Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Menunggu Rapat


__ADS_3

Litha menurut untuk melepas blazer dan sekarang hanya mengenakan dress hitam dengan leher model sabrina tanpa lengan yang menegaskan tulang selangkanya. Dengan hanya bercelana boxer, lelaki bertubuh kekar itu berjalan mendekat ke istrinya lalu mendekapnya dari belakang, "Jangan mengikat rambutmu seperti ini, kau mau pamer leher indahmu, hah!"


"Mas, aku sudah rapi. Jangan membuatku berantakan, kau juga harus bersiap bukannya utusan Mr. Anderson itu di agendakan pagi?"


"Hhmmmhhh ... Aku akan minta Abyan menukar dengan agenda setelahnya jadi kau tidak perlu terburu-buru merapikan dandananmu lagi."


"Eennghh ... Mas, malam saja ya, aku sudah rapi," bujuk Litha enggan, dia lelah harus membayangkan mandi keramas lagi, mengeringkan rambutnya lagi dan berdandan lagi.


"Siapa suruh kau cantik begini pagi-pagi, hemmm ... Aku melarangmu memakai pakaian dengan model kerah begini dan mengikat rambutmu tinggi di luar kamar kita" Ray langsung menerkam dan menggigit lembut leher Litha hingga terdengar suara desa*han yang makin membangkitkan gelora rasa keperkasaan dalam dirinya.


Litha tidak dapat menolaknya, suaminya memang pemaksa apalagi dalam tuntutan pemenuhan hasrat biologis. "Iiisshhh ... Mas, kau membuatku kesal."


Ray tergelak sambil membalikkan badan Litha menghadapnya, "Kita lihat, sampai dimana kau kesal, haa ..."


"Ck." Litha mencebik namun pasrah dengan tangan suaminya yang sudah mengge*rayangi bagian dadanya yang semakin membesar dan hampir tiap saat menjadi sasaran telapak tangan suaminya.


.


.


.


Litha membuka pintu setelah bel berbunyi, seperti biasa menyilakan Asisten Yan untuk sarapan dan menyalakan TV.


"Ray, kenapa istrimu merengut? Kalian bertengkar?" tanya Abyan yang heran baru kali ini melihat Litha tanpa senyuman saat membuka pintu.


"Aku merusak dandanannya yang sudah rapi dan dia harus mengulangnya kembali hahahaha ... " jawab Ray tertawa geli, masih mengingat bibir istrinya yang mengerucut setelah mereka berdua mencapai kli*maks.


"Dasar maniak! Kerjaannya horny mulu!" (horny \= naf*su)


Ray terbahak mendengar umpatan sahabatnya, ia sama sekali tidak keberatan disebut maniak, karena ia memang mengakui dirinya maniak dengan tubuh istrinya sendiri.


"Kau sudah menukar agenda pagi ini? Utusan Mr. Anderson tidak keberatan kan, Karena Litha harus bersiap kembali dan nanti diantar Pak Sas ke kantor."


"Tidak."


"Sekarang kau buat istrimu kesal tapi sebentar kau yang belingsatan hahahahaha ... " Abyan tertawa jahat dalam hati.


...***...


# Lantai Presdir Gedung Pusat Pradipta Corp. #


Ting.


Pintu lift terbuka, Litha keluar menyapa Pak Gito dan Pak Andi dengan ramah lalu mendekati meja sekretaris suaminya, "Kak, apa Suamiku ada di dalam?"

__ADS_1


"Iya, Nyonya. Tuan Muda sedang menerima tamu dari Bintang Entertainment. Saya akan memberitahu Tuan Muda kalau Nyonya sudah datang." jawab Sasha berdiri memberi hormat pada Litha.


"Eh, tidak usah, Kak. Aku tidak mau mengganggu. Aku tunggu disini saja. Kak Sasha tidak keberatan, kan kalau aku mengobrol sedikit sambil menunggu?" tanya Litha sopan. Meski Sasha adalah sekretaris suaminya, tapi ia tetap menyapa dengan sapaan Kakak karena selain usianya lebih jauh lebih tua, dia juga ibu dari dua orang anak yang tengah beranjak remaja.


"Eh, tentu-- tentu saja, Nyonya." ujar Sasha yang langsung menyodorkan kursinya untuk Litha duduk, ia akan meminta Pak Gito untuk mengambilkan kursi lainnya.


"Jangan, aku duduk di kursi yang Pak Gito ambilkan saja," tolak Litha tidak enak karena ia merasa sudah mengganggu aktivitas kerja sekretaris suaminya.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Kursi saya lebih nyaman buat Nyonya yang sedang berbadan dua daripada kursi yang sedang diambilkan Pak Gito. Silahkan Nyonya."


"Maaf merepotkan ya, Kak."


"Aih, Nyonya, satu gedung ini punya Nyonya, bagaimana bisa Nyonya berpikiran merepotkan hanya untuk duduk di sebuah kursi sekretaris," bathin Sasha.


"Sebenarnya aku ingin menyapa Kak Firza di lantai bawah, tapi aku belum minta izin Suamiku. Oh iya, Kak, Bintang Entertainment itu perusahaan apa?"


Sasha tersenyum dan berkata, "Produk yang berada dibawah naungan Pradipta Corp. akan membuat iklan baru. Bintang Entertainment adalah manajemen artis yang memenangkan tender untuk menyediakan talent di iklan-iklan kita, Nyonya. Sekarang Tuan Muda dan tim kita sedang rapat membahas MoU dengan pihak mereka, biasanya agenda seperti ini dilakukan di ruang rapat. Tapi Tuan Muda yang menginginkan di ruangannya karena sedang menunggu Nyonya."


Mulut Litha membulat, tanda ia mengerti. "Aku disini saja, tidak enak lagi serius rapat tiba-tiba aku masuk."


Sasha terkekeh, bathinnya mengatakan mungkin kepolosan seperti ini yang membuat Tuan Mudanya sekarang selalu pulang tepat waktu. Mata Sasha menangkap beberapa guratan merah di leher Nyonya Muda meski sudah ditutupi dengan rambut terurai menjadikannya makin terkekeh penuh arti.


"Kudengar Kak Sasha sudah bekerja sebelum Suamiku menjadi Presdir ya? Berarti jamannya mendiang Nenek, Kakak sudah menjadi sekretaris?"


Sasha mengangguk, "Iya Nyonya, setelah lulus kuliah saya diterima bekerja di sini, dalam waktu 3 bulan saya mendapat jabatan Sekretaris Presdir langsung dari Nyonya Besar. Beliau sudah saya anggap seperti ibu saya, karena beliau tahu bahkan menolong kehidupan pribadi saya."


Sasha mengangguk lagi, "Nenek sangat mengenal saya dari lajang, menikah, punya anak, bercerai, sampai kini menjadi single parent."


"Oh, Kak Sasha sudah bercerai, maaf mengungkit luka lama Kak."


"Jangan sungkan Nyonya, itu bukan luka tapi kekhilafan. Saya menikah dengan lelaki yang tidak menghargai saya sebagai perempuan, waktu itu Nyonya Besar sudah mengingatkan tapi karena masih muda dan dimabuk cinta, saya tidak menghiraukannya. Selama menikah, saya yang menjadi tulang punggung keluarga secara ekonomi. Saya pun tidak keberatan, dengan gaji saya seorang sangat lebih dari cukup menghidupi keluarga saya. Setelah anak kedua saya lahir, ternyata dia merasa waktu saya habis hanya untuk bekerja, itu alasan dia selingkuh saat tertangkap basah. Bukannya minta maaf malah melakukan KDRT. Sebenarnya saya masih ingin bertahan demi anak-anak tapi Nyonya Besar menyarankan agar saya berpisah saja agar hidup saya lebih tenang bahkan dengan kerendahan hati beliau bersedia menjadi saksi saya di persidangan. Dan saya tidak menyesal menggugat cerai lelaki tidak bertanggungjawab seperti itu."


"Tentu saja itu namanya tetap luka Kak, meski kita sudah bisa menerima sepenuhnya. Luka itu akan tetap ada karena dia bagian dari buku kehidupan. Aku juga punya luka seperti Kakak dengan cerita yang berbeda. Aku menerima sepenuhnya bahwa itu adalah bagian dari hidupku dan tidak mungkin aku akan duduk di samping Kak Sasha sekarang kalau tidak mengalami luka itu. Tapi bagaimanapun juga aku manusia biasa yang juga merasa sakit atas luka itu, jadi aku tidak suka mengingat kembali rasa sakitnya."


Sasha terpana dengan penuturan Nyonya Mudanya, ia penasaran luka seperti apa yang dialami olehnya, apakah lebih menyakitkan dari lukanya? Yang jelas, karakter Litha terbentuk dari rasa sakitnya, sikap dewasanya lahir dari torehan luka di masa lalu.


"Senang sekali saya berbincang dengan Nyonya. Tapi apakah Nyonya tidak ingin menanyakan bagaimana keseharian Tuan di kantor?"


"Tidak perlu. Ketika Suamiku keluar dari rumah, separuh dirinya bukan milikku. Di kantor dia milik sekian ribu karyawan Pradipta Corp. Di depan publik, ia milik masyarakat. Tanggungjawab di pundaknya sangat besar, aku tidak ingin bergelantungan di sana setiap saat. Aku percaya padanya, seribu persen, kalau Suamiku tetap berjalan pada koridornya. Lagian kalau aku bertanya, pasti Kak Sasha mengatakan hal yang baik-baik saja kan, hehehehe ... "


"Ya Tuhan, apa ini istri wasiat mendiang Nyonya Besar yang dikatakan Asisten Yan? Sifat Nyonya Muda sangat mengimbangi sifat Tuan Muda yang tidak suka dikekang. Nyonya Besar sangat jeli melihat kepribadian seseorang. Pantas saja Nyonya Muda yang dipilih untuk mendampingi Tuan Muda."


Masih ingat dalam ingatan sekretaris tomboy itu saat Nyonya Besar menitipkan Tuan Muda padanya ketika serah terima jabatan Presiden Direktur.


"Daripada Kak Sasha menceritakan Suamiku, lebih baik sharing pengalaman Kakak saja ketika mengandung dan melahirkan. Teman ceritaku mengenai kehamilan hanya Bik Tati, itu juga di rumah utama sedangkan kami tinggal di apartemen. Ibuku dan ibu mertuaku sudah meninggal, Bibiku tidak pernah mengandung, diantara saudaraku baru aku yang menikah, Ninda juga belum menikah. Kadang aku bingung Kak kalau aku merasakan sesuatu di perutku, apakah normal atau bagaimana."

__ADS_1


Hati Sasha pedih mendengarnya, dibalik kebahagiaan yang nampak dari luar, ternyata Nyonya Mudanya memiliki kegelisahannya sendiri, tentu saja meski diceritakan ke suaminya, segala hal tentang ibu hamil hanya dapat dimengerti oleh yang pernah merasakannya.


"Bukankah Nyonya bisa konsultasi dengan dokter?"


Litha menghela nafas, "Aku tidak begitu mengenalnya. Meski dokter menyediakan waktu 24 jam untukku tapi aku sungkan saja bertanya ini itu, hehehehe .... "


"Nyonya adalah Nyonya Pradipta, tentu sangat boleh merepotkan mereka dengan berbagai pertanyaan. Semua dokter yang menangani Keluarga Pradipta memiliki gaji tersendiri lagi tiap bulannya yang besar, dan itu sebanding dengan konsekuensi mereka harus siap 24 jam begitu dibutuhkan. Jadi kalau Nyonya tidak menggunakan jasa mereka, sama saja mereka makan gaji buta."


Litha terkekeh mendengarnya, Sasha pun menyambung kalimatnya, "Tapi kalau Nyonya merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan saya, saya siap Nyonya."


"Tapi aku tidak menganggu pekerjaan Kakak, kan?"


"Kalaupun iya, pasti Tuan Muda tidak akan memarahiku, hahahahaha .... "


Mereka berdua tergelak bersama, Litha sangat senang ada yang bisa diajaknya mengobrol dan saling menanggapi, bukan tembok apartemennya yang selalu diam jika ia ajak bicara.


.


.


.


Beberapa saat kemudian.


Ceklek.


Pintu ruangan Presdir terbuka dan keluarlah beberapa orang yang ber-ID Card Pradipta Corp. mereka tersenyum pada Sasha yang berdiri dan Litha yang tengah duduk. Kemudian di susul beberapa orang tanpa ID Card, mungkin mereka dari pihak Bintang Entertainment. Namun Litha tercekat melihat salah satu wanita dari mereka berpakaian sangat ketat dan mini, hanya diberi blazer untuk kesan formal. Dengan sepatu tinggi runcing menjejak lantai, berjalan angkuh menapakkan kakinya hingga menyisakan bunyi di telinga. Melewati Sasha dan Tisha dengan senyum sinis.


Wanita itu sengaja bersuara keras agar didengar oleh orang-orang di situ, "Sudah kubilang, Pak Paul tidak perlu khawatir menghadapi Tuan Muda Pradipta kalau aku yang menemani Pak Paul. Semuanya beres, kan? Aku rela meninggalkan syuting stripping pagi ini untuk rapat dengan Tuan Muda. Dan lihat, semua berjalan lancar berkat diriku."


"Ya, ya. Kau memang luar biasa, Renata. Beruntung kau bergabung dengan manajemen kami," kata pria paruh baya itu menuju lift yang terbuka.


Tidak dipungkiri hati Litha sedikit panas, "Apa maksudnya semua lancar berkat dirinya? Apa Suamiku menyukai penampilan wanita langsing itu? Bukankah tadi pagi ia bilang menyukai tubuhku yang gemukan dengan perut buncit. Ah, dasar lelaki, ck!"


Rasa-rasanya Sasha ingin terbahak melihat wajah Litha yang merengut dan sedikit tertekuk. Meski Litha menutupi dengan senyuman manisnya, mata berapi cemburu jelas nampak, belum lagi suara lembut Litha yang sedari tadi berbincang dengannya kini berubah menjadi lengkingan ketika melihat asisten suaminya di depan pintu ruang Presdir.


"Asisten Yan, Suamiku manaaa?"


Dan Litha langsung menuju ke ruangan suaminya tanpa pamit atau basa-basi pada Sasha. Begitu Litha dan Abyan sudah masuk dan pintu ruang Presdir tertutup sempurna, Sasha meledakkan tawanya hingga Pak Gito dan Pak Andi memandangnya dengan heran.


"Ada apa? Sudah lama sekali Sasha tidak tertawa lepas seperti itu." tanya Pak Gito di dekat pintu lift menatap sekretaris Presdir itu.


"Iya, terakhir kalinya ia tertawa saat berkencan dengan mantan suaminya," jawab Pak Andi.


"Apa dia punya kekasih baru?"

__ADS_1


"Entahlah. Tapi apapun itu, aku bersyukur bisa melihatnya tertawa seperti dulu," ujar Pak Gito menatap adiknya sendu.


- Bersambung -


__ADS_2