Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kobaran Api


__ADS_3

Di suatu bangunan yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk, bekas gudang Pradipta Corp. yang sudah tidak terpakai. Nampak dua mobil terparkir di sisi timur gedung.


"Semua sudah sesuai dengan yang perintah. Apa ada yang diperlukan lagi, Tuan?"


"Tidak ada, Detektif. Terima kasih. Mungkin ini tugas terakhir Anda. Saya sudah mentransfer sisa pembayaran ditambah bonus. Semoga hidup Anda sejahtera dan bahagia, Detektif," ujar Firza memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Detektif Zeth.


"Saya minta maaf, Tuan. Bertahun-tahun saya mencarinya, berharap di akhir pencarian ini saya akan menemukan kebahagiaan, tapi ternyata Tuhan memiliki kehendak lain." Detektif itu menyambut jabatan tangan kliennya sejak 5 tahun terakhir.


Firza hanya tersenyum kecut, menyadari bahwa cerita kehidupannya sangat jauh yang ia harapkan. Namun, bagaimanapun juga ia tidak bisa protes kepada Sang Pemilik Kehidupan karena di dalam keyakinan yang ditanamkan sejak kecil mengatakan, bahwa segala hal di dunia ini memiliki waktunya masing-masing.


Seperti halnya sekarang, waktu Sebastian Riguna berada dalam genggamannya. Meski penentu akhir kehidupannya adalah milik Tuhan, namun Firza memastikan akan menggenggam nafas kehidupan manusia laknat itu sampai akhir.


Pyarrr ...


Kepala Sebastian disiram untuk menyadarkannya. Ia mulai menggeliat tapi badannya tidak bebas karena terikat erat pada sebuah kursi. Begitu sepenuhnya sadar, lelaki paruh baya itu berusaha melepaskan diri dari jeratan tali di sekujur tubuhnya.


"Sudah sadar?" sahut Firza dingin, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan jarak 3 meter dari Sebastian.


"Kau... ?!?"


Mata Sebastian menyipit memastikan penglihatannya tidak salah. Meski diantara keremangan, ia masih dapat mengenali siapa yang duduk di hadapannya


"Apa Rayyendra yang menyuruhmu untuk menangkapku? ... Mana dia?"


"Apa kau berharap dia yang menangkapmu? Kau berharap apa? ... Dia jelas lebih mementingkan mengurusi istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan daripada mengurus sampah busuk sepertimu."


"Aku tidak pernah punya urusan denganmu."


"Memang tidak pernah. Tapi ternyata kau yang menciptakannya."


Sebastian diam, dia bingung apa maksud perkataan Wakil Presdir tempatnya bekerja dulu.


"Apa yang ada di dalam kepalamu hingga kau membenci Keluarga Pradipta, keluarga yang penuh kasih?"


"Hah! Tidak ada urusannya denganmu! Apa kau lupa kau hanya cucu angkat?" ejek Sebastian terkekeh.


"Ya kau benar, tapi setidaknya Keluarga Pradipta tulus mengangkat seorang anak masuk ke dalam keluarganya, tidak seperti seseorang yang mengangkat anak kecil polos tidak berdosa hanya untuk kepentingan balas dendamnya yang tidak masuk akal."


Lelaki muda itu berdiri dari duduknya, menatap lantai yang sebagian sudah pecah-pecah. Sedangkan Sebastian makin bingung dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Firza. Makin lama suasana di dalam ruangan tanpa jendela dan ventilasi itu terasa pengap dan sesak.


"Apa kau bisa jelaskan mengapa seorang ayah sepertimu tega menembak putrinya sendiri?" Firza masih mengontrol nada suaranya, padahal di hatinya tengah bergemuruh hebat.


"Hahah ... Apa kau sungguh peduli, Tuan?"


" ... "


Firza diam dan menutup matanya, berusaha tetap menahan emosi.


"Siapa suruh anak itu tidak pernah mau menurut dengan perintah ayahnya. Coba kalau dia tidak menghalangi, tentu dia akan baik-baik saja sekarang. Jadi kalau dia tertembak itu bukan salahku, itu keputusannya sendiri, memberikan nyawa demi cinta bodohnya yang tidak berbalas."


"DASAR KEPA*RAT!!!"


BUGH.


Firza meninju Sebastian dengan tangan yang terkepal kuat hingga membuatnya terjengkang jatuh ke lantai beserta kursi yang masih terikat di badannya.


"Kalau kau tidak bisa menyayanginya dengan tulus, seharusnya kau biarkan saja gadis yang kau tembak itu duduk menangis seorang diri sampai kakaknya datang menjemput dua puluh lima tahun yang lalu."


DUGH.


Firza menendang keras bagian perut Sebastian hingga dia menjerit ditengah kesunyian malam.


Chuaakkss ...


Semburan segar berwarna merah muncrat dari mulut Sebastian. Rasa nyeri di bagian yang ditendang Firza menjalar hingga ke kepala. Namun begitu, ia tetap terperanjat mendengar kata 'kakaknya datang menjemput dua puluh lima tahun yang lalu'.


"Si-- siapa kau sebenarnya?" tanya Sebastian terbata, hatinya berdegup tak menentu.


"Aku kakak dari gadis kecil yang kau ambil dan kau bawa pergi saat terjadi kebakaran di daerah Y, padahal aku sudah menyuruhnya untuk menungguku dan tidak kemana-mana."

__ADS_1


Mata Sebastian terbelalak lebar mendengar fakta yang baru saja terungkap. Sontak ingatannya kembali berputar sewaktu bagaimana ia membujuk seorang anak perempuan kecil untuk ikut dengannya, dan berakhir dengan mengadopsi serta mengganti nama Bella menjadi Ramona Citra Riguna yang bertujuan untuk balas dendam pada Keluarga Pradipta.


"Aku kadang menertawai nasibku yang penuh ironi, wanita yang sangat tidak aku sukai di Pradipta Corp. ternyata adik kandungku."


" ... "


"Andai saja kau merawatnya dengan penuh kasih seperti Nyonya Besar merawatku. Aku akan berterima kasih dan membalas budi baikmu dengan menuruti apapun yang kau inginkan, bahkan jika itu seluruh warisan yang kudapatkan dari Nyonya Besar sekalipun .... Tapi, sayangnya kau adalah iblis berwujud manusia yang tamak dan rakus."


" ... "


Sebastian sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasa takut menyerangnya luar biasa, ia tidak pernah melihat kegelapan dan aura dingin melingkupi sosok Firza sebelumnya. Kalau saja ia bisa melihat bagaimana raut wajah lelaki itu, bisa-bisa ia kencing di celana. Dengan berjongkok, Firza menghadapkan mukanya ke hadapan Sebastian.


"Urusan surga neraka itu adalah hak prerogatif Tuhan. Tapi dengan perbuatanmu yang tidak ada bedanya dengan iblis, aku yakin kau akan ditempatkan di neraka. Kau tau ada apa disana?" ucap Firza dingin.


"A-- apa maumu?"


"Tuan Sebastian Riguna sebagai bentuk rasa terimakasihku padamu karena telah memberikan adikku keluarga, aku akan membalasnya dengan sebuah simulasi untuk menghadapi panasnya api neraka, agar Anda tidak kaget lagi saat Tuhan menaruhmu disana."


"A-- paaa!?! Kau gila!"


Suara tertawa memantul di dalam ruangan itu. Tawa milik Firza sangat keras dan membuat bulu kuduk siapapun yang mendengar pasti merinding. Ia berjalan ke sudut ruangan yang gelap dan mengambil sesuatu yang terlihat berat di kedua tangannya.


"Aku menyesal baru menemukan Bella saat dia tidak berdaya. Tapi aku lebih menyesal melihatnya menyerah dan memutuskan untuk membawa cinta yang kau sebut jebakan dalam tugasnya. Kau kira mengangkat anak sama dengan merekrut prajurit apa? Hahah ... Sayangnya kau tidak menyesali sedikitpun semua dosa-dosamu."


"Apa yang kau lakukan?!?"


Firza mengoceh sambil menuangkan cairan dengan bau menyengat pada lantai dan sekujur tubuh Sebastian yang terikat pada kursi. Meski Sebastian berteriak-teriak meminta untuk menghentikan perbuatannya, Firza tidak peduli. Setelah dua jerigen besar ia kosongkan, ia lalu merogoh saku celananya meraih pemantik api.


"Baji*ngan!!! Kau mau membakarku hidup-hidup, hah!!! Apa kau tahu akibatnya jika aku mati? Kau akan dipenjara dan saham Pradipta Corp. akan terjun bebas karena ulahmu!"


"Heh! Tidak tahu malu, bukannya bertobat dan memohon ampunan, malah mengancam. Asal kau tahu Sebastian, aku sudah tidak peduli pada Pradipta Corp. dan diriku sendiri. Aku hanya peduli dengan rasa sakit yang akan kau terima malam ini," ucap Firza menarik sedikit garis bibirnya ke atas.


Ceklik.


Firza menekan pemantik itu hingga keluar api, lalu ia lemparkan pada lantai yang sudah ia tuangi bensin.


BLAP


AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH


Lolongan panjang nan menyakitkan memekakkan telinga, meronta-ronta dari ikatan erat yang membelitnya namun tak jua terlepas. Firza hanya tersenyum hambar melihat pemandangan mengerikan di depannya. Sebuah tubuh manusia yang terkungkung kobaran api yang seolah-olah menghakimi semua dosa-dosanya.


Perlahan ia berjalan keluar ruangan dan menutup pintu. Lalu dengan langkah cepat dan panjang ia meninggalkan gudang itu. Sejumlah tabung gas yang sudah dibuka katupnya dan diletakkan di titik-titik strategis yang akan melahap habis bangunan ini jika terjadi ledakan. Kini yang ia harus lakukan adalah segera menjauhi tempat itu sebelum ia ikut terbakar. Firza tidak sudi jika ajalnya berada di tempat yang sama dengan Sebastian.


Api mulai mengejar di belakangnya, secepat mungkin ia lari dan meraih mobilnya yang terparkir di depan pintu keluar gudang di sisi timur.


Buurmmmm .,..


Firza menginjak gas dan membawa lari mobilnya menjauhi gudang sebelum ledakan hebat terjadi. Benar saja, dari posisinya sekarang ini, ia dapat mendengar dan melihat jelas gudang bekas itu habis terbakar tanpa sisa oleh api yang berkobar. Direbahkan dirinya bersandar pada jok kemudi. Air matanya mengalir deras menggambarkan bagaimana sakit yang harus ia rasakan. Kesakitan akan sebuah moment yang terpaksa ia harus ingat dan lewati kembali, sebuah kobaran api.


...***...


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Seperti keseimbangan yang tercipta, ada malam ada siang, ada hitam ada putih, begitu juga ada senang ada sedih.


Malam itu, Ray mencoba membujuk Litha untuk melonggarkan rasa kekhawatiran istrinya yang berlebih pada adiknya sendiri.


"Mas, entah apa yang kau bicarakan dengan Nia tadi siang, itu bisa membuat jam tidurnya kembali normal. Terimakasih." kata Litha mengeratkan pelukan ke suaminya di pembaringan.


"Kau tidak ingin tahu apa yang kulakukan hingga insomnianya langsung hilang?" tanya Ray mengecup pucuk kepala istrinya.


"Apa?" Kepala Litha mendongak melihat netra suaminya.


"Aku izinkan kalau dia boleh belajar menyetir mobil."


"Haaaa!?!" kaget Litha langsung melepas pelukannya. "Kenapa Mas memberikannya izin? Setahun lalu saat dia jatuh karena belajar mengendarai motor sudah membuatku sesak bernafas. Sekarang malah--"


Ray menarik tangan istrinya dan memposisikan kembali seperti semula saat Litha mengucapkan terimakasih, "Meski begitu, kau lihat betapa mandirinya ia sekarang. Tawon kita begitu lincah dengan motornya, kurasa tidak ada salahnya ia belajar menyetir mobil, atau apapun yang ia inginkan. Jangan takut dia terluka, dia sudah besar, Sayang ..."


Litha menghela nafasnya, "Tapi tetap saja, sampai kapanpun dia adik kecil bagiku."

__ADS_1


"Tapi bukan berarti adik yang terus kau gendong, kan? Yang tidak kau biarkan dia belajar berjalan hanya karena takut terjatuh."


Litha diam, ia paham maksud analogi dan kemana arah pembicaraan suaminya.


"Aku hanya tidak ingin melihatnya menangis, Mas. Cara dia menangis sekarang sungguh membuatku pilu," ujar Litha pelan.


"Maksudmu?"


"Sejak menginjak SMA, ia menangis tanpa suara. Sesedih dan sesakit apapun yang ia rasakan, ia tidak bisa mengeluarkan suara jika menangis, hanya airmata saja. Padahal dulu tangisannya paling keras diantara kami bertiga. Dan aku tahu itu sesuatu yang sangat menyiksa buatnya."


Ray tercekat, tadi siang juga ia menyaksikan adik iparnya menangis tanpa suara, hanya bahu yang sedikit berguncang dan tangan yang mengusap berkali-kali ke sudut matanya.


"Kenapa dia seperti itu? Apa karena Ayahmu meninggal?"


Litha menggeleng pelan, wajahnya murung mengingat masa itu, masa dimana ia harus mengejar kereta api untuk ke Kota A dan datang ke sekolah adiknya sebagai wali. Dengan suara yang bergetar Litha bercerita bagaimana sampai Vania tidak bisa bersuara ketika menangis.


Pandangan Ray menerawang ke langit-langit kamar ketika Litha menceritakannya. Ia tahu benar apa yang dirasakan adik iparnya saat itu karena ia pernah mengalaminya dan masih ingat rasa sakitnya meski di jenjang yang berbeda.


Lelaki berdada bidang itu mendekap istrinya dan mencium berkali-kali pucuk kepalanya, "Lith, Vania bukan hanya adikmu, tapi adikku juga. Aku menyayanginya seperti kau menyayanginya. Kalau kau tidak ingin melihatnya menangis, aku pun juga tidak ingin. Tapi jangan sampai alasan itu menjadikannya seperti katak dalam tempurung. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan harga dirinya, jangan kita tarik mundur ... Dukungan kita dengan menjaganya, Sayang ... bukan melarangnya."


Litha diam, dia tidak membantah suaminya karena ada kebenaran di dalam kalimatnya.


"Percaya padanya ... Tidak perlu terlalu merisaukannya, dia sekarang jauh lebih hebat dalam menjaga dirinya daripada yang kau pikirkan."


"Engg ... Baiklah ... Aku mengizinkannya belajar mengendarai mobil, tapi ada satu syarat. Setidaknya itu bisa membuatku lebih tenang."


"Apa?"


"Aku hanya mengizinkan dia belajar menyetir mobil, kalau Asisten Yan yang mengajarkan. Selain dia aku tidak percaya."


"Kenapa?" tanya Ray menautkan alisnya.


"Mas! Berduaan di dalam mobil antara pria dan wanita sangat mengkhawatirkan, kecuali Asisten Yan. Aku yakin dia tidak akan macam-macam dengan Nia, palingan mereka hanya saling menyindir dan berbalas kata saja. Kalaupun terpaksa bukan Asisten Yan, carilah pengajar perempuan," pinta Litha.


Ray terlihat seperti memikirkan sesuatu, tiba-tiba ia tersenyum senang. Tentu saja senang, karena ia bisa mengerjai sahabat dan adik iparnya sekaligus yang sering membuatnya sebal akhir-akhir ini.


"Hahahahahaha ... Mati kalian berdua! Aku mau lihat bagaimana jika hubungan kalian sebagai guru dan murid. Pasti adu debat kalian tidak berkesudahan. Hahahahaha ..."


"Kenapa Mas? Kok senyumnya jahil begitu?"


"Ah ... tidak. Aku setuju dengan syaratmu. Tidak ada pengajar sebaik dan sesabar Abyan menghadapi Vania," ujar Ray menahan senyumnya agar istrinya tidak curiga.


"Ya, setidaknya kalau Asisten Yan menjadi gurunya, dia bisa bersikap lebih sopan padanya. Kadang aku sangat malu dan tidak enak pada Asisten Yan dan Bibi Lidya dengan ketidaksopanan dan kelancangan Nia."


Ray sudah tidak bisa menahan senyumnya membayangkan raut wajah Abyan dan Vania saat mengetahuinya besok pagi.


"Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi sih?" Litha mencubit perut sixpack milik Ray.


"Karena kau cantik sekali malam ini, Istriku ..."


"Haissshhh ... "


Litha berusaha melepas pelukannya, ia hafal kelakuan suaminya di malam hari, termasuk kalau tiba-tiba memuji dirinya.


"Kenapa jarimu mencubit perutku? Harusnya meremas tongkatku yang sudah bangun."


"Eh ... Apa Mas tidak kasihan melihatku harus melayanimu saat perutku sebesar ini?" elak Litha menunjuk ke perutnya.


"Heh, kasihan apanya ... Kau sama sekali tidak terlihat tersiksa atau menahan sakit, kau malah justru makin menikmatinya. Gai*rahmu makin membara dan kau makin cepat orgas*me belakangan ini, bagaimana aku tidak makin tergoda." Ray sudah menelusupkan tangan besarnya ke dalam baju tidur istrinya, menjelajahi tiap lekukan yang membuat bibir lembab Litha mende*sah.


Mulut dan hati Litha tidak sinkron, ia memang merasa lelah karena seharian menemani suaminya di kantor, tapi ia sangat senang mencuri pandang ke arah suaminya saat itu. Tidak pernah sebelumnya Litha melihat langsung Ray bekerja, meski Abyan yang lebih sibuk tetap saja dia mata seorang wanita yang dimabuk cinta, tetap pria pujaan hatinya lah yang bekerja lebih keras.


"Sekarang kau yang senyum-senyum sendiri, ha? Apa kau memikirkanku?" tanya Ray seraya menciumi leher dan bahu istrinya tanpa henti, menyesap aroma khas Litha yang selalu melambungkan hasratnya.


"Mas sangat seksi tadi di kantor," ucap Litha malu-malu, pipinya merona kemerahan.


Ray tergelak, ia sangat senang mendengarnya dan hasrat yang dari tadi sudah terbakar menjadi makin membara, "Selama dokter tidak melarangku untuk membenamkan tongkatku di gua sempitmu, jangan harap kau bisa lari."


Litha menatap dalam manik suaminya, "Aku tidak akan pernah lari, justru aku yang akan mengikatmu semakin erat, Suamiku." Lalu ia mencium bibir lelaki yang sudah menguasai hati dan raganya dengan liar.

__ADS_1


Malam makin larut, sepasang insan manusia tengah mengobarkan api yang kian membara diantara mereka. Kobaran api dengan makna yang berbanding terbalik dengan kobaran sebelumnya. Kobaran api yang menyeimbangkan bumi dari nyala api kesakitan dan kesedihan di tempat lain.


- Bersambung -


__ADS_2