Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Separuh Jiwa Telah Pergi


__ADS_3

Litha mematung menatap jasad kaku ibunya. Ia tak sempat berucap salam perpisahan pada Ibu. Nafasnya terhenti, seakan dunia di sekelilingnya berputar.


Bruaakhh ....


Litha jatuh tidak sadarkan diri. Beruntung jasad Ibu masih berada di rumah sakit ketika Litha datang jadi pingsannya Litha bisa ditangani tenaga medis.


Tubuh kurus itu dibawa ke ruang inap untuk diberi perawatan. Paman Tino, Bibi Rima dan Vania panik, siapa yang harus mereka urus duluan, jenazah Ibu atau Litha.


"Nia, kamu tolong jaga kakakmu disini dulu ya. Paman mengurus jenazah ibumu, Bibi ke dokter yang memeriksa Litha," ujar Bibi Rima.


Vania mengangguk, "Kukira Kak Litha hidupnya senang karena menikah dengan kakak ipar yang katanya kaya raya. Tapi kenapa Kak Litha badannya sangat kurus?"


Bini Rima terkesiap mendengar komentar polos Vania. Diperhatikannya wajah Litha yang sedang tidur di pembaringan. Benar saja, badan Litha sangat kurus, wajahnya lebih tirus dan kulitnya pucat. Semua menambah asumsinya tadi pagi ketika berdebat dengan suaminya. Asumsi kesimpulan bahwa terjadi masalah dalam rumah tangga keponakannya karena Litha ke Kota A menggunakan kereta api seorang diri.


"Sudahlah. Kamu jangan berpikir macam-macam. Bibi tinggal ya."


Vania mengangguk lagi. Ia memang jarang bertemu dengan kakaknya, tapi ia tahu pasti kakaknya sangat menyayanginya. Semua kebutuhan sekolah dan pribadinya di asrama sangat dicukupkan sehingga ia tidak minder jika harus bergaul dengan teman-temannya dan ia mampu bersaing secara akademik maupun non akademik.


Vania termasuk siswi populer di sekolahnya, bahkan baru-baru ini ia mendapat beasiswa eksklusif dari Pradipta Asa Foundation yang membuat sekolahnya bangga dan teman-temannya iri. Bukan tanpa alasan, karena selain masuk dalam kategori beasiswa bergengsi, untuk mendapatkannya pun banyak tahapan seleksi yang harus dilewati dan setelah selesai menempuh pendidikan nanti, penerima beasiswa dijamin untuk bekerja di Pradipta Corp. atau di beberapa perusahan ternama berskala nasional lainnya dengan posisi dan gaji yang bagus. Siswa mana yang tak ingin?


Tok ... Tok ...


Bibi Rima masuk ke ruangan dokter yang memeriksa Litha. Wajahnya sumringah.


"Bu, apa yang pingsan tadi itu Nyonya Muda Pradipta?"


"Iya, Dok."


"Selamat ya Bu, kandungan Nyonya Muda berusia 14 minggu. Namun, Nyonya kekurangan nutrisi, kondisi tubuhnya sangat kurus dan lemah. Nyonya Muda harus memulihkan kondisinya agar janin yang di dalam kandungan dapat tumbuh dengan baik, kalau tidak, akan berakibat buruk bagi ibu dan bayinya."


Dokter menjelaskan panjang lebar pada Bibi Rima yang terdiam, jantungnya serasa mau copot sangking cepatnya berdetak.


Litha hamil anak Tuan Muda !!!


Kalimat itu menari-nari dan berputar-putar di kepala Bibi Rima. Ia tidak tahu harus senang atau sedih, ia juga tidak tahu apakah Litha sudah mengetahui kehamilannya atau belum.


"Bu?" Dokter mencoba menyadarkan lamunan Bibi Rima.


"Ah ... ya, Dokter. Maaf saya kaget mendengarnya," ucap Bibi Rima bingung. Baru saja kakak iparnya meninggal, sekarang Litha hamil.


"Walaupun Nyonya dalam masa duka, tapi ini kabar yang menggembirakan. Apa harus saya memberitahukan Direktur Rumah Sakit untuk diteruskan pada Asisten Tuan Muda?"


"Jangan!" sergah Bibi Rima cepat.


Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tahu ia harus menyimpan kabar kehamilan Litha terlebih dahulu. Ada yang ingin ia tanyakan ke Litha.


"Maksud saya, biarkan kabar bahagia ini Nyonya Muda akan menyampaikannya sendiri ke Tuan Muda. Tentu akan lebih mengharukan Dokter, daripada diberi tahu oleh seorang asisten." lanjut Bibi Rima meyakinkan Si Dokter.


"Ya ... ya .... Baik, saya mengerti. Pasti Tuan Muda akan senang sekali mendengarnya. Tapi tolong dijaga kondisi Nyonya Muda ya, Bu. Sementara Nyonya harus diinfus dulu karena sangat lemah."


"Iya, Dokter. Terimakasih pengertiannya."


Bini Rima berjalan gontai, hatinya berkecamuk memikirkan keponakannya. Di selasar rumah sakit ia bertemu dengan suaminya yang baru saja selesai mengurus jenazah ibunya Litha untuk dibawa ke rumah duka.

__ADS_1


Paman Tino sangat terkejut, mendengar berita kehamilan Litha.


"Lalu apa Tuan Muda tahu?" tanya Paman Tino tegang.


Istrinya menggeleng pelan, "Kita harus tanya Litha dulu apa yang sebenarnya terjadi, Pak, tapi ini dia harus diinfus dulu, Dokter bilang dia kekurangan nutrisi, kondisinya tidak bagus untuk dirinya dan janin yang dikandungnya."


Paman Tino mengangguk, "Jadi, ini jenazah Kakak Ipar bagaimana? Apa aku dan Vania bawa terlebih dahulu ke rumah, nanti Ibu dan Litha menyusul."


Direncanakan besok pagi jenazah ibu Litha akan segera dimakamkan.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Litha bersimpuh di jasad ibunya, menangis pilu tiada henti. Ia menyesal datang terlambat, seandainya saja taksi yang ia tumpangi tidak terjebak macet dari stasiun menuju rumah sakit atau seandainya saja dia memilih ojek, tentu ia bisa menemui Ibunya yang masih bernafas.


"Ibu, Ibu, aku minta maaf Ibu. Minta maaf .... "


Bibi Rima masih saja mengusap pelan pundaknya. Vania yang melihat kakaknya menangis seperti itu, airmatanya juga ikut mengalir deras.


"Ibuuuuuuuuuu .... Aku berdosa padamu Ibu. Aku berdosa telah berbohong padamu. Ibuuuuuu.... "


"Ibuuuuu ... maaf, maaf Ibuuuu ... "


Keluarga, kerabat dan tetangga berdatangan memberi ucapan belasungkawa ikut terharu meski tidak paham apa yang dirintihkan Litha berulang-ulang. Maaf, maaf dan maaf ...


Litha yang sejak awal kondisi fisiknya lemah, walaupun sudah diinfus tetap tidak bisa menampung kesedihan dalam hatinya yang kehilangan Ibu.


Jiwanya terguncang hebat ketika kepergian Ibu yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup, masih jelas di penglihatan Litha, mata Ibu yang penuh harap ketika menghentikan percobaan bunuh dirinya di masa lalu. Mungkin jika tidak ada Ibu saat itu, ia sudah lama berada dalam tanah. Sekarang setelah separuh jiwanya hilang, dengan alasan apa lagi ia akan bertahan?


Tidak disangka, Litha kembali ambruk di samping jenazah ibunya. Mukanya begitu pucat hampir menyamai wajah ibunya yang ditutupi kafan.


"Nia, istirahatlah. Kau juga pasti lelah, Nak. Besok kita akan memakamkan ibumu, biar kami yang berjaga." Paman Tino menyuruh Vania untuk segera beristirahat. Tidak mudah juga bagi Vania, kehilangan ayah dan ibu semasa masih remaja, ia juga terluka.


Vania mengangguk dan keluar dari kamar ibunya yang sekarang ditempati Litha ia sudah siuman, wajahnya begitu menyedihkan.


"Ikhlaskan ibumu, Litha. Ibumu tidak akan bisa pergi dengan tenang kalau kau seperti ini." Paman Tino memberi nasehat.


Bibi Rima membantunya bangun duduk bersandar pada kepala dipan, lalu ia menyodorkan teh hangat untuk diminum Litha, namun Litha menggeleng lemah.


"Minumlah, Nak. Hari ini hanya cairan infus yang masuk di tubuhmu. Tentu akan sangat buruk bagi janinmu kalau keadaanmu lemah begini. Ia kekurangan nutrisi karena ibunya tidak mau makan dan minum."


Air muka Litha kaku, "Apa Bibi dan Paman sudah tahu? Darimana?"


"Dokter yang memeriksamu saat kau pingsan di rumah sakit yang mengatakannya." Bibi Rima seakan mendengar pertanyaan dalam hati Litha.


Litha tidak bisa mengelak, ia tersenyum canggung.


"Apa Tuan Muda sudah tahu?" tanya Paman Tino.


Litha menggeleng, "Aku dan Tuan Muda saat ini sedang dalam proses perceraian, Paman. Pengacara Keluarga Pradipta yang mengurusnya."


"Apa!?!" teriak Paman dan Bibi bersamaan, kaget hampir mau mati rasanya.


Mata Litha sudah berkaca kembali, hormon kehamilannya ternyata membuatnya makin sensitif dan gampang menangis jika ada pemicunya.

__ADS_1


"Maaf, Paman, Bibi. Aku sudah membohongi kalian semua termasuk Ibu .... "


Tangis Litha kembali pecah namun tidak sedramastis sebelumnya. Bibi Rima langsung memeluknya, ia bisa membayangkan bagaimana kalutnya hati Litha saat ini.


"Sabar, Nak, sabar. Sabar ya, sayang ... Kamu masih memiliki Paman dan Bibi, kami juga orangtuamu, Nak. Jangan pernah merasa sendiri. Ceritakan pada kami, ada apa sampai kalian mau bercerai? Apalagi ada calon buah hati kalian di dalam perutmu."


Litha akhirnya sampai pada ******* pilunya, ia terisak dalam, meremas baju di bagian dadanya. Ia tak tahan menyimpan semuanya sendiri, ia tidak sekuat yang ia kira. Ia terlalu percaya diri selama ini.


Paman Tino mendekat dan ikut mendekap istri dan keponakannya. Ia memberikan sebuah rasa perlindungan untuk Litha, bahwa ia masih memiliki perisai untuk melawan sedihnya. Paman dan Bibi mencoba menghadirkan 'rasa' Ayah dan Ibu yang telah pergi untuk Litha agar tetap kuat menghadapi takdirnya.


Litha menceritakan secara runut dari awal bagaimana ia bisa menikah dengan Tuan Muda Pradipta hingga akhirnya ia keluar dari rumah tempat Pamannya bekerja dulu tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.


Paman Tino termangu tidak percaya keponakannya mengambil garis takdir yang berani, menggadaikan hidupnya pada Tuan Muda yang dikenal angkuh dan kasar hanya demi balas budi dan kehidupan keluarganya yang nanti disangka lebih baik.


Giliran Bibi Rima yang menangis sekarang, menangisi nasib keponakan tersayangnya. Tapi tangannya terkepal kuat, ia marah.


"Tha, Tuan Muda harus bertanggungjawab. Akibat perbuatannya kini hadir kehidupan dalam rahimmu sekalipun ia katakan di luar kendali," ujar Paman Tino memberi nasehat.


"Jangan Paman! Aku takut nanti malah ia marah dan menyuruhku untuk tidak melahirkan anak ini. Aku akan membesarkannya Paman, bagaimanapun ayah dari anak yang kukandung ini adalah orang yang aku cinta. Aku tidak akan menuntut apapun padanya baik materi maupun hanya sekedar nama keluarga."


"Tidak bisa Litha! Dia sudah sangat jahat melanggar perjanjian, lalu kau mau biarkan dia hidup tanpa ia tahu ada anaknya yang lahir dari wanita yang sudah ia tiduri paksa?" timpal Bibi Rima emosi.


"Bibi ... aku mohon. Bagaimana kalau ia menyuruhku untuk membunuh anak ini?" Litha secara spontan melindungi perutnya dengan kedua tangannya.


"Tidak ada yang perlu kau takutkan, Litha. Ada Bibimu yang lebih dulu maju melindungimu daripada Pamannmu. Dia harus melangkahi mayat Bibi dulu kalau mau menyakitimu lagi." lantang Bibir Rima berapi-api.


"Tapi--"


"Tidak ada tapi-tapi, besok baru kita bicarakan lagi. Sekarang istirahatlah, Bibi akan membuatkanmu mi instan, setidaknya ada makanan yang masuk dalam perutmu agar kau tidak lapar. Tunggulah disini."


Bibi Rima menarik tangan suaminya keluar dari kamar menuju dapur.


"Pak, kita harus berbuat sesuatu. Enak saja dia berbuat seperti itu pada Litha. Meskipun Litha istrinya tapi kan sejak awal sudah disepakati," omel Bibi Rima sambil tangannya membuat mi instan.


"Bu, kau tidak tahu watak Tuan Muda. Aku melihatnya langsung ketika dia marah dan merusak motor Ninda. Seandainya saja Nyonya Besar masih ada, pasti Litha tidak begini." Pama Tino, bergidik ngeri mengingat insiden semur jengkol.


"Ah, aku tidak peduli. Kalau Bapak takut biar aku yang maju. Litha sudah kuanggap anakku sendiri."


"Jadi, apa yang bisa kita lakukan?" tanya Paman Tino pada istrinya.


Bibi Rima diam mengaduk-aduk mi di panci tapi otaknya mencari cara.


"Bukan kah Tuan Sasmita sekarang sedang dalam perjalanan kesini setelah tadi siang kita memberitahu Kakak Ipar meninggal? Kita sampaikan saja padanya semua yang tadi Litha ceritakan. Dia sudah berjanji akan melindungi dan melayani Litha seperti amanat Nyonya Besar."


"Tapi--"


"Ah, Bapak banyak ragunya. Kasihan Litha, Pak. Kalau bukan kita yang membelanya, siapa lagi, hanya kita yang peduli pada mereka bertiga setelah ayah mereka meninggal. Saudaramu yang lain atau saudara dari keluarga Kakak Ipar, mana mau tahu. Pas ngerti Litha nikah dengan Tuan Muda dari Ibukota langsung pada sok dekat semua."


"I-- iya, Bu."


Bibi Rima mengantarkan mi instan, Litha melahapnya seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Selama ini memang rasa laparnya meningkat tapi beban pikirannya terlalu menumpuk hingga otaknya yang memanipulasi pikirannya untuk tidak ingin makan. Namun, begitu ia menceritakan semua yang terjadi pada paman dan bibinya, beban itu sebagian seakan menguap, meringankan hati Litha. Meski belum semua bebannya hilang, paling tidak sekarang ia sudah bisa makan.


- Bersambung -

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Bagi Litha, kepergian ibunya tanpa sempat pamit merupakan fase tersedih dan terberatnya Litha, jadi mohon maaf alur yang dilalui Kakak-Kakak pembaca banyakan meweknya. 🙏


__ADS_2