Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Perang (Part 3)


__ADS_3

** Meja Ramona **


Setelah Ray menyilakan Ramona untuk duduk, ia pun juga duduk, berhadapan dengan Ramona, sekilas ia melirik ke meja istrinya, ia tengah memesan sesuatu pada pelayan.


"Ray, kenapa kau bisa menghamili Litha? Aku tahu ia istrimu. Tapi pernikahan kalian kan, hanya kontrak yang sebentar lagi akan berakhir."


Ray diam saja. Ia biarkan dulu Ramona mengeluarkan isi hatinya.


"Kau begini karena anak itu kan? Anak yang ada di dalam perutnya. Itu hanya rasa tanggungjawabmu saja."


Ray masih diam. Perhatiannya agak terpecah dengan seorang pria asing yang mendekati meja istrinya dan mengajaknya berbincang.


"Ray! Kau dengar aku tidak sih!"


"Aku mendengarmu. Selesaikan bicaramu, baru giliranku. Aku tidak suka saling berdebat." jawab Ray datar, ekor matanya masih mengawasi meja istrinya.


"Apa kau yakin anak yang ada di dalam kandungan Litha adalah anakmu? Kudengar gosipnya sebelum menikah denganmu ia menjadi simpanan pria tua hidung belang."


Mona mengatakannya dengan gamblang, inilah yang dianggapnya senjata yang dia bawa. Dia sudah menembakkannya dan pasti Ray akan jijik pada istrinya sendiri. Menjajakan tubuh pada pria tua hidung belang hanya demi uang tidak akan mungkin bisa ditolerir Rayyendra. Akibatnya Ray akan segera menceraikan Litha. Ramona senyum-senyum sendiri membayangkannya


"Apa yang bule itu lakukan? Kenapa dia malah ikut memesan minuman. Kalau tahu begini mending kusuruh Abyan yang duduk menemaninya," bathin Ray.


"Ray! Kau benar-benar tidak mendengarku rupanya."


"Tidak. Aku mendengarmu. Sudah kubilang aku akan gantian bicara pada giliranku."


"Aku masih menyayangimu Ray. Tidak masalah kalau kau akan bercerai menunggu anak itu lahir, sampai kapanpun aku akan sabar menunggumu," ujar Ramona pelan, seolah-olah dia yang menjadi pihak lemah yang dikorbankan dalam suatu hubungan.


"Mona ... " Ray mengambil suara.


"Aku tidak akan pernah bercerai dengan istriku. Dia sedang mengandung anakku, aku tahu pasti itu darah dagingku sendiri dan aku tidak perlu membuktikan apapun. Maafkan aku, tapi aku mohon Mona, jangan menungguku, hiduplah dengan bahagia."


"Tidak! Kau sedang menguji cintaku kan? aku tidak bisa melepasmu. Kau hanya kasihan pada anaknya saja. Kalian hanya menjalani pernikahan berdasarkan kontrak." Ramona masih menyangkal.

__ADS_1


"Aku sudah menghapus kontrak itu, Ramona. Sekarang pernikahan kami bukan pernikahan kontrak, aku mencintai Litha begitu juga sebaliknya."


Berkali-kali Ray mengatakan hal yang sebenarnya, tapi berkali-kali juga Ramona menolaknya.


"Aku tahu kau masih cinta padaku Ray. Aku akan sabar menunggu. Kau tidak perlu khawatir."


Ray jengah dengan penolakan Ramona yang tidak mau menerima kenyataan.


"Litha sudah memiliki hati dan hidupku, kau jangan hidup dengan harapan kosong, itu akan membuatmu gila."


"Aku memang sudah gila. Aku terila-gila padamu, Ray! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Lebih baik aku mati daripada aku tidak bersamamu."


Seperti biasa Ramona mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Ray menolaknya dan biasanya juga Ray akan luluh tapi tidak kali ini, ia sudah punya alasan kuat untuk tetap menolaknya, alasan itu yang kini tengah membuatnya gelisah diam-diam memperhatikan meja lain.


"Terserah apapun yang mau kau lakukan, Mona. Aku tidak akan merubah pendirianku dan ini terakhir kalinya kita membahas hubungan pribadi kita. Antara kita sudah tidak ada hubungan apapun selain hubungan kerja. Kau bisa tetap bekerja dengan baik dan temukan jodoh yang baik untukmu. Aku permisi Ramona, Hiduplah dengan bahagia walau tanpaku, kau pasti bisa."


Ray rasa tidak perlu jawaban Mona karena tetap pasti ia akan tetap keukeh juga dengan maunya. Ray berdiri meninggalkannya dan menuju meja istrinya.


Ramona kecewa dan sakit hati dicampakkan oleh Ray. Dimana Rayyendra yang selalu membujuknya jika ia marah? Dimana Rayyendra yang akan selalu mengatakan, 'lakukan apa maumu' dan selalu mendapat dukungannya. Airmata Ramona jatuh, kali ini Ray benar-benar pergi meninggalkannya, tapi tetap saja ada sisi hatinya yang berkeras menyatakan Ray harus ia miliki, atau jika tidak ia miliki, maka wanita lain pun tidak akan bisa memilikinya juga.


Ray berjalan mendekati meja Litha, tempat dimana istrinya yang tengah berbincang seru dengan Si Bule.


"Sayang, dengan siapa kau bicara?" tanya Ray dengan nada tidak suka begitu berada di samping istrinya.


"Aku juga baru bertemu dengannya sekarang, Mas." jawab Litha. Tatapan penuh tanya dari pria bule di depannya. Litha langsung saling mengenalkan dalam bahasa inggris.


*"Tuan Laurent, ini suami saya, Tuan Pradipta, dan Mas ini Tuan Laurent."*


Litha menyebut Mas dalam bahasa inggris dengan 'honey'. Andrew kaget, ia tidak menyangka Litha adalah wanita yang sudah menikah.


*"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Pradipta. Saya tidak tahu kalau Nona Litha ternyata seorang Nyonya."*


*"Ya, dia adalah Nyonya Pradipta dan sebentar lagi kami akan memiliki seorang anak,"* ketus Ray.

__ADS_1


Wajah Andrew terlihat pias mendengarnya, baru saja ia menyukai seorang gadis pribumi namun ternyata wanita itu bukan wanita yang bisa ia sukai karena sudah bersuami.


"Katanya kau mau mengawasiku, nyatanya malah asyik sendiri dengan orang asing," omel Ray kesal.


Litha cengengesan, ia tahu ia melanggar niatnya sendiri. Untuk mengalihkan pembicaraan dia bertanya, "Urusan Mas dengan Ramona sudah selesai? Apa Mas akan menemuinya lagi?"


"Tidak. Kecuali dalam urusan pekerjaan karena dia masih salah satu direktur Pradipta Corp."


Litha mengangguk paham. Andrew yang merasa kecewa karena baru mengetahui status Litha yang sebenarnya langsung berdiri dan pamit.


*"Tuan dan Nyonya Pradipta, sepertinya ada urusan yang akan kalian selesaikan. Saya tidak ingin mengganggu kalian. Saya mohon pamit."*


Karena dipamiti, Litha berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat. Betapa tercengangnya Andrew ketika Litha berdiri, ia melihat perut Litha yang membuncit, bukti bahwa apa yang dikatakan suaminya benar, mereka sedang menantikan kelahiran buah hati.


Ray tersenyum sinis melihat wajah Si Bule yang terkejut, tapi Andrew pria yang berkelas, ia bisa langsung menguasai diri kembali dan senyum sinis Ray ditangkap jelas oleh Andrew.


*"Senang bertemu Anda, Nona Litha. Semoga kita dapat bertemu lagi,"* ucap Andrew tersenyum hangat memberikan tangannya untuk dijabat Litha.


Namun sebelum Litha membalas jabatan tangannya, Ray dengan cepat mengambil tangan Si Bule menggantikan istrinya berjabat tangan.


"Bule brengsek! Sebelumnya ia menyebut Nyonya Pradipta, tapi kenapa sekarang malah ia menyebut Nona Litha, kau anggap aku apa, hah!!!"


Ray menjabat sekeras mungkin tangan Andrew sembari tersenyum palsu, Andrew tidak mau kalah, ia juga menjabat tangan Ray dengan menguatkan jabatan tangannya.


*"Kenapa bisa wanita se-elegan Litha mendapatkan suami seperti ini."* Andrew membathin.


Selagi mereka masih mengeratkan jabatan tangan masing-masing yang membuat Litha terheran-heran, Ramona datang ke arah mereka dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung lagi, hingga ia berdiri tepat di hadapan Litha.


"Kau kira kau hebat bisa merebut Ray dariku, hah! Dasar ja*ang!"


Plakkkk !!!


Ramona menampar keras wajah Litha. Tamparan dengan sekuat tenaga karena terbawa emosi. Ia luapkan kemarahannya dengan sebuah tamparan yang mendarat di pipi mulus hingga sudut bibir Litha pecah dan mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Tentu saja Litha kaget ditampar keras seperti itu, seumur-umur dia tidak pernah merasakan ditampar orang, ternyata tamparan itu rasanya perih. Litha meringis memegang pipi kirinya, dan merasai asin dari sudut bibirnya.


- Bersambung -


__ADS_2