Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kejadian di Kantor Pusat (Part 2)


__ADS_3

Asisten Yan memasuki ruang rapat tanpa Presdir. Peserta rapat saling bertanya-tanya dalam hati termasuk Firza yang sudah siap mengikuti dengan video jarak jauh.


"Rapat ditunda 30 menit karena Tuan Presdir ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditunda."


🙋 30 menit? Perasaan Rayyendra hanya meminta waktu 15 menit. Ah ... baiklah, Asisten Yan memang sangat pengertian hehehehehe .... 🙋


Suasana di dalam ruangan berubah riuh. Sejak kapan Presdir Pradipta Corp. menoleransi waktu mulai rapat? Tidak ada sejarahnya Rayyendra Putra Pradipta terlambat menghadiri rapat, terutama rapat evaluasi. Wajah Ramona langsung memerah, hatinya panas dan nafasnya memburu, sebab ia bisa memastikan keterlambatan ini ada hubungannya dengan kehadiran Litha, entah apa yang mereka perbuat.


Brakkkk ....


Mona menggebrak meja dan berdiri, semua kaget dan mata-mata mereka memandang heran. Dengan emosi suaranya meninggi, "Perihal apa yang membuat Tuan Presdir terlambat menghadiri rapat? Kalau diantara kita yang terlambat, dia bisa sangat murka, tapi sekarang siapa yang menelan ludahnya sendiri?"


Para petinggi tambah terkaget-kaget mendengarnya. Abyan menyipitkan mata, tajam menatap Mona.


"Apa perlu saya sebutkan perihalnya agar Bapak Ibu semua dapat memaklumi?"


Abyan menantang Ramona. Ramona mengepalkan kedua tangannya, ia sangat geram dengan laki-laki yang membuka status Litha sebagai istrinya di depan Si Resepsionis dan Pak Satpam.


"Bapak Ibu semua, mohon harap dimaklumi, Tuan Presdir kita saat ini sedang kedatangan is -- "


"Cukup...!!!" teriak Ramona histeris, jantungnya berdetak lebih cepat dengan emosi yang memuncak.


Semua makin riuh dan berspekulasi atas apa yang terjadi, apa yang membuat Ramona frustasi seperti demikian? Sebastian dari tempat duduknya mengode dengan lirikan matanya agar ia menjaga sikap dan tidak membuat malu di hadapan para direktur perusahaan.


"Baik, harap semuanya tenang. Kita beri waktu untuk Tuan Rayyendra menyelesaikan urusannya, kita tidak tahu seberapa penting urusan itu baginya. Video akan saya off kan dulu, 30 menit lagi video akan saya sambungkan kembali. Terima kasih." Suara Firza terdengar dari video, menskors rapat.


Sementara itu, Litha yang akan keluar melalui pintu utama kantor dikejutkan dengan suara pria yang memanggil nama depannya.


"Navia!"


"Kak Leon?"


Litha tidak menyangka ia akan bertemu dengan kakak tingkatnya semasa SMA, partner setia dimana setiap mengikuti lomba mewakili sekolah. Sampai-sampai mereka dijuluki Smart Couple sangking seringnya bersama mengikuti berbagai jenis lomba.


"Ku kira mataku yang salah, ternyata benar kau, Navia,"


"Benar ini Kak Leonanda? Ya ampun, Kaaakkk... ini pertama kali kita bertemu setelah Kakak lulus, kan?"


"Iya ... iya ... Kau masih sama seperti dulu, Via. Secantik bunga Lily putih."


Mata Litha membulat, ia menutup mulutnya tidak percaya, julukan yang diberikan teman-teman SMA-nya sudah ia lupakan, kini didengarnya lagi. Ia sangat menyukai bunga Lily berwarna putih dari dulu hingga sekarang. Wajah Litha kemerahan dengan gombalan masa lalu.


"Ah, Kakak bisa saja, hehehehe ... Oh, ya kenapa Kak Leon di sini?"


"Aku karyawan magang di sini." Leon menunjukkan ID Card yang bertuliskan Interns disertai nama dan foto.


"Oh ya? Sudah berapa lama?"


Lagi-lagi wajah Litha menampakkan ekspresi terkejut. Ia tidak sadar sepasang mata dari lift khusus presdir yang baru saja terbuka pintunya, melihat dengan pandangan tidak suka.


"Dua minggu lagi masa magang 3 bulanku berakhir, terus dievaluasi apakah aku akan menjadi karyawan tetap atau tidak. Tapi sejauh ini penilaian kinerjaku baik. Aku optimis bisa diterima."


"Wah, Kak Leon hebat, fresh graduate yang magang di kantor pusat Pradipta Corp., hanya orang-orang terpilih dan beruntung yang bisa mendapatkannya. Semoga nanti aku juga seperti Kakak."


🙋 Litha, apa kau lupa? Mengatakan Leon hebat karena magang di kantor pusat Pradipta Corp. sedangkan suamimu sendiri adalah pemilik perusahaan tersebut, eh, malah berharap bisa magang seperti kakak tingkatnya lagi. 🙋

__ADS_1


"Amin. Semoga Via, pasti itu bukan hal sulit bagimu. Tapi apa yang kau lakukan disini?" Leon menatap Litha heran, penampilannya tidak menunjukkan bahwa ia bekerja di kantor pusat dan juga kantor ini bukan kantor yang gampang dimasuki orang tanpa keperluan yang jelas.


"Eng ... eng ... Aku -- "


Kalimat gelagapan Litha terputus dengan seseorang yang memeluk pinggangnya dari samping.


"Dia disini untuk menemuiku."


Leon terkejut bukan main, Sang Presdir yang tidak pernah ia lihat secara langsung kini berada di depannya dan apa itu? Tangannya memeluk pinggang Litha, meski Litha nampak tidak nyaman tapi Litha juga tidak marah, padahal setahu dia, Litha akan sangat marah jika bagian tubuhnya disentuh laki-laki.


"Eh ... Eh ... Ya, aku disini untuk menemuinya." Litha bingung mau menjawab apa lagi selain jawaban yang sama seperti Ray katakan sebelumnya.


"Kau, Leonanda Saputra, anak magang rupanya, heh!" tangan Ray satunya menyentuh ID Card milik Leon.


"Hah! Ternyata kau hanya anak magang toh!" bathin Ray mengejek.


"Iya, Tuan Presdir."


"Via, kenapa -- " sambungnya pelan tapi Ray paham maksud Leon ingin bertanya karena arah mata lelaki itu menuju pada pinggang Litha yang belum dilepaskan Rayyendra.


"Via? Siapa Via? Apa maksudnya Litha? Kenapa ia memanggilnya Via?"


"Kembalilah bekerja. Disini sangat tidak diperkenankan membuang waktu dan itu termasuk mengobrol di jam kerja. Dan ingat kau hanya anak magang!" ujar Ray arogan sekaligus memperingatkannya.


"Ba-- Baik, Tuan," kata Leon ketakutan, bagaimanapun juga ia berhadapan dengan puncak pimpinan kantor tempatnya bekerja.


"Dan kau juga kembalilah ke ruanganku, Istriku Sayang. Bukankah aku belum mengizinkanmu pulang?"


"Apa!!! Kau menyebutku apa tadi di depan Kak Leon. Hei, apa kau masih waras, Tuan Muda?" (Litha)


Rayyendra menuntun Litha dengan tangan yang masih di pinggangnya ke lift, kembali ke ruangannya. Si Resepsionis yang dari tadi melihatnya kini semakin yakin dan tak terbantahkan bahwa Litha adalah Nyonya Mudanya.


Setelah pintu lift tertutup, Litha dirapatkan Ray ke dinding, kedua tangan Ray di dinding lift mengurung tubuh Litha. Manik mereka saling bertatapan dari jarak yang begitu dekat.


"Ke-- Kenapa?" tanya Litha gugup.


"Apanya?" Ray malah balik bertanya, mereka masih saling bertatapan.


"Kenapa kau mengatakan aku istrimu di depan kakak kelas SMA-ku?"


"Oh, ternyata dia lelaki masa lalumu. Dia bukan apa-apa disini." Jawaban Ray tidak nyambung dengan pertanyaan Litha.


"Kau belum menjawab pertanyaannku?"


"Karena kau kan memang istriku, apa aku salah mengatakannya di depan orang lain?"


Sssssshhhhhhh ....


Sesuatu yang berhembus melewati relung hati Litha, mengapa hanya jawaban seperti itu mampu menembus hatinya? Litha tidak bisa berkata-kata lagi. Jawaban Ray mengunci mulut Litha.


"Terima kasih." kata Ray, terdengar sangat halus di telinga Litha.


"Terima kasih telah meluangkan waktumu membantuku mengantarkan laporan itu." sambung Ray masih dengan posisi yang sama.


"Apa ini? Mengapa yang ia ucapkan barusan terdengar tulus?"

__ADS_1


Jantung Litha berlari-lari keluar lintasan, ia tidak dapat menguasai apa yang ia rasakan saat ini, wajahnya terasa menghangat. Ciuman suaminya kini terasa lembut di bibirnya dan terasa manis di mulutnya. Litha menutup matanya, membiarkan sesuatu bukan miliknya yang ada di dalam mulutnya bergerak aktif.


Tidak ada penolakan, hanya kedua telapak tangan Litha yang menempel kuat di dinding lift, menahan gejolak dalam hatinya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan Ray sudah berpindah ke leher Litha, memutar sedikit kepalanya agar mendapatkan posisi yang pas. Sedikit memberi ruang untuk mengambil nafas dan ia melanjutkan kembali ciumannya.


Ting......


Pintu lift terbuka, spontan mata Litha terbuka lebar. Wajahnya merah menahan malu, aksi Ray menciumnya kali ini dipergoki Pak Andi, salah satu penjaga lantai Presdir. Pria bertubuh kekar itu langsung membalikkan tubuhnya karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.


Rayyendra terkekeh melihat Litha yang mengelap bibirnya dan bergumam dalam hatinya, "Bubur polosmu kini sudah ada topingnya, hehehehehe .... terasa lebih nikmat."


"Tunggulah di ruanganku. Aku harus segera ke ruang rapat, rapatnya tertunda karenamu."


"Karenaku? Memangnya apa yang aku lakukan?" Litha hanya bisa protes dalam hati.


"Pak Andi dan Pak Gito, tolong jangan biarkan istriku turun dari lantai ini dan jangan biarkan siapapun menginjak lantai ini selain Asisten Yan dan Sasha."


"Siap, Tuan."


"Istri? Aku diakui istrinya juga di depan mereka. Tuan, kuharap kau jangan memekarkan kuncup bunga-bunga di hatiku."


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Maaf, rapat tertunda karena ada yang harus saya selesaikan. Kita bisa memulainya sekarang, sambungkan video dengan Wakil Presdir sekarang," ujar Ray begitu ia duduk di kursinya.


Tidak ada satupun yang membantah, tanpa terkecuali, Ramona pun hanya bisa menunjukkan kekesalannya dengan memasang muka cemberut, tapi Ray sama sekali tidak peduli. Ia fokus pada laporan evaluasi masing-masing perusahaan dibawah Pradipta Corp.


Setelah semua direktur menyampaikan laporannya, kini laporan dari tim khusus audit yang langsung dibawakan oleh Firza selaku Pejabat yang berwenang membawahi bagian audit di Pradipta Corp.


Satu per satu indikasi kecurangan yang dilakukan di PT. Pradipta Jaya Coal dibuka secara transparan di depan peserta rapat. Berbagai mark up dari pembelian belanja modal, biaya operasional rutin, ekspor ke luar negeri hingga pengurangan paksa upah dan jatah makan yang seharusnya diterima para pekerja di camp dikuak Firza dengan gamblang.


Sebastian Riguna, satu-satunya orang yang bertanggungjawab disitu tidak dapat mengelak karena laporan tersebut disertai bukti-bukti dan saksi. Korupsi yang dilakukannya mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan dan nilai kerugian tersebut membuat semua tercengang tidak percaya bahwa Sebastian mengambil keuntungan dengan begitu rakus.


Ramona yang buta sepak terjang ayahnya hanya bisa menahan malu tiada terkira. Mengapa ayahnya setamak itu? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya. Ia sudah kehilangan muka di depan Rayyendra. Bahkan Reyyendra pun tidak meliriknya sama sekali.


"Tuan Sebastian selaku direktur PT. Pradipta Jaya Coal dan beberapa orang karyawannya yang terlibat, akan menghadapi sidang disiplin dalam tiga hari ke depan. Persiapkan diri Anda."


Ray menutup rapat dengan pengumuman yang membuat siapapun bergetar. Suaranya datar namun tegas, pandangannya tajam dan auranya dingin tak tersentuh. Suasana ruang rapat ribut penuh dengan bisikan-bisikan setelah Presdir meninggalkannya dan video Wakil Presdir berakhir.


Masih teringat jelas dua hari sebelum rapat dilaksanakan, Rayyendra menerima email dari Firza yang berisi laporan penyidikan intens dari tim audit yang dibentuk langsung olehnya. Begitu Ray memeriksanya dengan teliti, ia menelepon Firza yang berada di London.


"Fir, apa laporan ini sudah fix?"


"Ya, kau bisa lihat seberapa besar kerugian yang ditimbulkan. Laporan ini bukan saja hanya berdasarkan data tapi juga ada bukti dan saksi, bahkan kalau kita laporkan ke pihak berwajib dia bisa masuk penjara."


"Kapan kau akan merilisnya?"


"Di rapat evaluasi, dua hari lagi. Aku tahu pasti ini akan mengganggumu tapi jika kau tidak mengambil tindakan, maka kau akan membiarkan kanker dalam Pradipta Corp semakin meluas. Hanya kau yang bisa menghentikannya."


Ray agak lama terdiam.


"Maaf Ray, aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu dengan Ramona, ini murni profesionalitasku sebagai Wakil Presdir. Tolong kau lihat kasus ini tanpa memandang Ramona, cukup satu kali kau ampuni Sebastian. Kalau kali ini kau mengampuninya lagi, nama besar Pradipta Corp. akan dipertaruhkan."


"Baik, akan aku pertimbangkan."


Ray menghela panjang nafasnya setelah menutup sambungan telepon. Ia sangat sadar bahwa ia harus mengambil tindakan keras terhadap Sebastian, meskipun ia ayah Ramona sekalipun. Prinsipnya dalam berbisnis sudah pernah ia patahkan sendiri, jika kali ini mengambil langkah yang sama seperti kemarin maka ia bukan mematahkan lagi prinsipnya, tapi menginjak-injaknya sendiri dan itu sangat memalukan, karena harga dirinya ada disitu.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2