
Setelah sekian lama Litha tidak datang ke kampus untuk melanjutkan konsultasi skripsinya. Ia enggan ke kampus karena Pak Sas pasti mengantar jemput dan itu nanti akan sangat mencolok, belum lagi sebutan Nyonya Muda dari Pak Sas akan semakin menarik perhatian.
Litha yang lagi leyeh-leyeh sambil menonton drama kesukaannya, padahal hari masih pagi, mendengar dering ponselnya berbunyi, Tuan Muda Yang Mulia memanggil.
"Lith, bisa tolong aku?" sambar Ray begitu telepon diangkat, nampak ia terburu-buru.
"Apa yang bisa kubantu?"
"20 menit lagi aku rapat evaluasi, tapi ada laporan yang tertinggal di meja kerja. Asisten Yan tidak bisa mengambilnya karena waktu tidak akan cukup. Bisa kau antar kemari sebelum rapat dimulai?" pinta Ray.
"Baik. Setelah tiba di kantor aku titipkan di resepsionis ya?"
"Jangan! Itu laporan rahasia dari tim khusus audit. Kau harus membawanya langsung ke ruangan presdir."
"Siap, Tuan Muda Suamiku."
Setelah Ray memberi tahu ciri-ciri laporan yang dimaksud, Litha langsung mencarinya di ruang kerja suaminya yang dulu dipakai Nyonya Besar. Baru kali ini ia masuk ke ruangan yang dimaksud. Tidak sempat ia mengagumi setia sudut di ruang kerja, ia langsung mencari dokumen yang dimaksud.
Laporan itu berada di atas meja tertumpuk dengan dokumen penting lainnya. Litha sudah segera beranjak meninggalkan ruang kerja ia teringat laci yang tadi ia buka namun belum sempat dilihatnya. Saat menutup laci, matanya menangkap sebuah kotak beludru biru tua berbentuk persegi. Jiwa keponya meronta-ronta untuk membuka kotak itu.
"Indah sekali kalung ini. Pasti mahal harganya, Tuan Muda menyimpan kalung ini buat siapa? Tentu saja buat Ramona, siapa lagi?"
🙋 Litha, Litha ..., Pak Sas kan sudah bilang, tidak baik ingin banyak tahu, jadi salah paham kan ..... 🙋
Litha setengah berlari mencari Pak Sas, meminta dipinjamkan kunci sepeda motor untuk ke gedung kantor pusat Pradipta Corp.
"Izinkan saya yang mengantar Nyonya ke sana."
"Tidak, Pak Sas, kalau pakai mobil pasti akan terkena macet, belum lagi harus melewati beberapa lampu merah. Laporan ini harus sampai sebelum rapat dimulai."
"Biar saya yang mengantarkan laporan itu ke Tuan Muda."
"Jangan Pak Sas, saya yang harus menyerahkan langsung ke tangan Tuan Muda Suamiku."
Litha bersikeras mengantarkannya sendiri, kapan lagi ia punya kesempatan keluar dari rumah ini tanpa Pak Sas.
"Ayo dong Pak Sas. Nanti gak keburu nih waktunya. Saya akan pulang dengan selamat, Pak Sas tidak perlu khawatir."
Pak Sas dengan ragu memberikan kunci motor pada Litha, sebelum kunci berpindah ke tangan Litha, ia berpesan, "Ini pertama dan terakhir Nyonya keluar rumah tanpa saya."
"Iya ... iya ... saya mengerti, Pak Sas."
Litha langsung menyambar kunci di tangan Pak Sas dan kabur sebelum lelaki paruh baya itu berubah pikiran.
Semua penjaga yang Litha lewati menatapnya takjub. Nyonya Muda mereka begitu santainya melaju menggunakan sepeda motor, apalagi dengan ramah Litha menyapa mereka satu-satu sangking senangnya ia keluar rumah dengan motor dan tanpa dikawal Pak Sas.
"Selamat pagi Pak Amir dan Pak Partono..." seru Litha melewati gerbang utama yang disapa malah saling memandang satu sama lain setelah melihat Litha. Ada apa dengan Nyonya Muda?
Litha mengendarai sepeda motor melewati jalan tikus agar tidak terjebak macet dan bertemu lampu merah. Sesampainya di parkiran gedung kantor pusat. Litha melepas helm dan jaketnya. Menggendong tas ransel ia menuju kantor suaminya. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa ialah Nyonya pemilik Pradipta Corp. meskipun ia mengatakannya. Semua pasti akan menganggapnya lelucon.
"Eh... eh... Nona mau kemana?" teriak resepsionis yang waktu itu juga menjegalnya.
"Mau ke ruang Presdir, lantai paling atas kan?" Litha balik bertanya.
"Anda siapa? Tidak semua orang boleh ke lantai Presdir."
"Maaf aku buru-buru Nona Resepsionis. Aku harus-- "
"Pak Satpam mana sih? Kok bisa ia melewati pos satpam. Pak ... Pak ..."
__ADS_1
Si resepsionis memotong kalimat Litha dan malah memanggil satpam, ingin mengusirnya. Selagi Pak Satpam berlari menghampiri Si Resepsionis, Ramona juga setengah berlari menuju lift, sedikit lagi ia terlambat mengikuti rapat. Langkahnya terhenti saat melihat Litha.
"Maaf Nona Ramona, gadis ini ingin ke ruangan Presdir." Si Resepsionis mengadu, mencari muka.
Ramona menyadari posisi Litha di gedung kantor pusat tidak ada apa-apanya karena statusnya sebagai istri presdir tidak dipublikasikan, wajahnya yang blur di foto pernikahan saat ini menguntungkan Ramona.
"Heh! Siapa kau disini? Apa keperluanmu, biar aku yang sampaikan pada Ray." Mona mengambil alih tugas Resepsionis.
"Aku yang harus menyampaikan langsung."
"Tidak boleh sembarang orang naik ke lantai Presdir!"
Pak Satpam sudah menghampiri mereka. Ia terlihat bingung di tengah-tengah antara Litha, Ramona dan Si Resepsionis, dia lebih baik bergulat dengan penjahat ketimbang diantara wanita yang beradu mulut.
Ting ....
Pintu lift khusus Presdir terbuka, Asisten Yan yang keluar dari sana. Ia terkejut melihat Litha dikerumbungi, lalu dengan hormat ia berkata, "Anda sudah datang, Nyonya. Anda sudah ditunggu Tuan Muda dari tadi."
Demi apapun yang mendengar, Si Resepsionis dan Pak Satpam mematung, orang kepercayaan Presdir menyebut wanita ini dengan Nyonya, tidak terkecuali Ramona, wajahnya pias dan seperti mengecil seukuran liliput di kaki Litha. Betapa jengkelnya ia dengan Abyan, tanpa permisi ia melangkahkan kaki ke dalam lift dan menuju ruang rapat.
"Aku juga sudah dari tadi disini, tapi aku tidak diijinkan naik ke lantai Presdir."
"Siapa wanita ini? Mengapa Asisten Yan begitu hormat dengannya dan ia memanggilnya Nyonya. Jangan-jangan wanita ini istri Tuan Presdir yang wajahnya diblur. Mati aku!!! kalau dia sampai mengadu. Ah, tapi tidak mungkin, masak Nyonya Muda berpenampilan seperti itu."
"Hei ... sadarlah! Bersiaplah kita mendapat hukuman, syukur-syukur kita tidak dipecat. Apa kau tidak dengar, Asisten Yan berkata wanita itu istri Tuan Presdir!" Pak Satpam menyadarkan lamunan Si Resepsionis.
"Apaaaa!!!" pekiknya sampai ia jatuh pingsan.
Litha diantar Asisten Yan ke lantai tertinggi gedung ini, disini hanya terdapat satu ruangan, yaitu ruangan presdir. Ada 2 orang bodyguard atau penjaga khusus yang bertugas menjaga lantai ini. Sasha, si sekretaris tomboy memperhatikan Litha dari atas sampai bawah. Ia tadi diberitahu Asisten Yan, istri dari tuannya akan datang membawa dokumen penting. Apa benar wanita ini yang dimaksud?
"Halo ... " sapa Litha ramah dan menjulurkan tangannya terlebih dahulu memperkenalkan diri. Sasha tidak percaya dengan matanya, Litha sangat berbeda dengan Ramona yang sering menunjukkan wajah judes pada Sasha, sedangkan Litha sebaliknya.
"Jangan salahkan aku. Aku sudah berusaha naik motor melalui jalan-jalan tikus untuk cepat sampai disini, eh, aku malah ditahan di bawah pas mau naik lift menuju ke ruanganmu. Kalau saja kau tidak bilang harus langsung menyerahkannya padamu, sudah kutitipkan sama Ramona tadi." kata Litha agak sedikit kesal.
"Sudah capek dibela-belain bawa laporannya, bukannya terima kasih malah ditanya kemana saja."
"Jalan tikus?" tanya Ray bingung.
"Maksudnya Nyonya ke sini mengendarai motor tidak melewati jalan raya melainkan jalan gang-gang kecil untuk menghindari macet dan lampu merah supaya lebih cepat sampai, Tuan," jawab Asisten Yan menjelaskan istilah jalan tikus.
"Apa? Dia tidak tahu jalan tikus, astagaaaa...." Litha masih menggerutu.
"Aku sudah keburu rapat. Ayo, Yan!" kata Ray dengan cepat berlalu meninggalkan Litha.
"Maaf, Nyonya. Kami akan meninggalkan Nyonya sendiri disini. Nyonya bisa bersantai di ruang istirahat Tuan di belakang sini." Asisten Yan menunjukkan panel untuk membuka ruang istirahat yang terletak di belakang meja kerja.
"Tidak, Asisten Yan. Tuan Muda tidak mengizinkan aku untuk masuk kesitu. Aku disini saja."
Asisten Yan mengangguk, dan segera beranjak pergi, namun suara Litha menghentikannya.
"Terima kasih, Asisten Yan. Bagaimana aku membalas kebaikanmu?"
Litha terharu dengan pengakuan Asisten Yan di depan Ramona, Si Resepsionis dan Pak Satpam bahwa ia adalah istri dari Presdir Pradipta Corp. Asisten Yan mengerti maksud dari terima kasih Litha, ia tersenyum dan berkata, "Nyonya bisa membalasnya dengan terong bakar dan sambal terasi."
Litha kaget, lalu tertawa dan mengangguk.
"Yaaaaannnnn ... apa yang kau lakukan! Kita sudah terlambat lima menit!"
"Ba-- baik, Tuan," ucap Asisten Yan dan langsung berlari.
__ADS_1
"Ah, dia masih ingat dengan terong bakar dan sambal terasi waktu itu hahahahahaha..... tenang Asisten Yan, akan kubuatkan yang banyak untukmu."
Litha melihat-lihat seisi ruangan tanpa menyentuh apapun yang di sana. Banyak decakan kagum keluar dari mulutnya. Namun ia sedikit kurang nyaman di tinggal sendiri di sini, takut salah. Litha pamit pada Pak Andi, salah satu penjaga khusus lantai presdir kalau-kalau suaminya menanyakannya.
Litha turun hingga ke lantai bawah, ia bertemu lagi dengan Si Resepsionis tapi kali ini reaksinya berbeda, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Navia!"
Tiba-tiba ada suara laki-laki menyebut nama depannya. Hanya teman-teman sekolahnya yang memanggilnya demikian. Ia berbalik, sedetik kemudian ia terkejut karena melihat kakak kelas satu tingkat di atasnya saat SMA.
"Kak Leon?"
...----------...
Sisipan
"Yaaaaannnnn ... apa yang kau lakukan. Kita sudah terlambat lima menit!"
"Ba-- baik, Tuan," ucap Asisten Yan dan langsung berlari menyusul langkah tuannya dan Sasha ke lift.
"Yan, apa tadi Litha bertemu Ramona tadi?" tanya Ray di dalam lift.
Sasha pura-pura tidak mendengarnya, hal ini sering ia lakukan. Sifatnya yang tidak ingin tahu menjadikannya sekretaris Presdir.
"Ya, Tuan."
"Apa yang terjadi pada mereka?"
"Kau berharap mereka saling menjambak karena memperebutkanmu hah?!?" gerutu Abyan dalam hatinya.
"Nona Ramona menahan Nyonya ke ruangan Tuan dan saat itu ada satpam juga resepsionis. Maaf Tuan saya akhirnya memberitahu mereka bahwa yang mereka tahan adalah Nyonya Muda."
"Apa?!?" teriak Ray keras di dalam lift. Sasha sampai terlonjak kaget mendengarnya.
"Reaksi Ramona bagaimana?"
"Tentu saja Nona Ramona kesal, Tuan."
"Seandainya tadi kau lihat bagaimana Mona mengintimidasi Litha yang sama sekali tidak bisa menunjukkan bahwa ia adalah istrimu, kau tentu tidak akan menanyakan reaksi Ramona, tapi bagaimana perasaan Litha saat itu."
"Hhhmmmmpppfffhhhh ...." Ray menghela nafas panjang.
Pintu lift terbuka mereka sudah tiba di lantai yang terdapat ruang rapat. Asisten Yan menyilakan Sasha berjalan duluan keluar lift, kemudian disusul Ray dan dirinya.
"Ray, setidaknya kamu bisa berikan ucapan terima kasih atas usahanya membawa laporan itu. Dia bahkan nyaris kehilangan harga dirinya saat Ramona menahannya di bawah."
Abyan berbisik pelan, Ray yang menyadarinya kalau dia agak sedikit keterlaluan diam saja, juga tidak protes kalau asistennya berbicara santai dengannya. Ada rasa tidak nyaman di hatinya, sedikit rasa bersalah.
"Yan, tunda rapat 15 menit."
Ray memberi perintah dan langsung masuk ke dalam lift, kembali ke ruangannya, ingin mengucapkan terima kasih pada istrinya.
"Ray... Ray ... Dasar Bocah! Masak harus ditegur dulu baru bilang terima kasih."
Wajah Ray berubah ketika Pak Andi mengatakan Litha baru saja pamit karena kurang nyaman berada di ruangannya. Tanpa menunggu, Ray kembali masuk lift dan langsung menuju lantai dasar, mengejar Litha. Tapi apa yang dilihatnya di lobby? Istrinya bercengkrama akrab dengan seorang karyawan. Ray sangat tidak menyukai pemandangan itu apalagi istrinya kerapkali menampakkan ekspresi terkejut yang sangat ia sukai.
...----------...
- Bersambung -
__ADS_1