
Di rumah Keluarga Pradipta, Firza berhadapan dengan Nyonya Besar sebelum mengantar Litha pulang.
"Maaf, Nek. Beberapa hari ini Firza jarang datang mengunjungi Nenek, banyak yang harus Firza selesaikan di kantor."
Nenek Dayyu tersenyum, Firza tidak pernah berubah, dia tetap menjadi anak baik. Keputusannya mengangkat anak laki-laki delapan belas tahun silam adalah keputusan tepat, ia begitu yakin dengan instingnya bahwa Firza tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Terima kasih, Firza, kau sudah meluangkan waktumu kesini menengok Nenek, tidak seperti cucu bocah itu, selalu tenggelam dalam pekerjaannya."
"Perusahaan lagi pesat-pesatnya ekspansi, Nek, jadi Ray sangat sibuk. Semua keputusan besar perusahaan bergantung padanya. Nenek juga tidak perlu berterima kasih, kalau bukan karena Nenek, sekarang Firza sudah menjadi preman pasar atau tidak tahu masih hidup atau tidak hehehehehe...."
"Hahahahahahah... Kau selalu mengatakan hal itu."
Nenek Dayyu tertawa, lalu dilanjutkan kembali,
"Apakah kau akan setia sampai akhir, Firza?
"Maksud Nenek?"
"Aku sudah sangat tua, Firza. Aku hanya ingin meyakinkan diri sebelum aku pergi."
"Nenek .... "
"Berjanjilah padaku, Nak. Kamu tidak akan pernah meninggalkan Keluarga Pradipta apapun yang terjadi. Keluarga ini adalah keluargamu sampai mati. Nenek dan Rayyendra adalah keluargamu di dunia ini. Jangan diambil hati perkataan dan perbuatan Ray karena jiwanya berkembang tidak sempurna."
"Aku tahu, Nek. Aku tidak akan pernah membenci Rayyendra, dia kuanggap adikku sendiri yang sering menjengkelkan namun aku sangat menyayanginya. Nenek tidak perlu khawatir, janjiku ini akan kupegang dengan nyawaku, Nek , bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Keluarga Pradipta. Aku akan melakukan apapun yang Nenek titahkan padaku."
Firza menggenggam tangan neneknya, dahinya agak berkerut melihat tangan Nyonya Besar terlihat membengkak. Nenek Dayyu yang menyadarinya, menepuk punggung tangan Firza. Lelaki muda itu tersenyum, sudah saatnya ia membalas budi baik wanita tua ini.
"Kau memang tidak pernah sekalipun mengecewakanku. Aku bangga padamu, Firza. Jagalah Ray dan keluarganya kelak seperti kau menjaga adikmu sendiri."
Firza mengangguk dan menatap netra tua di depannya. Nenek sangat bahagia mendengarnya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya sekarang. Setelah berbincang-bincang sejenak mengenai perusahaan dan lainnya, dia pamit sekalian mengantar Litha pulang.
Firza tidak langsung mengantar Litha pulang, ia mampir di tempat yang sama saat menghimpun asa untuk menjadi sandaran hatinya.
__ADS_1
"Ada apa, Kak? Kayaknya ada yang serius ya?" tanya Litha setelah duduk di pinggiran sungai yang melintasi ibukota.
"Hmmm ... Lith, seandainya kamu mengetahui siapa penyebab dari rentetan peristiwa buruk yang terjadi pada keluargamu, apa kamu akan melaporkannya?"
"Peristiwa buruk?"
Litha bingung dengan apa yang dibicarakan Firza, sedangkan Firza sendiri memegang erat amplop coklat besar di pangkuannya dengan penuh keraguan.
"Pria yang memerkosa kakakmu, orang yang menutup kasus Tisha dan orang mendalangi tabrak lari juga percobaan pemerkosaan padamu."
Mata Litha menatap tajam ke Firza, mencari kebenaran dari perkataannya.
"Kak Firza menyelidikinya?"
"Maaf, Lith. Aku memang menyelidikinya."
"Apa yang Kakak ketahui?"
"Semuanya, Lith. Kalau kau mau aku akan mencari bukti baru untuk kau laporkan, kau bisa memperjuangkan keadilan bagi keluargamu. Aku akan membantu."
Pertanyaan Litha kali ini mengkakukan lidah Firza untuk berucap. Kenapa Litha balik bertanya apakah perlu melaporkan kembali kasus kakaknya ditambah ayah dan dirinya sendiri. Firza mencoba menelaah ke dalam pikiran Litha, menelusuri jalan pikiran Litha.
"Setelah aku menerima fakta bahwa Ibu survivor cancer setelah ayah meninggal, aku berpikir banyak dan lama sekali kenapa semuanya terjadi berurutan dalam satu waktu? Apa Ayah dan Ibu punya dosa masa lalu yang akibatnya harus diterima oleh keturunan mereka? Atau apakah ini semacam ujian naik level kehidupan? Sangking kalutnya, aku hampir mengakhiri nyawaku sendiri, Kak."
"A-- apa--?!? Ibumu terkena kanker? Dan kau sempat bunuh diri?"
Firza tercengang karena ia tidak menerima informasi dari detektif kalau ibunya Litha seorang penderita kanker dan Litha nyaris bunuh diri.
"Iya, kanker tulang stadium II waktu itu, namun penyakit Ibu bertambah parah karena selain kondisi jiwa Ibu yang tidak stabil ditambah kami tidak memiliki biaya untuk mengobati Ibu, Ibu bilang uangnya untuk membiayai perawatan Kak Tisha saja. Kini, tulang kering kakinya makin digerogoti kanker, untungnya dengan gaji yang besar dari Nenek, aku bisa membiayai perawatan Kak Tisha, kemoterapi dan obat-obatan untuk Ibu, serta biaya sekolah Vania."
Litha menghela nafasnya berat, hebatnya dia tidak seperti kemarin yang menangis saat menceritakan kakaknya. Kini ia bisa tersenyum, senyum yang dipaksakan.
"Begitu berat beban saat itu. Menjelang ujian akhir SMA, tingkat stress-ku sudah pada puncaknya hingga aku meminum cairan pembersih lantai di dapur, namun baru sedikit yang kuminum, Ibu memergokiku, Kak. Aku langsung muntah di depan Ibu yang melihatku sambil menangis hebat. Disitulah hati dan pikiranku seperti mendapat pencerahan. Aku kembali memulai, aku belajar untuk ujian dan melakukan apapun yang bisa menghasilkan uang, minimal untuk kami makan hari itu agar tabungan yang tersisa sedikit, bisa digunakan untuk Kak Tisha."
__ADS_1
Firza benar-benar terhenyak, hatinya sakit mendengarnya. Litha di usianya yang sangat muda harus membagi waktu untuk belajar, bekerja, merawat dan memperhatikan keluarga dengan mengesampingkan perasaanya yang tidak kalah hancur.
"Tuhan Maha Baik, Kak. Aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, bahkan aku menerima beasiswa penuh di tempatku kuliah sekarang. Semangatku kembali membara, aku kuliah sambil bekerja part time di restoran cepat saji tanpa kendala. Kemudian nasib baik membawaku ke sisi Nyonya Besar.
Jadi, kalau aku memikirkan kembali kejadian yang menyebabkan keluarga kami hancur, artinya aku mundur ke belakang, Kak. Bukannya aku takut atau aku tidak peduli, tapi melihat ada kebaikan-kebaikan yang mampir dalam hidupku belakangan ini, aku yakin kemalangan pada hidupku sudah kuhabiskan di waktu yang lalu, sekarang aku yakin hanya keberuntungan yang akan mendekatiku."
"Litha --"
Firza tidak sanggup berkata-kata. Isi kepala Litha lebih dewasa dari umurnya. Bahkan sikapnya kali ini jauh lebih dewasa dari perkataannya.
"Dengan kata lain, siapapun penyebabnya, biarlah menjadi hukuman buruk bagi yang melakukannya pada keluarga kami. Bukankah Tuhan tidak tidur."
"Percaya karma?"
Akhirnya Firza bisa mengucapkan sepatah kata, Diurungkan niatnya untuk menyerahkan amplop coklat itu ke Litha.
"Biarlah semua informasi ini aku menyimpannya sendiri," ucap Firza dalam hatinya.
"Bukan masalah percaya atau tidak percaya, Kak. Hidup ini selalu berbicara sebab akibat, dari lahir sampai mati," jawab Litha.
"Lith, kau tahu, betapa beruntungnya pria yang akan ditakdirkan menua bersamamu. Aku berharap itu adalah aku orangnya."
"Hahahahahahaha...... Kak Firza bisa saja! Kakak tahu, betapa beruntungnya wanita yang akan ditakdirkan hidup bersama Kak Firza nanti, wanita itu pasti akan bahagia."
"Kamu tidak berharap kamulah wanita tersebut?"
Pertanyaan yang meluncur dari bibirnya membuat jantungnya berdegup keras, berharap jawabannya sesuai dengan yang ia mau.
"Hmmmm.... bisa jadi aku berharap demikian tapi kita tidak tahu garis jodoh kita bertaut pada siapa."
Glek ....
Firza menelan salivanya terdiam. Benar kata Litha, kita boleh berharap dengan sekuat tenaga dengan siapa kita berjodoh, tapi kita tidak bisa melawan garis yang telah Tuhan tetapkan dalam takdirNya.
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya, Litha membuat Firza tidak bisa berkata apapun.
- Bersambung -