Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Shortpink Fans Club


__ADS_3

Litha berjingkrak senang melihat Bibi Rima, Paman Tino dan Si Tawon, Vania turun dari mobil Rolls Royce milik mendiang Nyonya Besar di halaman depan rumah utama. Dua hari sebelum wisuda, mereka dititahkan Tuan Muda untuk datang ke Ibukota untuk ikut menghadiri wisuda sekaligus ulang tahun Litha. Pagi-pagi sekali mereka sudah terbang dengan pesawat pribadi Keluarga Pradipta dan dijemput langsung oleh Pak Sas, Litha menunggu dengan tidak sabar di teras rumah utama.


Hari ini Ray juga menyempatkan waktu untuk menyambut kedatangan keluarga istrinya, semua agenda pagi ini diundur jadwalnya dan Abyan yang menggantikan sementara posisinya di kantor.


"Pamaaan, Bibiiiii, Niaaaa ... " teriak Litha di tempatnya berdiri. Jangankan berlari menyambut, berjalan pun tidak diperbolehkan Ray mengingat usia kandungan Litha yang makin bertambah.


"Lithaaaa ..."


"Kak Lithaaaa ... "


Mereka berpelukan erat dan lama meluapkan rasa rindu. Ray di samping istrinya hanya tersenyum, ia tidak pernah merasakan saling berpelukan seperti itu. Pelukan saling mengeratkan dan berdurasi dalam hidupnya hanya ia dapatkan dari Litha setiap pulang kantor, dan itu memang rasanya ajaib, mampu menguapkan rasa lelah, penat dan suntuk seharian.


Vania berjongkok di depan Litha dan mengusapkan tangannya ke perut kakak perempuannya, "Hello, my dear nephew ... kau tumbuh begitu baik dalam perut ibumu, Bibi Nia sudah tidak sabar bermain denganmu."


"Litha, kamu makin cantik dan berisi, Nak. Pipimu, astaga ... tembem ... dan kandunganmu sudah besar." Bibi Rima mengomentari fisik Litha sambil memegang wajah keponakannya


"Iya Kak, padahal waktu awal Kak Litha hamil sangat kurus dan kelihatan tulang pipi," timpal Vania sambil berdiri.


"Hhhh ... Dasar Tawon, baru saja datang sudah berisik."


Ehemm ...


Ray berdehem, spontan Pan Tino menginjak kaki Vania.


"Aaauuuwww .... Paman, ini kaki masih dipake, jangan main sembarang injak dong."


"Bicaramu itu yang sembarangan. Ingat kita di rumah Keluarga Pradipta. Jaga mulutmu kalau tidak Pak Is akan memarahimu."


"Siapa Pak Is?" tanya Vania.


"Ayo masuk, Aku perkenalkan semua pelayan di sini pada Bibi dan Nia, kalau Paman pasti masih mengingatnya," ajak Litha menggandeng lengan Bibinya.


Baru saja memasuki ruang tamu, Bibi dan Vania tak henti-hentinya berdecak kagum dan mengomentari dengan norak ruangan yang selama ini ia hanya lihat ada di TV-TV. Bibi Rima sampai bergidik ngeri, takut menyentuh benda yang ada di ruang tamu.


"Pak, apa benar Litha tinggal di rumah ini?" bisik Bibi Rima pada suaminya.


"Iya Bu. Makanya kubilang jangan kagetan kalau sudah sampai. Aku saja tidak akan masuk ke rumah utama kalau tidak disuruh Pak Is. Tidak boleh sembarang pelayan bisa keluar masuk rumah utama."


Bibir Bibi Rima membulat tidak percaya keponakannya menjadi ratu di rumah semegah ini. Seketika memorinya membawa puluhan tahun silam saat ia masih bisa menikmati kemewahan.


"Bibi dan Nia, ini adalah Pak Is, beliau yang paling sibuk mengurus rumah ini dan orang-orangnya hehehe ... " Litha mengenalkan Pak Is tanpa menyebut kepala pelayan, ia sungkan mengatakannya.


Pak Is menunduk hormat pada keluarga Nyonya Mudanya. Perhatiannya mengarah ke Vania, gadis yang ia nilai berani dan tangguh namun tetap sopan. Setelah mengucapkan salam pada semua pelayan mereka diantar Pak Is menuju kamar tamu yang sudah disiapkan.


.


.


.


"Sayang, aku ke kantor dulu ya, Abyan sudah menjemputku. Kau bersenang-senanglah dengan mereka, Apapun kebutuhan mereka tinggal katakan saja pada Pak Is," Ray mengusap pipi istrinya berpamitan karena Abyan sudah berdiri di depan pintu ruang tamu. Litha mengangguk dan mengecup pipi suaminya dengan senyuman.


"Asisten Yaaaaaannn ... " teriak Vania dari dalam melihat Abyan dan langsung berlari menghampirinya.


"Astaga ... Si Tawon ini!"


Bukan hanya Abyan saja yang heran tapi juga Ray dan Litha.


"Asisten Yan, ayo kita selfi dulu untuk pembaharuan berita di FC."


"FC? Apa itu FC?" tanya Abyan bingung.


"Fans Club. Shortpink Fans Club. Aku ketua FC nya. Asisten Yan manis sekali pakai celana pendek warna pink. Waktu itu di twitter trending nomor satu, mengalahkan Kakak Ipar yang tanpa baju menggendong Kak Litha. Badan Kakak Ipar boleh kayak roti sobek tapi sweetnya pink Asisten Yan tetap juara di hati kami."


"Nia!" pekik Litha memelototi Vania. Ray dan Abyan terperangah tidak percaya, begitu dahsyatnya efek warna pink yang dikenakan Abyan.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di FC itu?" tanya Abyan.


"Ya berbagi kabar terbaru tentang Asisten Yan, juga foto-foto Asisten Yan. Aku kan punya banyak foto-foto Asisten Yan sewaktu di Kota A dan foto itu foto eksklusif sampai dishare ulang di akun-akun gosip instagram."


"Nia! Kau melanggar privasi Asisten Yan itu namanya. Lancang sekali tanpa izin kau menyebarkan foto-fotonya. Apa itu yang diajarkan Ayah dan Ibu? Memalukan!" Litha geram dengan kelakuan tingkah adiknya.


"Ka-- Kakak-- A-- " Vania tidak bisa berkata apa-apa, Si Ratu Tawon akan menyengatnya habis.


Ray pun baru kali ini melihat istrinya dengan mimik marah dan suara tinggi. Litha berjalan menghampiri adiknya dan dengan tegas berkata, "Hapus semua foto yang kau share dari akun FC-mu. Minta maaf sekarang sama Asisten Yan. Jangan harap kau bisa makan sebelum mendapat maaf darinya."


"Haishhh ... Kak Litha ... Masak sampai begitu."


"Ya. Agar kau tahu sopan santun."


Abyan takjub dengan gaya Litha mendidik adik perempuannya, lebih-lebih Ray.


"Iya, iya." Akhirnya Vania menyerah, ia hanya tawon yang kalah berisik dengan Ratu Tawon. "Aku minta maaf Asisten Yan." ujarnya menghadap lelaki berbadan tegap itu.


Niat jahil Asisten Yan muncul, "Hohohoho ... tidak semudah itu kumaafkan, Nona Tawon."


"Aku sangat menghargai yang namanya privasi Nona Vania. Perbuatan Nona melukai harga diriku." Abyan secara tersirat enggan memberi maafnya.


Pppppffffttt ...


Ray tahu Abyan menjahili adik iparnya. Abyan yang memiliki hati sehangat matahari pagi, tentu ia akan bertanya atau mencari tahu secara detail dulu sebelum memutuskan iya atau tidak. Tapi tidak dengan istrinya, sebagai wali Vania, Litha sangat merasa malu dan bersalah pada Abyan.


"Vania memang sembrono dan suka melakukan hal tanpa berpikir panjang, tapi sebenarnya ia tidak punya niat sedikitpun untuk berbuat yang tidak pantas. Mohon maafkan Vania, Asisten Yan." Litha meminta maaf dengan menundukkan kepalanya di depan Abyan.


"Litha!" teriak suaminya.


Ray sangat tidak suka istrinya menundukkan kepalanya di depan orang lain. Baginya posisi Litha lebih tinggi darinya, jadi jika Litha menunduk pada orang lain maka artinya ia menundukkan kepalanya juga dan itu tidak pernah ia lakukan selain kepada Neneknya, Bibi Rima dan Paman Tino.


"Eh, Kakak. Jangan begitu, aku yang salah," kata Vania gugup, "Aku minta maaf Asisten Yan, akan aku bubarkan FC itu sekarang juga."


"Eh, Nyonya, jangan seperti ini. Aku-- aku ha--"


Litha terenyuh melihat suaminya menganggap Vania sebagai adiknya sendiri, itu terlihat dari nasehatnya barusan.


"Iya, Mas. Maafkan Nia ya. Asisten Yan maafkan Nia ya."


Setelah keduanya mengangguk barulah Litha berbalik dan menjewer kuping adiknya, "Bikin malu saja. Ayo masuk kamarmu, renungkan perbuatanmu. Kau tidak boleh keluar kamar sebelum kupanggil, berpuasalah sampai Asisten Yan kembali mengantar pulang Kakak Iparmu dan berusahalah untuk mendapatkan maafnya."


Litha menarik Vania menuju kamarnya sambil mengomel tanpa jeda. Litha tidak menghentikan omelannya meski Vania mengaduh memohon-mohon ampun karena telinganya sudah memerah.


Ray dan Abyan tergelak melihat kakak beradik itu, Abyan menepuk pundak sahabatnya, "Aku hanya mengerjai adik iparmu saja, Ray." Lalu ia berjalan mengikuti langkah kaki tuannya menuju mobil.


"Aku tahu."


"Anakmu kelak akan mendapat ibu yang luar biasa. Lucu sekali membayangkan Pradipta junior diperlakukan seperti Vania, hahahahaha ... "


Ray tertawa senang mendengarnya.


.


.


.


Vania mengadu pada Bibi Rima kalau Litha mengurungnya sampai Asisten Yan datang, bukannya mendapat pembelaan tapi malah makin dimarahi.


"Nia keluarlah, Asisten Yan sudah datang," Bibi Rima menyuruh keponakan bungsunya untuk keluar menemui Abyan.


Vania dengan mata sembab berjalan gontai di belakang bibinya menuju ruang keluarga, menunduk dalam memandang lantai rumah utama yang selalu berkilau.


"Vania kemarilah," Ray memanggil adik iparnya mendekat padanya. Ada Litha duduk di samping kirinya dan Abyan yang berdiri di samping kanannya.

__ADS_1


"Ada yang ingin kau sampaikan?"


Vania menghadapi Abyan dengan kepala tertunduk, mere*mas tangannya, ia tahu ia telah berbuat salah, "Maafkan aku Asisten Yan. Aku kira kau tidak keberatan. Aku begitu menyukaimu dengan celana pink itu dan ternyata banyak juga yang suka, termasuk Kak Ninda."


Hahhh ...


Semua yang ada di situ terbahak nyaring kecuali satu orang, si pemilik celana pink.


"Yan, kau tidak membuang celana pink-mu kan? Soalnya itu memorable sekali, hahahahah ... " kata Ray disela tawanya, lengannya dicubit Litha agar tidak menggoda Abyan yang wajahnya sudah memerah.


Vania serba salah, ia tidak bermaksud membuat malu Abyan. Gadis remaja itu tiba-tiba terisak, ia semakin merasa bersalah.


"Nia, kenapa menangis?" tanya Paman Tino.


"Aku menambah kesalahanku, membuat Asisten Yan ditertawai."


"Pppfffttt ... Kenapa kalian satu saudara pemikirannya polos semua sih. Hei, Tawon ... kau menggemaskan juga ya seperti Kakakmu." Ray menahan tawanya dalam hati.


"Sudah." Abyan mengelus kepala Vania," Kau sudah menyadari dan mengakui kesalahanmu dengan benar. Kau hebat berani meminta maaf padaku langsung, tidak semua orang memiliki sifat ksatria sepertimu. Jadikan pelajaran dalam hidupmu ya," Abyan mencium pucuk kepala Vania dengan rasa sayang sebagai kakak laki-laki.


"Asisten Yan sudah memaafkan aku?"


Abyan mengangguk, Abyan memberikan sekotak coklat dengan berbagai isian di dalamnya, "Ini ... sebagai bukti aku sudah memaafkanmu."


"Aaaaaaa ... Apa ini? Coklat? Aku suka coklat. Terima kasih Asisten Yan. Tapi apa aku boleh meminta sesuatu? Satu saja ... " kata Vania mengangkat jari telunjuk di depan mukanya.


"Cih, dikasih hati minta jantung," seloroh Ray.


"Apa?" tanya Abyan lembut.


"Ahh ... kenapa Asisten Yan bisa selembut ini padahal aku sudah berbuat kesalahan, dia memang cocok sekali dengan warna pink sesuai dengan hatinya yang lembuuut. Ya Tuhan, bagaimana nanti dia memperlakukan wanitanya. Seandainya Asisten Yan seumuranku mungkin aku jatuh cinta padanya, ahhh... bicara apa aku."


"Enggg ... biarkan Shortpink FC tetap ada. Aku akan menghapus semua foto yang sebelumnya sudah dishare, selanjutnya aku akan meminta izin dulu."


"Eh, ni anak ... benar-benar ya, sudah dikasih hati minta jantung." Kali ini Litha yang bersuara, sudah mau mengomel, tapi isyarat mata suaminya mengurungkan niatnya


Hening.


"Kenapa harus tetap ada?" tanya Abyan.


"Engg ... karena kami suka membicarakan Asisten Yan."


"Hah! Apa!"


Hampir semua serentak mengucapkannya.


"Apa tidak ada artis yang bisa kalian gosipkan?" protes Abyan.


"Kami tidak suka menggosipkan artis-artis yang penuh sensasi, itu membuang energi kami sia-sia. Lebih baik kami membicarakan high quality jomblo seperti Asisten Yan. Dan tahu tidak sumber informasinya siapa? Kak Ninda."


"Astaga." Litha menepuk keningnya.


Ray tidak bisa menahan tawa dalam hati. Ia lepaskan begitu saja hingga membahana ke seluruh ruangan, sambil tertawa dia menyahut, "Yan, coba bayangkan wajah Bona kalau ia mendengar apa yang barusan Nia katakan huahahahahaha ..."


Sekali lagi Litha mencubit lengan suaminya, padahal ia juga sedang menahan tawa.


"Hahahaha ... sudahlah Nia. Sebentar lagi Asisten Yan akan memiliki wanitanya. Berhenti membicarakan orang lain yang tidak ada manfaatnya," ucap Litha tanpa menyadarinya


"Siapa?" cecar Vania.


"Siapa apa?" Litha belum juga sadar padahal wajah Abyan kembali memerah.


Sebelum Vania bertanya lagi, Abyan pamit pulang, "Boleh saja, Nia. Tapi tiap foto yang mau kau share sebaiknya memiliki izinku. Aku pulang dulu, Ray, Nyonya dan semuanya. Selamat malam."


Abyan menunduk hormat pamit dan meninggalkan pertanyaan besar dan sebuah perasaan aneh di hati Vania.

__ADS_1


...***...


- Bersambung -


__ADS_2