Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Putri Kesayangan


__ADS_3

Tagar #mantanpresdirbelummoveon tersebar dimana-mana, setiap membuka media sosial apapun akan tersaji berita cinta segitiga Presdir Pradipta Corp. yang menyerupai kisah romansa novel. Berbagai komentar berhamburan yang dikomandoi buzzer kawan-kawan Nezar.


Kamu tim mana nih? Aku sih istri sah


Istri sah dong! Apapun alasannya mantan itu masa lalu.


Pastilah istri sah, mana baik banget lagi, tega aja kalo beneran diselingkuhi, syukurlah ternyata yang belum move on si mantan, bukan si suami


Jangan dong, meski punya kenangan, lebih baik dikubur saja, kenyataannya kalau gak jodoh jangan dipaksain ya Tan, Mantan ...


Istrinya sabar banget, gak kepancing modus mantan kayak gini. Spill dong istri sahnya Presdir


Komentar dari yang biasa sampai yang pedas dilemparkan secara membabi buta, tidak heran berita mantan belum move on ini menenggelamkan berita sebelumnya tentang dugaan perselingkuhan presdir dengan sang mantan. Meski tidak kembali 100% citra positif Presdir Pradipta Corp. seperti semula, tapi setidaknya mampu menambal lubang-lubang ketidakpercayaan publik terhadap Pradipta Corp.


Namun, yang menarik adalah sosok Litha sebagai istri yang sabar dan terdzolimi mampu merebut simpati netizen, bahkan sampai fotonya disandingkan dengan Ramona, si antagonis dalam hubungan asmara mereka bertiga. Pada akhirnya, kini Litha memiliki penggemarnya sendiri dan fanbasenya dibuat oleh Nezar yang bernama BeautyHeartPradipta. Sungguh besar peran Buzzer dalam menggiring dan membentuk opini publik.


.


.


.


Ramona berbaring di kamar meratapi layar ponselnya, semua netizen terutama kaum emak-emak menghujatnya sebagai bakal calon pelakor, bahkan ada yang terang-terangan akan mengawal rumah tangga Ray dan Litha dari orang ketiga, dan mereka semua adalah anggota BeautyHeartPradipta.


Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin ini kondisi yang dialami Ramona. Ia merasa telah terabaikan dan terlupakan dari dunia, sendiri dan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan ini seperti tidak asing baginya tapi entah kapan dan dimana.


Di dapur ibunya sibuk menenangkan ayahnya yang sangat marah setelah mengetahui Prasojo lah yang membuka kembali kasus Lucas 5 tahun lalu. Fakta bahwa korban dari tindak pidana asusila putranya adalah Kakak Ipar Tuan Muda membuatnya ingin menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Segala umpatan dan nama binatang keluar dari mulut Sebastian memaki Keluarga Pradipta.


"Hahahahahaha ... Lucu sekali! Tidak kusangka kalau ternyata gadis yang diperkosa Lucas adalah kakaknya Litha yang merebut kekasihku. Ironi sekali hidupku ini, apa aku dilahirkan sebagai penebus dosa adikku? Lelaki macam apa dia yang katanya mencintai tapi yang ada justru melukai. Cih." Ramona berkata pada dirinya sendiri, menertawai nasibnya yang menyedihkan.


.


.


.


Di saat yang bersamaan, Litha mengunjungi kantor polisi ditemani Pak Sas dan Bibi Lidya untuk menemui Vivian sebelum dimintai keterangan sebagai saksi. Tentu saja Abyan yang mendampingi dokter manis itu sangat terkejut melihat ibunya.


"Bu, kenapa ikut Nyonya kesini?" tanya Abyan gusar.


Kemarin pagi ia sudah dicecar ibunya tentang Vivian habis-habisan ditambah lagi Ray mengompori kalau Vivian akan menikah dalam waktu dekat. Sekarang ibunya ingin melihat seperti apa sosok gadis yang bisa membuat putranya menaruh hati.


*Aku yang memintanya ikut denganku, Asisten Yan. Pak Sas tidak bisa membantuku untuk urusan perempuan, jadi aku butuh Asisten wanita yang akan menemaniku jika bepergian keluar rumah. Suamiku mengizinkan kok." Litha yang menjawab pertanyaan Abyan.


"Cih. Kalian semua sama saja!" umpat Abyan kesal.


"Bibi, nanti Bibi bisa melihatnya dengan menemaniku saat bicara dengannya."


"Apa!?!" Abyan terlonjak kaget.


"Memangnya kenapa? Bibi hanya mau melihatnya saja. Jangan dihalangi, Asisten Yan. Ayo, sekarang antarkan kami menemuinya,' titah Litha yang tidak bisa dibantah siapapun.


"Heh! Abyan, mau kulihat dia seperti apa, nanti Ibu akan carikan yang modelannya seperti dia untukmu. Kau tenang saja." bisik Lidya di telinga Abyan.


Kini Litha duduk berhadapan dengan Vivian didampingi Abyan. Lidya yang berada di samping Litha mengamatinya dari ujung kaki sampai kepala.


"Ya ampun, Ibu kalau melihat seseorang apa tidak bisa dikondisikan matanya apa?!?" bathin Abyan gemas.


"Katanya Ibu ini Asistennya Litha, tapi kenapa matanya seperti itu. Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Vivian bingung dan risih dengan pandangan Lidya yang menelisik.


Litha menahan senyumnya, tadi malam sengaja ia izin untuk mengajak Lidya ikut menemaninya menemui Vivian untuk mengerjai Abyan, dan Ray sama sekali tidak keberatan.


"Kak Vivian." Litha memulai percakapan.


"Ya, Nyonya."


"Panggil aku Litha saja seperti dulu. Sekarang kita dalam keadaan privat, jadi tidak perlu sungkan."


"Ba-- baik, Nyo-- eh, Litha." Vivian melirik Abyan, seakan meminta persetujuan.


"Tidak perlu meminta izin darinya, Kak."


Litha tahu maksud tatapan dokter berlesung pipi itu. Vivian, Lidya dan Abyan kaget Litha bisa membaca situasi yang tersirat.

__ADS_1


"Asisten Yan pun sama kalau dalam keadaan privat, dia akan menyebut Suamiku dengan namanya saja karena sesungguhnya mereka adalah saudara yang tak sedarah."


Vivian tersenyum, "Manis sekali," bathinnya.


"Nyonya ..." Lidya sangat terenyuh mendengar ungkapan 'saudara yang tak sedarah' dari Litha


Litha berdiri, lalu menunduk hormat, "Kak, terimakasih sudah bersedia untuk menjadi saksi pada kasus ini, kasus 5 tahun lalu yang membuat keluargaku hancur. Aku sangat menghargai apa yang Kak Vivian lakukan sekarang, semoga kebaikan dan kebahagiaan akan melimpahi Kakak karena sudah membantu kami."


"Duh, Nyonya, kalau suamimu melihat ini, dia pasti akan marah. Ray tidak suka melihat mu menundukkan kepala pada orang lain," kata Abyan dalam hati


Vivian salah tingkah, ia juga langsung berdiri dan berujar , "Jangan begini Tha, ini adalah hal yang memang harus aku lakukan dari 5 tahun lalu, tapi aku yang terlalu pengecut dan penakut."


Litha mengangkat kepalanya, "Tetap saja Kak, karena berkat kesaksian Kakak keadilan yang diperjuangkan Ayah akan kami dapatkan. Atas nama Ayah dan Ibu, aku ucapkan terima kasih banyak."


Litha menundukkan kepalanya sekali lagi. Vivian tidak bisa menahan emosi harunya, ia langsung mendekati Litha dan memeluknya.


"Kau pasti menjalani hari-hari yang sangat berat setelahnya. Aku minta maaf, Litha," ucap Vivian merasa bersalah, entah karena apa.


Mereka kembali duduk, posisi Vivian sekarang di samping Litha.


"Kau tidak berubah sama sekali. Kau tetap Litha yang tegar, beruntung keluargamu memilikimu, Tha. Aku akan memberikan kesaksian sesuai fakta yang aku dengar dan lihat. Semoga pelakunya mendapat hukuman setimpal, bahkan lebih berat karena dia juga pengedar narkoba."


"Apa Kakak mengenal pelakunya?"


"Hanya sekilas, karena Lucas berbeda fakultas dengan kami. Tapi setahuku, dia sebenarnya sangat mencintai Tisha, hanya caranya yang salah. Dia ingin mengikat Kakakmu dengan merenggut kesuciannya agar Tisha tidak bisa beralih pada laki-laki lain."


"Hah! Itu alasan paling brengsek seorang laki-laki untuk mengikat pasangannya. Kalau mencintai itu harus dijaga, bukan malah dirusak."


"Ya, Tha. Dia tidak percaya dengan cinta Tisha hingga ingin mengikatnya seperti itu. Tapi apa kau tahu, aku pernah sekali memergokinya menangis di depan pintu kamar inap Tisha di Dharma Yasa, setelah itu tidak pernah kulihat lagi batang hidungnya sampai kemarin disiarkan di TV."


"Dianya yang bodoh! Harusnya dia bersyukur karena demi dirinya Kak Tisha berani melanggar janji pada Ayah. Ah, sudahlah Kak, aku kesal sekali kalau membicarakan lelaki brengsek itu," kata Litha dengan nada suara tinggi.


"Maaf, Tha."


"Tidak apa, Kak. Memang kenangan pahit itu akan selalu berasa pahit kalau diingat. Aku pamit dulu ya, Suamiku hanya mengizinkan aku disini paling lama 30 menit saja. Kak Vivian yang kuat ya, jangan takut, kalau ada apa-apa hubungi saja Asisten Yan, dia yang akan mengurus semua keperluan."


Vivian mengangguk dan tersenyum. Ia mengantar Litha menuju pintu keluar kantor polisi, "Kamu sehat-sehat ya, lancar sampai lahiran."


"Ya Kak. Aku dengar Kakak akan menikah sama dr. Indra, kapan? Jangan lupa undangannya."


"I-- iya, Tha."


Jawaban singkat Vivian bagai palu godam menghantam hati Abyan menjadi remuk hancur. Meski ia tahu Vivian ada pemiliknya tapi hatinya tidak bisa dibohongi kalau ia menyimpan harapan seperti ia menyimpan nametag Vivian.


...***...


# Kediaman Keluarga Kusuma #


Bona rasanya mau kencing berdiri di depan keluarga Kusuma. Ia tidak menyangka gadis mungil nan imut itu memiliki keluarga yang garang. Kedua abang Ninda dan ayahnya memasang wajah galak.


"Berani juga akhirnya kau menunjukkan mukamu, kukira kau bersembunyi di balik bar mu itu." Afandi menelisik sosok pria tampan itu di depannya.


"Ck. Kenapa kau berani, sih? Aku kan jadi tidak punya alasan mengenalkan Ninda pada juniorku di kantor," timpal Andika.


"Bang ..." suara Ninda meminta kedua abangnya berhenti menggojlok Bona yang keningnya sudah berkeringat.


"Apa yang kau sukai darinya, Nin?" tanya Om Beny, ayahnya.


"Engg ... Di-- dia ba-- baik."


"Kan, dia memang tidak sakit."


"Maksudnya dia bersikap baik padaku, Pa."


"Memangnya ada yang tidak bersikap baik padamu?"


"Banyak, salah satunya Renata, Mereka bersikap baik hanya karena takut pada Ayah dan Abang-abangku. Tapi tidak dengan Bona, dia baik karena diriku sendiri."


Hening.


Bahkan tenggorokan ayahnya tercekat mendengar penuturan Ninda.


"Meskipun lingkungannya adalah dunia malam, dia tidak pernah memperlakukanku buruk. Apalagi keluarganya yang sudah menganggap aku bagian dari anggota keluarga mereka."

__ADS_1


"Keluarga? Kau sudah dibawa ke keluarganya? Apa sudah seserius itu hubunganmu dengannya?" tanya Tante Murni bingung.


"Eeennnggg ..." Ninda juga bingung menjawabnya karena awal pertemuan mereka memang hanya main sandiwara yang berujung sungguhan.


"Ka-- karena orangtua saya yang meminta untuk membawa Ninda ke rumah untuk mengenalnya." Bona memberanikan diri menjawab karena dilihatnya Ninda kebingungan.


"Mengapa banyak hal yang tidak kau ceritakan pada kami, Ninda. Apa yang membuatmu tidak percaya pada kami?" tanya Om Beny menghela nafasnya, ia merasa seperti tidak dianggap oleh putrinya sendiri.


"Bukan aku tidak percaya, Pa. Aku hanya butuh privasi atas diriku meski aku anak kalian. Dari dulu semuanya selalu ikut campur sampai aku seperti tidak punya pilihan, justru aku yang merasa tidak dipercaya oleh kalian. Semua yang aku lakukan dianggap kurang dan tidak baik. Aku tidak diberikan kesempatan untuk memilih dan aku tidak bisa mengatakan semua itu pada Mama dan Papa karena aku takut kalian kecewa."


Mata Ninda mulai berkaca-kaca, setelah menjalani beberapa kali pemeriksaan di psikiater, Ninda mulai berani terbuka akan dirinya pada orang lain, terutama keluarganya yang paling ia tutupi.


"Ninda, kami melakukannya karena kami sangat menyayangimu. Kamu adalah putri kami satu-satunya, makanya kami sangat menjagamu dan memilihkan sesuatu yang terbaik untukmu," sanggah Tante Murni.


"Aku tahu, Ma. Tapi itu tidak menjadikanku pribadi yang utuh. Aku tidak percaya diri, aku tidak punya teman dekat dan jika aku menceritakan masalah ke Mama dan Papa bahkan Bang Dika dan Bang Fandi semuanya akan bertindak tanpa bertanya dan memikirkan perasaanku, semua berdalih karena itulah yang terbaik untukku."


Airmata Ninda akhirnya luruh, beban hati yang selama bertahun-tahun disimpannya sendirian ia keluarkan.


"Baru setelah Papa mengizinkan aku nge-kost satu kamar dengan Litha, aku merasa lebih hidup. Itu juga kalau bukan karena bujukan Bang Dika yang menyukai Litha, Papa pasti tidak akan mengizinkanku."


Mata Bona terbelalak, kaget mendengar bahwa Abang kekasihnya ini ternyata dulu menyukai istri sahabatnya, entah apakah sampai sekarang atau tidak, yang jelas ia sudah dapat membayangkan kecemburuan Ray jika mengetahuinya.


"Ninda ...!" pekik Andika karena rahasianya terbongkar di depan Bona yang ia tahu, Bona memiliki hubungan dekat dengan suami gadis yang disukainya.


Hening.


"Ninda, putri kesayangan Papa ..." suara Om Beny pelan dan bergetar, ditatapnya mata Ninda yang mirip dengannya.


"Dulu Papa sangat mengharapkan memiliki seorang putri, dan ketika kamu lahir setelah dua kali Ibumu melahirkan anak laki-laki, rasanya hidup Papa sangat terberkati. Papa berjanji untuk menjagamu agar jangan sampai kau terluka, segala yang terbaik kami pilihkan untukmu. Tapi ternyata Papa tidak sadar jika putri Papa semakin bertumbuh. Papa selalu menganggap kau putri yang selalu ada dalam gendongan Papa. Papa selalu ingin memberikan yang terbaik tanpa memikirkan perasaanmu."


"Papa ..."


Airmata Ninda makin mengalir. Ibunya pun juga menangis sesenggukan karena ia memiliki pemikiran yang sama dengan suaminya.


"Papa tidak tahu kalau justru itu menyakitimu, Nak. Padahal Papa ingin kau mendapatkan yang terbaik agar kau bahagia. Maaf kalau selama ini Papa membuatmu menderita--"


Om Beny sudah tidak dapat melanjutkan lagi kalimatnya, ia sangat sedih, upaya untuk membahagiakan putri satu-satunya ternyata malah dirasakan berbeda oleh sang putri. Akibat terlalu sayang sampai ia mengekang semua kehidupan Ninda untuk berjalan sesuai kehendak dirinya tanpa memikirkan bahwa putrinya ini adalah manusia yang memiliki rasa, akal dan pikiran.


Ninda mendekati ayahnya lalu memeluknya, "Maafkan, aku Pa. Karena inilah aku tidak bisa cerita apapun padamu, aku takut kau kecewa padaku karena aku tahu Papa sangat menyayangiku. Aku akan merasa sangat bersalah kalau melihat Papa kecewa karena diriku."


"Oh, Ninda ... Maafkan Mama, Nak. Maafkan kami yang egois terhadap dirimu, yang tidak memedulikan perasaanmu selama ini, karena kami menganggap kami sudah memberikan yang terbaik untukmu. Maafkan kami semua, Nak."


Tante Murni menghambur pelukan ke suami dan putrinya, hatinya juga tersayat mendengar curhatan hati putri kesayangannya.


"Nin, peluklah kami juga," pinta Afandi setelah orangtuanya dan Ninda mengurai pelukan.


Spontan Ninda memeluk Afandi lalu Andika, "Aku tahu kalian sangat menyayangiku."


"Lalu, apakah Bona pilihanmu?"


Dika to the point menembak langsung pertanyaan ke adiknya, tapi malah Bona yang gugup luar biasa.


Ninda menjawabnya dengan tersenyum, "Iya, Bang. Dia yang membopongku dengan panik saat aku pingsan dari toilet wanita di bioskop XXX sampai ke rumah sakit dan menungguiku hingga sadar."


Nyess...


Hati Bona bagaikan tersiram derasnya hujan di tengah kemarau yang berkepanjangan. Ia kira Ninda masih menyimpan marah karena ia tidak peduli saat kekasihnya wisuda. Ternyata cinta Ninda lebih besar untuk masalah seperti itu.


"Tapi, aku tidak setuju. Aku tidak yakin dengannya kalau dia bisa membahagiakanmu," sahut Andika yang membuat Bona terkesiap kembali.


"Baru saja dibahas, Dika. Sudahlah, yang jalani Ninda, yang merasa bahagia ya Ninda, bukan kamu. Kita percayakan pada pilihan dan keputusan Ninda kali ini, dia juga sudah dewasa pasti bisa menilai baik buruknya," ujar Tante Murni mengingatkan.


"Tapi tetap saja kami akan mengawasinya, kalau sampai membuat putri kami meneteskan airmata, siap-siap saja kau akan berhadapan denganku, Papanya," ancam Om Beny dengan menatap tajam Bona lalu menunjuk ke arah Andika dan Afandi, "dan mereka, kedua Abangnya."


Rambut-rambut halus di sekujur badan Bona merinding dengan ancaman calon ayah mertuanya.


"Tidak, Pa. Dia tidak akan berani, karena aku sendiri yang menghajarnya kalau dia macam-macam," sahut Ninda tersenyum.


"Oh, Tuhan ... Kukira dia anak kucing ternyata dia anak macam dari keluarga macam. Mati aku! Kenapa juga aku jatuh cinta padanya." bathin Bona yang tersenyum kaku membalas senyuman manis Ninda.


Ninda lega, ternyata apa yang dikhawatirkannya selama ini hanya asumsinya saja. Ketidakpercayaan diri dan rasa mindernya yang besar pelan-pelan menghilang seiring dengan gejala anxiety yang dideritanya juga semakin berkurang.


- Bersambung -

__ADS_1


Terkadang bagi orangtua anak adalah sosok mungil berapapun usianya. Namun seiringnya usia mereka terlebih saat beranjak remaja, perlu adanya ruang sendiri atau privasi sebagai sarana membangun kepercayaan diri dan sebagai bagian dari cara belajar anak untuk dapat bertanggungjawab pada pilihannya sendiri. Jika hal ini terganggu maka anak akan merasa sulit percaya pada orangtuanya dan menyimpan rahasia dari orangtuanya, selain itu anak menjadi sulit percaya diri, tidak terbuka pada orangtua dan tidak dapat menentukan pilihan atau sulit mengambil keputusan. Namun, privasi juga harus memiliki batasan dan orangtua tetap mengawasi/mengontrol dengan tidak terlalu kepo layaknya layang-layang, tarik dan ulur.


__ADS_2