Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Perintah Terakhir Nyonya Besar


__ADS_3

Ray pulang dalam keadaan gamang. Hati dan pikirannya ke Litha. Tidak pernah ia memikirkan wanita seperti ini sebelumnya, termasuk Ramona bahkan neneknya sendiri. Ia tidak paham perasaan yang mengganjal ini sebenarnya apa dan bagaimana cara menghilangkannya.


Dua hari yang lalu saat Ray minta dipijat oleh istrinya di tempat tidur yang biasa ditiduri Litha, ada rasa nyaman luar biasa disana hingga tidak membutuhkan waktu lama ia langsung terlelap, diantara sadar dan tidak sadar ia mendengar Litha mengatakan sesuatu tapi tidak jelas begitu juga punggungnya yang menjadi papan tulis entah apa yang dituliskan Litha.


Ketika ia terbangun tengah malam ia mendapati dirinya berselimut di ranjang masih dengan posisi yang sama saat ia dipijati. Ia panik mencari istrinya dimana, ternyata Litha tidur di sofa.


Ray mendekati istrinya yang terlelap, dimatanya Litha bagaikan malaikat yang tengah tertidur, bulu matanya yang panjang dan lentik dipadu alis mata yang tumbuh alami membuat Ray tidak pernah puas untuk memandangnya. Sekitar 15 menit ia hanya duduk menatap wajah istrinya tanpa melakukan apapun hingga akhirnya ia mengangkat tubuh Litha kembali ke ranjang.


Dan kemarin ia mendapat pelukan hangat dari istrinya yang mampu menyentuh dasar hati terdalamnya dan tak pernah tersentuh siapapun. Litha mampu menyembuhkan luka hatinya yang selama ini ia simpan. Dimana lagi ia akan bertemu sosok seperti istrinya sekarang?


Namun ia juga tidak bisa mengabaikan hati Litha ke Firza. Ia tidak ingin memaksa seseorang hidup bersamanya sedangkan hatinya tidak ia miliki. Apalagi Firza juga memiliki perasaan yang sama. Ray sadar pernikahannya dengan Litha merupakan penghalang bagi keduanya merajut cinta.


Di lain tempat, gadis cantik berkuncir satu sedang meredam kegelisahan hatinya di treadmill. Kakinya berlari di tempat tapi hati dan pikirannya melayang ke Rayyendra. Untuk pertama kalinya ia memikirkan seorang pria selain ayahnya. Namun ia ingin mengubur semua perasaan yang sudah terlanjur terbit. Sebentar lagi jam dua belas malam akan berdentang dan ia harus kembali ke gubuknya.


"Tuan Muda dimana Paman?"


"Tuan Muda tadi langsung ke ruang kerja sepulangnya dari kantor, belum berganti pakaian. Ada apa?"


"Saya membawakan yang ia minta dari klub."


"Berikan padaku, akan kubawakan ke ruang kerjanya beserta es batu. Kau beristirahatlah, besok kau harus kembali bekerja."


Pria itu mengangguk dan memberikan sebotol whisky pesanan Rayyendra. Entah mengapa malam ini Ray ingin minum, ia ingin menghilangkan kerisauannya. Kali ini segelas susu coklat hangat tidak cukup membantu, yang ada malahan ingatannya ke pemberi pertama minuman itu akan semakin menghantui pikiran dan hatinya.


"Is, kemarin kau bilang tiga hari kedepan sejak kemarin adalah masa subur terbaik Nyonya."


"Ya, panduan dari dr. Lena mengatakan seperti itu."


"Kalau begitu, sekarang waktunya, Is."


Pak Is memandang bingung muka Pak Sas.


"Tuan Muda ingin minum malam ini, sepertinya dia lagi ada masalah sehingga Abyan membawakannya whisky."


"Sas .... " Iskhak mengerti arah tujuan Sasmita. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju.


"Is, Kalau Tuan Muda tidak menyentuh Nyonya Muda bagaimana ia bisa hamil? Kita sudah berjanji pada Nyonya Besar kalau Nona Litha bersedia menikah dengan Tuan Muda, apapun kondisinya Nyonya Muda harus melahirkan keturunan Pradipta." Sasmita mengingatkan Iskhak yang wajahnya telah pucat.


"Buatlah minuman yang biasa diminum Nyonya sekalian kau ambil es batu. Aku akan mencampur obat ini ke dalam botol whisky dan gelas minuman Nyonya," sambung Pak Sas lagi.


Sebenarnya mereka berdua sangat menyayangi Litha seperti anak sendiri karena mereka sangat tahu pribadi Litha. Mereka ingin Litha secara alami jatuh cinta pada Tuan Muda Pradipta yang mereka rawat sejak bayi.


Namun, ketika Abyan memberi tahu pada Pak Sas bahwa pernikahan mereka berlandaskan perjanjian kontrak hanya untuk menggugurkan kewajiban pelaksanaan wasiat dengan syarat tidak ada hubungan layaknya suami istri pada umumnya, Pak Sas dan Pak Is harus memutar otak mereka bagaimana bisa mewujudkan perintah terakhir Nyonya Besar yang menginginkan ada penerus Pradipta dari rahim Litha jika ia bersedia menikah dengan cucunya.


Dengan bantuan dr. Lena yang memeriksa kesehatan Litha pra nikah, Pak Sas meminta jadwal dimana Litha dalam keadaan subur dan waktu terbaik untuk sel telurnya siap dibuahi, sekaligus obat perangsang yang akan diberikan pada keduanya. Akan diberikan pada Ray dan Litha agar tidak ada yang tersakiti dan merasa bersalah karena dilakukan atas keinginan masing-masing meski di bawah pengaruh obat.

__ADS_1


Pak Is ragu tapi ia tetap membuatkan segelas susu coklat hangat yang biasa Litha minum. Kini dimeja dapur ada sebotol whisky dan segelas susu. Pak Sas mengambil sesuatu dari saku celananya. Memperhatikan dulu sekitarnya apa ada orang selain mereka di dapur.


"Kau tahu Is, sejak Tuan Muda dan Nyonya menikah aku selalu mengantongi obat ini kalau-kalau aku menemukan waktu yang tepat menggunakannya. Obat ini tidak akan berasa sama sekali saat diminum, Tuan tidak akan curiga, dia hanya akan mengira ia mabuk sedangkan Nyonya adalah perempuan yang pintar namun lugu, ia tidak akan paham reaksi obat seperti ini," ujar Pak Sas sembari menuangkan obat itu ke dalam botol whisky dan gelas susu.


Sasmita mengguncang-guncang botol itu agar obat perangsang tercampur rata dalam minuman, lalu ia menyerahkan ke Iskhak dan berkata, "Kita harus yakin Is. Masuklah ke ruang kerja Tuan dan berikan minuman ini. Semoga rencana kita ada hasilnya."


Pak Is mengantarkan senampan botol whisky yang telah dicampur obat dan es batu.


"Terima kasih, Pak Is. Oh iya apa Litha sudah tidur?"


"Belum, Tuan. Nyonya Muda sejak jam tujuh hingga sekarang masih berolahraga di ruang gym. Biasanya Nyonya hanya berolahraga satu jam saja. Tapi malam ini sampai sekarang belum selesai," jawab Pak Is melihat jam dinding yang memunjukan pukul 21.15


"Hehehehehe ... Apa dia sedang menurunkan berat badan?"


Ray tergelak karena seminggu lalu istrinya mengeluh ia nampak gemuk karena sejak menjadi Nyonya Muda hidupnya terlalu nyaman hingga badannya menggelembung padahal badannya begitu-begitu saja, tidak ada perubahan.


Pak Is keluar dengan takut-takut. Malam ini malam yang menegangkan bagi Pak Sas dan Pak Is.


Entah karena sudah lama ia tidak minum minuman beralkohol atau pikirannya yang sangat kalut, ia menenggak whisky dari botolnya dan tidak membutuhkan waktu lama, minuman itu tandas.


Tiba-tiba badannya berkeringat dan terasa gerah, sangat gerah hingga ia membuka dua kancing kemejanya bagian atas. Mengibas-ngibaskan tangannya tanda kepanasan. ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhnya, sialnya sesuatu itu dibarengi dengan bayang-bayang Litha.


"Apa ini? Kenapa tubuhku begini? Ah ... Sial !!!" Ray mengumpat dirinya sendiri.


Sementara itu Litha baru saja kembali dari ruang gym. Melewati meja dapur, ia melihat segelas susu coklat disana.


"Bu-- bu-- at Nyo-- nya," jawabnya terbata ketakutan.


"Pak Is kenapa? Sakit?" tanya Litha lagi keheranan.


"Ti-- tidak. Nyonya."


Raut wajah Litha masih menunjukkan keheranan karena Pak Is dikenal sebagai kepala pelayan yang tegas, sikapnya sangat berbeda dengan sekarang.


"Silahkan diminum susunya, Nyonya. Keburu dingin nanti," ujarnya lagi pelan.


"Oh iya, makasih ya, Pak Is."


Saat Litha sudah menempelkan bibirnya di gelas dan hendak meminum susu yang telah dicampur obat, Ray memanggilnya dengan suara tertahan dari pintu ruang kerja. Ia sudah melepas semua kancing kemejanya, wajahnya seperti menahan sesuatu yang sebentar lagi akan meledak.


"Litha .... " sahutnya.


Litha menoleh ke arah sumber suara, dia kaget melihat tampilan suaminya yang nampak kacau. Litha meletakkan lagi gelas susunya, tidak jadi ia minum. Pak Is yang melihatnya langsung panik seperti cacing kepanasan.


"Nyonya ... Nyonya ... susunya ... minum dulu susunya ... Nyonya .... "

__ADS_1


"Nanti saja, Pak Is, ku urus dulu suamiku, dia berantakan sekali ini," jawab Litha sudah membopong Rayyendra menaiki tangga.


"Nyonya .... biar ku te-- " Suara Pak Is terputus karena badannya ditarik Pak Sas.


"Sas, Nyonya belum meminumnya, ini pasti akan menyakitkan bagi Nyonya," kata Pak Is bingung


"Terlambat Is." Sasmita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pak Is terduduk, airmukanya sedih membayangkan Nyonya Mudanya yang baik akan terluka karena Tuan Muda akan memaksanya untuk melayani bi*ah*nya yang tidak terkontrol dibawah pengaruh obat perangsang.


"Ray, ada apa denganmu?" tanya Litha setelah memasuki kamar mereka.


"Kunci pintu Lith, dan bawa aku ke tempat tidurmu." perintah Ray, suaranya makin tertahan dan serak.


Litha menurut saja, "mungkin ia lagi sakit dan minta dipijat lagi," bathin Litha.


Sesampainya Ray di dekat ranjang, ia membuka baju dan celananya. Litha kaget, spontan ia membalik badannya dan melangkah menjauh namun tangan Ray sudah terlebih dahulu mencengkramnya dan membawa tubuh Litha ke ranjang hingga posisi Ray berada di atas tubuh istrinya.


Litha terkejut dan ketakutan, ia tidak pernah melihat Rayyendra seperti ini. Matanya penuh gairah, tenaganya yang sangat kuat mengunci tangan Litha dan menindih tubuhnya membuat Litha berteriak kencang.


"Ray! Apa yang kau lakukan?"


"Lith ... aku sudah tidak bisa menahannya lagi."


*A-- apa ma-- maksudmu?" suara Litha bergetar, air matanya membasahi wajahnya.


"Kau tidak akan melakukannya, Ray! Kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku!!!" teriak Litha frustasi menangis, berusaha sekuat tenaga memberontak melawan tenaga Ray yang tidak sebanding dengannya.


Ray sudah kehilangan akal sehat, otaknya hanya berisi bagaimana hasrat se*sualnya harus terpenuhi. Meski Litha menangis, memberontak, meraung berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan siapapun, tidak ada yang mendengarnya dan tidak melemahkan sedikitpun n**su suaminya, justru dalam pikirannya Litha semakin menggodanya.


...-------...


Sisipan


"Apa ini? Kenapa tubuhku begini? Ah ... Sial!!!' Ray mengumpat dirinya sendiri.


Tubuhnya makin memanas dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dibukanya seluruh kancing kemejanya, Ray berusaha sekuat mungkin menahannya. Dalam hatinya ia berkata tidak mungkin ini pengaruh whisky yang diminumnya, ini bukan efek mabuk dari minuman beralkohol. Efek yang dirasakan badan Ray sangatlah kuat.


Dengan sisa-sisa akal sehatnya ia ingat, Pak Is barusan mengatakan Litha masih asyik berolahraga di ruang gym. Maka Ray memutuskan ia akan ke kamar, mengunci pintu dan merendamkan diri di bath up dengan air dingin untuk meredakan efek kuat di tubuhnya.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika membuka pintu ruang kerja ingin ke kamarnya di lantai dua, ia melihat wanita yang ada dalam bayangannya. Dan apa ini? Litha mengenakan baju olahraga berlengan pendek yang agak ketat dan celana 3/4 warna hitam yang melekat indah di tubuhnya, ditambah pula dengan satu ikatan rambut yang diikat tinggi-tinggi membuyarkan akal sehat yang tersisa.


Hasratnya makin menggebu kala melihat posisi menyamping Litha yang hendak meminum susu. Leher putih dan jenjangnya meruntuhkan iman Rayyendra dan akhirnya memanggil nama istrinya.


"Litha ...."

__ADS_1


...-------...


- Bersambung -


__ADS_2