
Pintu terbuka, wajah Rayyendra masam dengan apa yang dilihatnya, Firza Nathan Pradipta tersenyum padanya. Ia melirik ke belakang Firza, ada Abyan yang bersandar pada tembok, cuek, sengaja menghindari tatapan jengkel Ray.
Ray tidak bergerak menjauh dari pintu, justru menggeser tubuhnya menghalangi penglihatan Litha.
"Mau apa kau kesini?" ketus Ray.
"Kenapa kau tak beritahu kalau ibu Litha meninggal dunia?"
"Lantas, kau mau apa kalau kuberitahu?"
Ray tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Abyan yang melihat mereka tertawa dalam hati.
"Ayo, lakukan seperti kemarin di kantor biar perempuan yang kalian perebutkan bisa melihatnya hahahaha .... sayang sekali waktu itu aku tidak merekamnya."
"Aku mau berbelasungkawa," ucap Firza.
"Ya, sekarang sudah kau lakukan dan akan kusampaikan pada Litha. Sekarang pulanglah."
"Hei! Kau apa-apaan? Aku jauh-jauh datang ingin bertemu dengannya langsung."
"Aku suaminya. Tidak tanpa izinku."
Litha bingung yang melihat suaminya dari tadi berdiri tanpa melihat siapa lawan bicaranya.
"Mas, itu siapa?" tanya Litha ke suaminya.
"Sudahlah, Ray. Mari kita bersaing secara sportif. Apa kau takut kalah jika hati Litha kurebut, jadi kau bersembunyi di balik status suaminya?"
Ray menutup matanya sejenak, mengatur emosinya yang naik. Benar, ia ingin dan harus tahu perasaan Litha padanya, karena yang Ray tahu, dialah yang mencintai Litha, tapi bagaimana perasaan Litha sendiri padanya? Apa Litha menerimanya hanya karena anak yang dikandungnya saja? Tapi ia juga takut jika fakta tidak sesuai harapannya, biarlah ia tidak tahu bagaimana perasaan Litha padanya dan akan ia anggap Litha mencintai dirinya daripada ia harus menjalani hidup bersama tapi tersakiti karena tahu hati istrinya milik orang lain.
Akhirnya, Ray menyampingkan badannya, menyilakan Firza untuk masuk.
"Kak Firza?" pekik Litha senang.
Ia sudah lama tidak melihat Firza, terakhir saat makan malam di rumah utama. Firza berjalan cepat mendekati Litha yang masih duduk bersandar di pembaringan. Ray juga mengikuti langkah Firza dan memposisikan dirinya di samping Litha berhadapan dengan Firza dan Abyan yang menggantikan posisi Ray tadi di depan pintu, berjaga.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik, Kak."
"Aku turut berduka, Lith. Pasti ini masa sulit bagimu, semoga kau kuat melewatinya ya ... Ada Kakak kalau kau memerlukan sesuatu."
"Ada aku suaminya," sahut Ray menyela. Litha melihat ke arah suaminya, makin bingung.
"Ni laki kenapa ya?"
"Semua juga tahu kamu suaminya. Apa aku bisa bicara berdua dengan Litha, Ray?"
"Tidak."
Firza menghela nafas panjang, ia tahu Ray tidak akan pernah meninggalkannya berdua dengan Litha setelah apa yang dikatakannya kemarin. Matanya mendelik ke arah Ray.
"Aku hanya ingin tahu kenapa kau mensyaratkan pernikahanmu dengan 20 persen harta warisan Nenek?"
Ray dan Litha sama terkejutnya.
"Kenapa kau membahas masalah ini disini sekarang?!?" (Ray)
" Apa Kak Firza sudah mengetahui tentang pernikahan kami? Siapa yang memberi tahu?" (Litha)
"Kakak tahu darimana?"
"Tidak penting tahu darimana. Tapi aku ingin tahu alasanmu?"
Litha ragu mengatakannya, tapi toh ia juga sudah terlanjur ditanya.
"Agar Kakak tidak pernah pergi dari Keluarga Pradipta. Suatu saat Kakak ingin pergi dari Keluarga Pradipta kan?"
Glek ....
Firza terkejut bukan main, Litha mengetahui niat tersembunyinya yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Memang Firza suatu saat ingin pergi dari Keluarga Pradipta jika ia sudah menemukan kabar adik perempuannya. Ia menggunakan nama Pradipta untuk membantu mencari satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.
"Nenek pernah berkata padaku seperti itu. Nenek punya firasat,entah apa alasan Kakak mau meninggalkan Keluarga Pradipta, tapi yang jelas Nenek tidak rela Kak Firza meninggalkan keluarga ini. Nenek juga pernah bertanya padaku bagaimana cara untuk mencegahnya. Saat itu aku tidak tahu menjawabnya. Nenek tidak akan memintanya pada cucu kandungnya karena beliau tahu, cucu kandungnya malah akan membiarkan Kak Firza pergi dengan suka cita."
Ray mengerutkan kedua alisnya ke tengah, tidak suka mendengarnya, bukankah itu hal bagus?
"Tapi aku bisa saja menjual 20 persen itu dan kubawa kabur?"
Mata Ray awas mendengar niat Firza akan menjual bagiannya dan kabur.
"Kak Firza bukan orang seperti itu. Kalaupun Kakak melakukannya pasti ada alasan kuat yang dapat dimaklumi."
Firza menghela nafasnya panjang, ia tidak membantah ataupun mengiyakan. Tidak ada yang mengenal dirinya sebaik wanita di hadapannya ini.
"Kudengar kamu hamil ya? Berapa bulan?" tanya Firza mengalihkan pembicaraan. Ada sepasang mata tajam mengawasinya.
"Dokter bilangnya 14 minggu, Kak. Tapi mungkin aku terlalu sedih ditinggal Ibu sehingga aku harus istirahat total disini."
"Bukan, kamu disini karena bocah tengil disampingmu itu."
__ADS_1
Firza tersenyum, "Selamat ya Lith, kamu akan segera menjadi Ibu, kamu pasti akan menjadi ibu yang baik buatnya, tidak tahu kalau ayahnya."
"Sialan kau ... !!!"
Ray berang Firza menyindirnya terang-terangan di depan istrinya langsung, ia sudah mengambil sebuah apel untuk dilemparkan ke Firza, tapi tangan Litha menghentikannya.
Litha membalas senyum Firza, "Aku yakin Mas Rayyendra akan menjadi suami dan ayah yang baik. Kak Firza tidak usah khawatir, aku bahagia sekarang."
Hening.
Ada hati yang hilang. Hilang tanpa harapan untuk kembali. Ia hanya bisa mengulas senyumnya lagi meski pahit yang teramat sangat menderanya. Andai saja dulu ia merengkuh hati wanita pujaannya yang bimbang karena sebuah wasiat, tentu namanya yang akan disebut wanita itu.
Jika ada hati yang hilang, maka ada hati yang tengah terbang ke angkasa melewati atmosfir bumi, melayang bebas tanpa gravitasi. Istrinya mampu membuatnya jumawa di depan sang rival tanpa harus berlebihan, ia bisa memukul telak hati Firza hingga remuk redam.
"Mesra sekali aku mendengar kau menyebut namaku, sayang ..., " bathin Ray berbunga-bunga.
"Ya, kalau kau yakin, aku juga yakin."
"Halah .... sok puitis! Patah hati, kan kau sekarang! Jelas Litha milikku, mau apa kau?" ucap Ray dalam hati, jelas kekanak-kanakan. Ia melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum penuh kemenangan, seakan mengejek kakak angkatnya.
"Litha .... " suara Firza menggantung.
"Ya, Kak?"
"Hiduplah dengan bahagia."
🙋 Author kok nyesek ya nulis part ini 😭 🙋
Mata Firza berkabut tipis, ia harus merelakan Litha untuk kedua kalinya sekaligus terakhir, karena setelah ini ia tak lagi punya harapan.
"Iya, Kak. Kak Firza juga semoga mendapatkan kebahagiaan. Kakak orang baik, aku yakin Kakak pasti akan menemukannya."
Firza hanya bisa tersenyum sedih mendengarnya.
"Ray, boleh aku bicara berdua denganmu? Istrimu pasti mengizinkan."
Ray berdecak sebal. Tapi isyarat mata Litha mengatakan untuk mengikuti apa yang dikatakan Firza.
"Oke."
# Di taman terbuka Rumah Sakit Medical Health #
Ray dan Firza berdiri menghadap kolam ikan. Di dalam air yang jernih, ikan koi meliuk indah menari-nari.
"Ternyata kau cuti karena ini? Aku tidak punya waktu banyak. Katakan apa yang mau kau katakan," tukas Ray.
"Ya." Ray menjawab singkat dengan malas.
"Selamat kau memenangkan hati Litha, Ray." Tiba-tiba topik pembicaraan berganti.
"Tentu saja, dia istriku."
"Bodoh! aku juga tahu dia istrimu, tapi dia juga mencintaimu. Kau sudah memiliki hatinya." bathin Firza.
"Benarkah kau tulus mencintainya, Ray?"
"Kau mau jawaban seperti apa?"
"Jawaban jujur dari hatimu."
"Ya. Aku mencintainya."
"Sebesar apa?"
Ray tidak menjawabnya langsung, ia menelisik wajah si penanya.
"Jangan sungkan. Katakan saja dengan jujur. Aku hanya ingin tahu, aku tidak akan merebut istri adikku sendiri."
"Dia cinta pertamaku dan aku akan mencintainya hingga jadi cinta terakhirku."
Hening. Hanya nafas keduanya yang terdengar.
Firza menepuk pundak adik angkatnya, "Ray, jaga ia baik-baik, jangan sakiti hatinya. Mulai sekarang hiduplah bahagia dengannya."
Ray menoleh ke Firza, kemarin dengan mantap ia katakan mencintai Litha, sekarang kenapa jadi begini?
"Aku bahagia mendengarnya, Ray. Kalian saling mencintai." Firza tersenyum menatap mata Ray.
Ray bingung, "Litha mencintaiku? Darimana ia tahu? Litha kan tadi tidak bilang apa-apa, kenapa Firza yakin kalau Litha mencintaiku, bukan dia?"
"Aku ikhlas merelakan Litha hidup bersamamu karena ia akan bahagia."
Ditepuknya bahu Ray sekali lagi, "Jadilah dewasa, jangan sampai Litha nanti mengasuh dua bayi."
"Hah!!! Apa-apaan kau, Za," ucap Ray spontan.
Firza terperangah tidak percaya. Apa dia tidak salah dengar?
Za .....
__ADS_1
Sapaan akrab Ray dulu untuknya sebelum ada rasa benci di hati adiknya itu. Hatinya membuncah, apakah ini pertanda hati Ray melunak padanya setelah sekian lama membatu?
Ray tersenyum padanya, dirangkulnya bahu Firza dan berkata pelan.
"Aku minta maaf, selama ini terlalu angkuh dan egois. Litha membuka mataku bahwa kau tidak seperti yang kupikirkan. Kau akan menjadi paman Pradipta yang berhati besar."
Firza langsung memeluk Rayyendra, ada bulir bening mengalir di sudut matanya. Ia tidak menyangka sama sekali, Ray akan berkata demikian, menerima kembali dalam hatinya. Rasa itu kian bertambah haru.
"Litha, terimakasih ..."
Firza melepas pelukannya, "Satu pesanku, kalau kutahu sekali lagi kau menyakitinya, tanpa permisi aku akan mengambilnya darimu."
"Sialan kau!" Ray meninju perut Firza.
Dua lelaki Pradipta yang bertengkar kemarin kini tertawa bersama. Abyan menatap dari kejauhan dengan senyumnya.
🍀 flashback on 🍀
Pukul 03.00 dini hari, ponsel Abyan dikirimi pesan masuk.
'Aku ada di loby hotel. Turunlah, ada yang mau kutanyakan.' - Firza.
Dengan setengah mengantuk ia turun menemui Firza di loby hotel.
"Maaf mengganggu istirahatmu, Asisten Yan."
"Jangan sungkan. Ada apa, Tuan? Kabarnya Tuan cuti."
"Ya, ada yang ingin kupastikan darimu."
"Pasti tentang Tuan Muda."
"Ya. Apa Rayyendra sudah menemui Litha?"
Abyan mengangguk. "Tuan Muda telah meminta maaf. Nyonya Muda memiliki hati yang luas untuk memaafkan dan menerima kembali Tuan Muda."
"Apa kau tahu alasan Litha menerima kembali Ray?
"Saya tidak tahu, Tuan. bisa jadi karena janin di dalam kandungan Nyonya Muda yang menjadi perekat hubungan mereka."
"Litha hamil?"
"Iya, Tuan."
Firza seperti merasa di tengah lautan berombak, terhempas namun juga tak mati. Ia diam sejenak, mengatur deburan jantungnya.
"Kau kenal dekat Rayyendra. Menurutmu apa Ray mencintai Litha?"
"Setahuku, iya. Bahkan Tuan Muda mengalahkan egonya sendiri memohon cinta Nyonya Muda."
"Bagaimana dengan Ramona?"
"Sebenarnya Tuan Muda tidak pernah mencintai Mona. Ia sangat menghargai Mona karena Mona wanita pertama yang ia kenal dalam pergaulannya, sehingga menuruti semua keinginan Mona termasuk menjadi kekasihnya. Sesungguhnya Ramona wanita yang baik dan manis, tapi entah kenapa semakin kesini Ramona semakin tidak bisa menguasai dirinya sendiri, berbeda saat kami bertemu di Amerika. Tapi Tuan Firza tidak perlu khawatir, hati Tuan Muda sudah berlabuh pada Nyonya Muda."
"Litha sendiri?"
"Nyonya Muda memang memiliki kepribadian emas, tak ada satu orang pun yang mengenalnya tidak menyukainya. Namun bagaimana hati Nyonya Muda? hanya Nyonya sendiri yang tahu."
"Aku harus memastikannya, Asisten Yan, agar aku bisa mengambil langkah selanjutnya. Aku tidak ingin wasiat pernikahan Nenek membelenggu keduanya dalam keadaan terpaksa menerima, meski ada calon anak mereka."
"Jadi apa yang akan Tuan lakukan?"
"Besok antar aku menemui Litha, biar kulihat sendiri. Mata Litha tidak pernah berbohong. Jika aku melihat ada cinta untuk Ray disana meski sedikit, aku akan merelakannya. Tapi jika ia terpaksa menerima hanya karena Ray ayah dari anak yang dikandungnya, maka aku akan maju, aku juga seorang Pradipta." jelas Firza memutuskan.
Pada akhirnya, setelah sarapan di hotel Abyan mengantar Firza ke kamar rawat inap.
"Apa yang mereka lakukan pagi-pagi di kamar rumah sakit dengan pintu terkunci?" bathin Abyan sambil terus menggedor tanpa henti.
Setelah terdengar bunyi handle pintu ditekan ia segera mundur menyandar tembok di belakang Firza.
🍀 flashback off 🍀
"Tuan, bagaimana Tuan tahu kalau Nyonya Muda juga mencintai Tuan Muda?" tanya Abyan ketika mengantar Firza ke bandara kembali ke ibukota mengurus perusahaan yang sementara tanpa pimpinan.
"Cinta itu sangat jelas terlihat di mata Litha ketika menyebut nama Rayyendra, bahkan ia menyebutnya dengan sapaan khusus. Bodohnya, bocah itu tidak mengerti kalau istrinya juga memiliki perasaan yang sama dengannya, hahahaha .... " jawab Firza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa, namun kegetiran dalam tawa itu begitu kentara.
"Apa Tuan benar-benar merelakannya?"
"Selama mereka saling mencinta dan hidup bahagia, tidak ada alasan aku tidak merelakannya. Aku hanya akan menjadi garis terdepannya." Firza mengatakan dengan senyum tulusnya.
"Ah, Tuan, hatimu sangat baik sekali. Nyonya Besar begitu pandai memilih orang-orang yang berhati baik untuk berada di sekelilingi cucunya. Kau sangat beruntung, Ray."
Abyan tidak sadar, ia juga termasuk salah satu dari orang-orang yang dipilihkan Nyonya Besar. Ia langsung meminta Pak Sas untuk menempatkan keponakan yang pernah ditemuinya langsung sewaktu SMA sebagai teman dekat Ray di luar negeri.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Author nulis bab ini terinspirasi dari "Garis Terdepan" by Fiersa Besari 😢
__ADS_1