
"Ray....!!!"
Muncul sebuah suara nyaring mengagetkan mereka berdua. Litha langsung mendorong tubuh dan melepaskan ciuman Ray. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, sangking malunya ia. Ciuman pertamanya diambil paksa dan dipergoki orang lain. Ahhh.... serasa ia ingin masuk ke dalam perut bumi.
Berbeda dengan Rayyendra, alih-alih malu malah dia tersenyum puas mendengar siapa pemilik suara yang meneriakinya. Ia merasa tertantang sekarang.
"Sa-- saya permisi dulu Tuan."
"Silahkan."
"Kau sungguh hebat Litha, bisa menghilangkan rasa bosanku. Kau pantas mendapatkan ciumanku," bisik Rayyendra sebelum Litha mengangkat mangkuk dari atas meja.
Hiiiii.....
Litha bergidik ngeri mendengar apa yang dibisikkan Rayyendra. Ia pamit dengan gugup membawa semangkuk besar telur yang telah dikupas ke dapur belakang, menghindari dari rasa malu sebenarnya.
"Ya Tuhan ..., Bagaimana ini? Tuan-tuan Muda itu membuatku kesal. Yang satu ingin bertemu dadakan yang satunya pemaksa. Duh, Nenek, kenapa belum pulang? Atau aku pulang duluan saja?" ujar Litha pelan sambil berjalan cepat ke arah dapur belakang.
Litha tidak ingin menoleh ke belakang, ia tidak mau melibatkan diri diantara Tuan-tuan Muda Pradipta di dapur rumah utama. Saat ini biar Tuan Muda Rayyendra saja yang menjawab apa yang terjadi ke Tuan Muda Firza.
Sementara itu di dapur rumah utama, Firza menghampiri Ray yang posisinya masih sama saat mencium Litha. Diangkatnya kerah kemeja Rayyendra ke atas.
"Apa yang kau lakukan, Ray?"
Firza menahan emosinya untuk tidak menghajar Rayyendra, gerahamnya sudah ia katupkan sedari tadi saat ia melihat Ray mencium Litha.
"Hah! Menurutmu apa yang kulakukan? Kau melihatnya, kan? Aku melakukan seperti yang kau lihat."
Ray menjawab santai tidak bergeming walau kerahnya diangkat kuat oleh Firza.
"Kenapa?!?"
Ray menghempas kuat tangan Firza dari lehernya. Ia berdiri, menantang tatapan marah saudara angkatnya.
"Aku berhak mendapatkan hadiahku, aku memenangkan permainan yang dibuatnya. Ini kesepakatan kami. Kau yang tidak perlu ikut campur."
"Jangan kau sakiti dia!" kata Firza lirih.
Rayyendra merapikan kerah bajunya, ditatapnya sekali lagi wajah marah tertahan Firza. Ia tersenyum sinis, lalu berkata,
"Kau tahu bibir Litha seperti bubur polos hangat. Aku beruntung mendapatkan ciuman pertamanya."
Ray meninggalkan Firza dengan perasaan sangat puas. Belum pernah sepuas ini ia membuat Firza marah sejak ia resmi menjadi cucu angkat neneknya. Ia sudah mendapatkan amunisi untuk menghancurkan Firza.
Firza mematung dengan puncak emosinya. Tangannya mengepal kuat. Begitu Ray berlalu, Firza memukulkan tangannya di meja dapur yang terbuat dari marmer kualitas nomor 1 di dunia, Ditekannya buku-buku jarinya hingga kepalannya memerah.
Dia, Firza, yang melintasi benua dengan tergesa-gesa demi seorang wanita yang ada di dalam hatinya, ingin memeluknya untuk menenangkannya karena tadi malam baru saja hal buruk menimpanya. Namun, apa yang ia dapati justru melukai bukan saja hatinya tapi juga harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Di lain tempat, di dapur belakang, Litha mencari Pak Is untuk menyerahkan telur yang sudah terkupas.
"Bi Tati, Pak Is mana ya?" tanya Litha pada seorang wanita setengah baya yang sedang merapikan dapur belakang.
"Tidak tahu, Nona. Ada yang bisa Bibi bantu?"
"Ah ya, ini telur puyuh yang sudah saya kupas tadi, Bi." Litha menyerahkannya pada bibi rumah tangga yang bertugas di bagian dapur belakang, tempat para pelayan melakukan aktivitas dapurnya.
"Baik, Nona. Ada lagi?"
"Hmmm ... Bi, saya ijin pulang, tiba-tiba saya tidak enak badan. Mohon disampaikan ke Pak Is ya, Bi, agar nanti Pak Is akan menyampaikan langsung ke Nyonya Besar ketika beliau sudah pulang."
"Baik Nona, akan saya sampaikan. Apa Nona ingin pulang sekarang? Pak Sas sedang mengantar Nyonya Besar, siapa yang akan mengantar Nina sampai ke pintu gerbang utama?"
"Saya akan jalan kaki saja, Bi."
"Jauh lho, Non, jaraknya."
Litha terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. Benar kata Bibi jarak rumah utama sampai kedepan pintu gerbang utama lumayan jauh.
"Nanti saya yang antar."
Suara berat menyahut, Litha menoleh ke arah suara, untuk kesekian kalinya jantungnya serasa mau jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Tidak-- Tidak perlu Tuan. Kaki saya masih kuat, kalsium saya masih banyak. Saya akan ke gerbang utama dengan jalan kaki saja. Ya sudah ya Bi, saya pamit dulu."
Litha tidak mau terlibat lebih jauh dengan kedua Tuan Muda Pradipta. Ia mengambil insiatif langsung berjalan ke arah pintu keluar dapur. Namun, langkah panjang kaki Tuan Muda Rayyendra mampu menyusul langkah pendek Litha.
"Aku tidak biasa menerima penolakan. Tunggulah disini! Aku akan mengambil mobilku dulu."
Ray tidak menunggu persetujuan Litha, ia menuju dimana mobilnya terparkir. Litha tidak berani melawan, ia tahu cucu neneknya yang ini adalah pria yang dominan, ia tidak mau mencari masalah, cukup sampai di permainan telur puyuh itu.
"Bi, apa tadi Litha kesini?"
Kini Firza yang menyambangi dapur belakang. Bibi Tati semakin keheranan, baru saja Tuan Muda Rayyendra ke sini sekarang Tuan Muda Firza. Selama ia bekerja sejak sepuluh tahun lalu, tidak pernah kedua Tuan Mudanya menginjakkan kaki ke tempat ini. Mereka berdua kesini hanya mengejar Litha yang membawa semangkuk besar telur puyuh.
"Iya, Tuan. Baru saja Nona Litha keluar, mau pulang katanya, tadi ada Tu-- "
Kalimat Bibi Tati menggantung karena Firza sudah setengah berlari ke arah pintu dapur belakang, mencari Litha.
"Lith-- Litha-- " panggil Firza melihat punggung Litha .
Litha menoleh ke belakang, matanya membulat.
"Kau mau pulang?"
Litha mengangguk, wajahnya tertunduk, ia masih sangat malu, dipergoki Firza ketika Ray menciumnya.
"Aku antar ya?"
"Makasih, Kak. Tuan Rayyendra yang akan mengantarku pulang, dia sedang mengambil mobilnya."
"Apa dia memaksamu?"
Litha hanya tersenyum, senyum getir. Dia memang tidak punya pilihan, kan? Selama ini dia hanya mengikuti apa yang orang lain tentukan padanya, dia tidak punya kesempatan memilih. Dari titah Nyonya Besar, Rayyendra bahkan nasibnya sendiri tidak membuat multiple choice dalam kehidupannya.
"Lith -- " sahut Firza lirih.
"Maaf, Kak. Sekarang aku tidak enak badan."
"Ah ya ... Kau sudah melalui hal yang sulit. Istirahatlah, hubungi aku setelah baikan, ada yang ingin aku sampaikan."
Tiiiiiiiinnnnnnn........
Klakson panjang dari mobil Rayyendra, menyuruh Litha segera masuk ke dalam mobilnya.
"Kak, aku pamit dulu."
Firza hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
Dari dalam mobil Ray tersenyum sinis ke arahnya, ia sengaja memprovokasi Firza.
"Lama sekali!" sergah Ray begitu Litha duduk di dalam mobilnya.
"Lama?!? Kau baru saja tiba dan langsung menklakson nyaring, kau bilang lama? Kau sendiri yang memaksaku untuk mau diantar."
"Apa yang dia katakan?" tanya Ray melajukan mobilnya.
"Tidak ada."
"Kalian berdua tersenyum tapi tidak ada yang dibicarakan, apa kalian berdua tidak waras?"
"Hadeuhhh .... Tuan Muda, lama-lama aku yang tidak waras karenamu."
"Ya, memang tidak ada, Tuan. Tuan Firza hanya menanyakan apakah saya mau pulang. Itu saja."
"Nah, itu ada kan, yang kalian bicarakan. Tadi bilangnya tidak ada."
"Terserah kau, Tuan Muda ...."
Litha menghela nafas, malas menanggapi lelaki yang di sampingnya.
"Ceritakan aku tentang dirimu!"
Lagi-lagi Ray seenaknya memerintah.
__ADS_1
"Tidak ada yang menarik dari hidupku, Tuan."
"Kalau begitu ceritakan setidak menariknya hidupmu."
"Hah!?! Ada ya manusia model begini. Sama sekali tidak bisa menerima kata Tidak."
Litha menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, nyaris tak kelihatan.
"Saya lahir dan besar di Kota A. Saya mempunyai seorang kakak perempuan dan adik perempuan juga. Ketika saya baru saja menginjak kelas 3 SMA, ayah saya meninggal karena kecelakaan di Ibukota. Sejak saat itu, saya dan kedua saudara saya menjadi yatim."
Litha hanya menceritakan garis besar hidupnya saja. Ray pun tidak menanyakan lebih lanjut ataupun menanggapi, pandangannya lurus ke depan, konsentrasi pada setirnya.
"Tuan, berhenti di depan minimarket saja. Saya bisa berjalan sendiri ke kost."
Litha panik menyadari Ray lanjut mengendarai kendaraannya menuju rumah kostnya.
"Tidak apa. Kan, aku yang menyuruhmu untuk diantar, aku hanya menjamin saja kalau kau selamat sampai tujuan."
Litha terdiam. Bukan karena kata-kata Ray tetapi ia melihat beberapa penghuni rumah kostnya ada di teras halaman sedang mengobrol. Kehadiran Rayyendra terlalu mencolok.
Selama ini ia selalu diantar Pak Sas sampai depan minimarket di ujung gang, penghuni rumah kostnya agak berbeda dengan teman-teman kampusnya, kebanyakan mereka sudah bekerja dan tentu saja jika ia melihat Litha turun dari mobil mewah, betapa julidnya mereka.
"Kenapa? Kau masih ingin duduk di mobilku?"
Ray melihat wajah panik Litha, ia tidak mau turun. Ray melihat seksama lingkungan sekitar rumah kost Litha. Tidak ada yang aneh, sepi seperti biasa. Hanya beberapa wanita muda yang duduk-duduk santai di teras dan melihat ke arah mobilnya. Mereka masih mengenakan baju kerja, kemungkinan melepas lelah setelah pulang kerja.
Belum sempat Litha menjawab dering bunyi ponsel Ray menggema, ada nama Ramona di sana. Ray mengangkatnya.
"Sayang, kau dimana? Aku ke kantormu tadi siang dan menunggumu sampai sekarang di sini," tanya Ramona manja.
"Aku ada urusan di rumah utama."
"Kapan kau kembali? Aku rindu."
"Sekitar setengah jam lagi aku sudah selesai."
"Aku tunggu di loby kantormu sekarang. Aku tidak mau menunggumu di ruanganmu, ada Abyan disana."
"Oke."
"Cepatlah."
"Ya," Ray menutup sambungannya.
"Turunlah sekarang! Aku ada urusan," kata ray pada Litha.
Litha tidak bergeming, ia meremas tangannya. Ray tidak mengerti sumber kepanikan Litha. Tidak suka menunggu, ia membuka pintu, ia berjalan memutari bagian depan mobilnya lalu dibukakan pintu untuk Litha turun.
"Turun! Aku tidak punya waktu lama menunggumu."
Airmata di pelupuk mata Litha sudah menggenang, di kepalanya terngiang-ngiang perkataan ketua jurusannya waktu itu yang mengatakan ia memperburuk citra kampus dengan rumornya menjadi Baby Sugar. Jika rumor itu sampai ke penghuni kostnya, dia tidak bisa membayangkannya, apa yang mereka lontarkan bisa lebih kejam menyakitinya..
Namun, Litha jelas tak punya pilihan. Ia menuruti perintah Ray untuk keluar dari mobilnya. Tanpa bisa dikontrol, sebelah kiri mata Litha menjatuhkan airmata di pipinya. Cepat-cepat dihapusnya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Litha sangat pelan. Ray tidak menjawabnya.
Begitu Litha menginjak tanah, dengan segera Ray menutup pintu dan kembali ke balik kemudi.
Bbrrrmmmm......
Suara knalpot menderu meninggalkan Litha seorang diri menghadapi pandangan penuh tanya dan prasangka dari penghuni kost yang sedari tadi memperhatikannya.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih banyak Readers, masih mengikuti kisah Litha.
Mohon tinggalkan jejak ya, biar Author tetap semangat.
Salam sehat semua.....
__ADS_1