Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Sesal


__ADS_3

# Rumah Utama Keluarga Pradipta #


Litha memasuki rumah yang mempunyai kesan mendalam buatnya. Rumah ini sama sekali tidak berubah sejak ia menyeret kopernya dari gudang dan keluar meninggalkan rumah milik suaminya


Sore ini, Pak Is dan semua pelayan rumah utama menyambutnya dengan terharu, terutama ketika mereka melihat perut Litha yang terlihat membuncit di balik dress selututnya. Seandainya saja Pak Is perempuan, mungkin Litha sudah memeluknya, mengingat larangan suaminya ia urungkan niatnya itu


"Selamat datang, Nyonya. Akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan Nyonya, dan lihat betapa cantiknya Nyonya sekarang setelah mengandung," kata Pak Is menyambut Litha dengan antusias, seperti seorang ayah yang lama tidak melihat putrinya.


"Terima kasih pujiannya Pak Is. Bukankah seorang wanita yang telah bersuami makin cantik jika suaminya selalu membahagiakan istrinya?"


"Manis sekali, Sayang. Kau membuatku ingin segera ke kamar," kata Ray sembari mencium pelipis Litha, sedangkan tangannya diam-diam mere*mas lembut bokong Litha.


Mata Litha terbelalak, wajahnya kembali memerah, entah sudah berapa kali hari ini wajahnya memerah karena suaminya. Pak Is dan semua pelayan yang belum terbiasa dengan sikap Tuan Muda begitu terkejut. Abyan dan Pak Sas hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ke kamar?" tanya Litha, jantungnya berdetak lebih cepat.


"Mati aku! Belum juga malam sudah mau menghabisiku, huaaaaa .... bakal berasa panjang ni malam."


"Tentu saja," kata ray dan mencium pelipisnya lagi.


"Nanti setelah menyiapkan makan malam, tidak usah memberitahu kami di kamar. Kami akan turun sendiri nanti. Oh iya, Pak Is, sudah dilaksanakan kan, permintaanku dua hari yang lalu?"


"Su-- sudah Tuan. Ta-- " sahut Pak Is terbata-bata, namun belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya, Ray sudah memeluk pinggang Litha dan berlalu dari hadapan para pelayan.


"Terima kasih, Pak Is," ujar Ray mulai menaiki anak tangga.


"Mas menyuruh Pak Is ngapain?" tanya Litha yang pinggangnya masih dipeluk Ray.


"Nanti kau akan melihatnya."


*


*


*


"Ada masalah, Is?" tanya Pak Sas setelah memberi isyarat pada para pelayan untuk kembali ke tempatnya masing-masing.


"Tidak, tidak ada. Hanya saja aroma cat masih tercium di kamar Tuan. Kau bisa bayangkan, Sas, ruwetnya merenovasi kamar Tuan Muda dalam 2 hari. Hhhmmmppfffhhh .... Apa Tuan Muda tidak bisa berpikir aku diberi tugas untuk merenovasi kamarnya dalam 2 hari bagaimana menghandlenya, belum perabotannya juga diganti semua. Sampai kemarin rumah ini begitu sibuk," keluh Pak Is dan menghela nafasnya panjang.


"Dia sudah tidak bisa berpikir dengan akal sehatnya selama ia berada di dekat Nyonya Muda. Pikirannya seakan mentok kepentok tembok. Paman, aku ke dapur belakang dulu, mencari makanan, perutku lapar dari tadi melihat laki-laki mesum," pamit Abyan sambil berlalu yang menyisakan tawa Pamannya dan Pak Is.


"Apa Tuan Muda disana tiap hari tingkahnya seperti tadi?"


Pak Sas mengangguk, "Sebentar lagi kau akan terbiasa dengan sikapnya ke Nyonya, karena sebenarnya Tuan Muda tidak berubah, dia hanya berubah ketika ketika berhadapan dengan Nyonya."


"Sas, kau tahu, aku sangat bahagia sekali ketika Prasojo mengatakan niat Tuan Muda untuk menceraikan Nyonya tidak lagi ditangguhkan tapi dibatalkan. Dan sekarang melihat mereka berdua penuh cinta, Ya Tuhaaaannn .... kenapa aku jadi terbawa perasaan begini?!? Dari tadi aku menahan rasa bahagiaku, Sas. Melihat Nyonya hamil dan Tuan Muda mencurahkan kasih sayangnya penuh cinta seperti menghapus rasa bersalahku di malam itu yang membuat Nyonya di-- "


Dughhh ...


Sasmita memukul pundak Iskhak, "Jaga bicaramu!"


Pak Is langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, rasa bahagia tiada terkira membuatnya kelepasan bicara.

__ADS_1


"Walaupun Nyonya sudah mendapatkan cinta Tuan dan mereka saling mencintai, itu tidak akan menghapus rasa bersalahku, Is. Aku melihat sendiri bagaimana Nyonya bertahan dari kesedihan yang menderanya sebelum Tuan datang dan meminta maaf pada Nyonya. Bahkan Nyonya nyaris kehilangan bayinya."


"Apa?!? Nyonya hampir keguguran?" Pak Is melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Ceritanya panjang, Is. Yang jelas Nyonya Muda punya riwayat nyaris keguguran yang mengharuskannya bedrest di rumah sakit selama lima hari, syukurlah janin Nyonya yang waktu itu sangat muda bisa diselamatkan. Makanya Tuan Muda sangat menjaganya, kau harus mengatur asupan gizi Nyonya seperti yang ada di file yang ku kirimkan kemarin. Nyonya Muda sekarang sangat suka makan dan porsinya banyak. Kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan, Is?"


"Tenang saja, Sas. Pengaturanku terhadap apa yang dikonsumsi Keluarga Pradipta sangat baik, buktinya aku bisa membuat program kehamilan buat Nyonya Muda tanpa diketahui dan akhirnya hanya dengan seka-- "


Dughhh ....


Sekali lagi Sasmita memukul pundak Iskhak untuk menghentikan kalimatnya.


"Maaf, Sas," ucap Iskhak nyengir.


"Bagaimanapun juga, aku harus tetap mengakui dosa itu sebelum aku dikubur, agar di dalam tanah aku bisa tenang. Tapi entah kapan, aku masih sangat malu menatap mata Nyonya yang begitu teduh. Aku yakin ia akan memaafkan kita, tapi justru karena itulah yang semakin menciutkan nyaliku."


Sasmita mengusap kasar wajahnya. Masih terlintas jelas pertama kali saat ia mengantar Litha pulang ke kostnya dengan wajah ketakutan karena telah menabrak Nyonya Besar, pernah ketika ia mendapati matanya yang berbinar, tanpa sungkan ia bercerita bahwa Vania meraih peringkat umum di sekolahnya, pernah juga kesedihan yang begitu terlukis di raut wajahnya mendengar kesehatan ibunya tidak kunjung membaik, ekspresi mencebik sewaktu menceritakan gosip di kampus bahwa Litha menjadi simpanannya dan mata yang membulat setiap mendengar kejutan-kejutan yang diberikan Nyonya Besar untuknya.


Interaksi Pak Sas dan Litha sesungguhnya terjalin erat, Litha sangat santai berbicara padanya padahal ia juga sering tidak menanggapi, hingga Litha menjulukinya Bapak Robot. Tapi semua itu tidak menggerus hatinya sampai ia melihat kesedihan Litha ditinggal ibunya disertai kekecewaan yang begitu mendalam dan rasa putus asa yang terpancar jelas di matanya. Sasmita, yang dikenal manusia tanpa ekspresi dan Bapak Robot bagi Litha, untuk pertama kalinya ia menyeka sudut matanya diam-diam ketika Tuan Muda yang dijaganya sejak lahir berlutut menghiba dan memohon kesediaan hati Litha untuk kembali bersamanya, yang setahunya, Tuan Muda tidak pernah melakukan hal itu dalam hidupnya.


Iskhak menepuk pundak Sasmita. Ia juga merasakan yang sama, baginya Litha pembawa keceriaan bagi rumah utama yang telah lama kehilangan kehangatannya. Ia mampu menghadirkan kembali tawa Nyonya Besar, Firza maupun Rayyendra, tak heran ia juga merasa bersalah membuat Litha digagahi suaminya sendiri malam itu.


"Sudahlah, Sas, yang penting sekarang Nyonya Muda dan Tuan Muda bahagia, apalagi akan ada bayi lucu diantara mereka."


Pak Sas tersenyum, ia mengangguk dan setelahnya terdengar suara langkah kaki yang turun dari lantai atas menuju mereka.


*


*


*


"Mas menyuruh Pak Is ngapain?" tanya Litha yang pinggangnya masih dipeluk Ray.


Ceklek.


Seketika mata Litha membulat sempurna melihat kamar yang dulu ia tempati selama pernikahan kontraknya sangat berbeda. Mulai dari furniture, tata letak perabotan, cat bahkan ditambah foto pernikahannya berukuran sedang dipasang di dekat TV di depan sofa. Hanya satu yang masih sama, TV lift Cabinet yang berada di ujung ranjang, tempat Litha menonton drama favoritnya dan juga merupakan benda pemberian pertama Ray sejak mereka menikah.


"Kok berubah, Mas?"


"Aku sengaja menyuruh Pak Is mengubah semuanya kecuali TV lift Cabinet yang paling kau sayangi."


"Tapi-- kenapa?"


Litha masih takjub karena perubahan kamar yang ke arah seleranya. Dinding berwarna pearl white yang hangat dan memberikan kesan luas, ranjang dengan desain minimalis berwana putih dengan nakas berwarna coklat susu, sofa yang berwarna krem dilengkapi bantal berwarna coklat tua. Karpet berbulu lembut berwarna coklat susu, senada dengan gordennya. Semuanya terasa lebih hangat ketimbang sebelumnya yang didominasi warna hitam keabu-abuan, warna favorit Rayyendra.


"Untuk menghilangkan trauma-mu. Aku tidak ingin kau mengatakan lagi bahwa kau trauma dengan kamar ini beserta isinya juga orangnya. Itu sangat menyakitiku, Lith... " Ray mengatakannya dengan tersenyum getir.


"Jadi-- Mas merubah semua ini demi aku?"


"Ya. Demi istriku, semuanya aku rubah sesuai selera istriku. Aku ingin kau bahagia hidup bersamaku."


Litha langsung memeluk suaminya, menelusupkan wajahnya di dada Ray, menyesap aroma maskulin yang menenangkannya. Ray mengeratkan tangannya ke pinggang Litha, mencium pucuk kepalanya untuk beberapa saat. Ia memejamkan matanya, menghirup oksigen di sekitarnya sedalam mungkin untuk menahan rasa bahagia yang menyeruak dalam dadanya.

__ADS_1


Litha mendongakkan kepalanya, menatap netra kecoklatan milik suaminya yang nampak sedikit basah.


"Semenjak Mas berlutut memintaku kembali. Disitu aku merasa bahagia, Mas bisa menurunkan ego dan gengsi Mas hingga di titik terbawah hanya demi aku, istri kontrakmu, tapi bukan hanya karena aku hamil anakmu, kan?"


Dikecupnya bibir Litha, "Tentu saja tidak, Sayang. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Abyan bagaimana aku saat kau pergi dari rumah ini."


Ray mengurai pelukan mereka, kemudian mengusap pelan perut Litha, "Dan kehamilanmu ini adalah hadiah terindah buatku karena dia yang membuatku berani untuk berlutut padamu, dia membuatku lebih berjuang untuk mendapatkan hatimu."


"Huh, aku juga heran, kaget dan tidak menyangka, baru sekali kenapa aku bisa hamil? Ini benihnya yang terlalu unggul atau lahannya yang sangat subur."


Ray tergelak keras mendengar bibit unggul yang ditanam di lahan yang subur. Gemas sekali ia melihat istrinya.


"Baru sekali apa?"


Ray mendekatkan wajahnya di telinga Litha hingga nafas hangatnya membuat Litha meremang, ia memang sedang menggoda Litha. Tapi yang ada Litha malah mendengus-denguskan hidungnya.


"Mas, kapan kamar ini di renovasi?"


Ray mengernyit heran, godaannya tidak mempan, perhatian Litha malah teralihkan dengan yang lain.


"Dua hari lalu, setelah kau mendapat ijin naik pesawat dari dokter."


"Pantesan saja, masih ada aroma catnya. Aku tidak suka. Ajaib banget Pak Is melakukan semuanya dalam 2 hari. Bagaimana caranya? Tapi kita sementara pindah kamar lain saja ya, Mas?"


"Aku tidak bisa tidur selain di kamarku sendiri atau apartemenku, kecuali hotel."


"Ya sudah ke apartemenmu saja, yang waktu itu kita buat perjanjian kan?"


Ray tersenyum tipis, ia baru mengingat salinan asli perjanjian mereka ada disana. Sejak Litha menantang arogansinya setelah malam itu, surat perjanjian itu disimpan di apartemennya karena ia tidak ingin melihat bentuk surat itu. Ia juga tidak menitipkan pada Pak Prasojo karena tidak ingin disimpan orang lain juga.


"Kenapa?" tanya Litha membuyarkan lamunan Ray.


"Ah, tidak. Kalau begitu sekarang saja kita kesana. Aku tidak sabar menghabisimu."


Litha terkesiap, badannya mematung. Ia lupa niat Ray dari dalam pesawat.


"Salah bicara aku! Seharusnya aku tidak mengajaknya ke apartemen, cukup di kamar lain di rumah ini saja," gumamnya yang diiringi gelak tawa Ray, lalu mereka berdua turun menuruni tangga.


*


*


*


"Pak Sas, aku bawa mobil sendiri saja. Masukkan saja kembali koper kami. Kami sementara akan menginap di apartemenku karena Litha tidak suka bau cat." perintahnya pada Pak Sas.


"Baik, Tuan."


"Oh iya, Pak Is. Karena kami tidak tidur disini tidak usah memasakkan kami makan malam. Aku hanya minta bahan makanan untuk aku masak di apartemen," kata Litha yang diangguki Pak Is dan langsung bergegas menyiapkan apa yang diminta Nyonya Mudanya.


"Pak Is, kalau melihat Asisten Yan, katakan padanya agar besok pagi menjemputku di apartemen."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Jemari Litha di genggam erat suaminya menuju ke mobil, sangat erat hingga tidak akan ada yang bisa memisahkan genggaman jemari tersebut kecuali salah satu dari pemilik jemari itu melepaskannya.


- Bersambung -


__ADS_2