Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pejuang Cinta (Part 2)


__ADS_3

Vania sebal dicuekin kakaknya yang asyik bercerita dengan sahabatnya.


"Kak, aku numpang tidur di sofa ya?" ijin Vania ke Litha ketika Bibi Rima keluar ruangan mencari Paman Tino yang kebingungan menemukan kamar rawat inap Litha


Litha mengangguk, "Istirahatlah, dek. Kau pasti lelah, maaf Kakak sudah merepotkanmu."


"Tidak, Kak. Yang penting Kak Litha sekarang jangan over thinking. Jaga keponakanku ya Kak... Aku sudah tidak sabar bermain dengannya."


Vania mengusap tangan Litha yang diinfus, lalu ia pergi merebahkan diri di sofa, membelakangi Litha dan Ninda. Vania dikira tidur, padahal ia sedang bermain HP.


"Tha, terus terang aku bingung, kamu bisa hamil bukannya --" Ninda sangat penasaran dengan kehamilan Litha, ia tahu benar syarat perjanjian Litha dengan Tuan Muda Pradipta, tapi bagaimana ini dijelaskan?


Litha tersenyum kecut, "Yah, namanya kami tinggal dalam satu kamar selama pernikahan, Nin, wajar ada satu waktu kami khilaf. Tapi sudahlah aku tidak ingin mengingatnya lagi," tanggap Litha menutupi aib suaminya.


"Bukannya kamu bilang mau menyerahkannya pada orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu gak tahan yaaaa?? hihihihihi ... " ledek Ninda yang tidak tahu kejadian sebenarnya.


Litha memutar bola matanya, jengah. "Halah, kamu juga dicium Bona, diam aja."


"Aihhh, jangan diingat-ingat lagi dong kejadiannya, Tha. Pokoknya kamu berhutang cerita malam pertama padaku, titik."


Kemudian mereka berdua tertawa bersamaan.


"Apa Tuan Rayyendra tahu kalau kamu hamil, Tha? Kalian kan sudah mau berce--"


Litha mencubit lengan Ninda, matanya melirik ke Vania. Ia tidak ingin membahas perceraiannya jika ada anggota keluarganya.


"Iya, iya ... ih, sakit, Tha. Tapi apa suamimu tahu kalau kamu hamil anaknya?" Ninda mengulang pertanyaannya dengan berbisik.


Di sofa, mata Vania memang terpejam tapi justru ia sedang menajamkan pendengarannya. Ia merasa aneh sejak awal, kakaknya yang dikatakan menikah dengan orang berduit banyak di Ibukota kenapa datang sendiri dengan kereta api? Kenapa sampai sekarang kakak iparnya belum menunjukkan batang hidungnya? Sesibuk apapun urusan kantor, apa tidak bisa didelegasikan? karena ini ibu mertuanya yang meninggal dunia. Belum lagi kakaknya terlihat stress berat bukan hanya ditinggal ibunya yang memang sudah diketahui sakit parah tapi seakan ada beban lain dalam hati kakak perempuannya.


Vania penasaran, dalam hatinya awas saja kalau ternyata kakak iparnya turut andil pada stress kakaknya, meski ia jauh lebih muda tapi ia tidak takut.


Ditanya Ninda seperti itu, Litha menggeleng pelan, ada bias sedih di matanya. Ninda jadi salah tingkah, ia mengusap bahu Litha perlahan, "Terus apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Entahlah, Nin. Mungkin aku tinggal dulu disini sampai aku melahirkan, aku juga tidak mungkin melanjutkan skripsiku wira-wiri di kampus dengan perut buncit, apa lagi nanti gosipnya?"


"Kukira kamu tidak pernah ambil pusing omongan mereka. Berarti kamu cuti kuliah?"


"Aku juga manusia biasa lah, Nin. Sekali dua kali atau tiga kali masih bisa aku cuekin, tapi ini selalu aku dengar tiap aku ke kampus, mana dosen-dosennya juga menudingku memperburuk citra kampus. Hhhmppfhhh .... iya aku cuti, nanti minta tolong diurusin ya?"


"Wah, bisa-bisa kita wisuda bareng, soalnya aku sudah mulai nyusun proposal. Kamu gak jadi duluan ninggalin aku hehehehe ...."


"Malah kamu nanti lho yang duluan, karena paling enggak aku cuti setahun."


Raut muka Ninda berpikir, menghitung-hitung, "Apa aku nunggu kamu saja ya?"


"Janganlah, kita memang sahabat, tapi jalan hidup kita masing-masing."


Ninda mengusap pelan punggung tangan Litha yang tidak diinfus, "Terus anak kamu gimana kalau kamu pisah nanti?"


"Ya sudah, aku jalani saja. Aku akan berjuang untuk anakku seperti Ibu yang berjuang untuk anak-anaknya. Kamu tahu, Nin? Pertama kali aku tahu aku hamil, aku tidak terima anak ini dalam perutku, aku marah, sedih dan menyesal karena kupikir masa depanku sudah tidak ada, aku tidak bisa mengejar mimpiku lagi karena harus membesarkan anak ini. Tapi sewaktu Ibu meninggal dan aku tidak punya alasan untuk hidup, justru anak ini menjadi penguatku, Nin. Dia menggantikan Ibu sebagai alasanku bertahan sekarang. Aku menyayanginya, aku akan merawatnya dan membesarkannya meski seorang diri, aku akan melakukan apapun untuknya dan aku akan melindunginya dengan nyawaku," kata Litha menatap perutnya yang sedikit membuncit sambil mengusapnya lembut.


Vania yang mendengar jelas percakapan mereka, air matanya menetes, hatinya perih, ternyata apa yang dialami kakaknya jauh lebih pedih dari perkiraannya, tangannya mengepal, "Kak, tenanglah, aku akan membalas budi baikmu dengan ikut merawat dan membesarkan anakmu. Kau tidak perlu khawatir, kita adalah perempuan tangguh Kak."

__ADS_1


Ninda terharu, ia memeluk sahabatnya, "Litha, aku sayang kamu, yang kuat ya..."


Ah, ternyata Ninda sedikit mewek, Litha yang melihatnya malah menggoda, "Kamu nangisin aku ya, sahabatku sayang ..."


Tidak berapa lama pintu kamar dibuka, ada Bibi Rima dan Paman Tino disana.


"Bi, Paman masih suka nyasar ya, ketemu di-- "


Suara Litha berhenti melihat sosok yang berdiri di belakang paman dan bibinya. Sosok tinggi dan berbadan tegap yang sangat dikenalnya.


Pandangan mereka saling bertemu tanpa mengucap sepatah katapun. Hati keduanya bergemuruh yang hanya bisa didengar oleh mereka masing-masing. Pandangan suami yang penuh penyesalan dan pandangan istri yang penuh luka, namun jelas ada kerinduan di dalamnya.


Bibi Rima mengkode Ninda agar keluar dari kamar dan membangunkan Vania yang terlihat tidur di sofa. Vania yang sebenarnya tidak tidur penasaran kenapa suara tiba-tiba senyap. Begitu ia dibangunkan Bibi Rima dan berbalik, ia melihat kakak iparnya tidak jauh dari pintu.


"Nia, ayok tidur di rumah saja. Beri kakakmu istirahat." Bibi Rima menarik-narik tangan Vania.


Vania memasang muka tidak suka, "Ih, Bibi! Memangnya apa yang kulakukan? Aku kan tidak melakukan apapun disini? Apa karena Kakak Ipar datang?"


Vania sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke telinga Rayyendra. Bibi Rima langsung mencubit lengannya. Vania mengaduh tapi tidak menyurutkan pandangan tidak sukanya terhadap Ray.


Abyan menyadarinya, ia menahan tawa dan bergumam dalam hatinya, "Satu orang lagi yang harus kau hadapi, Ray, hahahahaha... jangan salah meski ia terlihat paling muda dan tidak tahu apa-apa, justru kau akan direpotkan dengannya hahahahaha ..."


Ninda jalan menuju pintu diikuti Bibi Rima yang menggeret lengan Vania. Ketika Vania dan Ray dalam jarak yang paling dekat, ia menyindir tanpa melihat.


"Pemakaman Ibu sudah selesai, apa yang mau dilihat?"


Vania sungguh berani, menyindir Presdir Pradipta Corp. Seketika Ray menoleh ke Vania. Ia tidak percaya kalau yang mengatakannya adalah anak kemarin sore, adik iparnya. Abyan menepuk bahu Ray agar kembali fokus pada istrinya, bukankah tujuannya untuk mengambil hati istrinya lagi, bukan untuk menambah masalah baru yang malah akan memperuncing hubungannya dengan istrinya.


Paman Tino yang juga mendengarnya salah tingkah, dengan cepat ia menarik menjauh dari kamar inap Lita, ia tidak peduli protes yang keluar dari mulut Vania.


Vania tiba-tiba datang kembali diikuti Ninda dan Bibi Rima, tapi tidak masuk, mereka menempelkan telinga dari balik pintu.


"Permisi, kalian tidak diperkenankan menguping pembicaraan Tuan Muda dan Nyonya Muda." Abyan berusaha mengusir mereka bertiga.


Tangan Paman Tino juga menarik-narik tangan istrinya, "Ayo Bu, kita menjauh dari sini dulu. Tidak baik menguping pembicaraan orang."


"Bagaimana kalau Litha disakiti Tuan Muda di dalam. Dia lagi hamil dan kondisinya sangat lemah," timpal Ninda yang diangguk setuju Bibi Rima dan Vania.


"Justru itu, Tuan Muda tidak mungkin berbuat apa-apa pada Nyonya Muda yang sedang mengandung anaknya. Ayolah kalian pergi dulu," bujuk Abyan, tapi tidak diindahkan mereka bertiga.


"Kakak diam saja kenapa sih! Aku akan menjaga Kak Litha dari sini."


"Eh, dia bocil berani menghardikku!" gumam Abyan jengkel.


Ehemm ... ehemm ..


Pak Sas berdehem di belakang mereka, semua berbalik melihat Pak Sas yang sudah seperti malaikat pencabut nyawa, mengerikan.


"Tidak baik terlalu banyak tahu. Pergilah! Kalian tidak perlu khawatir, saya yang akan menjaga Nyonya."


Tanpa protes mereka bertiga langsung beringsut dari depan pintu tanpa protes sedikitpun dan pergi menjauh.


#Di dalam Kamar #

__ADS_1


"Litha ... " panggil Ray lirih. Ia masih berdiri di tempatnya.


Yang dipanggil masih membisu mengamati lekat suaminya, ia nampak kacau meski tetap terlihat tampan dibalik kemeja putih yang lengan panjangnya ia lipat sampai dibawah siku.


"Boleh aku mendekatimu?"


Dengan posisi berbaring Litha mengangguk pelan. Ray mendekatinya, memperhatikan dengan seksama. Gurat kesedihan begitu jelas di wajah polosnya. Ia terlihat lemah dengan tubuh kurus, Rayyendra makin menyesali semuanya yang telah terjadi.


Ray mengambil kursi, dengan ragu ia berkata, "Boleh aku memegang tanganmu?"


Litha tidak menjawab tapi menarik tangannya ke bawah badannya yang terbaring. Ray mengerti, ia tidak memaksa, namun ditatapnya manik Litha dalam, sedalam yang ia bisa selami.


Ray tahu ada kebencian disana, sekaligus kerinduan yang tersembunyi.


"Litha, aku minta maaf, benar-benar minta maaf."


Litha tidak mengucapkan sepatah kata apapun, dia berusaha menahan airmata yang mulai mengumpul di kantong matanya.


"Aku bersalah padamu. Aku menyesalinya, sangat menyesalinya," ucap Ray tertunduk, ia juga sedang menahan suaranya yang bergetar.


"Aku tahu kau pasti sangat membenciku. Aku menyakitimu berkali-kali. Namun aku tidak akan memohon pengampunanmu, karena aku sadar kesalahanku tidak akan bisa diampuni. Aku hanya ingin sedikit belas kasihanmu untuk memberiku kesempatan, kesempatan untuk menunjukkan cintaku kepadamu."


Litha terhenyak mendengarnya. Cinta ... Apa ini?


"Aku mohon, Litha. Izinkan aku menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak kita."


Ray bangun dari duduknya di kursi, kemudian berlutut di samping tempat tidur istrinya, Sekuat tenaga ia menahan airmatanya agar tidak keluar.


Mata Litha terbelalak melihat suaminya berlutut memohon kesempatan padanya. Ia tidak pernah membayangkan suaminya akan berlutut memohon padanya, sekedar bermimpi pun tidak. Ia malah justru menyiapkan kemungkinan terburuk, bercerai.


"Bangunlah," kata Litha pelan. Namun Ray juga tidak berdiri.


"Bangunlah, Ray. Kondisiku saat ini tidak membolehkanku banyak bergerak," sahut Litha, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak akan berdiri sebelum kau memberi jawaban."


Ray memejamkan matanya, menyiapkan diri untuk menerima apapun yang akan Litha katakan. Untuk beberapa saat mereka terjun dalam lembah keheningan masing-masing.


Litha tidak bersuara lagi, tangisnya pecah, air matanya mengalir melewati pelipisnya, ia hanya mengulurkan tangan yang tadi ia sembunyikan di balik badannya. Bagaimanapun juga lelaki yang berlutut itu adalah ayah kandung dari janin yang ia sayangi. Sungguh egois jika ia mengacuhkan ayah dari anak yang ia kandung hanya demi sebuah penghormatan diri.


Melihat tangan Litha yang terulur, Rayyendra pun tak kuasa menahan lagi air matanya, ia terisak tertahan, ia langsung berdiri dan memeluk tubuh kurus istrinya yang sedang berbaring. Tangan Litha mengkaku, tidak merespon pelukan Ray


"Maaf ... maaf, maafkan aku sayang ... " bisik Ray lirih.


Litha tidak melihat suaminya menangis tapi ia bisa merasakan air mata suaminya yang terbias di pipinya.


"Aku sangat bersalah padamu, aku menyesal. Menyesal terlambat menyadarinya."


Litha masih mendengar lirih suara suaminya.


"Aku terlambat menyadari kalau aku jatuh cinta pada istriku sendiri."


Kalimat ini akhirnya membuat Litha terisak keras, tangannya langsung balas memeluk erat tubuh suaminya. Tak pelak, mereka saling mencintai dalam ego masing-masing. Begitu ego itu terkalahkan maka yang keluar hanya tangis haru.

__ADS_1


Isak tangis keras Litha terdengar sampai di luar kamar. Abyan dan Pak Sas saling berpandangan, hati dua anak manusia yang terpisah jauh kini telah saling menemukan, dipertemukan oleh calon buah hati mereka.


- Bersambung -


__ADS_2