Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Masa Lalu (Part 3)


__ADS_3

Rianti Maheswari, gadis pendiam yang murah senyum telah mencuri hati Edwin dan Sebastian. Dengan berbagai cara dan strategi mereka ingin mencuri balik hati Rianti, namun tidak semudah itu menarik simpati gadis berambut panjang nan legam.


Disuatu sore ketika pulang kantor dan menunggu angkot, hujan turun, Rianti tidak membawa payung karena di pagi hari berangkat kerja nampak cerah. Edwin juga tidak membawa payung dan tidak pernah membawa kendaraan pribadinya ke kantor.


Jika ada pewaris tunggal dari perusahaan besar yang paling bersahaja, maka Edwin Pradipta lah orangnya. Sejak mula bekerja di Pradipta Corp. dia memperlakukan dirinya setara dengan teman-teman lainnya yang memiliki kehidupan biasa, ia naik turun angkot atau bis, berjalan kaki, pakaian, tas dan sepatu kerjanya pun ia beli dari toko yang sama dengan teman sekantornya. Tidak ada yang tahu kalau ia Tuan Muda Pradipta kecuali bagian personalia.


Edwin lelaki yang hati dan pikirannya sederhana, seperti saat ia ikut menunggu angkot bersama Rianti. Antara tempatnya menunggu dan angkot berhenti berjarak sepuluh meter.


"Ayo!" ajak Edwin untuk berlari ke angkot.


"Terlalu jauh, Mas. Hujan lumayan deras dan bajuku berwarna terang, nanti bisa tembus pandang kalau kena air," ujar Rianti meragu.


Edwin berpikir sejenak, "Tunggulah kalau begitu disini."


"Apa yang akan Mas la-- "


Belum selesai Rianti bicara, Edwin sudah berlari dengan tasnya yang ditaruh di kepala. Ia nampak berdiri di samping pintu sopir, entah apa yang ia katakan sampai si sopir angkot memundurkan kendaraannya tepat di depan Rianti berdiri. Kini jarak antara Rianti dan angkot hanya satu meter.


"Naiklah. Bajumu tidak akan kuyup sekarang," ujarnya menahan dingin di tubuhnya.


Rianti tertegun, ada lonjakan detak di jantungnya. Pandangannya pada sosok lelaki yang sudah basah kuyup demi dirinya sudah menyentuh hati dan mencuri simpatinya. Ia tersenyum pada Edwin, senyum yang berbeda dari biasanya dan tidak pernah ia berikan sebelumnya pada orang lain. Edwin tahu, ia sudah berhasil merebut cinta Rianti.

__ADS_1


Sebastian yang pada akhirnya mengetahui jika Rianti menjatuhkan pilihan hatinya pada Edwin, sangat kesal. Begitu kesalnya sampai ia harus membuat keributan di divisi tempat Rianti bekerja.


"Rianti, apa alasanmu memilih Edwin daripadaku, hah? Apa dia seorang Pradipta? Dasar perempuan matrealistis! Seandainya aku yang seorang Pradipta pasti aku yang kau pilih kan?" tuding Sebastian di depan muka Rianti.


Rianti bingung apa maksud perkataan Sebastian, dilihatnya sekeliling ruangan, Edwin tidak berada di tempat, ia sedang keluar membelikan Rianti siomay yang ia pinta tadi.


"Apa maksud Mas Bastian?"


"Jangan pura-pura bodoh kau! Aku tidak bisa kau bodohi!"


Padahal Rianti memang tidak tahu apa-apa. Pradipta apa? Pradipta siapa yang dimaksud Sebastian? Yang ia tahu Pradipta itu nama perusahaan besar tempatnya bekerja.


Hingga akhirnya Edwin datang dan mengakui semua apa yang dikatakan Sebastian pada Rianti. Ada kecewa besar yang melukai hati gadis itu, ia tidak menyangka lelaki baik dan bersikap lembut padanya ternyata berbohong selama ini. Sebastian tersenyum senang, ia pikir ia berhasil membuat Rianti jatuh ke pelukannya karena membenci kebohongan yang Edwin lakukan.


"Baik. Aku akan menerimanya, Ed. Aku hormati keputusan Rianti menikahimu. Semoga kau dan Rianti bahagia," ucap Sebastian ketika Edwin memberitahukan perihal pernikahannya dengan Rianti.


"Terimakasih, Bas. Aku tahu, kita akan dewasa dalam mencintai seseorang. Semoga kau segera menemukan jodohmu."


Siapa bilang Sebastian rela melihat Edwin bersanding bahagia dengan Rianti? Ia hanya berpura-pura memainkan mimik wajahnya dengan raut haru bahagia. Akting Sebastian mengalahkan akting aktor penerima penghargaan di festival film tahunan.


Semua dapat dikelabui Sebastian dengan mudah, tapi tidak dengan Sasmita, sejak awal pertemuannya ketika masih dalam tawanan sindikat mafia perdagangan manusia, Sasmita sudah merasakan bahwa Sebastian penuh dengan kamuflase. Ia sangat pintar bersikap di depan Keluarga Pradipta tapi pernah suatu ketika ketahuan mengumpat Keluarga Pradipta di belakang.

__ADS_1


Tidak ada perintah dari Tuan atau Nyonya Pradipta untuk mengawasi Sebastian, tapi Sasmita diam-diam mengawasinya dan bisa memastikan bahwa Sebastian kemungkinan memiliki kepribadian ganda atau kedengkian yang terlanjur mendarah daging.


Tuan dan Nyonya Besar sangat bahagia mendapatkan menantu seorang Rianti, wanita lembut dan beretika baik. Nyonya Besar sangat menyayangi Rianti, hingga ia tidak memperbolehkan Rianti bekerja lagi dan menyuruh putranya, Edwin mengambil posisi Wakil Presiden Direktur di gedung kantor pusat Pradipta.


"Sudah saatnya, Ed kamu mengambil alih Pradipta, ayahmu sudah tua, jadi bersiaplah," kata Nyonya Besar.


Kabar Tuan Muda Pradipta muncul menggemparkan berita di kalangan bisnis negeri ini. Sebastian yang akhirnya mendengar kabar itu semakin mengabadikan kedengkiannya.


"Pantas saja wanita matre itu memilih Edwin, apalagi setelah kuberitahu siapa Edwin sebenarnya. Ini tujuannya hah! Dasar ******! Akan kubuktikan aku juga bisa menjadi seperti Edwin, aku akan punya perusahaan sebesar Pradipta, setelah itu baru kau melihatku. Tapi sebelum itu kau harus merasakan bagaimana kekecewaanku padamu, Rianti! Kau juga akan merasakan kehilangan!"


Dendam ditolaknya cinta, semakin mengakar kuat penyakit hati yang sudah tumbuh di dalam hati Sebastian. Kacang lupa kulit, air susu dibalas air tuba, menggunting dalam lipatan itulah Sebastian. Ia sudah kepalang hasad dan tamak, sifat iblis menguasai dirinya. Ia mulai mengatur rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya dan kedengkiannya.


Hanya Sebastian seorang yang tidak bahagia mendengar menantu Keluarga Pradipta sedang mengandung. Kebahagiaan yang harusnya dirasakan Rianti terenggut ketika usia kandungannya menginjak 8 bulan, ia ditabrak pesepeda motor saat menyebrang seorang diri menuju kantor suaminya, meski tabrakannya pelan, posisi jatuh mendadak tetap berbahaya bagi ibu hamil. Akibat tabrakan tersebut, Rianti mengalami solusio plasenta -- lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum proses persalinan -- yang menyebabkan perdarahan hebat sehingga mengancam nyawa dan bayinya.


Rencana Sebastian yang ingin membuat kehilangan bayinya nyaris berhasil, ia pikir setelah menabrak pelan Rianti, wanita yang sebenarnya masih ia cintai itu akan kehilangan bayinya, kemudian ia akan merasa sangat kehilangan sebagai seorang ibu dan menyalahkan suaminya, disitulah ia akan masuk untuk memberi simpatik buat Rianti.


Rianti memang selamat namun pendarahan hebat yang ia alami mengharuskan ia masuk dalam pilihan sulit, dirinya atau bayinya yang akan diselamatkan duluan oleh dokter. Jika lama menunggu jawaban dokter tidak bisa melakukan tindakan dan akhirnya akan berakibat fatal bagi keduanya.


Dengan berat hati, dengan taruhan satu kehidupan atau tidak sama sekali, Rianti memohon untuk lebih dulu menyelamatkan anaknya. Bayi Rayyendra lahir ke dunia dalam keadaan prematur dan sang ibu dalam keadaan vegetatif selama dua minggu setelah melalui operasi sebelum akhirnya Rianti berpulang tanpa sempat melihat anak yang dilahirkannya.


Kali ini tanpa kecuali semua berduka, termasuk Sebastian, ini diluar rencana busuknya. Bukan si bayi yang hilang tapi malah wanita pujaannya yang pergi. Ia menangis di atas pusara Rianti, menyesali semua perbuatannya tapi tidak menyurutkan kedengkiannya pada Keluarga Pradipta, apalagi pada anak yang baru saja mengecap oksigen bumi. Ia menuding bahwa bayi Rayyendra lah penyebab meninggalnya Rianti. Dendamnya tersulut kembali dengan rencana berikutnya.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2