Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Terngiang-ngiang


__ADS_3

Litha sudah duduk di kursi roda, ia diperbolehkan pulang hari ini. Ray mendorongnya dengan perlahan, dalam pikirannya masih terngiang-ngiang ucapan dokter sebelumnya.


'Tuan Muda, harap mengerti agar sementara tidak menimbulkan gerakan dalam rahim Nyonya Muda secara berlebihan dulu, termasuk hubungan suami istri. Karena gerakan dalam berhubungan suami istri riskan untuk janin Nyonya Muda yang masih rentan.'


"Heh. Memangnya aku semesum itu apa? Selama menikah pun baru sekali menyentuh istriku, bibitku saja yang terlalu berkualitas jadi tumbuh subur dalam rahim Litha." Ray mengomel dalam hati karena dinasehati dokter untuk sementara tidak dulu berhubungan se* dengan istrinya.


"Mas, ayo jalan! Kita udah ketinggalan jauh sama Asisten Yan dan Pak Sas," ujar Litha menyadarkan Ray yang berhenti mendorong karena sedang melamun.


"Eh, iya, iya." Ray langsung berjalan lagi.


"Ada yang kau pikirkan? Apa masalah pekerjaan?" tanya Litha.


"Tidak."


"Lalu kenapa Mas berhenti dan melamun?"


"Sayang, apa wajahku ini wajah mesum?" Bukannya menjawab, malah Ray balik bertanya ke istrinya dengan pertanyaan aneh.


"Hah! Apa?!?" Litha tergelak keras.


"Ah, sudahlah. Dasar dokter sialan itu mengganggu pikiranku saja."


Litha masih saja tergelak membayangkan bagaimana wajah suaminya kalau mesum, kalau memaksanya sih pernah.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Di pemakaman umum tempat Ibu Litha beberapa hari lalu dimakamkan.


"Kuburannya masih basah, Mas. Awas pakaianmu nanti kotor." Litha berjalan perlahan dituntun suaminya ke pusara almarhumah.


"Pindahkan saja makam ibumu, Sayang, kalau begini tempatnya."


"Gak apa-apa, Mas. Memang begini pemakaman di kampung, lagian tempat ibu pas di samping Ayah."


"Pelan-pelan." Ray mengingatkan istrinya kalau kondisinya masih belum pulih benar.


Abyan dan Pak Sas menunggu di samping mobil, hanya Ray dan Litha yang ke pusara Ibu.


"Ibu, aku datang. Kali ini tidak sendiri, ada Mas Rayyendra yang menemaniku. Lihat, aku memanggilnya Mas, sama dengan Ibu memanggil Ayah." Litha berkata pada nisan yang berdiri tegak di atas pusara.


Ray yang mendengarnya merasakan ada haru yang menyeruak dari sanubarinya.


"Maafkan saya, Bu, tidak sempat mengantar Ibu ke peristirahatan terakhir."


Kalimat Ray berhenti, seketika ia ingat apa yang Vania katakan, 'minta maaf sama orang yang sudah meninggal siapa yang jawab?'


"Kenapa Mas?" Litha menyadari diamnya sang suami.


"Tidak. Tidak ada apa-apa, aku hanya ingat saat Ibu memintaku menyatakan perasaanku padamu waktu kita meminta restu Ibu."


Wajah Litha langsung memerah, ia malu mengingatnya. Mengucapkan mencintai pada calon suaminya dengan lantang, meski saat itu mereka tengah bersandiwara.


"Aku mencintai Litha. Dia adalah wanita terpilih untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Dan sekarang kami sudah memilikinya di dalam perut Litha. Aku akan membahagiakannya, aku akan membuatnya selalu tersenyum apapun caranya. Terima kasih telah merestui pernikahan kami waktu itu, Bu."


Ray menundukkan kepalanya dalam. Litha menitikkan air mata haru. Ia merasa sangat diperlakukan istimewa oleh suaminya. Kemudian Ray menggeser badannya diikuti istrinya hingga berada tepat di depan pusara mendiang ayah mertuanya, masih menunduk dalam.


"Terima kasih Ayah telah menghadirkan wanita sebaik ini di dunia, dan ditakdirkan Tuhan untuk menjadi belahan jiwaku. Aku akan meneruskan tugasmu, menjaga dan melindungi Litha dengan sekuat tenaga. Tidak akan pernah ia terluka lagi meski hanya goresan samar."

__ADS_1


Ray menarik kuat nafasnya sebelum menghembuskan dengan sekali hembusan.


"Ayah, Ibu, aku mencintai anakmu dengan hidupku. Meski kalian tidak melihat langsung, aku yakin kalian akan berbahagia untuk kami. Kami akan selalu mendoakan untuk Ayah dan Ibu. Beristirahatlah dengan tenang."


Airmata Litha mengalir tidak berhenti mendengar suaminya berkata demikian. Ikrar di depan orangtuanya yang telah tiada dan hanya berbentuk gundukan tanah dengan nisa teronggok membuatnya semakin yakin bahwa ia telah memiliki cinta dan hati suaminya.


Litha memeluk tubuh tinggi suaminya terisak di bahunya. Ia tidak ingin apa-apa lagi. Ia sudah cukup bahagia memiliki Rayyendra seutuhnya, dengan suara tertahan diselingi isakan, ia berbisik.


"Aku juga mencintaimu, Rayyendra Putra Pradipta."


Kini, air mata suaminya yang luruh, ia dapat mendengar dengan jelas ungkapan cinta istrinya disertai nama lengkapnya yang juga ikut disebut. Dipeluk erat istrinya seakan tidak ingin berpisah lagi.


"Ibu, doamu sungguh naik mengetuk pintu langit. Tuhan membukakan hati suamiku untukku dan aku juga menerima suamiku dengan sepenuh hatiku. Terimakasih doamu, Bu." bathin Litha lirih.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Mobil yang dikendarai Pak Sas memasuki gerbang rumah mewah dan besar dengan satpam.


"Katanya kita pulang, kenapa kesini?" tanya Litha bingung.


"Ya, ini kita pulang, Sayang. Abyan sudah mencarikan kita rumah untuk kita tinggal di Kota A."


"Maksudmu bagaimana?" Litha belum puas dengan jawaban suaminya.


"Kamu tidak boleh berpergian jauh dulu sampai diizinkan oleh dokter baru kita pulang ke Ibukota. Jadi selama disini Abyan kusuruh menyiapkan rumah untukmu agar kamu nyaman tinggal di rumah."


Litha terdiam, matanya tetap tertuju pada bangunan besar berlantai dua yang didepannya sudah berdiri beberapa orang yang sepertinya akan menyambut mereka.


"Yan, apa tidak ada rumah yang lebih bagus lagi? Litha mungkin kurang menyukainya."


Ppppffffftttt....


Abyan dan Pak Sas menahan tawanya.


"Sejak kapan Tuan Muda Pradipta bisa tinggal di rumah kontrakan, Nyonya? Dan rumah ini Tuan Muda tidak menyewanya tapi sudah membelinya dan kami juga sudah mencarikan beberapa pelayan dan penjaga untuk rumah ini." Kali ini Pak Sas yang berkomentar.


Mata Litha terbuka lebar, dia menutup mulut dengan kedua tangannya, lalu melihat wajah suaminya yang agak kesal karena dikira menyewa.


"Beneran, Mas?"


Ray hanya mengangguk malas tanpa menjawab.


"Memang rumah ini tidak seperti mau Tuan Muda yang mirip dengan rumah utama karena mencari rumah seperti itu di Kota A tidak ada, ini saja kami harus membujuk pemilik rumah dengan harga dua kali lipat dari harga seharusnya. Rumah ini rumah terbesar dan paling mewah di kompleks perumahan ini," keluh Abyan yang merasa usahanya tidak dihargai. Dikira membeli rumah beserta isi dan pelayan yang baik itu bisa dilakukan dalam 3 hari apa?


"Mas, ini kompleks perumahan ter-elite di kota A, masuk kompleksnya pun baru kali ini." Litha masih takjub mendengarnya bahwa Ray membeli rumah mewah untuknya tinggal.


"Kau suka?" tanya Ray dingin.


"Tentu saja, Mas. Dulu setiap Ayah mengantar jemput sekolah pasti melewati daerah sini. Ayah selalu mengatakan, belajarlah yang rajin dan bekerjalah yang baik agar bisa memiliki rumah di kompleks ini. Ternyata Ayah salah."


"Kok?" tanya Ray bingung.


"Harusnya Ayah bilang menikahlah dengan orang kaya agar dibelikan rumah di kompleks ini. Hahahahahaha .... Ayo Mas, aku ingin melihatnya."


Tak pelak, Ray, Abyan dan Pak Sas tertawa mendengar alasan Litha. Tapi memang betul kan?


Ray mendorong kursi roda dan diperkenalkan dengan para pelayan yang akan membantu mengurusi rumah juga satpam yang menjaga rumah, meski sudah ada satpam kompleks, Ray ingin keamanan rumah lebih ketat.

__ADS_1


Litha tersenyum ramah dan menyalami satu persatu para pelayan yang berjumlah 6 orang, 1 orang kepala pelayan dan 2 orang satpam. Ini jauh lebih kecil dibandingkan jumlah pelayan dan penjaga di rumah utama.


"Kamar kita di lantai bawah biar istriku tidak naik turun tangga, juga Pak Sas dan Abyan. Masih ada 2 kamar kosong di lantai bawah dan 4 kamar kosong di lantai atas. Jadi kalau Paman dan Bibi juga adikmu mau tinggal disini silahkan saja," kata Ray sambil mendorong Litha di atas kursi roda menuju kamar tidur mereka.


"Pak Sas dan Yan, aku tinggal dulu ya," ucap Ray permisi dan dijawab dengan tundukan kepala mereka.


# Di dalam Kamar #


"Mas, apa ini tidak berlebihan?" tanya Litha khawatir begitu ia sudah duduk di ranjang.


"Tidak. Untuk istriku tidak ada kata berlebihan."


"Berapa yang Mas habiskan untuk semuanya?"


"Benar kau mau tahu?" Ray menggoda istrinya. Litha mengangguk.


"Jangan. Nanti matamu tidak bisa normal lagi setelah terbelalak kalau kusebut."


"Ishhh ..."


Ray berjongkok, mengusap perut Litha, lalu ia tersenyum.


"Nak, Ibumu ini harus belajar jadi Nyonya Besar biar tidak kelihatan norak. Semua yang Ayah miliki saat ini adalah milik ibumu, bahkan hidup Ayah pun sudah dalam genggaman ibumu. Ayah sudah tidak memiliki apa-apa lagi, semua sudah diambil ibumu, Ayah hanya disisakan tulang dan daging yang terbungkus kulit."


Ia menciumi perut Litha beberapa kali, Litha juga mengusap lembut rambut suaminya.


"Mas ... " panggil Litha.


"Ya." Masih dengan posisi yang sama, hanya netra keduanya yang saling bertemu.


"Terimakasih, Mas sudah membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini."


Litha mengambil wajah suaminya yang masih terhipnotis dengan pujian istrinya. Menempelkan perlahan bibirnya, merasai degupan jantungnya yang semakin cepat. Litha menutup matanya, meleburkan perasaan cintanya dalam pagutan pertama yang ia berikan pada suaminya dengan sukarela. Ray yang terkesiap membalasnya lebih dalam, dan lebih dalam lagi menyesap lum*tan istrinya, hingga ...


"Sayang, jangan ... "


Ray melepaskan ciuman istrinya, nafasnya memburu. Ia menutup matanya, mengatur nafasnya dan mengatur hasratnya yang sudah melingkupi dirinya, berusaha melemaskan sesuatu yang menegang.


"Ma-- maaf."


Litha tak enak hati, ia pikir ia sudah kelewat batas mencium suaminya duluan.


"Jangan marah ya, Mas. Aku tidak akan melakukannya lagi," sahut Litha menunduk, ia merasa bersalah sudah berbuat tak senonoh.


"Aku tidak akan marah, malah aku senang, kau sudah meyerahkan dirimu sendiri padaku, tapi .... ahhhh! kata-kata dokter sialan itu masih ada di kepalaku."


Ray mengumpat dalam hati, ekspresi yang terlihat, Ray sangat kesal. Litha jadi makin tak enak, belum apa-apa ia sudah membuat suaminya kesal.


Hormon ibu hamil yang membuatnya makin sensitif, celakanya Litha salah menerima kalau suaminya marah dan tidak suka perbuatannya barusan.


Air mata Litha sudah menggenang dan akhirnya jatuh di pipi. Sekarang Ray yang salah tanggap, ia mengira istrinya sedih karena ia melepas ciuman istrinya begitu saja. Tapi ia juga tidak bisa meneruskan, ia bisa benar-benar kehilangan kendali bahkan tanpa meminum alkohol.


Sekali lagi di kepalanya terngiang ucapan dokter 'gerakan dalam hubungan suami istri riskan untuk janin Nyonya Muda yang masih rentan'


Aaaarrrrgggghhhhhh ....


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2