
Pukul 15.00 waktu setempat di kampus Z.
"Nin, aku udah dijemput pak Sas. Duluan ya ...." Litha pamit meninggalkan Ninda untuk bekerja di rumah Keluarga Pradipta, ia jalan menuju area parkir mobil di lingkungan kampusnya.
Ninda hanya mengangguk, dia juga segera merogoh kunci motornya, pulang ke kost. Diraihnya helm yang terletak di kaca spion kanan, gerakannya berhenti sesaat, ia menangkap bayangan dari kaca spion, matanya mengikuti arah bayangan tersebut.
"Evan ngapain sih?" alis matanya mengkerut ke tengah. Disana nampak Litha menarik tangannya yang dipegang Evan dengan kasar, sangat tidak suka. Begitu tangannya terlepas, ia langsung meninggalkan Evan yang menggerutu marah, ada ucapan yang keluar dari mulutnya tapi tidak terdengar oleh Ninda.
"Eh Nin ... teman kamu itu sekarang jadi simpanan Om Om ya?" sahut Evan setelah memaksa Ninda untuk menghentikan laju motornya keluar area kampus.
"Hahhhhh....???" suara bingung Ninda nyaring, kaget dengan tuduhan Evan.
"Saban pulang kuliah, sudah ada mobil mewah yang nungguin dia. Pintar juga dia nyari sugar daddy yang kaya raya."
"Ngomong apaan sih kamu Van ..."
"Coba kamu tanya sama semua orang di kampus ini, pasti semuanya akan berpikiran sama denganku. Pantasan saja sekarang gak nguber-nguber kerjaan, udah tercukupi toh semuanya."
"Cih ... kalau kamu hanya melihat kemudian langsung menyimpulkan apa bedanya dengan anak kecil. Sudahlah aku mau pulang, Kepalaku mumet dengan mata kuliah Bu Marisa tadi. Minggir ...." Ninda menyuruh Evan minggir dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Hati-hati kamu Nin ... apa yang terjadi kalau Om Beny dan Tante Murni tahu kalau teman sekamarmu wanita simpanan." Evan menyeringai licik.
Clinggg..,
Ujung mata Ninda meruncing, Evan tengah memprovokasi dirinya rupanya.
"Hehhh.... tidak mempan ancamanmu!!! Coba saja kalau kau berani menyebar isu murahan begitu, rahasiamu jadi taruhan di depan ayahmu."
Ninda balik mengancam Evan, wajah evan seketika pucat pasi, dia sadar Ninda tidak main-main dengan ucapannya.
Rahasia Evan mengkonsumsi shabu-shabu diketahui Ninda tidak lama setelah ia menjadi pecandu. Ninda yang mengetahuinya langsung menyeret sepupunya itu ke tempat rehabilitasi untuk segera melepas ketergantungannya dengan ancaman jika Evan tidak mau, Ninda akan melaporkan perbuatannya kepada kakaknya yang bertugas di satuan narkoba dan obat-obatan terlarang di Kepolisian. Evan akhirnya bersedia namun ia memohon pada Ninda untuk merahasiakan hal ini seumur hidupnya dari keluarga besar mereka. Kedua orangtuanya pasti kecewa dan malu besar mengetahui anak satu-satunya menjadi pecandu.
"Sial! kau boleh saja menutup mulutku tapi tidak dengan orang-orang di kampus ini."
"Terserah!"
Ngenggg..... Ninda menarik gas di depan Evan.
"ARRGGHHH ...." Eva berteriak marah.
# Di area parkir kampus Z #
"Apa orang-orang di sini mengira aku baby sugar nya Pak Sas. Ah...... hahahahahahaha...... ya gak salah juga sih orang-orang akan berpikiran begitu hahahaha ...'
Litha melirik pria seumuran ayahnya di balik kemudi, pria yang irit bicara namun murah senyum. Litha tergelak dalam hati.
"Bodo amat..."
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
# Rumah Utama Keluarga Pradipta #
Seorang pria tampan bertubuh tinggi, dengan setelan jas necis, raut wajah yang meneduhkan meski tergurat jelas ada keletihan disitu. Ia turun dari mobilnya, Tuan Muda Firza Nathan Pradipta, cucu angkat Nyonya Besar yang tidak suka menggunakan asisten pribadi, cukup ia dibantu oleh sekretarisnya di kantor.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan ...." Pak Is menyambut ramah menundukkan kepalanya.
"Terima kasih Pak Is, dimana Nenek?"
"Di taman barat Tuan, bersama Nona Litha."
"Ya, aku sudah mendengarnya bahwa Nona Litha sekarang bekerja menemani Nenek berbincang di taman barat saat sore."
"Seharusnya aku lebih banyak menemani Nenek, tapi akhir-akhir ini kerjaan di London menyita banyak waktu," sambungnya lagi.
"Tidak perlu terlalu khawatir Tuan, Tuan Muda sudah bekerja keras, Nyonya Besar pun belakangan dalam suasana hati yang baik. Hanya sesekali teringat Tuan Besar."
"Ah ... begitu rupanya. Baiklah, saya akan menghampiri mereka Pak Is."
"Baik Tuan Muda, saya akan letakkan koper Anda di kamar"
Firza hanya mengangguk dengan sedikit senyum. Dia melangkahkan kaki menuju taman barat, bagian favorit Nyonya Besar di rumah ini, ia ingin menemui sosok yang sangat dia kagumi dan hormati.
Setahun terakhir, suasana hati Nyonya Besar sangat berflutuaktif, di usia senjanya ia makin merindukan mendiang suaminya. Ia bahkan ingin segera wafat untuk segera bertemu dengan suami yang dicintainya.
🍀 flashback on 🍀
"Kau harusnya tau diri Firza, kau itu dipungut Nenek dan lihat sekarang, kau sudah jadi bos besar, sudah saatnya kau membalas kebaikan Nenek." Rayyendra menunjuk Firza dengan angkuhnya di hadapan Nenek Dayyu, di suatu malam sekitar sepuluh bulan yang lalu.
Firza dalam keadaan duduk, ia tundukkan kepala menahan emosinya, terlihat begitu kuatnya ia menggenggam kedua tangannya, matanya terpejam namun kedua rahangnya mengeras. Ia mencoba menahan diri karena ia tahu diri apa statusnya.
"Ray, kau ini gampang sekali marah. Dinginkan kepalamu ... Nenek hanya kelelahan, akhir-akhir ini Nenek memang sering teringat kakekmu," Nyonya Besar menengahi.
"Wajar dengan keadaan Nenek yang sudah tua seperti sekarang ini akan terus dibayang-bayangi mendiang kakek. Tapi harusnya, kan dia tidak membiarkan Nenek sendiri dengan alasan perusahaan yang ada di London."
"Hahh ... jadi kau mau bilang bahwa ayahnya Ramona penyebab Nenek sakit" suara Rayyendra kian meninggi.
"Nenek juga kenapa tidak mau makan, apa Nenek mau cepat mati biar ketemu Kakek? Kalau begini Ray juga yang repot Nek," gantian Rayyendra menyerang Neneknya yang baru saja sadar dari pingsannya karena beberapa hari tidak bernafsu makan.
Firza berdiri, ia terprovokasi ucapan Rayyendra yang menekan Nyonya Besar, baginya cukup dia yang diserang, tapi jangan sampai Nyonya Besar terikut karena ada sebagian hidupnya disana.
Buggghhhh..........
Dengan cepat Firza meninju sisi kiri wajah Rayyendra dengan keras. Walaupun tanpa persiapan, tubuh Rayyendra tidak tumbang, ia masih mampu berdiri. Amarahpun yang tadi berkobar semakin menjadi besar bagai disiram bensin.
"Ban***t kau berani menyentuhku hahhhh...."
Bakhhhhh..... Bruuuukkkhhh....
Firza tersungkur, ada darah keluar dari sudut bibir. Dilapnya dengan punggung tangannya.
"Kau boleh mengata-ngataiku Ray, tapi jangan Nyonya Besar, ia Nenekmu, nenek kandungmu yang sudah membesarkanmu!!!"
Bughhhhhh......
Firza balas menghantam Ray
"Arghhhh....... sialan kau Firza, kalau saja kau tidak dipungut Nenek mungkin sekarang kau sudah menjadi sampah di jalanan."
__ADS_1
Brakhhhh...... Bughhhhhh.....
Perkelahian tak terhindarkan, dua lelaki yang sangat berpengaruh di dunia bisnis negeri ini saling serang di depan wanita sepuh yang telah membesarkannya. Ia terkejut, bahkan sangat terkejut dengan apa yang disaksikannya dari jarak dekat, Rayyendra dan Firza saling bergelut tanpa ada yang mau mengalah, bahkan Asisten Yan, sekretaris merangkap asisten pribadi Tuan Muda Rayyendra juga terkena pukulan karena mencoba melerai, entah pukulan siapa yang mendarat di wajahnya.
"Tuan ... Tuan ... Tuan ... mohon berhenti ...."
Keduanya acuh tidak mendengar permohonan Abyan, masih saja bergelut.
"Tuan ... Nyonya Besar ..." Asisten Yan menopang badan renta Nyonya Besar yang terkena serangan jantung.
Seketika keduanya berhenti dengan nafas terengah-engah, mereka berdua nampak berantakan sekali.
"Nenek ...." Firza membeku.
"Nenek ... Kenapa?" Rayyendra panik.
"Yan, segera bawa ke rumah sakit."
______________
Saat itulah serangan jantung hebat pertama yang dialami Nyonya Besar, serangan jantung hebat di usia tuanya meningkatkan resiko kematian lebih tinggi. Dokter Baskoro pun menyarankan agar menjaga suasana hati Nyonya Besar, membuat hatinya senang, tidak sedih dan tidak terlalu sering mengingat almarhum suaminya. Ia juga mengatakan jangan sampai Nyonya Besar terkena serangan jantung hebat kedua kalinya karena bisa saja berakibat fatal.
Sejak dari itu, perang dingin antara Rayyendra dan Firza yang sudah dari awal tercipta semakin meruncing. Namun mereka sepakat agar tidak menampakkannya di depan Nyonya Besar.
🍀 flashback off 🍀
Firza menatap pemandangan taman sebelah barat rumah ini dari jendela. Kadang gerakan tangan mereka menunjuk-nunjuk sesuatu yang tidak jelas, kadang raut wajah mereka serius, kadang juga mereka tertawa bersama. Ia menarik nafas lega, rasa bersalahnya selama ini sedikit terkikis melihat senyum dan gelak tawa Nyonya Besar.
Ia berbalik melangkahkan kaki menuju kamarnya, ia tidak ingin mengganggu mereka, biarlah bertemu mereka saat makan malam, pikir Firza.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
#Gedung Kantor Pusat Pradipta Corp.#
"Yan, apa Nenekku benar-benar sesenang itu ditemani Miss Responbility?"
"Kelihatannya iya Tuan. Bahkan menurut Pak Is, Nyonya Besar sekarang sering tersenyum dan sudah jarang mengingat mendiang Tuan Besar."
"Hehhhh..... apa yang dilakukan gadis itu sampai Nenekku terpikat pada omongannya"
"Anda mau meminta saya untuk mencari tahu kehidupan Miss Responbility Tuan?"
"Tidak perlu, selama dia tidak membuat kesalahan dan membuat Nenekku sedih itu sudah cukup, gaji yang diterimanya pun sudah besar"
Asisten Yan hanya mengangguk mengerti.
"Ah ya sudah lama aku tidak makan malam di rumah. Atur jadwal untuk itu malam ini" perintahnya.
"Baik Tuan" Asisten Yan mengangguk sekali lagi dan segera beranjak keluar ruangan presdir.
Lamat-lamat Rayyendra menatap matahari terbenam dari posisinya yang berada ketinggian gedung. Ada seonggok rindu kala moment masa kecilnya, masa-masa dia selalu ditemani Neneknya di taman bagian barat rumahnya, sesibuk apapun Neneknya menjalankan grup perusahaan selalu disempatkan menemaninya berbincang sore kecuali Neneknya berada diluar kota. Meski grup perusahaannya tidak sebesar sekarang, namun ia tetap macan betina di masanya, ia mampu menyelamatkan perusahaannya dari krisis kepemimpinan setelah tragedi yang merenggut suami dan anaknya.
"Hmpfffhhhhh ... Nenek, sekarang memang saatnya untukmu beristirahat, tapi justru kesepian yang kau dapat di masa tuamu. Andaikan aku bisa menemanimu saat seperti dulu, Nek ... " ada sesak di rongga dadanya.
__ADS_1
- Bersambung -