
Ketenangan Litha patut diacungi jempol, ia tidak terpancing dengan tatapan memburu Ramona, padahal orang-orang disekelilingnya sudah tegang, termasuk suaminya sendiri. Hanya satu orang yang bisa mengimbangi ketenangan Litha, adalah Pak Sas yang tetap awas dengan Ramona.
"Sepertinya hari ini Suamiku sibuk, dia ternyata juga punya janji makan siang dengan Nona Ramona," sindir Litha melirik suaminya yang bagai manekin di pintu. Lirikan Litha menghipnotis suaminya hingga untuk menelan salivanya pun, Ray tidak bisa.
Pundak lelaki itu ditepuk Bona lagi dari belakang, "Ray, jangan sampai Litha pergi dari sini tanpa penjelasanmu."
Ray terkesiap, tanpa pikir panjang ia berkata, "Mon, tolong jelaskan pada Litha kalau aku memelukmu agar kau bisa melepasku."
Hening.
"Apa aku salah bicara? Kenapa semua diam? Oh, shitt ... Litha please, please ..." Ray baru menyadari kebodohannya.
"Duh, Bos kenapa bicara seperti itu?" Sasha menutup mata dan menundukkan kepalanya.
"Tuan Muda, Anda sangat menyakiti Nyonya." bathin Pak Sas masih dengan posisi semula.
"Ray bodoh! Kau semakin banyak berhutang penjelasan pada istrimu kalau begitu." bathin Bona menepuk dahinya.
"Sudah ku bilang apapun alasannya berpikirlah lebih panjang. Kenapa kau bodoh sekali, Bocah Egois!" rutuk Abyan kesal.
"Hah. Kau mengakuinya Ray, kau mengakui memelukku di depan istrimu. Hahahahaha ... Terimakasih siapapun engkau yang mengambil gambar kami dengan angle yang pas, hahahaha ...." Ramona senyum-senyum sendiri, merasa menang.
Litha melakukan slow breathing, berusaha agar dirinya masih dalam kendali pikiran waras, meski sebenarnya ia ingin berteriak dan memaki suami beserta mantan terindahnya ini tepat di depan muka mereka, tapi itu sama sekali bukan dirinya.
"Lith ..." panggil Ray lirih, ia sudah tidak tahu harus bicara apa dengan istrinya sekarang. Litha menghadapkan badannya sepenuhnya ke hadapan suaminya.
"Aku tidak tahu ada perihal apa antara Mas dengan Ramona hingga Mas memeluknya." Ada nada terluka dalam suaranya saat kata 'memeluknya' diucapkan, tapi ia kuatkan hatinya, "Silahkan selesaikan urusan masa lalu kalian. Aku tidak akan ikut campur, kalian adalah dua orang dewasa yang bisa membedakan hitam dan putih, hal baik dan buruk. Nikmati makan siangmu, Mas. Tenang saja, aku tidak akan menelepon karena itu pasti mengganggumu."
Litha kemudian membalikkan badannya menatap lekat tanpa ragu ke dalam netra gadis yang telah menyakiti hatinya, "Nona Ramona, melepaskan seseorang yang kita cintai memang sulit, namun apakah Nona ingin selalu kembali ke masa lalu? Percayalah, pada akhirnya melepaskan lebih melegakan daripada memaksa."
Litha menampar Ray dan Ramona dengan kata-katanya, dan itu lebih menyakitkan ketimbang tamparan telapak tangan. Ia melangkahkan kakinya menuju lift diikuti Pak Sas yang tersenyum samar, mengakui keanggunan Nyonya Mudanya.
Sasha menutup mulutnya, takjub dengan wanita yang jauh lebih muda darinya namun bisa bersikap lebih dewasa dan elegan darinya ketika menghadapi permasalahan yang sama beberapa tahun silam.
Ray tidak berkutik, begitu juga Ramona, ia salah tingkah.
"Ramona, aku berharap tadi kau akan menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada istriku bahwa itu hanya pelukan perpisahan," ujar Ray dengan nada tertahan, menahan emosinya.
"Whatt!! Romantis sekali kau dengan mantan kekasihmu, Ray, masih memberinya pelukan perpisahan," sindir Bona di belakangnya. Ray berbalik menatap tajam Bona yang mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Ray ... Aku belum bisa langsung melepasmu, meski kau memelukku," ujar Ramona dengan suara menghiba.
"Sudahlah Ramona, kau memang tidak akan melepasku kan? Kau bahkan tidak berniat sedikitpun! Kau berbohong dengan dalih kau akan melepaskanku jika aku memelukmu! Dan kau tahu aku tidak suka dibohongi." Suara Ray makin meninggi, ia sangat marah pada Ramona
"Ray ..." Suara Ramona lebih menghiba dari sebelumnya.
"Seharusnya kita tidak berhubungan dalam bentuk apapun, baik sebagai teman atau adik. Aku salah mengira kalau kau sudah berubah. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
"Tapi-- Bagaimana mungkin? Aku masih bekerja denganmu."
"Maka dari itu, ini hari terakhirmu bekerja di Pradipta Corp. Sekalian, sebelum pulang nanti kau ke lantai 4, hubungi kepala HRD Kantor Pusat, kau akan diberikan hakmu sebagai karyawan yang aku berhentikan dengan hormat," pungkas Ray yang membuat semua orang disitu membeliak kaget.
Ramona tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia benar-benar didepak dari kehidupan lelaki yang ia cintai. Dengan menyingkirkan rasa malunya dan membuang harga dirinya, ia berlutut dihadapan Rayyendra memohon-mohon agar tidak dipecat, agar ia tetap bisa disamping Ray meski tidak bisa memilikinya. Sayangnya, itu sudah menjadi keputusan final Rayyendra, tidak ada satupun yang bisa mengubah jika sudah menjadi keputusan finalnya, bahkan istrinya sendiri pun tidak bisa.
"Yan, kabari kepala HRD mengenai status karyawan Ramona. Cari tahu juga siapa yang diam-diam mengambil fotoku dan memostingnya," perintah Ray.
"Baik, Tuan."
Ray melepas paksa kakinya yang dipeluk kuat Ramona hingga gadis itu terhempas ke lantai dengan airmata yang mengalir deras.
"Pak Gito dan Pak Andi, apapun alasannya saya tidak ingin wanita ini menginjakkan kakinya di lantai Presdir," titahnya menunjuk dengan telunjuknya ke arah Ramona yang tersungkur di lantai.
"Siap, Tuan."
"Wanita ini? Tega sekali kau, Ray. Bagaimanapun kita punya kenangan!" pekik Ramona sembari berdiri.
"Aku sudah menghapusnya sekarang! Kita tidak punya kenangan apapun dan kau ... bukan siapa-siapa bagiku, di masa lalu, sekarang maupun masa depan." Setelah berkata demikian, Ray masuk ke dalam ruangannya, tidak peduli namanya diteriakkan sampai suara gadis itu serak.
"RAY ...! RAY ...! RAAAAYYY ...!!! KUMOHON RAY ... KUMOHON! RAAAAYYYY ...!!! "
"Nona, silahkan ke lantai 4, Kepala HRD sudah menunggu Anda," kata Pak Gito sopan.
Ramona sudah tidak punya tenaga sampai ia dipapah oleh Pak Andi untuk menuju ke lantai yang dimaksud.
.
.
.
"Ray, kau benar memecatnya?" tanya Bona masih terkaget-kaget begitu Ray menutup pintu.
Ray tidak menjawabnya, ia duduk di kursi kebesarannya dengan memijat keningnya.
"Apa kau tuli, Bon? Ramona sudah di pecat, dia tidak punya kepentingan lagi untuk ke Kantor Pusat," ketus Abyan.
"Ah, bagaimana aku menjelaskannya pada Litha?" tanya Ray pada dirinya sendiri, masih memijat keningnya, sikunya bertumpu di meja
"Bukankah kau sudah menjelaskannya tadi, kalau kau memeluk Ramona agar dia melepasmu."
Ray mengambil miniatur bola dunia di atas meja kerjanya dan langsung melempar ke arah Bona, untungnya Bona sigap mengelak dan benda itu menghantam pintu. Sedetik kemudian, pintu terbuka dan ada Firza yang tengah menahan marah dengan ponsel di tangannya.
"Ray, apa kau sudah tidak menginginkan Litha sebagai istrimu, ha?" tanya Firza dengan suara keras.
__ADS_1
Ray memejamkan matanya, kepalanya makin pening.
"Aku pernah mengatakan padamu kan, sekali lagi kau menyakiti Litha, maka aku akan maju untuk merebut hatinya, tidak peduli ia masih istrimu," tukas Firza tajam.
"Aku akui aku salah! Tidak seharusnya aku memeluk Ramona! Kalau kau berani mendekati istriku, langkahi dulu mayatku!" sahut Ray tidak kalah lantang.
"Bodoh! Kau suami paling bodoh! Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaannya sekarang? Dia sedang hamil, suasana hatinya akan mempengaruhi bayi kalian," umpat Firza kesal dengan kebodohan adik angkatnya.
Ray tercengang, ia baru menyadari kondisi istrinya yang tidak biasa, bahkan pernah memiliki riwayat nyaris keguguran lantaran sedih yang teramat dalam. Bergegas ia mengambil ponsel dan menelepon nomor Litha.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan
"Aaaarrrrggghhh ...!!!"
Ia menekan nomor Pak Sas, agak lama nada sambungan berdering baru dijawab.
"Pak Sas, apa istriku baik-baik saja?" sambar Ray begitu telepon tersambung.
"Iya Tuan, Nyonya sedang makan."
"Ah, ya. Aku hanya memastikan dia baik-baik saja. Terimakasih Pak Sas sudah menjaga Litha."
"Ya, Tuan."
Ray menutup sambungan telepon, hatinya lega, tidak berapa lama notifikasi pesan masuk, Pak Sas mengirim sebuah gambar yang membuatnya tertawa.
"Sial! Bagaimana bisa dia makan sesantai itu, sedangkan aku disini setengah mati mau mampus. Dasar perempuan Ragnaya!" umpat Ray setelah melihat foto istrinya sedang makan dengan nikmatnya di depan hidangan yang lezat tersaji.
"Kita tidak bisa mengetahui hati seseorang. Kau sendiri yang bilang kalau Nyonya sangat pintar menutupi perasaannya, dia nampak baik-baik saja tapi hatinya tetap terluka, Ray," kata Abyan.
"Matanya tidak pernah berbohong. Besok pagi aku ikut sarapan di rumahmu. Aku akan memastikan Litha baik-baik saja atau tidak. Jika aku lihat Litha terluka, maka jangan salahkan aku, Adikku. Seriously, aku siap menjadi ayah sambung bagi anakmu."
"Bang*sat kau, Firza!" maki Ray pada Firza yang berjalan keluar ruangan seraya mengacungkan jari tengah tangan kirinya.
...***...
Beberapa saat yang lalu, saat Litha berlalu dari lantai Presdir dengan lift. Ia menon-aktifkan ponselnya.
"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya Pak Sas di dalam lift.
Litha diam, dilihatnya bayangan dirinya di dinding lift, ia menyeka sudut matanya yang berair dan tersenyum miris. Semua karyawan di Kantor Pusat pasti akan menjadikan mereka topik pembicaraan hangat, dan posisinya adalah posisi yang lemah di mata mereka. Hal itulah yang ia tidak suka, pandangan dikasihani seperti yang ia temui sebelumnya di rumah sakit.
"Pak Sas. Antar aku ke Rumah Makan Padang Salero Bundo di Jalan Pahlawan Pak, kita makan siang disitu," sahut Litha saat Pak Sas ingin melajukan mobil
"Siap, Nyonya, tapi apa Anda baik-baik saja?" tanya Pak Sas lagi, ia sepertinya belum puas kalau belum mendapat jawaban.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja-- "
Pak Sas diam, sengaja memberi ruang dan waktu untuk Litha menumpahkan isi hatinya
"Jadi, Nyonya tidak keberatan jika Tuan memeluk Nona Ramona?" tanya Pak Sas kaget.
"Heheh ... Bukan tidak keberatan. Siapa yang tidak panas hatinya melihat suami yang dicintai sepenuh hati memeluk wanita lain, terutama mantannya. Tapi setidaknya, aku tidak tahu dan tidak melihatnya, itu sudah cukup menenangkan buatku ... Mungkin aku bisa memakluminya jika Ramona yang memeluknya. Tapi, jelas dari fotonya, Mas Rayyendra lah yang memeluknya hingga membuat Ramona nyaman. Itu bisa terlihat dari caranya menyandarkan kepalanya di bahu suamiku. Rasa nyaman itu berbahaya, Pak."
Pak Sas diam, dalam hati ia membenarkan asumsi Nyonya Mudanya.
"Apalagi di foto yang terakhir, mereka saling menatap, bahkan sangat terlihat masih ada harapan dan cinta yang sangat besar di mata Ramona untuk suamiku. Sebenarnya aku kasihan melihat Ramona yang terbelenggu dengan cintanya sendiri," sambung Litha.
"Tapi hati dan raga Tuan milik Nyonya." sanggah Pak Sas.
"Ya, saat ini. Tapi kita tidak tahu hati manusia, Pak Sas. Bisa saja suatu saat berubah karena bagaimanapun mereka memiliki kenangan yang cukup banyak. Dan itu yang dimanfaatkan Ramona dengan menyentuh rasa iba suamiku, ia berusaha mencuri perhatian melalui rasa iba."
Pak Sas diam, ia akui, berdebat dengan Nyonya Mudanya adalah hal yang sia-sia.
.
.
.
Akhirnya mereka sampai di area parkir Rumah Makan Salero Bundo.
"Pak Sas mau makan apa?" tawar Litha memasuki rumah makan
"Saya ikut Nyonya saja."
"Baiklah, kalau begitu aku minta disajikan hidangan saja, biar Pak Sas bisa leluasa memilih. Oh iya, kali ini aku yang memesan, Pak Sas carikan meja ya."
"Nyonya, kau sangat pandai menutupi perasaanmu yang sebenarnya," bathin Pak Sas dengan melangkahkan kaki ke salah satu meja yang besar.
Litha memesan sajian hidangan pada Palung, "Uda, hidangkan semuanya di meja itu ya," tunjuk Litha di tempat Pak Sas berdiri, ia tidak akan duduk sebelum Nyonya Mudanya duduk terlebih dahulu.
Saat akan ke arah meja, Litha melihat perdebatan antara kasir dan tiga orang anak muda.
"Zar, gimana sih! Katanya kamu yang traktir, ehh malah nyuruh kita yang bayar, mana tadi kita kalap lagi makannya," ujar pemuda yang berbaju kaos warna merah.
"Lagian mentang-mentang ditraktir kamu minta hidangan. Tapi beneran loh, dompetku ketinggalan di kantor tadi setelah Senior memberiku bonus yang banyak karena dalam hitungan detik hasil jepretanku viral," sahut pemuda yang disapa Zar oleh temannya barusan.
"Mau bonusnya banyak atau enggak, intinya sekarang dompetmu ketinggalan dan kita gak bisa bayar," kata temannya satu yang berbaju kaos hitam.
"Kau dan Tyok patungan, nanti begitu sampai di kantor aku ganti semuanya." kata Zar.
"Biar digabungin, uang kita gak cukup, Nezar! Kami ini hanya mahasiswa yang kalau akhir bulan makan mi instan."
__ADS_1
"Masih untung kalian ada status, Mahasiswa. Nah aku, pengangguran, syukur-syukur ada foto yang bisa kujual." timpal Nezar.
"Ah, banyak bicara kalian. Cepat bayar! Tadi datang seperti orang banyak uang meminta hidangan. Cih! ternyata mahasiswa dan pengangguran, kalau tahu, tadi aku berikan saja nasi dengan kuah sayur," ketus Uda Kasir.
"Sedikit lagi aku bukan pengangguran, Uda. Tahun ini aku sudah kuliah." protes Nezar.
"Sudah, cepat bayar sekarang!"
Si Uda sudah kehilangan kesabaran menghadapi tiga pemuda yang selesai makan tapi tidak bisa bayar. Melihat mereka semua beradu mulut membuat Litha terkekeh, melupakan sejenak sakit hatinya.
"Uda, biar aku saja yang membayarnya," sahut Litha pada Uda Kasir.
"Tapi mereka makan banyak sekali, hampir semua yang dihidangkan dihabiskan." kata Uda Kasir.
"Tidak apa-apa Uda, tambahkan saja biayanya dengan yang aku makan nanti. Kasihan mereka, hehehehe ..."
"Hei, kalian bertiga ucapkanlah banyak terimakasih pada Ibu ini, sudah membayar semua yang kalian makan."
Ketiga anak muda itu kurang lebih seumuran dengan adiknya, karenanya Litha tidak keberatan membayar makanan mereka. Litha merindukan kehadiran Vania sekarang, meski ia masih SMA, pandangan berpikirnya jauh lebih luas.
Mereka mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Litha yang berkata, "Kalian anak yang jujur, belajarlah yang rajin dan bekerja dengan baik. Semoga kelak kalian akan sukses."
Litha lalu duduk yang diikuti Pak Sas duduk di hadapannya. Saat Litha siap menyantap nasi dengan potongan daging rendang, tiba-tiba telepon genggam Pak Sas berbunyi, nama Tuan Muda muncul di layar.
"Nyonya, Tuan menelepon. Saya angkat atau dibiarkan saja?" tanya Pak Sas meminta persetujuan.
"Angkat saja dan jawab apa adanya kalau Suamiku bertanya, palingan mau menanyakan kabarku karena ia tidak bisa menghubungiku."
Pak Sas menjawab sambungan telepon Tuan Muda. Benar saja, Tuan Muda mengkhawatirkan istrinya. Setelah telepon di tutup, Litha menyuruh Pak Sas mengambil fotonya sedang menikmati nasi rendang dan mengirimkannya pada suaminya.
"Kau yang membuat masalah kenapa aku yang pusing! Urus masalahmu dengan Ramona kalau tidak nama baikmu yang jadi taruhannya. Persetan dengan foto-foto itu, kau kira aku meratapinya apa! Mungkin ya, tapi tidak akan berlama-lama. Aku harus dalam suasana hati yang baik agar bayiku juga baik-baik saja. Kau yang rugi, tidak jadi kuajak makan siang disini, huh." omel Litha dalam hati.
Ia sudah tidak peduli dengan foto itu dan tanggapan iba orang-orang. Ia lebih memikirkan bayi dalam perutnya.
.
.
.
"Zar, makasih ya udah traktir kita walaupun bukan kau yang bayar, hihihi ... Untung saja ada ibu hamil itu, dia kasihan melihat kita disandera Uda Kasir," kata pemuda yang mengenakan kaos warna merah bernama Tyok setelah sampai di kantor berita media online "Babun", mengantar Nezar mengambil dompetnya yang ketinggalan.
"Eh, tapi wajahnya familiar loh. Tunggu aku ingat-ingat siapa ya?" Firman yang berbaju hitam mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari.
"Ah, ya... Aku ingat! Ibu hamil itu, istri Tuan Muda Pradipta yang viral kemaren, karena perlakuan istimewa suaminya saat wisuda dan ulangtahunnya." Suara Firman mengagetkan kedua temannya.
Nezar terhenyak.
"Wah ... ternyata benar yang dikatakan netizen, Nyonya Pradipta orangnya sangat baik dan pintar, ku kira hanya pujian semata karena dia istri Tuan Muda. Mimpi apa kita bertemu dengannya dan dibayarin lagi, padahal dia tidak mengenal kita," timpal Tyok.
"Be-- Benarkah yang tadi itu Nyonya Pra-- Pradipta?" tanya Nezar gugup.
"Tentu saja, kan Nyonya Pradipta lagi hamil. Kau ini freelance di kantor media online tapi berita viral dan trending tidak tahu. Nyonya Pradipta viral selain karena perlakuan istimewa suaminya, ia juga menyedot perhatian karena gelarnya sebagai The Best Graduate di kampusnya saat wisuda. IPK-nya paling tinggi. Keren banget ya!" jawab Firman dengan semangat.
"Tapi sayang, Tuan Muda malah tergoda kembali sama mantannya. Padahal istrinya beberapa bulan lagi akan melahirkan. Kira-kira tadi Nyonya Pradipta sudah melihat foto-foto suaminya belum ya? Kok aku kasihan kalau dia melihatnya. Bagaimana perasaannya ya? Wanita sebaik itu kok di selingkuhi," ujar Tyok mulai bergosip.
Nezar kembali terhenyak.
"Kau kenapa Zar? Mukamu kayak orang linglung begitu. Cepat ambil dompetmu dan kuantar pulang kau ke-kost. Katanya hari ini kau mendapat jatah libur dan bonus yang banyak karena foto-fotomu tajam dan mengena. Memangnya foto apaan sih?" tanya Tyok penasaran.
"Ah, tidak-- Bukan foto penting. Aku ke dalam dulu, mengambil dompet."
Nezar langsung berlari meninggalkan kedua temannya di area parkiran sepeda motor. Ada rasa sesak di dalam hatinya, rasa tidak nyaman disertai rasa bersalah.
"Hei, Zar! Ngapain kembali? Kau sudah bekerja keras tadi pagi, sekarang istirahatlah," seru Seniornya tersenyum.
"Do- Dompetku ketinggalan Kak, tapi sudah kuambil kok." Nezar menunjukkan dompet murahnya.
"Oh."
"Zar, kau benar bisa mengelabui Tuan Muda kan? Dia pasti akan melacak siapa memotret dan memosting. Kudengar dia marah besar." bisik Si Senior menghalangi langkah Nezar yang mau pulang.
Glek.
"I-- iya, Senior. A-- Aku sudah menon-aktifkan nomor telepon dan ponsel yang kugunakan untuk memosting foto itu." jawab Nezar gugup, tidak sepercaya diri tadi pagi.
"Bagus. Karena kalau kau ketahuan, bukan kau dan aku saja yang kena imbasnya. Tapi kantor ini bisa-bisa ditutup Tuan Muda."
Glek.
"I-- iya. Aku pulang dulu Kak."
Senior mengangguk dan memberi jalan pada Nezar.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Mungkin terkesan banyak konflik atau konflik baru yang muncul, tapi justru ini sedang menuju kli*maksnya, Author sedang membangun agar plotnya terkronologiskan 😁
Sabar ya Kak ngikutin alur cerita Author halu satu ini. Semoga stay tuned disini terus ya Kak...
Jangan lupa selalu dukung Author dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi dukungan selama ini.
__ADS_1
Salam sehat buat kita semua 🤗