Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Bravo, Litha!


__ADS_3

Litha membuka-buka halaman skripsi di pangkuannya saat Ray membuka pintu mobil, "Apa aku bau rokok?" tanyanya.


Litha menggeleng dengan senyum tipis. Ray tidak akan mendekati Litha jika ada bau rokok melekat di badannya, ia takut ada efek buruk untuk istri dan anaknya, padahal selama hamil Litha sangat menyukai bau rokok yang menempel di badan suaminya, katanya aroma paling maskulin yang pernah ia cium.


Ray masuk dan duduk di sampingnya, sedangkan Abyan masih berdiri tidak jauh dari mobil.


"Sayang, maafkan aku tadi kelepasan bicara, aku sama sekali tidak bermak-- "


"Tidak apa-apa. Setelah kupikir-pikir Mas benar, aku yang terlalu takut dan selalu memikirkan apa yang orang lain katakan. Seharusnya aku lebih memikirkan diriku sendiri. Sekarang aku siap. Apa penampilanku masih terlihat rapi?"


Ray tersenyum hambar, kali ini hatinya peka, ia tahu istrinya berusaha baik-baik saja dan terlihat senang. Ray mengambil kedua tangannya, tangan sedingin es itu membuktikan bahwa Litha memang sedang tidak baik-baik saja, seketika hati Ray remuk dihantam penyesalan. Diciumi telapak tangan istrinya lalu diletakkan di kedua pipinya merasakan dinginnya tangan Litha.


"Lith, percaya pada suamimu ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hatimu meski hanya goresan samar. Aku pernah berjanji di depan makam ayahmu, kan? Apa kau pernah dengar melanggar janji yang diucapkan di depan makam seseorang itu sama saja membuka pintu kesialan bagi hidupnya."


Litha terkekeh, "Kata siapa?"


"Kata Rayyendra Putra Pradipta."


Litha tergelak gemas mencubit kedua pipi suaminya, Ray membalas dengan mencium kening Litha. "Kalau kau belum siap, aku bisa menundanya sampai kau siap, dan wisuda tidak akan terlaksana tanpa kau menjadi wisudawatinya."


"Hah! Memangnya Mas siapa bisa ikut campur dalam agenda kegiatan Universitas? Kalaupun sampai ditunda, kasihan mereka yang berharap ingin segera lulus dan bekerja, banyak tulang punggung keluarga di sana. Sangat jahat menunda jalan rejeki dan kehidupan seseorang."


"Sayang, kau harus mendapatkan hukuman karena meremehkan suamimu. Apa kau tidak tahu sebesar apa nama Pradipta? "


"Haissshhh, narsis! ... Menyebalkan!" gerutu Litha dengan mengerucutkan bibirnya dan membuat suaminya tergelak.


"Jadi, bagaimana Nyonya Pradipta? Kau sudah memikirkannya? Sekarang atau nanti?" tanya Ray sambil jarinya menelusuri dada istrinya.


"Tambah besar," gumamnya tersenyum.


"Apaan sih! Iya sekarang saja. Aku akan turun sekarang."


"Tidak sebelum aku menghukummu terlebih dahulu."


Ray melahap kuat bibir Litha hingga ke leher dengan penuh hasrat, tangan satunya menahan tengkuk indah milik wanitanya dan tangan satunya sudah bergerilya mere*mas sesuatu yang dikatakannya tambah besar barusan. Litha yang awalnya memberontak menolak akhirnya tak kuasa mengikuti gerakan suaminya yang juga memantik hasratnya.


Tok Tok.


Abyan mengetuk kaca mobil tanpa melihat ke dalam.


"Shitt!!!"


Ray mengumpat kesal menghentikan kegiatannya yang menyisakan lenguhan pelan Litha di telinganya. Litha merapikan kembali penampilannya dan berkaca di spion depan.


"Aaahhh, Mas...!!! Kenapa kau menandaiku disini!" pekik Litha menunjuk lehernya.


Ray hanya terkekeh mendengarnya, "Biar saja, biar mereka tahu kenyataannya kalau kau milikku. Aku akan menemanimu di dalam ruangan saat sidang skripsi berlangsung."


Bola mata Litha seperti mau meloncat keluar. Setahunya, Ray hanya mengantarkan sampai tempat parkir dan itu yang membuatnya ragu juga takut menghadapi nyinyiran dan sindiran dosen-dosennya karena ia tengah berbadan dua. Tak terkira betapa senang hatinya, suaminya akan menemaninya di dalam ruangan, jadi ia tidak perlu takut untuk menyembunyikan perut buncitnya karena ia memiliki suami sah, bukan hamil yang tidak jelas benih siapa.


Sebenarnya Ray juga berniat demikian, tapi ia lupa kalau tadi pagi ia hanya memberitahu singkat pada istrinya bahwa ia akan mengantarnya ke Kampus Z, tidak ada kalimat akan sekalian menemani saat sidang skripsi berlangsung. Ternyata kurangnya komunikasi saja bisa menjadi saling menyakiti, untungnya Abyan tanggap dan mencoba menjadi penengah di antara mereka.


"Kau senang?" Ray bertanya dengan terkekeh geli, istrinya tidak menjawab tapi langsung memeluknya.


Tok Tok.

__ADS_1


Abyan mengetuk kaca mobil lagi, kali ini ia menempelkan wajahnya di kaca mobil hingga membuat Litha menjerit kaget.


"Hahahaha ... Ayo kita turun. Let's show who you are, babe ... " kata Ray menyemangatinya.


"Mas, terimakasih sudah mau menemaniku, Aku bahagia sekali memilikimu sebagai sandaranku."


Kepercayaan diri Litha meningkat pesat karena ada suaminya di sisinya, menemaninya dan menyiapkan sandaran hingga ia tidak perlu takut untuk jatuh lagi. Tidak peduli ia seorang Tuan Muda Pradipta atau bukan, yang Litha lihat adalah kesediaan Ray untuk selalu bersamanya dalam kondisi apapun dan menemaninya dalam situasi apapun.


.


.


.


Suasana dingin mencekam menyelimuti ruangan sidang skripsi, disana hadir pula Rektor beserta jajarannya yang menemani Rayyendra yang duduk di barisan belakang dosen penguji. Biasanya mahasiswa yang diliputi kegugupan dan ketegangan luar biasa, tapi sekarang malah terbalik, Litha nampak tenang menatap sosok lelaki yang selalu tersenyum padanya, sedangkan semua hadirin menatapnya dengan raut wajah tegang, bahkan untuk mengambil nafas saja mereka lakukan dengan perlahan-lahan.


Abyan yang menunggu di luar ruangan melihat kondisi di dalam tertawa dan bergumam, "Hahahahaha ... Ray, kali ini aku sangat menyukai intimidasimu. Keren, Ray !"


Aura Rayyendra sebagai Tuan Muda Pradipta, pengusaha muda berbakat dan berpengaruh, sangat kuat. Ia hanya duduk dengan menumpangkan kaki kanannya di atas paha kirinya sembari memegang ponsel untuk merekam presentasi istrinya.


Semua yang hadir disitu tidak mengetahui sebelumnya kalau Litha tengah hamil. Begitu mereka melihat Ray menemani Litha dan sangat menjaganya dengan hati-hati, mereka hanya bisa saling berpandangan satu sama lain. Iri, satu kata yang pasti terjadi. Mereka ingin menjadi Litha karena ternyata istri Tuan Muda hanyalah dari kalangan biasa, bukan yang selama ini yang mereka pikirkan, harus dari kalangan jetset.


Litha tersenyum ramah menyapa semuanya, ia memulai presentasi dengan begitu apik, pertanda ia sangat menguasai skripsinya. Beberapa kali ia mengusap lembut perutnya karena bayinya menendang-nendang dengan aktif. Ray melihatnya dengan penuh keharuan, masih dengan posisi ponsel yang merekam. Ada rasa bangga membuncah dari hatinya, bukan sekedar bangga akan kemampuan Litha namun ia juga bangga telah sepenuhnya menjadi sandaran istri tercinta.


Abyan pun tidak melepas perhatiannya dari penuturan lugas Litha di depan semua dosen penguji, dalam hati ia berkata, "Mr. Laurent saja kau bisa taklukan hingga Pradipta Corp. akhirnya mendapat kerjasama eksklusif dengan AutoTech Inc. tentu ini bukan hal yang sulit buatmu, Litha."


Prok ... Prok .. Prok ...


Suara tepuk tangan bergemuruh setelah Litha menyelesaikan presentasinya, dengan sigap Ray berdiri dan bertepuk tangan memberi penghargaan setinggi-tingginya buat istrinya, yang mana membuat Rektor dan jajaran di sampingnya juga ikut berdiri dan bertepuk tangan. Istimewa sekali seorang mahasiswi sidang ujian skripsi dihadiri dan disaksikan mereka, jika bukan Nyonya Pradipta tentu saja tidak akan seperti ini.


"Ada pertanyaan?" tanya Bu Marisa pada tim penguji.


"Bravo Litha!" pekik Ray norak bertepuk tangan lagi sesaat setelah Bu Marisa mengumumkan bahwa Litha lulus ujian sidang skripsi.


Ray langsung menghampiri istrinya lalu memeluknya erat. Sebuah pemandangan yang membuat semakin iri bagi yang melihatnya.


"Selamat, Sayang. You did it, Seminggu lagi kamu akan diwisuda. Kamu senang?" tanya Ray menatap.lekat manik Litha dengan penuh kekaguman sekaligus rasa sayang. Litha hanya menjawab dengan mengangguk, tersenyum tersipu malu.


"Buat Pak Rektor beserta jajarannya, dosen penguji dan semuanya silahkan menikmati santap siang yang sudah saya siapkan di aula B. Selamat menikmati. Maaf, kami tidak ikut bergabung karena saya harus kembali ke kantor," ujar Ray menghadap mereka, namun tangannya tidak lepas dari pinggang Litha.


"Terima kasih. Terima kasih Bapak Ibu, semuanya. Saya tidak mungkin dapat bera--"


"Sudah. Mereka sudah mengerti, ayo kita pulang sekarang. "


Ray menghentikan ucapan terima kasih Litha yang dilakukan sambil menundukkan kepalanya. Ray tidak suka melihat istrinya terlalu merendahkan diri meskipun mereka adalah dosen Litha. Sebuah peofesi mulia tapi sayangnya mereka bermulut besar. Buktinya setelah mengetahui adalah istri Tuan Muda Pradipta, semua bungkam seperti orang bisu.


.


.


.


"Aaaaaa ... Akhirnya aku bisa wisuda bareng Ninda, Mas. Senang sekali rasanya tapi lebih senang lagi kalau tempat duduk kami bersebelahan, aku ada teman selama prosesi wisuda berlangsung. Tapi itu tidak mungkin karena nilai IPK kami agak jauh rentangnya," ucap Litha yang membuat Ray dan Abyan saling melirik melalui kaca spion depan.


"Dan kau ... " Litha berucap lagi menunjuk perutnya gemas, "Sangat nakal. Apa kau menuruni sifat usil ayahmu, ha? Sepanjang Ibu menjelaskan di depan tadi kau juga ikut bergerak, tidak mau diam, sama seperti ayahmu yang tidak bisa diam setiap mau tidur."

__ADS_1


Ray tergelak lalu menyahut, "No. Dia tidak nakal, justru dia memberi semangat pada Ibunya yang sabtu minggu depan akan wisuda."


"Mas, beneran sabtu minggu depan? Kok bisa bertepatan dengan ulang tahunku ya? Padahal ku kira waktu itu Ninda bilang sabtu tiga minggu lagi dari sekarang."


Litha memang tidak mengetahui bahwa suaminya dalang dari ujian sidang skripsinya yang baru saja ia jalani, wisuda yang bertepatan dengan ulang tahunnya dan segala hal yang berkaitan dengan perubahan rencana wisuda. Ia pikir semua hanya kebetulan seperti yang suaminya katakan sebelumnya, karena Ray tahu Litha akan menolak mentah-mentah jika tahu ini disetting buat dirinya.


"Bisa jadi ada perubahan, Sayang. Syukuri saja, ternyata keberuntungan berada di pihakmu."


"Tuhan sangat baik padaku, Mas. Semua anugerahnya beruntun diberikan untukku."


Ray dan Abyan tersenyum melihat kepolosan Litha, bahkan Ray memeluknya dari posisi samping dengan gemas.


"Kenapa kau bisa sepolos ini dengan otak encermu, ha? Biarlah. Aku menyukai kepolosanmu seperti ini." (Ray)


"Suamimu itu Tuan Pradipta, Nyonya, hahahahaha ... Orang lain saja jauh lebih mengerti seberapa besar pengaruh seorang Pradipta, hahahaha ..." (Abyan)


Litha memang tidak tahu seberapa banyak harta, seberapa besar kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki suaminya. Ia tidak memikirkan dan tidak mau tahu yang bukan merupakan bagiannya, bahkan ia tidak pernah menyentuh barang pribadi suaminya termasuk ponsel dan dompet tanpa izin. Baginya cinta suaminya dan bagaimana lelaki itu memperlakukan dirinya bak ratu, itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak ingin serakah, karena sepanjang ia membaca buku-buku dongeng di masa kecil, sifat tamak akan membawa kehancuran.


...***...


...----------...


Sisipan


Hidangan santap siang yang tersaji di aula B benar-benar membuat terpana. Sajian mewah yang mungkin baru kali ini mereka santap seumur hidup disertai dengan layanan VIP para pelayan membuat semua menyadari bahwa Litha memang memiliki tempat istimewa di hati Tuan Muda.


"Beruntung sekali ya Si Litha itu dapat suami Tuan Muda yang memperlakukan semua ini untuknya," sahut Ketua Jurusan sambil mengambil potongan buah segar.


"Sudahlah Bu Dini, itu rejeki Litha. Kita harus mengakui bahwa selama ini kita salah menilainya. Mungkin itu buah dari kesabarannya menghadapi rumor tidak menyenangkan selama ini." Bu Marisa mencoba memberi pengertian.


Pak Munir ikut bergabung bersama Bu Marisa dan Bu Dini, "Litha pada dasarnya memang anak baik dan pandai, rumor itu satu-satunya perusak citranya sebagai mahasiswa terbaik di kampus ini."


"Cih."


"Bu Dini kok masih gak terima sih? Jelas-jelas Litha istri Tuan Muda dan tengah mengandung anaknya."


"Bukan tidak terima Bu, hanya saja saya tidak habis pikir bagaimana bisa mereka bertemu, padahal kan jelas strata mereka itu sangat jauh."


"Hemm ... Mungkin Tuan Muda tertarik karena Litha pernah mengajukan pertanyaan saat kuliah umum waktu itu." Bu Marisa berasumsi.


"Ah, dia melirik Litha karena Litha satu-satunya penanya, tahu begitu aku juga nekat mengajukan pertanyaan. Pasti Tuan Muda lebih melirikku."


"Hahahahaha ... Itu namanya bukan rejeki Bu Dini. Sudah kita nikmati saja rejeki makan mewah kali ini. Toh kita juga cukup beruntung dijamu lobster-lobster spesial," gelak Pak Munir.


Sementara di bagian Pak Rektor dan jajarannya juga terlibat pembicaraan yang menjadikan Litha topik hangat.


"Aku tidak tahu ada rumor apa di kampus Z sehingga Tuan Muda sendiri turun tangan." komentar salah satu jajaran petinggi Universitas, jabatannya Pembantu Rektor II.


"Yang jelas kita tidak bisa kehilangan kerjasama yang selama ini sudah terjalin jika Tuan Muda kesal," kata Pak Rektor.


"Gadis itu sangat hebat menaklukan Tuan Muda yang arogan dan kasar. Kita tidak pernah melihatnya selembut itu, kan? Hanya dengan gadis itu Tuan Muda bersikap manis."


"Ya, benar. Hati Tuan Muda sudah di miliki oleh Litha dan dialah penentu sikap Tuan Muda," pungkas Pak Rektor.


Rayyendra sengaja menunjukkan jati dirinya melalui menu mewah santap siang, itu berarti bahwa jika mereka.masih menganggap remeh Litha sama saja mereka mencari masalah dengan Tuan Muda Pradipta

__ADS_1


...----------...


- Bersambung -


__ADS_2