Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Sparing dengan Tawon


__ADS_3

Ray kembali ke rumah sakit ditemani Abyan dengan membawa pesanan aneh istrinya.


"Mana Si Tawon? Sudah pulang?" tanya Ray.


"Heh. Kalau ada berkelahi, tidak ada dicari. Sengaja kusuruh dia pulang sebelum Mas datang. Mana bakwan jagungnya?"


"Ini, ada 15 buah, sesuai tanggal hari ini, jumlah ganjil diatas angka 10, kan? Apa tidak ada makanan yang lebih bagus?" Ray menjulurkan sekantong bakwan yang tadi dibelinya bersama Abyan di kantin sekolah almamater Litha.


Litha terkekeh, entah kenapa tadi ia ingin sekali makan jajanan favoritnya semasa SMA.


"Cobalah dulu. Ini selalu jadi rebutan lho."


Litha menyuapkan sepotong ke mulut suaminya, Ray terlihat enggan namun mau tidak mau ia harus mengigitnya meski sedikit.


"Berminyak. Aku tidak suka," ujar Ray mengelap mulutnya dengan tisu.


"Susah kalau lahir dari keluarga kaya, tidak bisa merasakan jajanan rakyat. Asisten Yan, cobalah."


Litha mengambil sepotong bakwan lagi dan ingin menyuapkan ke mulut Abyan. Ray yang melihatnya langsung sewot, "Eh, apa-apaan kau suapi dia. Tidak boleh."


"Ini bentuk rasa terimakasihku padanya. Kan, yang ikut mengantre dan menjadi pusat perhatian saat membelinya, Asisten Yan, bukan Mas. Apa Mas mau anak kita nanti menjadi orang yang tidak tahu berterimakasih?"


Abyan tertawa puas dalam hatinya, betapa kesalnya ia tadi disuruh Ray mengantre membeli bakwan jagung dan tentu saja ia menjadi pusat perhatian di antara siswa SMA XYZ. Kekesalannya terbayar sudah melihat lekukan wajah Ray yang tak beraturan saat istrinya menyuapinya bakwan jagung.


"Nyonya, bakwan ini enak sekali. Sekalipun berminyak, aku menyukainya." Nada suara Abyan sengaja dibuat-buat.


"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita habiskan, aku akan menyuapimu, agar tangan Asisten Yan tidak berminyak."


Wajah Abyan kian dibuat-buat saat disuapi kembali oleh Litha, Ray semakin dongkol melihatnya.


"Sayang, aku juga menyukainya. Suapi aku saja. Yan, sebaiknya kau pulang," ujar Ray menarik tangan Litha ke mulutnya, yang hendak menyuap Abyan, memasukkan sepotong besar bakwan jagung yang ia tidak suka, memaksa mulutnya untuk mengunyah dan menelannya.


"Oke, aku mengerti," sahut Abyan.


"Asisten Yan. Ini masih ada, bawalah. Dan katakan pada Pak Sas agar beliau pulang beristirahat. Sudah ada yang menjagaku disini," kata Litha sebelum Abyan beranjak dan memberikan bakwan yang masih tersisa.


Abyan dan Ray heran, kenapa Litha memesan kalau tidak mau memakannya? Dari tadi ia hanya sibuk menyuapi suami dan asisten suaminya.


"Sudah cukup puas aku menyiksanya, Asisten Yan. Aku kenal betul selera makan suamiku, dia sangat menghindari makanan berminyak. Hehehehe ... maafkan aku ya, Mas, mengerjaimu sedikit. Bukan mauku lho ini, anakmu ini yang ingin bercanda denganmu hehehehe ... "


Mendengar pengakuan jujur istrinya, "Apa ini bagian dari ngidam?" tanyanya sambil mengelap bibirnya yang agak berminyak dengan tisu setelah menghabiskan segelas air putih.


Pppffffftttttt ....


"Ngidam itu unik, Ray. Nikmati saja, walaupun belum tentu benar anakmu nanti ngeces kalau tidak dituruti, setidaknya itu bukti rasa sayang suami kepada istri," sahut Abyan menahan tawanya, Litha pun sama.


Tanpa aba-aba Ray menarik leher belakang istrinya dan langsung menciumnya di depan Abyan. Litha terkaget-kaget dan wajahnya merona, ia memukulkan kepalan tangannya berkali-kali ke bahu Ray untuk menghentikan ciuman suaminya. Tapi mana Ray mau tahu, dia tidak melepasnya malah semakin mel*mat bibir istrinya. Wajah Litha semakin memerah tatkala Abyan tergelak dan segera beranjak keluar kamar.


"Paman, ayo kita kembali ke hotel sekarang. Tidak perlu menjaga dua orang yang lagi kasmaran," ajak Abyan pada Pak Sas yang berjaga di depan kamar.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Sore ini Ray berhadap-hadapan dengan Si Tawon di Dojang yang sudah disewa Abyan, lengkap dengan seragam dan atribut untuk sparing.


"Kau bernyali juga menantangku. Apa kau tahu aku pemegang sabuk hitam taekwondo dan karate," kata Ray melihat adik iparnya memasang kuda-kuda sikap sejajar.


"Tidak usah banyak bicara Kakak Ipar, mari kita buktikan saja. Aku tidak segan untuk benar-benar menghajarmu." Vania sudah siap dengan Apseogi-nya.


"Cih, Aku juga tidak segan melayangkan tendanganku meski kau adik kesayangan istriku," balas Ray tidak mau kalah.


Abyan yang duduk bersila di sudut ruangan menggerakkan bola matanya ke atas. Beberapa hari belakangan ini, ia sangat direpotkan Ray yang selalu kebingungan dan pusing dengan permintaan ajaib istrinya, belum lagi harus mengurusi pekerjaan kantor dan permintaan pribadinya yang waktunya selalu di luar nalar.


Kemarin, Ray minta dicarikan Dojang, tempat latihan taekwondo karena ditantang sparing oleh adik iparnya. Vania percaya diri bisa mengalahkan Ray karena ia baru saja lulus ujian kenaikan tingkat sabuk hitam. Kini Abyan duduk bersandar, ia benar-benar lelah.

__ADS_1


Vania dengan agresif memberi Ray pukulan, tusukan dan tendangan. Ray masih sengaja hanya menangkis, namun begitu tendangan Dollyo Chagi milik adik iparnya itu mengenai bagian perutnya saat ia lengah menganggap remeh lawan, Ray mau tidak mau harus meladeni Si Tawon yang berusaha menyengatnya.


Abyan terpukau melihat dua saudara ipar di depannya ini bertarung tanpa sungkan. Vania memang bernyali jauh lebih besar dibandingkan Litha saat menghadapi Tuan Muda Pradipta, bahkan pada sparing yang sebenarnya tidak seimbang ini. Beberapa kali perut dan kepala Ray menjadi sasaran tendangan Vania, begitu juga sebaliknya, beberapa kali juga ia tersungkur, tapi dengan cepat ia memasang kuda-kudanya lagi.


"Gigih juga anak ini. Tekniknya sempurna dan baik sekali. Meski lawannya bukan lawan yang seimbang, dia tidak gentar," gumam Abyan mengomentari Vania.


Abyan juga pemegang sabuk hitam taekwondo yang diperolehnya sejak remaja. Ia diharuskan pamannya untuk menguasai setidaknya satu macam beladiri hingga tingkat tertinggi untuk melindungi ibu dan adik perempuannya kelak. Lain halnya dengan Ray, ia menyukai olahraga beladiri sehingga Nenek memberinya privat beladiri Karate dan dilanjutkan Taekwondo setelah ia memegang sabuk hitam Karate.


"Menyerahlah," kata Ray terengah-engah setelah menjatuhkan Vania ke sekian kalinya.


"Lawanmu tidak seimbang, meski kau terus mencobanya, kau tetap tidak akan menang melawanku." sambungnya lagi, masih dengan terengah-engah.


Vania duduk di lantai dan melepaskan pelindung kepalanya tanpa suara, kepala dan lehernya penuh dengan peluh. Ray juga melakukan hal yang sama. Abyan mendekati mereka berdua memberikan handuk dan air minum.


"Kakak Ipar, apa kau benar-benar sayang pada kakakku?" tanya Vania tiba-tiba.


Ray dan Abyan kaget mendengarnya, namun Abyan mengerti kondisi yang akan tercipta, ia menjauhkan dirinya memberi ruang privasi buat kakak dan adik ipar yang akan berbicara serius.


Ray menenggak air minumnya lalu meletakkan botolnya ke lantai, "Kenapa kau meragukan aku?"


"Aku hanya ingin Kak Litha tidak terluka lagi."


"Aku memang bersalah telah menyakitinya, tapi aku jamin itu tidak akan terulang lagi, baik dariku maupun dari orang lain."


"Kak Litha tidak tahu kalau aku bisa beladiri." Mata Vania menerawang ke depan.


Ray menolehkan kepalanya ke adik iparnya, mengamati dengan seksama perubahan air mukanya.


"Aku dari dulu rentan sakit, bisa sebulan dua tiga kali aku berobat ke dokter dan itu berlangsung sampai lulus SD. Makanya Kak Litha tidak setuju aku belajar beladiri, ia takut aku terluka dalam latihan karena menganggap badanku masih lemah seperti dulu. Aku menurutinya karena dia sangat menyayangiku, bahkan rela mengorbankan tabungannya untuk menambah uang masuk sekolah asrama untukku, kemudian ia bekerja apapun untuk membiayai sekolahku yang tidak murah."


Mata Vania berkaca-kaca mengingat perjuangan kakaknya membujuknya masuk sekolah berasrama, tujuannya agar ia dan Ibu lebih tenang karena ia akan kuliah di Ibukota, tidak ada yang menjaganya. Masalah biaya nanti akan dicarikan jalan keluar.


"Tapi aku berpikir, tidak ada pelindung di keluarga kami setelah Ayah meninggal. Bagaimana kalau kami disakiti? Bukan karena kami ingin menang, tapi setidaknya kami masih bisa melawan walau akhirnya kalah. Kami bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Dimana keluarga Ibu, kami pun tidak tahu sama sekali, Ibu seperti anak yatim piatu tanpa keluarga. Lalu keluarga Ayah sering meremehkan Ayah, mengata-ngatai buat apa menyekolahkan ketiga anak perempuannya hingga tidak punya harta karena nantinya kami juga akan berakhir di dapur."


"Bisa dikatakan selama di asrama aku hanya tidur beberapa jam saja. Aku terus belajar agar lebih unggul dari teman-temanku, targetku mendapat beasiswa agar tidak merepotkan Kak Litha soal biaya, dan tanpa sepengetahuannya aku juga mulai belajar taekwondo. Dalam waktu dua tahun aku sudah bisa memegang sabuk hitam dengan nilai memuaskan. Tujuanku hanya satu, melindungi keluargaku, aku merasa airmata mereka sudah dihabiskan kemarin saat tragedi Kak Tisha dan meninggalnya Ayah. Aku tidak ingin melihat terutama Kak Litha, menangis lagi."


Ray diam saja, membiarkan Vania menumpahkan semua isi hatinya, lama-lama rasa kesalnya berubah menjadi kasihan.


"Awalnya kukira Kak Litha menangisi Ibu, tapi aku merasa ada yang aneh, ternyata benar, ia akan dibuang suaminya dalam kondisi hamil. Tekadnya membesarkan anaknya seorang diri membuatku semakin sakit hati. Kakakku yang baik kenapa harus bernasib buruk? padahal setahuku ia tidak pernah menyakiti siapapun."


Jebol sudah pertahanan Vania, ia menangis terisak. Ray tahu secara tidak langsung ia juga telah menyakiti hati adik iparnya. Ray mendekati Vania dan memeluknya.


"Kakakmu adalah wanita paling baik yang kutemui dalam hidupku, bagaimana mungkin aku membuangnya?"


"Tapi kenapa Kakak Ipar ingin menceraikannya?"


Tangis Vania makin menjadi, Ray melepas pelukannya dan menghapus air mata dari wajah Vania.


"Siapa bilang aku mau menceraikannya? Apalagi ada anakku dalam kandungannya, aku tidak segila itu."


"Lalu kenapa Kakak Ipar tidak datang saat Ibu dimakamkan?"


"Hhhhhhh .... Tawon ini terus mencecarku."


"Dalam rumah tangga pasti ada selisih paham. Aku akui aku yang salah, aku telah membuat kakakmu menangis. Tapi untuk sekarang dan seterusnya, kupastikan ia hanya akan tersenyum bahagia. Kau tidak perlu khawatir, fokus saja pada pendidikanmu. Apalagi namamu sudah masuk dalam penerima beasiswa ekslusif."


Clingg ...


Mata Vania mendelik tajam, "Darimana Kakak Ipar tahu namaku masuk dalam daftar penerima beasiswa eksklusif?"


Rayyendra tergelak keras, "Hahahahahahaha ... Litha, adikmu ini persis sama denganmu."


"Beasiswa ekslusif itu kan, program khusus Pradipta Asa Foundation, nama yang sama dengan nama belakangku kan?" sahut Ray masih tergelak.

__ADS_1


"Apa Kakak Ipar sengaja memasukkan namaku? Berarti aku masuk dengan cara yang tidak baik, itu nepotisme!"


Ray masih saja tergelak, ia merasa lucu sekali dengan adik iparnya ini, Vania tidak sadar bahwa beasiswa yang diterimanya itu dari yayasan milik kakak iparnya.


Setelah menenangkan tawanya Ray berujar, "Awalnya seperti itu, tapi setelah aku melihat secara keseluruhan nilaimu, kau cukup layak kok dan scoremu saat tes ujian penerimaan beasiswa juga tinggi. Jadi tidak ada alasan menolakmu sebagai kandidat penerima beasiswa."


"Tapi kalau teman-teman dan guru-guruku tahu pasti akan berpikiran negatif."


"Ya, jangan dikasih tahu. Kalaupun mereka tahu, peduli amat, fokus saja pada belajarmu, tunjukkan bahwa kau memang layak memperolehnya."


Ray berdiri, mengulurkan tangannya untuk membantu Vania berdiri.


"Jangan beritahu Kak Litha ya, kalau aku bisa beladiri."


"Kenapa? Bukannya bagus?"


"Aku tidak mau dicerewetinya. Cerewetnya lebih berisik dariku. Kalau Kakak Ipar menyebutku Tawon, Kak Litha adalah ratu tawonnya. Kakak Ipar pasti belum pernah dicerewetinya, makanya belum tahu betapa berisiknya dia."


"Hah! Apa?" tanya Ray kaget.


Giliran Vania yang tergelak, ia sudah membuka dirinya pada kakak iparnya,


"Kak, berjanjilah Kakak tidak akan menyakiti Kak Litha. Jika Kakak Ipar sudah tidak menginginkannya, kembalikan pada kami dengan cara yang baik, setidaknya itu lebih manusiawi," ucapnya serius layaknya orangtua Litha.


"Heh. Kenapa kau berpikiran yang tidak-tidak. Litha sudi memaafkanku saja sudah anugerah tak ternilai. Tenanglah, Kakak Ipar mu ini berjanji akan selalu membahagiakan kakakmu."


Ray merangkul adik iparnya, mengusap lembut pundaknya, menghilangkan semua kekhawatirannya.


"Besok Kak Litha sudah boleh pulang ya?"


Ray mengangguk.


"Kalian akan tinggal dimana?" tanya Vania lagi.


"Di rumah yang sudah disiapkan Asisten Yan, kalau kamu, Paman dan Bibi mau ikut tinggal silahkan, kamar di rumah itu cukup banyak."


"Ah, tidak. Kami tetap tinggal di rumah kami saja, kami yang akan sering datang menjenguk Kak Litha," tolak Vania.


"Sebelum pulang, aku ingin ke makam ibumu, meminta maaf," kata Ray.


"Orang sudah meninggal kok dimintain maaf, siapa yang jawab?"


Glek, benar juga ...


"Kalau Kakak mau ke makam Ibu, lihatlah makam di sebelahnya?"


Ray menatap Vania bingung.


"Itu makam Ayah. Kakak Ipar belum pernah sowan kan sama Ayah semenjak menikah dengan Kak Litha, meski hanya berupa nisan sih?"


Deg ....


Anak ini memang duplikat Litha.


Ray mengangguk dan tersenyum, "Pasti."


Ray dan Vania berjalan keluar dari Dojang diikuti Abyan, melangkah bersama dengan rasa hati yang berbeda dengan saat mereka masuk. Kini, Ray seperti memiliki adik perempuan dan Vania merasa Kakak Iparnya adalah abangnya sendiri.


- Bersambung -


Keterangan :


Apseogi adalah sikap kuda-kuda jalan dalam olahraga Taekwondo.

__ADS_1


Dollyo Chagi adalah salah satu teknik tendangan taekwondo memutar ke samping


__ADS_2