
"Yang enak?" tanya Ray mengulang tawaran Litha, jantung Ray sudah berdegup kencang.
"Sudah kubilang aku tidak akan menolaknya jika kau yang memulainya," kata Ray dalam hati, ia senyum-senyum sendiri.
"Iya, tunggu ya."
Litha langsung berlari keluar kamar, ia mengambil sesuatu di kulkas di dapur rumah utama. Menjelang sore tadi ia sengaja membuat desert puding buah resepnya sendiri sebagai tanda terima kasih pada suaminya telah memasangkan TV untuk menonton drakor kesukaannya.
Litha kembali ke kamar membawa semangkuk puding buah, berharap pria bermata coklat itu menyukai desert buatannya.
"Ini."
Litha menaruh mangkuk itu di meja depan sofa.
"Apa ini?!"
"Puding buah yang rasanya pasti enak."
"Jadi ini yang kau masud sesuatu yang enak?"
"Iya, kau kira apa?" Litha balik bertanya, ia bingung dengan pertanyaan suaminya.
Ray tidak menjawab hanya menghela nafas panjang, malu dengan dirinya sendiri yang sudah berpikir jauh. Ia cepat melahap puding itu cepat-cepat hingga tandas. Litha yang melihatnya mengira Ray sangat menyukai dessertnya, ia tersenyum puas dapat membalas kebaikan yang tidak disangka dari tuan muda suaminya.
Pintu diketuk, Pak Is menyampaikan bahwa makan malam sudah siap. Tanpa banyak bicara mereka berdua turun ke ruang makan. Di meja sudah tersedia berbagai makanan lezat.
"Suapi aku?" Ray memberi perintah.
"Kenapa?"
"Ya aku hanya ingin disuapi saja. Aku sudah memasangkan TV untukmu, kau tidak ingin berterima kasih?"
"Lah, bukannya aku sudah membalasnya dengan puding itu ya? Isssshhh ... Dasar pebisnis, tidak mau rugi sedikitpun."
Litha menuruti kemauan Ray, malam ini dia menyuap suaminya seperti menyuap seorang bocah yang sedang ngambek. Sepasang mata dari sudut dapur melihatnya dengan senyum mengembang.
Setelah selesai makan, Ray kembali ke kamar, tapi sebelumnya ia berpesan pada kepala pelayan, "Pak Is, antarkan aku susu coklat hangat."
Ray menaiki tangga tanpa bicara dengan Litha. Rasa malu masih menyelimuti dirinya.
"Ahhhh mungkin dia mengalami hari yang berat di kantor hingga meminta susu coklat hangat," gumam Litha.
"Tuan Muda Suamiku, tunggu aku!" teriak Litha mengejar langkah suaminya ke kamar.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Hari-hari berjalan dengan normal. Meski publik sangat penasaran dengan pernikahan CEO Pradipta Corp. terlebih siapa wanita pemilik wajah yang diblur di foto pernikahan itu. Ray dan Litha tidak ambil pusing, selama mereka menaati isi perjanjian dalam kontrak, hidup mereka tenang tiada berombak.
Ray sibuk dengan perusahaan yang dipimpinnya, Litha mulai kembali menyusun skripsinya yang tertinggal. Di rumah utama mereka nampak seperti pasangan suami istri yang sangat harmonis dan Litha mengurusi Ray dengan sangat baik.
Litha menatap black card yang diberikan Ray sehari setelah tinggal di rumah utama. Dapat digunakan untuk apapun, kapanpun, dimanapun dan tanpa batas. Bukannya senang, tapi Litha malah bingung. Mau dibelanjakan apa, semua sudah tersedia disini. Ia hanya menaruhnya dalam laci nakas.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu diketuk, Pak Is mengatakan kalau Ninda berada di ruang tamu. Litha langsung loncat dari tempat tidur dan menuruni tangga. Ah, ia sangat merindukan sahabatnya itu.
"Nindaaaaaa....."
"Lithaaaaaa....."
Mereka berpelukan seperti sudah lama tidak bertemu padahal baru beberapa hari saja sekembalinya dari Kota A.
"Tha, sudah lihat berita gak? Heboh banget!"
Litha mengangguk, Ninda melanjutkan lagi kalimatnya, "Terus hubunganmu dengan suamimu gimana?"
"Baik. Disini aku benar-benar menjalankan tugas seorang istri. Mengurusnya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi kecuali di kantor, ada Asisten Yan."
"Wah, berarti kalian akan segera punya anak nih?"
Litha mencubit perut Ninda kuat-kuat hingga Ninda meringis kesakitan. Litha celingukan kesana kemari memastikan tidak ada yang mendengarnya lalu mengajak Ninda berbincang di taman bagian barat rumah utama.
"Tha, rumah ini besar buangettt."
"Duduklah. Disini dulu tiap hari aku menemani Nenek melihat sunset," ujar Litha mengenang Nyonya Besar.
"Nin, tolong kamu jangan menyinggung hubungan suami istri antara aku dan Tuan Rayyendra. Aku risih mendengarnya."
"Loh, kenapa? Rahasia ya? Ya udah deh, atas permintaanmu aku tidak akan menyinggungnya, padahal kan, aku hanya kepengen tahu saja, siapa tahu berguna nanti pas aku menikah."
"Kau tahu kan, aku menikah dengannya hanya sampai pengalihan harta Nenek ke Tuan Rayyendra selesai di proses. Setelah itu kami akan bercerai dan tidak memiliki hubungan apapun. Tentunya aku tidak mau kehilangan mahkota perempuanku yang sangat berharga hanya karena kontrak itu."
"Haaaaa????"
"Aku minta selama pernikahan kontrak ini agar ia tidak menyentuhku."
"Tapi, bagaimana bisa? Kalian kan sekamar, apa tidak ada ketidaksengajaan atau sesuatu yang memicu kalian khilaf?" tanya Ninda bingung.
"Apaan sih!" gerutu Litha di hatinya.
"Itulah hebatnya dia, Nin. Pandanganku agak sedikit berubah tentangnya, sekarang dia menghargai aku sebagai wanita, bisa memegang ucapannya meski dia sering sekali menggodaku hehehehe.... Makanya aku membalas kebaikannya dengan mengurus segala keperluannya dengan baik."
"Apa dia sekuat itu bisa menahan hasratnya? Dia pria muda yang normal kan?"
"Hahahahahaha.... tentu saja, Ninda. Dia sangat normal, dia hanya bisa menciumku saja."
"Aaaaaaaaaaa..... ternyata bibirmu sudah tidak suci, sudah ternodai!" teriak Ninda heboh. Litha langsung memukul bahunya.
"Oh, Tuhan, kasihan sekali kau, Tuan Muda Pradipta. Seandainya saja kau tidak membuat kontrak ini, Litha akan menyerahkan diri seutuhnya padamu."
Ninda seolah-olah berbicara dengan Ray. Litha hanya cekikikan.
"Tapi syukurlah, dengan adanya kontrak itu, aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku hanya ingin menyerahkan diriku pada orang yang aku cintai dan juga mencintai aku."
"Tapi, apa kau tidak ada perasaan padanya walaupun sedikiiit saja?" tanya Ninda pelan namun serius.
"Hahahaha.... ya tidaklah, Nin. Aku tahu tempatku dimana. Tempatku bukan disini, segala yang aku pakai disini hanya pinjaman. Begitu pernikahan kami berakhir, aku kembali hanya dengan koperku yang ditaruh di gudang belakang. Aku menjalani pernikahan kontrak ini demi memenuhi permintaan terakhir Nenek karena beliau sudah sangat baik padaku. Aku ingin membalas budi padanya."
Litha menjawabnya dengan jelas, bahwa ia tahu diri. Entah kenapa jawaban Litha ini membuat Ninda sedih, ia berharap kelak sahabatnya itu akan menemukan kebahagiaan tanpa harus mengkhawatirkan tempatnya berdiri.
- Bersambung -
__ADS_1