
Menjelang sarapan pagi, Vania berlarian dari kamarnya menggaungkan nama Nyonya Muda berkali-kali sembari membawa selembar kertas di tangannya.
"Kak Litha ... Kak Litha ... Kaaakkkk ..."
"Ada apa? Pagi-pagi udah bikin ribut."
"Ini. Kupersembahkan buat Kakakku tercinta akan hasil kerja kerasnya selama ini pada adik kesayangannya."
Vania memberikan kertas yang digenggamnya. Wajah gadis cantik berkulit seputih susu itu sumringah sekali. Ray, Lidya dan Abyan juga penasaran dengan kertas hasil cetakan email yang ternyata berisi pemberitahuan selamat atas lulusnya Vania Kirana Larasati dari tes masuk Universitas Nasional jalur beasiswa yang ia ikuti beberapa minggu lalu setelah kembali dari Ibukota.
"Nia ... Aaaaaaaaaaaa !!!" pekik Litha melompat ke arah adiknya lalu memeluknya erat.
Gerakan Litha yang melompat membuat jantung siapapun yang melihatnya serasa mau copot, terutama Ray yang seketika panik, tapi untunglah Vania sigap menangkap badan kakaknya.
"Kak, be-- raaaattt ..."
"Eh, iya ... iya, maaf Nia. Tapi Kakak senang sekali," Litha mencubit gemas pipi adiknya, "Kau bisa masuk Universitas Nasional dengan beasiswa full dari kampus. Itu kampus terbaik di negeri kita Nia, kau hebat ... hebat sekali."
Litha sangat terharu, impiannya untuk menyekolahkan adiknya hingga Universitas Nasinal tercapai sudah. Airmatanya menetes mengingat bagaimana susah payahnya ia memaksa Vania untuk masuk sekolah berasrama kala itu demi fokusnya belajar.
Adiknya sebenarnya ingin sekolah di SMA Negeri saja, selain biaya sekolahnya jauh lebih terjangkau, ia juga punya kesempatan untuk bekerja sambilan membantu kakaknya membiayai keluarga mereka yang saat itu kesulitan ekonomi. Tapi, bukan Litha namanya kalau tidak bisa membuat adiknya menurut, dan sekarang ia sangat bahagia akan pencapaian hasil belajar Vania, perjuangannya tidak sia-sia.
"Litha, kau hampir membuatku mati berdiri. Apa kau lupa lagi kalau sedang hamil? Mana sudah dekat hari bersalinmu, kau ini ..."
"Maaf Mas, tapi aku senang sekali! Lihat Tawon kita sangat hebat bisa masuk Universitas Nasional." Litha memeluk leher suaminya, membujuk agar tidak marah, "Nak, kalau kau besar nanti, pintar kayak Bibimu ya," ujar Litha mengelus perutnya.
"Kakak! Kenapa ikut-ikutan memanggilku Tawon? Ihhh ..." Bibir Vania mengerucut.
Litha memeluk adiknya lagi, menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Sebuah ciri khas pelukan bahagia seorang Litha yang membuat siapapun dalam pelukannya akan ikut bergoyang mengikuti gerakannya.
"Selamat Nona. Semoga Nona kelak menjadi orang sukses." Bibi Lidya memberi selamat pada Vania dengan pelukan hangat.
"Selamat, Nia ... Baguslah, kau lulus dengan beasiswa full dari kampus, jadi Yayasan Pradipta Asa Foundation tidak perlu mengeluarkan biaya," tukas Ray.
"Ya. Tapi dialihkan jadi tambahan uang sakuku ya, Kakak Ipar, hehehe ..."
"Dasar! Tidak mau rugi," celetuk Abyan.
"Setidaknya aku tidak merugikanmu." Tiba-tiba Vania membalas celetukan Abyan.
"Apa uang sakumu masih kurang?" tanya Litha sambil membuat air putih hangat madu yang biasa diminum Ray semenjak menikahinya.
"Ya tidak sih, Kak. Tapi aku kan, suka duit."
Uhuk.
Abyan terbatuk ketika meminum kopinya, lengan kemejanya terkena noda akibat semburan kagetnya.
Ray terbahak, "Kau kenapa Yan? Kayak baru kali ini lihat perempuan yang suka uang."
"Memang benar,baru kali ini aku mendengar secara terang-terangan kalau ada perempuan mengaku dirinya matre. Astagaaa ..." kata Abyan sambil membersihkan noda kopinya.
"Cih. Aku hanya mencoba jujur sama Kakak Ipar kalau aku suka duit, bukan mat--re. Tolong bedakan ya, Tuan Asisten antara suka duit dengan matre. Siapapun pasti suka duit. Kak Litha juga saja suka kan?" Litha mengangguk, Ray makin terbahak.
"Tapi aku tidak matrealistis yang menilai segalanya dengan uang. Kak Litha juga begitu kan?" Litha mengangguk lagi.
"Sampai disini paham perbedaannya, Tuan Asisten?" Vania menekan kalimatnya dan matanya menghujam mata Abyan.
"Enak saja kau mengataiku matre, hah!" umpat Vania saat mata mereka bertatapan.
"Bocah tengil ini benar-benar berisik. Pagi-pagi sudah menguji kesabaranku," bathin Abyan kesal.
Lidya dan Ray tertawa melihat Abyan mati kutu dengan argumen gadis remaja.
"Nia, lain kali sopanlah sedikit. Bagaimanapun juga Asisten Yan jauh lebih tua darimu, anggaplah dia kakak yang harus kau hormati." nasehat Litha, ia tak enak melihat Abyan terdiam seperti itu.
"Tidak cocok menjadi kakakku, ketuaan! Dia lebih cocok jadi Om-om, hahahaha ..."
Spontan semua terbahak, terutama Ray. Ia tidak bisa meneruskan sarapannya karena tertawa.
"Kau ....!"
Abyan berdiri dengan emosi, baru kali ini ia disebut Om-om.
"Pak Is ... Aku sarapan di kamar saja! Aku takut dimarahi sama Om-om," pekik Vania dan lari kembali ke kamarnya.
"Mohon maafkan Nia, Asisten Yan. Anak itu memang tidak bisa menjaga mulutnya," kata Litha.
"Tidak perlu meminta maaf, Sayang. Biarlah sebutan Om-om itu jadi pengingat umurnya yang seharusnya sudah menikah, hahahaha ..." Ray tidak berhenti tertawa.
Cling ...
Abyan melirik Ray tajam, ia tahu sedikit lagi ibunya akan ikut berisik, tapi ternyata ibunya diam seribu bahasa, tidak membahasnya sedikitpun.
Litha mencubit paha suaminya, menyuruhnya berhenti tertawa karena raut muka Bibi Lidya datar tanpa ekspresi, mirip almarhum Pak Sas.
"Yan, makanlah cepat dan bersiap ke kantor. Jangan buat Tuan Muda menunggumu," sahut Lidya.
Entah kenapa justru sikap diam ibunya membuat Abyan lebih merinding ketimbang ibunya menyindirnya.
"Oh iya Ray, apa kau sudah menyetujui permohonan Wakil Presdir?" Abyan mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak canggung.
"Aku tidak bisa menolak ataupun melarangnya, itu sudah pilihannya. Persiapkan semuanya dalam tiga hari, Yan."
Litha mengernyit, "Kak Firza bermohon apa?"
"Dia minta agar dipindahkan ke London secara permanen. Dia ingin tinggal di sana seterusnya. Aku izinkan saja, mungkin dia masih merasa sakit di sini mengingat adiknya meninggal saat mereka baru saja bertemu," jawab Ray.
"Enngghh," sahut Litha mengusap-usap perutnya dengan menggigit bibir.
"Lith--"
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa. Mungkin ini kontraksi palsu ya, kan Bi?."
Ray berjongkok, lalu mengusap perut istrinya dan berkata, "Jangan buat ibumu susah ya, dan jangan lahir kalau Ayah tidak ada di samping Ibu."
Dikecupnya dua kali ke perut istrinya. Litha merasa hidupnya sangat terberkati, meski ditinggal orang-orang tercintanya, namun ia mendapatkan cinta dan kasih sayang pengganti mereka.
"Oh iya, Mas. Satu minggu lagi Nia ulang tahun. Apa aku boleh membelikannya sesuatu?"
"Kau mau membelikannya apa?"
"Laptop. Kurasa notebooknya yang lama sudah tidak memadai untuk mensupportnya kuliah nanti."
Ray tergelak, "Kukira kau mau memberinya apa, ternyata hanya laptop. Kau selalu memikirkan sesuatu dari sisi fungsionalnya, bahkan untuk hadiah ulang tahun sekalipun. Hahahaha ... Lakukan apapun yang kau mau. Fungsikan black card yang kuberikan padamu sesuai kegunaannya"
"Nona Vania, anak yang baik. Aku juga akan menyiapkan sesuatu untuknya, Nyonya."
"Terimakasih Bibi, sudah memperhatikannya juga. Kami kehilangan sosok Ibu, pengganti Ibu kami pun, Bibi Rima sampai sekarang tidak tahu kabarnya. Untung ada Bibi disaat aku akan melahirkan, kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana."
Glek.
Ray tegang, hal yang paling ia hindari adalah saat istrinya menanyakan kabar Pak Sas dan Paman Bibinya di Kota A. Sekarang ia lega karena tidak ada yang ia tutupi lagi mengenai Pak Sas, namun entah sampai kapan ia akan menyembunyikan perihal Paman Tino dan Bibi Rima yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal.
Terakhir ketika kabar Nyonya Pradipta tertusuk ramai diberitakan di TV, Bibi Rima meneleponnya sambil menangis menanyakan kondisi Litha. Beruntung saat itu keadaan Litha sudah lewat masa kritis, jadi Ray bisa menjawabnya dengan tenang. Bibinya hanya berpesan agar mereka jangan mengkhawatirkan Paman dan Bibi, mereka akan berusaha mencari kesempatan untuk mengunjungi keponakannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Litha menggoyang-goyang bahu suaminya.
"Tidak. Tidak apa-apa ... Oh iya, siang ini Vania akan ke kantor. Dia merengek terus ingin melihat gedung kantor pusat Kakak Iparnya," kata Ray memberitahu istrinya
"Nanti dia akan berbuat kacau disana," cemas Litha.
"Heheh ... Tenanglah, meski berisik Tawon kita tahu caranya bersikap ... Sekaligus aku ingin memperkenalkan adikku pada karyawan kantor. Dilihat dari pola pikir dan kemampuannya, dia pasti cocok bekerja di Pradipta Corp. terutama di divisi pengembangan teknologi informasi sesuai jurusan kuliahnya."
"Adikku? Mas Rayyendra menyebutnya adik, bukan adik ipar? Ah ... manisnya ..." hati Litha menghangat.
"Ah, iya ... Tapi apa aku juga boleh ikut? Mengunjungi Ninda, dia sudah mulai magang di kantor pusat, kan?"
"Apa kau tidak lelah nanti?" tanya Ray menatap perut istrinya.
Litha menggeleng cepat, "Kan, nanti kalau pegal, Mas yang akan memijatku."
Ray terkekeh mengusap pipi istrinya yang bersemu merah, "Ya sudah, menjelang makan siang Abyan akan menjemputmu dan Vania."
Litha mengecup bibir suaminya. Untuk pertama kali setelah peristiwa penusukannya, ia akan keluar rumah. Meski hanya ke kantor pusat Pradipta Corp. Litha sangat senang karena akan bertemu Ninda.
...***...
# Kantin Gedung Kantor Pusat Pradipta Corp. #
Ninda memeluk Litha erat seperti bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka mengambil tempat di pojokan kantin gedung kantor pusat. Disebut kantin agar lebih membumi, namun sesungguhnya tempat makan karyawan Pradipta Corp. yang terletak di lantai dasar gedung lebih cocok disejajarkan dengan cafe atau restaurant. Kantin ini selain menyediakan menu sehat yang berbeda setiap hari dan disajikan prasmanan untuk makan siang gratis para karyawan, juga disediakan menu ala carte berbayar yang dimasak oleh chef profesional.
Kantin tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak fasilitas Pradipta Corp. agar karyawannya betah dan lebih produktif dalam bekerja. Sayangnya Tuan Muda tidak pernah duduk di sana, ia memesan melalui Sasha yang kemudian akan diantarkan pelayan kantin ke ruangannya. Maka dari itu semua orang terheran-heran melihat Nyonya Muda Pradipta bisa berbaur tanpa canggung dengan mereka di kantin.
Karena hari ini hatinya sangat senang mendapati kabar adiknya diterima di Unversitas Nasional, melalui pengelola kantin ia mengumumkan agar siapa saja karyawan di gedung kantor pusat boleh memesan apapun pada menu ala carte dan tagihannya akan dibebankan pada suaminya, CEO Pradipta Corp.
"Gokil banget kamu Tha, aku gak bisa bayangin betapa kagetnya suamimu nanti, hahahaha ..."
"Gak tiap hari juga kok. Lagian biar ada bonding antara bos dan karyawan.. Selama ini kan, dia di kenal bos yang dingin, arogan dan temperamen."
"Yup bener banget ... Aku aja kalau berhadapan dengannya di kantor, badanku langsung gemeteran. Beda kalau di rumah utama."
Litha tertawa nyaring, tidak sungkan dengan orang-orang sekitarnya.
"Bagaimana rasanya sekarang menjadi wanita karir, Nin? Itu impianku, tapi karena bersuamikan seorang lelaki pencemburu, aku hanya bisa bekerja di kamar doang."
Giliran Ninda yang tertawa, "Hahahaha ... kamu sih gak dengar waktu rapat evaluasi Tuan Muda karena gosip murahan itu. Image suamimu yang selama ini berwibawa dan penuh kharisma jadi hancur berantakan di depan petinggi perusahaan. Bona bilang dia raja bucin, hahahaha ... Terang-terangan Tuan Muda mengakui di depan petinggi perusahaan kalau ia tidak bisa melihat istrinya berinteraksi dengan pria lain. Selain itu nanti kau tidak bisa maksimal melayaninya saat malam hari karena kelelahan bekerja. Padahal dewan direksi sudah menawarkan posisi direktur yang kosong untukmu di sektor fashion dan life style milik Pradipta Corp. karena Ramona dipecat."
"Ih, gak mau! Kalau itu posisi bekas Ramona," elak Litha memainkan sedotan minumannya.
"Ya elah, Tha ... urusan bisnis ya bisnis. Jangan dicampuri dengan masalah pribadi."
"Gak mau ... Pokoknya gak mau! Lebih baik aku fokus saja melayani suamiku di malam hari."
Litha menyesap es teh kesukaannya, mumpung tidak ada pengawas makanan seperti di rumah utama yang membatasi asupan gula dan garam sesuai panduan dari ahli gizi untuk ibu hamil.
"Terimakasih Nyonya atas makan siangnya."
"Semoga dilancarkan kelahiran Tuan Muda Kecil, Nyonya."
"Semoga Nyonya sehat-sehat sampai lahiran."
Ucapan terimakasih datang silih berganti dan bait-bait diucapkan karena sikap Istri Presdir mereka sangat humble dan ramah.
"Tha, kebetulan kita bertemu disini, kalau tidak pulang kantor aku mampir ke rumah utama. Ada yang ingin kusampaikan, dan kau orang pertama yang kuberitahu."
"Apa ... apa?" tanya Litha antusias, matanya membulat sempurna.
"Tadi malam Keluarga Bona mengundangku makan malam, dan disana Bona melamarku di depan keluarganya," kata Ninda malu-malu dengan kepala tertunduk dan wajah memerah sambil menunjukkan cincin berlian di jari manisnya ke hadapan mata Litha.
Litha terpana melihat kilau indah cincin di jari sahabatnya, hatinya melompat senang.
"Aaaaaaaaaa ... Nindakuuuu ... selamaaaattt..."
Litha berteriak, berdiri dan menghampiri Ninda untuk memeluknya Pelukan khasnya yang menunjukkan rasa senang, bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Aku menerimanya dengan syarat aku tidak mau punya anak dalam waktu dekat. Aku ingin menikmati jadi wanita karir dulu," kata Ninda mengurai pelukan Nyonya Muda Pradipta dan mengantarnya kembali dengan hati-hati ke kursinya.
"Issshhh ... kamu membuatku iri. Aku juga kan, ingin sepertimu sebelum menikah, tapi punya suami seperti Mas Rayyendra bisa menutupi keinginanku jadi wanita karir, jadi tidak masalah."
"Ya iyalah, bahkan setiap wanita akan melepas apapun demi Tuan Muda Pradipta, bahkan nyawa. Sudah ada contoh nyatanya, kan?"
Plak.
__ADS_1
Litha menepuk keras punggung tangan sahabatnya yang asal nyerocos dengan suara keras.
"Eh, iya Nin ... Waktu aku masih dalam masa kritis kamu perhatikan Mas Rayyendra tidak? Bagaimana dia saat itu?" tanya Litha penasaran sekaligus mengalihkan topik pembicaraan. Rasanya ia tidak percaya kalau suaminya nampak sekacau yang Vania katakan. Secinta itukah Rayyendra padanya?
"Haduhh Tha ... Kalau ingat malam itu, rasanya bukan suamimu saja yang shock tapi kami semua. Asisten Yan minta izin mengurus Pak Sas yang ternyata pamannya. Selain itu kami semua menunggu kepastian kau melewati masa kritis dan kemudian dipindahkan ke kamar rawat inap."
"Pasti aku membuat kalian cemas."
"Bukan cemas lagi, apa ya kata yang bisa menggambarkan melebihi cemas? Apalagi saat suamimu tahu kau membutuhkan banyak darah ketika akan dioperasi dan golongan darahmu O negatif, stok di bank data kurang dan orang yang memiliki golongan darah O negatif juga sangat sedikit di dunia ini. Mana media juga tidak kalah berisiknya menambah kepanikan. "
"Oh ya, kenapa tidak ada yang menceritakan ini padaku?"
"Karena itu kenangan buruk, tidak ada yang mau mengingatnya. Waktu itu semua sudah ketakutan, Litha ... Lukamu mengeluarkan banyak darah hingga tekanan darahmu di ambang batas, kau bisa meninggal kalau tidak segera di operasi dan operasi tidak bisa dilakukan tanpa stok darah. Kau membutuhkan paling tidak 4 kantong darah waktu itu. Ahhh ... kau membuat airmata kami mengering."
"Suamimu seperti orang gila yang marah, menangis dan berteriak-teriak tidak karuan. Untung saja ada pendonor sukarela yang katanya kebetulan lewat lalu mendengar seseorang butuh golongan darah yang sama dengannya. Dia merasa terpanggil untuk menolong karena sadar manusia yang memiliki golongan darah O negatif itu sedikit."
"Siapa dia?" tanya Litha penasaran.
"Gak tahu, karena dia minta dirahasiakan. Tapi bukan suamimu kalau tidak mendapat identitasnya. Bona bilang pemuda itu namanya Nezar Abigail, tapi belum ketemu yang bersangkutan karena alamat KTPnya hanya tempat tinggal kakaknya yang sudah menikah, dia tidak tinggal disana."
"Nezar?"
"Apa yang dimaksud Nezar itu Thanos01? Aku tidak menanyakan nama lengkapnya kemarin. Ah, coba kalau ada Pak Sas, pasti aku tahu siapa pendonor itu." bathin Litha.
"Kenapa? Kau mengenalnya?"
"Ah tidak, namanya lucu ya."
"Kata petugas di ruang donor, dia ngotot mendonorkan 2 kantong padahal biasanya pendonor kan hanya satu kantong saat pengambilan darah."
"Kenapa dia merahasiakan identitasnya ya, Nin? Padahal dia bisa meminta apapun sama Mas Rayyendra."
"Katanya sih sebagai bentuk rasa terimakasihnya padamu. Entah siapa dia, yang jelas tanpa kau sadari kebaikanmu lah yang menyelamatkan nyawamu, Tha."
"Ya, aku yakin kalau Thanos01 si pendonor itu. Ah, kenapa aku tidak menyimpan nomor kontaknya waktu itu ya? Hanya nomor rekening saja yang sempat diminta. Kalau aku memberitahu Mas Rayyendra, dia bisa tahu kalau dialah orang yang memotret dan menyebar fotonya dengan Ramona."
.
.
.
# Ruang Presdir #
Vania melongo takjub menemukan ruang kerja kakak iparnya di kantor pusat Pradipta Corp.
"Kakak Ipar sangat keren," oceh Vania memandang jendela-jendela berukuran sangat besar di ruangan Presdir.
"Kau mau bekerja disini setelah lulus kuliah?" tanya Ray di kursi kebesarannya.
"Tergantung."
Ray terperanjat, semua orang ingin bekerja disini dan tidak ada yang pernah mempertimbangkan apalagi menolak tawaran kerja perusahaannya.
Vania terkekeh melihat kakak iparnya menunjukkan raut wajah bingung, "Tergantung kalau gajinya cocok."
"Cih. Lihat betapa sukanya dia dengan uang," gumam Abyan yang didengar Vania.
"Hahah ... Aku bisa memberikan kemampuan terbaikku, tentu dengan harga yang sepadan atas hasil kerja kerasku. Aku bisa beri jaminan, jika aku tidak berkompeten, silahkan berhentikan aku tanpa hak yang seharusnya diterima karyawan lain saat di PHK."
Lagi-lagi Abyan tidak berkutik dibungkam Vania.
"Wohooo ...!!! Ini baru adikku! I'm so proud of you, Vania. Percaya diri, ambisius, berani, bertekad kuat, Ya Tuhan ... mengapa kau lebih mirip denganku ketimbang kakakmu."
Ray sangat bersemangat, seolah melihat dirinya dalam versi wanita.
"Ckckck ... persis! Sama-sama suka uang!" Abyan berdiri dan berjalan ke arah pintu, "Aku akan ke kantin melihat Nyonya."
Muka Ray langsung berubah. "Ada apa dengannya?"
Abyan tergelak, "Nyonya Pradipta membebani tagihan menu ala carte untuk makan siang karyawan satu gedung kantor ini padamu. Lihat!"
Abyan memperlihatkan beberapa foto di grup yang menggambarkan suasana di lantai bawah.
BeautyHeartPradipta datang ke kantor, auto buyar konsentrasi kerja hari ini.
Tapi beneran lho, Nyonya Pradipta humble banget, ramah, dan senyumnya menawan. Wajar sih kalau Bos Besar kita jatuh cinta.
Semoga Tuan Muda Kecil lebih mirip sang ibu daripada sang ayah
"Hah! Apa-apan ini!" protes Ray membaca chatting-an para karyawan di grup.
Abyan dan Vania tertawa, Ray memijat-mijat keningnya, baru satu hari istrinya bertandang ke kantor sudah membuat keramaian. Tentu saja ramai, satu gedung heboh dengan kedatangan Nyonya Pradipta.
"Heheh ... Yan, biarkan saja Litha melakukan apa yang ia inginkan."
Abyan pamit, dan kini tinggal Vania dan Ray yang duduk saling berhadapan di sofa.
"Nia ..."
Nada suara lelaki bertubuh tegap itu berubah menjadi sangat serius. Adik iparnya agak sedikit awas atas perubahan nada suara Ray.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk membicarakannya, jadi aku langsung saja. Sejauh mana kau mengetahui asal usul ibumu?"
Glek.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf kalau sekarang upnya agak lama, karena kesibukan di real life memaksa Author untuk berhenti menghalu sejenak 🙏
__ADS_1
Mudah-mudahan kita sehat terus ya Kak biar bisa up terus ...