Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Perjanjian Bersyarat


__ADS_3

Litha tersenyum sinis mendengar negoisasi presdir muda Pradipta Corp. Ternyata pikirannya hanya dipenuhi dengan bisnis saja, sampai-sampai pernikahan yang diwasiatkan Neneknya pun juga dibisniskan.


"Bagaimana? Apa kau setuju?" Ray menunggu jawaban Litha.


"Apa aku harus menjawabnya sekarang?"


"Ya."


"Ya Tuhan, ada orang modelan begini! Congkak, Pemaksa, untungnya good looking, jadi masih bisa dimaafkan, eh..."


"Menjawabnya sekarang sama seperti Tuan menjebak saya."


"Menjebak gadis sepertimu, Hahah!! Mimpi pun tidak pernah! Kuberi waktu 15 menit untuk berpikir, kalau tidak menjawab juga, Asisten Yan yang akan melemparmu dari balkon."


"Astagaaaa... lagi-lagi aku yang kau jadikan umpan. Ray, kapan sifat kanak-kanakmu berubah!" maki Abyan kesal.


Rayyendra memencet tombol remot untuk membuka pintu kaca balkon sebagai isyarat pada Litha bahwa yang ia ucapkan serius.


"Eh... eh... beneran ini ya? Duh gimana ini, ibuuuu......"


Lima menit berjalan, yang ada pikiran Litha menerawang kemana-mana. Dihadapannya Rayyendra memperhatikan lekuk wajah Litha dengan seksama.


"Garis wajahnya berbeda dengan Mona, Ah... jadi ingat bubur polos hangat."


Pikiran Rayyendra juga sedang kemana-mana dan senyum-senyum sendiri.


"Aku tidak bisa memikirkannya disini dengan melihat wajahmu, Tuan," celetuk Litha.


"Hah! Apa? Kau kira aku si buruk rupa yang menakutkan. Terserahlah kau mau di ruangan mana di apartemenku ini untuk berpikir kecuali kamar tidurku."


"Siapa juga yang mau ke kamar tidurmu? Meski aku menikah denganmu aku tidak mau satu ranjang bahkan satu kamar denganmu," cibir Litha dalam hati.


Litha berdiri, memilih balkon yang pintunya sudah dibuka Rayyendra.


"Baguslah, kau pilih disana. Kau mempermudah tugas Asisten Yan jika tidak mau menjawab."


"Hhmmmppfhhh..." Abyan menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau mau menikah dengannya demi sebuah perjanjian?Kau mempermainkan sesuatu yang sakral, Ray," bisik Abyan menunduk begitu Litha sudah di balkon.


"Asisten Yan, kau berbicara santai denganku?"


"Masa bodoh! Aku bicara denganmu ini bukan sebagai asistenmu!" geram Abyan kembali berdiri.


"Ya ... ya ... Abyan, hahahahaha...."


Dari balkon, terlihat Litha sedang memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Lihat, Yan .... Tingkahnya sangat lucu, memukul kepala seperti itu," sahutnya lagi kembali tergelak.


"Hei, Nona, waktumu sisa 5 menit!" teriak Ray, membuat Litha berbalik dengan mimik kaget, alhasil Ray tergelak lebih keras.


"Kau mau bertaruh, Yan? Dia akan menerimanya, 2 Milyar bagiku tidak ada artinya sama sekali, tapi pasti sangat berarti baginya, dia kan, mata duitan."


"Walaupun akhirnya dia menerimanya, tidak akan semudah yang Tuan pikirkan." Abyan kembali ke mode asistennya.


Litha berbalik, berjalan mendekati mereka berdua, duduk dengan percaya diri dan bernegoisasi dengan Ray.


"Tuan, aku akan menerima tawaranmu, tapi dengan syarat."


"Hah! Ternyata kau bernyali juga meminta syarat dariku. Katakan, apa syaratmu?"

__ADS_1


Abyan yang melihat percaya diri Litha bernegoisasi dengan Tuannya, memandang takjub, tidak pernah sebelumnya ada yang menampilkan posisi seperti Litha saat ini.


Bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa dia tidak bisa dianggap remeh. Punggung yang tegak, cara duduk yang tepat, wajahnya terangkat dan matanya... matanya berani menatap mata lawan bicaranya, meski lawan bicaranya adalah Presdir Pradipta Corp. yang ditakuti rekan dan lawan bisnisnya.


"Syaratku, tolong catat Asisten Yan!"


Mata Ray dan Abyan membelalak tidak percaya, gadis yang berperawakan lebih kecil dari mereka berdua berani memberi perintah. Siapa dia? pikir mereka.


"Yan, tolong catat atau paling tidak dengarkan baik-baik, kau kan punya daya ingat yang luar biasa."


Abyan mendengus kesal mendengar Ray mengiyakan perintah Litha.


"Pertama, 2 Milyar itu tidak ada seujung kukunya kekayaan Keluarga Pradipta, jadi aku minta 5 Milyar yang juga tidak ada artinya tapi sangat berarti bagiku, kemudian hanya 80 persen dari warisan Nenek yang dialihkan ke nama Tuan."


"Whatt?!? Dasar rakus, 20 persennya kau mau miliki?" tuduh Ray, namun Litha hanya tersenyum tanpa mengubah posisi duduknya, sangat elegan.


"Tuan tidak bisa menafikan kehadiran Tuan Firza dalam kehidupan Keluarga Pradipta, dia juga ikut membangun perusahaan bersama Tuan hingga besar seperti sekarang. Jadi aku rasa, tidak berlebihan 20 persen untuk Tuan Firza. Justru kalau Tuan ingin menguasainya sendiri, Tuan lah yang sebenarnya rakus." Di akhir kalimat Litha merendahkan suaranya, tapi sebaliknya di telinga Rayyendra terdengar keras.


Pppffffttttt....


"Mati kau, Ray! Sudah kubilang tidak akan mudah dia menerima begitu saja. Apa kau lupa, bagaimana dia menantangmu di kuliah umum waktu itu, lebih epik dan berani bahkan karena di depan dosen dan rektor. Nah sekarang, hanya kau dan aku disini, bersiaplah Tuan dengan serangannya!"


Abyan bergumam dalam hati panjang lebar sambil menahan tawa. Ray tidak menyadarinya karena masih kaget mendengar 20 persen kekayaan keluarganya akan diberikan ke orang yang paling ia benci.


"Apa maksudmu aku harus berbagi dengannya? Dia tidak punya hak. Sudah sangat untung dia diangkat dari sampah oleh Nenek."


Ray berbicara dengan nada dan sorot mata tajam hingga Abyan menghentikan tawanya yang ditahan, ini situasi yang harus ia waspadai, jika Ray marah, sifat buruknya yang ditakutkan akan keluar. Namun tidak dengan Litha, dia masih berani menatap Ray, tidak ada hal yang ia takutkan di netranya.


"Nona, sepertinya kau memprovokasi Ray, padahal sebelumnya kau sangat ketakutan. Tapi kau sungguh hebat masih berani melihatnya seperti itu, kalau Mona sudah pasti dia akan berlutut memohon ampun."


Litha tidak menurunkan pandangannya, malah ia tersenyum, dalam hati ia berkata, "Aku tidak perlu ketakutan karena aku tidak memiliki kesalahan padamu Tuan Muda Congkak. Kau salah memilih lawan!"


"Justru aku membantumu, Tuan. Dapatkah Tuan bayangkan bagaimana sedihnya Nenek jika Tuan 'menelantarkan' cucu angkatnya yang ia sayangi? Padahal Tuan ingin membuat mendiang Nenek senang kan? Sampai-sampai membuang uang untuk menikahiku. Setelah Nenek senang karena Tuan menikahiku, beliau akan sedih lagi dengan Tuan membuat Tuan Firza kembali ke sampah. Kalau begitu buat apa kita menikah? Aku cukup menolak pernikahan ini saja, kan?"


"Hanya 20 persen, Tuan. Kau masih sangat mendominasi warisan Nenek, ckckckckck."


Rayyendra memejamkan matanya dengan menautkan tangannya di lututnya, menahan kesal, mencoba menetralisir emosinya.


"Apa aku masih bisa melanjutkan, Tuan?"


"Hmmmpppfhhhh... Ya, lanjutkan."


"Namun dalam masa pengalihan nama, Tuan Firza tidak boleh mengetahuinya. Ini rahasia. Kedua, selama pernikahan kita tidak diperkenankan mencampuri kehidupan pribadi masing-masing --"


"Hah! Siapa yang mau tahu urusanmu, seharusnya yang mengatakan itu, aku!" Ray langsung memotong kalimat Litha, tidak terima.


"Apa Tuan tidak diajarkan bagaimana berkomunikasi dengan orang lain? Atau Tuan merasa orang yang paling dihormati jadi tidak perlu menghormati orang lain."


"Nona, apa kau dirasuki Nyonya Besar hingga bisa berkata seperti itu padanya? Whooooaaaahhhh..." Hati Abyan lagi-lagi bersuara.


Pandangan Rayyendra lurus menusuk manik Litha. Ia seperti mengalami dejavu ketika Neneknya masih hidup. Dengan santainya, Litha melanjutkan syaratnya,


"Ketiga, selama pernikahan kita tidur di kamar yang terpisah dan Tuan tidak boleh 'menyentuhku' karena kita bukan suami istri yang sesungguhnya."


Kali ini tawa Ray membahana.


"Menyentuh, maksudmu bercinta? Asal kau tahu, kau bukan seleraku, jadi kau jangan terlalu besar kepala dengan syarat ketigamu, aku tidak akan menyentuhmu kecuali kau yang menyentuhku, aku tidak akan menolak."


"Ck! Kau lupa apa, kau yang mencuri ciuman pertamaku. Dasar Tuan Pemaksa, hhhhhhhhh...." bathinnya geram.


"Keempat, pernikahan diselenggarakan di kota asalku, karena ibuku tidak bisa bepergian jauh dan Tuan harus langsung meminta ijin pada ibu untuk menikahiku. Terakhir, aku hanya bersedia bercerai jika sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagian 20 persen sudah dialih namakan untuk Tuan Firza."

__ADS_1


"Wow, hebat sekali! Syarat pertama dan terakhir berkaitan dengan Firza, buat apa kau memback-upnya? Kau mencintainya?" tukas Ray.


"Ingatlah syarat kedua Tuan, jangan mencampuri urusan pribadi," sahut Litha tersenyum tapi membuat muka Ray masam.


"Baik. Aku terima semua syaratmu. Namun karena kau sudah meminta banyak syarat, ada satu yang harus kau penuhi, jalankan tugas dan kewajibanmu melayaniku sebagai istri kecuali dalam urusan ranjang."


"Eh, maksudmu aku jadi pelayan pribadimu apa? Dih, benar-benar tidak mau rugi ...."


"Bagaimana? Kau setuju?" tanya Ray.


Litha diam sejenak, berpikir, "Ah, tidak apa-apa aku jadi babunya untuk sementara tapi aku dapat 5 Milyar."


"Oke, Deal." Akhirnya Litha menyetujui perjanjian bersyarat tersebut.


"Yan, sudah kau catat perjanjiannya?"


"A-- apa?" Abyan gelagapan karena tadi dia tidak menyimak percakapan mereka dengan baik, ia hanya mengagumi sosok Litha yang luar biasa berargumen dengan Tuan Mudanya.


"Anda tidak mencatatnya, Asisten Yan? Hal sepenting ini untuk Tuan Muda Yang Mulia tidak dicatat? Tidak takut aku memelintir isi perjanjian barusan?" Litha menekan suaranya di kata Tuan Muda Yang Mulia. Ray menatap Abyan dengan tatapan tidak percaya dia bisa lalai.


"Ma-- Maaf, Tuan." Abyan menundukkan kepalanya.


"Kenapa aku bisa seceroboh ini, tidak mencatatnya. Bagaimana caranya meminta mereka mengulang perjanjian?" gumam Abyan sendiri.


"Lain kali Anda harus lebih sigap, Asisten Yan. Tenang saja, aku sudah merekamnya, biar kedua belah pihak tidak bisa berkelit. Aku akan kirimkan filenya ke Tuan Muda." Litha menunjukkan file suara yang merekam percakapan mereka barusan


"Ckckckckck ... kau sungguh pintar, Nona," kata Abyan dalam hati, ia lega tidak menjadi sasaran kemarahan Ray nantinya.


Rayyendra hanya tersenyum tipis mengakui bahwa gadis di depannya ini bukan lawan yang mudah ia taklukkan.


...-------...


Sisipan


Litha berdiri di atas balkon, ia sangat menyukai pemandangan dari sini, ia bisa melihat seluruh kota dengan segala pergerakannya, pasti akan terlihat lebih indah di malam hari dengan kerlap-kerlip cahaya lampu.


Litha bicara dengan dirinya sendiri,


"Tidak pernah aku membayangkan akan menikah di umur 22 tahun, dengan calon suami yang seperti dia. Impianku adalah menikah dengan cinta seperti ayah dan ibu, saling jatuh cinta.


Tapi kenapa aku justru ditakdirkan menikah dengan kontrak, Ya Tuhan ....


Apa bedanya aku dengan Ninda? Bermain sandiwara dalam sebuah hubungan. Jika Ninda berperan sebagai calon istri, aku jadi istri dalam hubungan yang sah di mata agama dan hukum negara ini. Huaaaaaa.... jelas beda!!!


Aku tidak boleh terlihat lemah di depan Tuan Pemaksa itu, kalau tidak habis aku jadi mainannya. Tapi melihat tatapannya saja menakutkan, terutama kalau dia marah, sangat agresif.


Duh ... b**elum lagi aku tidak tahu cara memberi tahu Ibu semua ini, Ibu bisa shock mendengarnya. Putrinya tiba-tiba akan menikah, tidak lama kemudian menjadi janda. Huaaaaa.... bagaimana ini? Ibuuuuu....... "


Litha memukul-mukul kepala dengan kedua tangannya, mencari jalan keluar. Ternyata ada dua pasang yang memperhatikan Litha dari dalam.


"Lihat, Yan .... Tingkahnya sangat lucu, memukul kepala seperti itu," sahut Ray tergelak.


"Hei, Nona, waktumu sisa 5 menit!" teriak Ray, membuat Litha berbalik dengan mimik kaget, alhasil Ray tergelak lebih keras.


...-------...


❤️❤️❤️


Hai, readers, salam hangat, senang sekali Author menyapa pembaca setia, sesuatu yang mengesankan bisa membuatnya sampai di chapter 42 disela-sela rutinitas. Jadi, mohon dimaklumi kalau hanya bisa update 1 bab 1 hari ya....


Jangan lupa like, komentar, vote, dan tap favorit biar gak ketinggalan.

__ADS_1


Salam sayang 😘


__ADS_2