Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kakak Ipar Terbaik di Dunia


__ADS_3

Litha tidur menyisakan airmata meski Ray sudah berkali-kali mengatakan ia tidak marah bahkan senang Litha menciumnya, namun Ray tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya, terlalu absurd untuk menyusun kalimatnya walau memakai perumpamaan nama hewan.


"Maaf, Mas. Bukan maksudku kegenitan padamu. Tapi-- " Litha juga kehabisan kata untuk mengatakannya kalau itu adalah dorongan naluri alamiahnya.


Ray memijit keningnya pusing, ia ingin mencari solusinya dengan menceritakan ke Abyan, tapi pasti ia akan ditertawai habis-habisan.


Sekali lagi ia memandang wajah istrinya, ada jejak airmata yang mengalir, namun tidak sedikitpun melunturkan kecantikan alaminya, wajah yang nyaris tak pernah tersentuh make-up, hanya dua kali ia melihat Litha dengan make-up, saat pernikahan mereka dan ulang tahun mendiang neneknya, itupun hanya sapuan bedak tipis dan lipstik warna natural.


"Apa kehamilanmu yang membuatmu gampang sekali menangis, Sayang?"


Ray mengusap pipi istrinya dengan penuh kasih sayang, ia tak pernah bosan menatap wajah istrinya yang tengah tertidur. Pandangannya refleks turun ke bawah, bagian tubuh Litha di bagian dada nampak lebih berisi ketimbang sebelumya, posisi tidur Litha yang miring menghadapnya membuat belahan di bagian itu kian nampak membelah ranum dan menggoda suaminya.


Ray makin menekan memijit keningnya, "Hhhhh ... sebaiknya aku tidur di sofa saja. Bahaya kalau aku tidur di sampingnya. Kenapa dia tampak begitu menggoda, padahal ia hanya tertidur tidak melakukan apapun, aaarrrggghhh ....."


Ray mengacak-acak rambutnya sebelum membawa bantal dan selimut cadangan ke sofa untuk tidur.


Tengah malam, ia dibangunkan isakan tangis istrinya lagi. Ray bingung, sambil mengucek matanya ia mendekati Litha, menanyakan sebab ia menangis lagi.


"Kenapa, Sayang?" tanyanya lembut.


"Mas bohong! Katanya tidak marah denganku, tapi malah memilih tidur di sofa. Sengaja menjauhiku ya? Apa kesalahanku begitu besar dimatamu? Apa setelah ini Mas akan menyuruh Pak Prasojo untuk mendaftarkan gugatan perceraian karena aku terlalu genit?"


Litha meracau kemana-mana. Ray sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya ini, kemarin berbagai permintaan aneh yang membuatnya dan Abyan kelimpungan, seperti ingin makan mie instan bakar, menyisir rambut dengan sisir yang bentuknya 3/4 lingkaran lah, sampai ia juga harus meminjam baju suster karena istrinya ingin disuapi dengan suster Rayyendra.


Semua baginya masih bisa diusahakan, tapi tidak kali ini, bagaimana menghentikan pikiran aneh dan isak tangisnya membuat Ray frustasi.


Akhirnya, sangking bingungnya harus berbuat apa, Ray memeluk Litha dengan hangat dan agak lama sampai isakan istrinya perlahan mereda.


"Sudah ya, jangan berpikiran aneh-aneh. Aku tidak mungkin bisa berpisah lagi denganmu. Apa perlu kupanggil Pak Prasojo untuk membuat perjanjian kalau aku tidak akan meninggalkanmu, jika itu terjadi semua harta Keluarga Pradipta akan jatuh ke tanganmu."


Litha diam, menghapus airmata dengan punggung tangannya. Nampaknya bujukan Ray ampuh. Litha tiba-tiba menduselkan kepalanya ke dalam pelukannya lagi.


"Selama kita menikah, kita tidak pernah tidur bersama. Bolehkah malam ini kita tidur di satu ranjang?" pinta Litha.


Ray menghela nafasnya, matanya menatap langit-langit kamar.


"Ya Tuhan, begitu besar godaan istriku sendiri," gumam bathin Ray.


"Mas, kau memang tidak ingin kita tidur satu ranjang ya,? Aku janji, aku tidak akan melakukan apapun kok. Aku hanya ingin tidur disampingmu saja."


"Iya, sekarang tidurlah."


Tidak ada alasan untuk menolak dan tidak ada cara untuk menghindar, satu-satunya jalan adalah ia tetap terjaga di samping istrinya, melihat dan meneliti kembali pekerjaan kantornya sampai Ia benar-benar mengantuk dan otaknya lelah butuh istirahat.


Keesokan paginya setelah sarapan, ketika Litha sedang bersantai menonton drama favoritnya di kamar, Ray menuju kamar Abyan.


"Yan, aku numpang tidur sebentar disini." Ray langsung merebahkan dirinya di kasur.

__ADS_1


"Ray, kau tidak bersiap? 30 menit lagi ada zoom meeting dengan suplier bahan baku kapas," sergah Abyan.


"Aku mengantuk sekali Yan, kau saja yang hadiri zoom meetingnya, konsep penawarannya sudah ku email tadi subuh. Ikuti saja tahapan-tahapan yang sudah kutulis. Kalau mereka tidak mau ikut aturan main kita ya sudah, cari suplier lain," sahut Ray tidak bergerak dari posisi rebahnya.


"Ray, tadi malam kau tidak berbuat yang aneh-aneh kan sama istrimu? Ingat dia lagi dalam masa pemulihan."


"Berisik!" protes Ray seraya melemparkan bantal ke Abyan.


"Justru karena itu, aku menahannya setengah mati. Kenapa sekarang ia nampak makin menggoda hasratku? Aaarrrgghhhh, sudahlah Yan, aku mau tidur dulu. Kalau Litha mencariku katakan aku sedang berdiskusi masalah pekerjaan, jangan katakan aku numpang tidur disini. Kehamilan ini membuatnya sangat sensitif sekali."


Abyan tergelak nyaring melihat tuannya tidak berdaya menghadapi istrinya yang tengah hamil muda, "Mampus kau, Ray ...!" umpatnya dalam hati masih dengan tertawa.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Acara syukuran kehamilan Litha diadakan di rumah barunya yang besar dan megah. Ray sengaja mengundang semua keluarga Litha dari pihak Ayah tanpa kecuali berikut juga teman-teman Litha semasa sekolah, tidak lupa semua penghuni kompleks perumahan mereka dan ribuan anak yatim piatu. Bahkan Ray juga menyiapkan ribuan paket sembako yang akan dibagikan di depan kompleks perumahan bagi para pejuang nafkah yang lewat.


Suasana hari itu sangat ramai, semua penasaran dengan sosok Rayyendra, mereka menyebutnya Tuan Muda dari Ibukota. Beberapa hari lalu Abyan sempat mengunjungi kepala daerah Kota A dan bersilaturahmi sehingga kedatangan orang nomor satu di kota tersebut beserta istrinya tentu menarik perhatian warga, bahkan ada beberapa wartawan lokal yang akan meliput, namun Litha tidak ingin ada berita tentangnya di media manapun.


Tenda-tenda besar berwarna putih dipasang sepanjang jalan kompleks depan rumah, berbagai makanan menggugah selera pun tersedia berikut juga souvenir mewah yang dibawa pulang para undangan, bukan souvenir biasa seperti kipas dan guntingan kuku yang biasa ditemui. Terlebih khusus pada keluarga Litha yang sempat menggunjing di pemakaman kemarin, ada souvenir spesial yang akan membungkam mulut mereka.


Puja puji disanjungkan pada Tuan Muda dari Ibukota dan istrinya yang telah berbagi, tidak lupa diiringi doa agar ibu hamil dan bayinya diberikan kelancaran dan keselamatan. Terutama bagi mereka yang menerima paket sembako, karena di dalam paketnya disertai dengan lima lembar uang dengan nominal pecahan terbesar, nilai yang sangat berarti bagi mereka.


"Mas, aku tidak menyangka Mas membuat acaranya sebesar ini, seharusnya cukup keluarga dan tetangga saja, Mas," ujar Litha berbisik sambil mengelus perutnya setelah acara berakhir.


"Anak yang dalam perutmu itu penerus Keluarga Pradipta, Sayang. Ia harus didoakan banyak orang meski tidak mengenalnya. Orangtua kita sudah berpulang semua, tidak ada salahnya kita meminta doa mereka. Kadang doa orang yang kita tidak kenal lebih tulus." Ray ikut mengelus perut istrinya.


"Kakak Ipar, andai saja Kakak Ipar lihat muka mereka saat mengintip souvenir yang mereka dapat. Mereka kaget dan tingkahnya norak hahahahahaha .... "


Ray hanya tersenyum mendengarnya, Litha menyipitkan mata, ia memang tidak tahu menahu tentang acara yang ditujukan untuknya.


"Kak Litha tidak tahu isi souvenir yang diberikan Kakak Ipar khusus untuk keluarga besar Ayah?" tanya Vania tidak percaya, Litha menggeleng.


"Isinya sih biasa seperti yang lainnya tapi khusus untuk mereka ditambah logam mulia 10 gram tiap orang, bahkan anak-anak dan bayi juga dapat. Kesenengan dong Bik Sum, anaknya delapan ditambah dia dan suaminya, dapat 100 gram emas dari Kakak Ipar, bisa tuh dijual buat perbaikan atap rumahnya Bik Sum yang bocor hahahahahaha ... " gelak Vania.


"Kakak Ipar, dirimu memang Kakak Ipar terbaik di dunia," ujar Vania lagi memberi dua jempol buat Ray.


"Mas ... benar apa yang dikatakan Nia?" tanya Litha tidak percaya. Suaminya hanya diam saja, matanya diarahkan ke lain.


"Ini terlalu berlebihan, Mas. Keluarga besar Ayah sangat banyak."


"Tidak, ini tidak sampai membuatku bangkrut, seujung kuku ku pun tidak. Sudah biarkan saja, lagipula ini bukan ideku, tapi idenya dia." Mata Ray menunjuk sesosok lelaki yang tertidur di sofa karena kelelahan.


"Tapi atas perintahmu, kan?"


Litha menatap lelaki itu dengan iba, kaki tangan suaminya itu sangat setia. Bolak balik Ibukota - Kota A dengan membawa pekerjaan kantor suaminya, mengurusi permintaan pribadi suaminya bahkan sampai Litha ngidam pun, asisten suaminya itu yang lebih kerepotan dibanding suaminya sendiri.


"Siapapun jangan ada yang membangunkan Asisten Yan. Biarkan Asisten Yan terbangun dengan sendirinya selama apapun itu," sahut Litha lantang yang diangguki para pelayan rumah.

__ADS_1


"Wah, tabiat asli istriku sudah kembali rupanya," goda Ray mencubit hidung istrinya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Pranggggg !!!


"Apaaaaa!!!" pekik Ramona histeris, ia membanting gelas minuman yang ada di tangannya ke lantai.


"Mon, jangan buat kekacauan disini dong! Aku hanya memberitahumu bahwa Ray sudah bahagia dengan istrinya sekarang, apalagi mereka akan memiliki anak. Relakan Ray, kau jauh lebih cantik dari Litha, aku yakin kau bisa mendapatkan pengganti Ray." Bona berusaha menenangkan Ramona.


Ramona sangat-sangat kesal, sangat marah, sangat benci dan ingin mencabik-cabik wanita yang sudah merebut segalanya darinya.


Beberapa minggu lalu ia diberitahu kejadian yang terjadi di Kota A oleh Ninda setelah kembali dari sana. Awalnya ia jengkel karena tidak diajak Ray dan Abyan ke Kota A untuk berbelasungkawa tapi Ninda menjelaskan bahwa saat itu situasi disana sangat rumit jadi bisa saja Ray dan Abyan bukan tidak mau mengajak tapi tidak sempat karena mereka harus segera menyelesaikan kesalahpahaman antara Ray dan Litha yang ia jjuga tidak tahu apa masalahnya.


Sebenarnya Bona tidak ingin ikut campur dalam hubungan Ray dan Ramona, tapi sebagai teman dari keduanya, ia ingin membuat jelas hubungan mereka. Bona tidak ingin Ramona tersakiti, namun ia juga tidak ingin Ramona merusak kebahagiaan Ray.


Sekembalinya Bona dari Kota A untuk menghadiri syukuran kehamilan Litha, ia berniat membuka mata dan hati Ramona kalau sudah tidak ada tempat di hati Rayyendra untuknya, semuanya sudah terisi oleh Litha. Bona menyaksikan sendiri bagaimana cara Ray memandang istrinya, memperlakukan istrinya dengan istimewa di hadapan semua orang tanpa canggung dan mengadakan acara besar-besaran sebagai ungkapan syukur dirinya akan memiliki anak dari Litha. Jelas, Litha adalah cinta dalam hidup Rayyendra dan tidak ada yang bisa membantah itu.


"Bon, kenapa kau baru memberitahuku sekarang. Bukankah aku ini temanmu? Kau akan membantuku mendapatkan Ray kembali kan?" rengek Mona.


"Mona, sebenarnya aku ragu ingin memberitahumu atau tidak. Kamu pasti sakit hati dengan kebenarannya tapi itu lebih baik daripada kau hidup dengan harapan kosong."


"Bona, aku mencintai Ray, sejak dulu, kau tahu kan? Ray hanya khilaf, perasaannya ke Litha sebenarnya hanya sekedar tanggungjawab karena Litha hamil anaknya." Mona masih mengingkari fakta.


"Tidak, Mona. Ray memang jatuh hati pada istrinya, aku tidak pernah melihat ia seperti itu, pandangan penuh cinta dengan senyum yang dalam. Bahkan denganmu, ia tidak pernah melakukannya."


"Cih." Mona berdecih keras.


Bona menarik nafasnya sejenak, "Mona, Aku peduli padamu, kumohon berhentilah berharap padanya, temukan harapanmu di tempat lain. Aku ingin kalian menemukan kebahagiaan masing-masing."


"Lalu bagaimana dengan Litha? Apa dia juga mencintai Rayyendra?" tanya Mina dingin.


"Ya, mereka saling mencinta," pungkas Bona pelan.


Aaaaaaaarrrrrrrrrggggggghhhhh ...


Ramona berteriak sekeras mungkin hingga para tamu di Amore Club and Party malam itu banyak yang pulang lebih awal karena mendengar teriakan wanita yang sedang murka. Mereka tidak ingin terlibat lebih jauh.


"Bona, camkan ini! Seorang Ramona Riguna tidak akan mudah melepas cintanya. Rayyendra akan kudapatkan kembali bagaimanapun caranya!"


"Mona, sadarlah .... "


"Hei! Kau kira aku kesetanan apa? Apa yang aku ucapkan barusan adalah sadar dan nyata. Rayyendra sampai kapanpun milikku. Hahahahahahahaha ......"


Ramona berjalan keluar klub dengan lengkingan tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.


Cinta memang di luar nalar dan bisa membutakan akal pikiran manusia.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2