Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Tempat Berkesan


__ADS_3

Dinamakan Rumah Makan Gubuk Ikan, karena rumah makan ini menyediakan berbagai macam menu olahan ikan air tawar dan seafood. Tempat ini menyuguhkan pemandangan kolam yang jernih dengan ratusan ikan koi. Ada dua pilihan tempat makan, duduk di meja layaknya kafetaria dan di gubuk tanpa kursi alias lesehan.



Begitu masuk, Litha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, entah apa dicarinya, Ray hanya mengikuti saja.


"Yeay ... Ada yang kosong di sana, Mas. Ayo buruan, nanti diambil orang tempatnya," pekik Litha menunjuk ke salah satu saung - tempat makan yang terbuat dari bambu beratapkan daun rumbia dengan lesehan yang berada di atas kolam - yang kosong. Ia segera melepas gandengan di lengan suaminya dan berlari menuju tempat yang dimaksud.


"Litha, jangan lari!" teriak Ray panik, langsung ikut berlari menyusul Litha


"Syukurlah, kita dapat saung yang kosong, Mas," ujar Litha masuk ke dalam saung, tangannya dituntun Ray masuk ke dalam dengan agak membungkukkan badan.


"Kenapa lari? Kau lagi hamil, Litha .... " Ray menekan suaranya tapi Litha hanya cengengesan.


"Maaf Mas, lupa. Soalnya tiap aku kesini pasti nyarinya saung. Gak suka kalau duduk disitu, gak bisa main air." Litha menunjuk barisan kursi dan meja ala kafe.


"Kan bisa jalan, saungnya juga gak bakal lari."


"Saung tempat favorit pengunjung, Mas. Siapa cepat dia dapat, tadi kulihat tinggal saung ini yang kosong."


"Ck, harusnya aku sewa rumah makan ini biar istriku bebas memilih saung yang mana tanpa berlarian kalau kau hanya mengejar agar tidak keduluan sama pengunjung lain."


Ray terlihat kesal. Ia khawatir Litha lari tanpa menyadari kalau dirinya sedang hamil, bagaimana kalau ia tersandung dan aaarrrggghhhh .... Ray tidak bisa membayangkannya.


"Maaf ... Maaf, Mas. Tidak akan aku ulangi, oke ... " bujuk Litha menggenggam tangan suaminya.


"Ingat ya, aku tidak mau dirimu terluka. Titik."


Itu termasuk perkataan final Ray yang tidak bisa dibantah, Litha hanya membalasnya dengan kecupan cepat di salah satu pipinya hingga suaminya kembali tersenyum.


Pelayan datang membawa buku menu, Litha memesan ini itu sampai Ray melongo, "Itu yang kau pesan semua untuk makan di sini?"


Litha mengangguk dan meneruskan pesanan, Ray menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bisa kau habiskan?"


"Bisa, kalau enggak sisanya bawa pulang saja, nanti aku lanjutkan makan di rumah."


"Ck,ck,ck. Apa memang porsi makanmu sebanyak itu atau karena hamil?"


"Mungkin karena hamil, aku sering lapar belakangan ini," sahut Litha beringsut menggeser badannya ke arah tepian saung yang langsung bersentuhan dengan kolam. Ia turunkan kedua kakinya, menggoyang-goyangkannya di air.


"Pasti tempat ini sangat berkesan buatmu, sampai dibelai-belain kesini hari ini."


Ray juga menggeser badannya yang meskipun dalam keadaan duduk lesehan badannya tetap menjulang tinggi mengikuti istrinya duduk. Kakinya juga dimasukkan ke dalam air dan digoyang-goyangkan.


"Ayah hanya seorang pemilik toko kelontong di pasar, ia bergantian menjaganya dengan Ibu. Tugas Ayah setiap hari salah satunya mengantar jemput anak-anaknya sekolah, bisa dibayangkan kami semua naik dalam satu motor bebek, hahahaha .... "


Ray menyimak, dilihatnya ada raut kerinduan di bola mata coklat milik istrinya yang menatap kejernihan kolam dengan ikan koi yang menari-nari di sana.


"Sebenarnya di sekolah kami disediakan mobil antar jemput untuk siswa, tapi Ayah tetap bersikeras ingin mengantar jemput kami kecuali Ayah sakit. Kata Ayah, Ayah tidak ingin kehilangan moment itu, kapan lagi ia bisa berdekatan dengan kami, karena kami anak perempuan yang suatu saat akan pergi meninggalkan mereka mengikuti suami masing-masing, tidak disangka Ayah yang pergi meninggalkan kami duluan."


Litha menghela nafasnya panjang, kini pandangannya ke atas, ke langit biru berawan yang berarak ke barat.


"Posisiku selalu ditengah antara Ayah dan Kak Tisha, sedangkan Vania karena masih SD, ia di depan. Kami harus berangkat lebih pagi dari yang lainnya karena motor Ayah berjalan pelan sebab kelebihan muatan, selain itu agar menghindari penjagaan polantas di pagi hari. Ayah pernah ditegur tapi tidak sampai ditilang karena membawa kami semua dalam satu motor hahahahahaha ..... "


Litha mengenang masa indahnya bersama Sang Ayah. Kerinduan dimatanya semakin terlihat.

__ADS_1


"Sedangkan untuk pulang, Ayah bergantian menjemput karena jam pulang kami tidak sama. Meski Ayah laki-laki tapi ia sangat memahami kami, anak-anak perempuannya, bahkan kami masing-masing mendapatkan jatah sebulan sekali untuk me time bersama Ayah ditempat ini. Ayah adalah cinta pertama bagi kami bertiga.


Mas tahu kan, aku gemar sekali mengikuti lomba, adrenalinku serasa bergejolak ketika lomba berlangsung. Aku harus menang, itu tekadku, hingga pernah suatu ketika aku hanya mendapat juara tiga di pekan sains tingkat kota kelas 2 SMP, aku marah karena merasa gagal. Tapi sebelum kami pulang ke rumah, Ayah membawaku kesini padahal jatah me time bulan itu sudah ku pakai. Posisi duduk kami waktu itu sama persis seperti sekarang, Ayah duduk di sebelahku seperti Mas.


Ayah bilang, menang bukan segalanya, kalah tidak selalu buruk yang terpenting adalah sampai dimana batas perjuanganmu, jika itu sudah maksimal meskipun kau kalah maka sesungguhnya kau menang. Menang melawan sisi buruk diri sendiri adalah kemenangan yang hakiki. Mas tahu melawan sisi buruk diri sendiri yang dimaksud Ayah?"


Kakinya berhenti bergoyang, diangkatnya dan duduk bersila, wajahnya di hadapkan ke Ray seraya bertanya, yang ditanya hanya menggeleng. Litha menarik nafas yang membentuk kaca di kedua matanya.


"Melawan kemalasan, ketakutan, keegoisan, ketidaksabaran, ketidakpercayaan diri, dan pembenaran yang kita lakukan terhadap diri sendiri. Awalnya aku tidak mengerti mengapa Ayah mengatakan itu padaku, tapi sekarang aku sangat berterima kasih padanya dengan memberikan nasehat itu. Nasehat itu yang kupakai untuk bertahan selama ini, dari kegamangan, penghinaan, keputusasaan, kepedihan, kekecewaan bahkan rasa tidak berharga sewaktu Mas memaksaku melayanimu malam itu."


"Lith ... "


Ray tercekat, bahkan untuk menelan salivanya sendiri seperti terhalang di tenggorokan. Apalagi ia melihat Litha meneteskan airmata dari salah satu matanya.


"Lebih-lebih saat Mas memberiku cek 30 milyar. Harga diriku serasa amblas ke dalam lantai yang kupijak saat itu. Aku berpikir seandainya ayahku masih hidup ia tidak akan membiarkan putrinya direndahkan seperti itu, seperti ia memperjuangkan keadilan untuk Kak Tisha, semua yang keluarga kami miliki ia relakan hanya untuk mengembalikan harga diri putrinya. Tapi apa daya, ia hanya seorang yang kecil di mata masyarakat, yang bisa disepelekan bahkan dilibas begitu saja jika dianggap pengganggu."


Seketika Ray mengangkat kakinya dari kolam dan mengarahkan badannya menyamping untuk memeluk istrinya, ia letakkan kepala Litha di dadanya, ada rasa perih menusuk di hatinya, sangat perih.


"Maaf ... "


Hanya kata itu yang bisa diucapkan Ray dan diucapkannya berulang-ulang dengan pelan dan mata terpejam, seakan ingin mengambilnya lagi dan lagi dari hati yang paling dalam. Ray sangat menyesali perbuatannya yang ia anggap tidak sengaja karena malam itu di luar kendalinya. Tapi sengaja atau tidak sengaja, satu perbuatan telah dilakukan dan sekali lagi ia menyesalinya.


"Aku akan menebus kesalahanku dengan hidupku, Lith, seumur hidupku sampai aku mati," bisik Ray, matanya juga mengeluarkan buliran bening dari sudut matanya.


Litha yang mendengar penyesalan suaminya tersenyum. Ray telah menjadi pemenang karena telah mengalahkan sisi buruk dalam dirinya, meski hanya untuk istrinya saja, itu sudah cukup, tidak perlu untuk orang lain.


Litha melingkarkan tangannya ke badan suaminya, mengeratkan pelukannya tidak peduli jika ada yang melihat. Ia hanya ingin menguapkan rasa yang mengganjal di hati sebelum ke Ibukota, ia tidak mau membawa sisa-sisa rasa yang tidak nyaman dalam hati, sama seperti yang ia lakukan waktu itu pada ayahnya, menguapkan segala rasa kecewa akan kekalahannya dengan memeluk erat Si Cinta Pertama.


"Aku menerima penyesalanmu, Mas. Aku tidak akan pernah membahasnya lagi dalam hidupku karena semuanya sudah tergantikan dengan memilikimu dan dia." Litha mengucapkannya sembari tersenyum ke arah perutnya sendiri dan mengelus lembut yang diikuti dengan elusan Ray di perut yang kian membesar.


Ehemmm .... ehemmmmm ...


Dua orang pelayan berdehem menandakan bahwa ada manusia lain di bumi yang mereka huni. Sontak saja Ray dan Litha mengurai pelukannya dan merasa malu, tapi bukan Ray namanya kalau tidak cepat bisa menguasai situasi canggung seperti itu. Ray mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memberikan tip dua lembar uang dengan pecahan paling besar pada kedua pelayan itu.


"Ini untuk waktu yang kalian pakai untuk menungguku memeluk istriku. Maklum saja semenjak hamil dia tidak bisa tidak memelukku, bahkan di tempat umum sekalipun."


Litha membulatkan matanya dan mencubit perut sixpack Ray dengan sebal, yang dicubit hanya terbahak melihat wajah Litha semerah tomat matang.


Semua pesanan sudah terhidang dimeja, bahkan tidak muat sampai diberikan meja tambahan. Mata Litha yang tadi berair sudah berganti cerah seperti cuaca saat itu.


"Padahal dia sudah makan banyak di rumah? Apa ibu hamil memang seperti ini ya? Terserahlah, yang penting dia senang," bathin Ray tersenyum melihat istrinya sangat antusias dengan makanan yang dipesannya.


"Mas, gak makan?" tanya Litha, yang dijawab hanya dengan gelengan kepala.


"Makanlah, melihatmu lahap seperti itu sudah membuatku kenyang, lagian tadi kan, sudah makan di rumah."


"Oh ya Lith, apa kau sama sekali tidak tahu menahu tentang keluarga ibumu?" Ray mencoba sekali lagi mengorek informasi ibu mertuanya.


"Ibu tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya begitu juga Bibi Rima, mereka sudah saling mengenal sebelum Ibu menikah dengan Ayah dan Bibi Rima menikah dengan Paman Tino, hanya itu yang kutahu. Itupun tidak sengaja Paman Tino yang keceplosan mengatakannya. Tapi setelah itu ia dimarahi Ibu dan Bibi Rima, aneh kan? Setiap kali ku tanya Ayah, Ayah hanya menjawab kalau Ayah pertama kali mengenal Ibu di kampus mereka sebagai adik tingkat dan senior yang kebetulan waktu itu Ayah panitia ospek mahasiswa baru. Itu saja tidak lebih," jawab Litha dengan asyik menghi*sap kepala ikan gurame bakar.


"Ayah Ibumu kuliah dimana?"


"Ayah dan Ibu tidak mau memberitahukannya karena ada kenangan yang tidak mau diingat. Kuliah mereka putus ditengah jalan. Ayah membawa Ibu ke sini dan menikahinya di sini."


Ray lagi-lagi tersenyum melihat istrinya, di usapnya dengan lembut kepala Litha.

__ADS_1


"Mas seperti Ayah jika mengusap kepalaku seperti ini. Oh iya apa ada kenangan yang Mas ingat dengan ayah mertuaku, kan terakhir Mas ditinggal umur empat atau lima tahun kan?"


Ayah mertua ... Ah, Lith, kau membuat hatiku hangat ...


"Lima tahun, tidak banyak yang kuingat karena ayahku sibuk mengurus Pradipta Corp. tapi meskipun sibuk, selagi ia di rumah dan belum mendapatiku tidur, ia pasti akan membuat sendiri susu coklat hangat untukku."


"Oh ya? Padahal ku kira Mas tidak menyukainya karena waktu pertama kali kuberi Mas tidak mau."


"Biasanya aku marah kalau ada yang memberiku susu coklat hangat karena mengingatkanku pada mendiang Ayah, tapi entahlah rasa marah saat kau memberiku waktu itu bisa hilang dan kau tahu, itu pertama kali aku meminum lagi susu coklat hangat semenjak ayahku hilang."


Litha menghentikan makannya, ia mencelupkan tangannya di mangkok kobokan, dilapnya dengan tissu lalu ia menggenggam tangan dan menatap manik suaminya.


"Maafkan aku ... aku telah menyentuh luka masa lalumu. Pak Is tidak menceritakan bagian itu, jadi aku tidak tahu. Demi waktu yang sudah terlewati, aku minta maaf, Mas."


Ray mengernyit, ia menarik badannya ke belakang.


"Mas tidak mau memaafkan aku ya?" tanya Litha, raut mukanya berubah.


Ray langsung menjawabnya cepat, ia tidak mau ada salah paham, "Bukan ... bukan, bahkan aku tidak merasa itu sesuatu yang harus dimaafkan atau di minta maafkan. Aku-- aku-- hanya tidak suka dengan aroma nafasmu yang bau ikan, Lith ... "


Diujung kalimatnya, Ray berkata pelan, takut menyinggung istrinya yang sejak hamil menjadi sangat sensitif. Tapi justru reaksi Litha menggerakkan jemari kanan ke arahnya, isyarat yang mengatakan bahwa Ray diminta untuk mendekat ke arahnya.


"Ya, kenapa, Sayang?" tanya Ray lembut menahan nafas.


Litha tersenyum sangat manis sekali, bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali hingga bulu mata lentik alaminya seakan menyuruh Ray untuk bernafas dengan normal. Ray terhipnotis kecantikan istrinya.


"Huaaaaaahhhhhhhh ... "


"Lithaaaaaaaa .... Bauuuuu ...."


Litha menyemburkan udara dari mulutnya yang ia buka selebar-lebarnya, tentu saja Ray sangat kesal dibuatnya. Dia menangkap Litha dan menggelitiki istrinya tanpa ampun yang berbuat iseng padanya.


"Aaaaaaaaaa.... Mas, hentikaaaann ... " pekik Litha tertahan.


"Litha, tutup mulutmu .... "


"Huaaaaahhhhh .... "


"Istri nakal, awas kau ya .... "


Mereka lupa, mereka bukan berada di rumah.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hai Kakak - Kakak Readers ...


Terima kasih sudah menanyakan kabar dan mendoakan Author, memang beberapa hari terakhir Author tidak dalam keadaan yang baik-baik saja, tapi tetap Author usahakan update, masih chapter yang penuh cinta 😁


Author masih berharap like, vote, komentar dan hadiahnya juga yang belum tap ❤️ ditekan yaaaa...


Terima kasih, Thankyou, Syukron, Gracias, Merci, Xie xie, Arigato, Kamsa hamnidaaaaa....... 🙏🙏🙏🙇🙇🙇


Sehat selalu buat kita semuaaaaaa 📣📣📣

__ADS_1


__ADS_2