Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Prinsip Ekonomi


__ADS_3

"Asisten Yan, Suamiku manaaa?"


"Ada di dalam, Nyo-- "


Belum selesai kalimat Abyan, Litha melengos masuk mencari suaminya. Mata Rayyendra berbinar melihat istrinya datang, ia tidak memperhatikan ada api di mata istrinya.


"Kau cantik sekali. Kapan datang?" sambut Ray ingin memeluk Litha yang sudah duduk di sofa.


"Kenapa dia selalu cantik dengan baju apapun?"


Litha menghindar dari rengkuhan suaminya, "Badanku menggemuk, perutku membesar. Aku seperti gentong berjalan, Mas masih sudi memelukku?"


Abyan dan Ray saling berpandangan, mencoba mencari tahu maksud Litha dalam pandangan mereka masing-masing, Abyan tersenyum tipis, dia tahu kemana arah pembicaraan Litha.


"Kau kenapa?" tanya Ray bingung. "Tentu saja aku mau memelukmu, bukan saja mau tapi aku butuh pelukanmu,. Aku tidak bisa sehari saja tanpa pelukanmu," kata Ray mendekati istrinya lagi.


"Cih."


"Kau menggemuk kan, karena hamil, hamil anakku. Apa yang salah kalau aku memelukmu? bukan saja memelukmu tapi juga menciummu, mencum*bumu, menidurimu, apalagi?"


Meski Litha memaksa senyum, tekukan wajahnya masih jelas terlihat.


"Yan," seru Ray mencari bantuan.


Abyan menghela nafasnya, "Nyonya, apa Nyonya merasa terganggu dengan Nona Renata?"


"Eh, apa ini? Kenapa dia langsung tahu maksudku?" (Litha)


"Haa ... Apa maksudnya Litha cemburu sama artis norak itu? hahahahaha ... Tapi kenapa? Aku kan, tidak melakukan apapun." (Ray)


Litha diam saja, lebih tepatnya mati kutu di tembak langsung pada sasaran. Mau mengaku gengsi, mau bilang tidak tapi iya.


Abyan memutar bola matanya, jengah, tapi ia harus menyelesaikan tugas ini, "Harusnya kau membayar tambahan untuk side job ini, Ray. Kau kira mudah memahami dan meredakan emosi ibu hamil apa?"


"Yan," seru Ray lagi.


"Nyonya perlu berbangga karena Tuan Muda menjaga hati dan pandangannya terhadap Nona Renata."


Ray membusungkan dadanya dengan pujian dari Abyan, sayangnya api di mata Litha masih ada.


"Apa dia yang membuat rapat berjalan lancar dan lekas beres?" cecar Litha.


"Ya, dia sangat berperan dalam kelancaran rapat hingga tercapainya suatu kata sepakat," jawab Abyan.


"Haa apa...!" pekik Litha.


"Kelancaran untuk segera menyudahi rapatnya, karena Nona Renata mewakili pihak manajemen artis untuk berbicara sebagai penyedia talent untuk iklan produk-produk kita."

__ADS_1


"Kenapa memilih manajemen itu kalau begitu? Bukannya banyak manajemen artis yang lain? Kalau dia yang norak begitu ditunjuk sebagai juru bicara, patut dipertanyakan kualitas talent di bawah naungan manajemennya," sanggah Litha.


"Kalau untuk alasannya, Tuan Muda lebih paham, Nyonya, karena Tuan Muda-lah pengambil keputusan tersebut."


"Apa!!! Sialan kau Abyan, kau malah menunjuk mukaku!" umpat Ray jengkel.


"Apa alasanmu memilih manajemen mereka?" tanya Litha tajam pada suaminya.


"Lith, aku-- aku hanya bersikap profesional saja."


"Profesional? Apa yang profesional?"


"Hahahahahahaha ... Rasakan itu, Bocah Egois! Kau kira istrimu itu bisa diberikan jawaban ala kadarnya. Kau lupa siapa mahasiswa terbaik di kampus Z. Makanya jangan jatuh cinta sama wanita cerdas. Kau yang akan kesulitan sendiri hahahahaha ..." Abyan menahan tawanya melihat sepasang suami istri yang sama-sama memiliki rasa cemburu yang besar.


"Manajemen mereka memiliki banyak artis yang sedang naik daun sekarang, ya termasuk Renata. Tidak bisa dipungkiri rating sinetronnya tinggi dan dengan model iklan dari manajemen mereka bisa mendongkrak penjualan produk-produk Pradipta Corp., produk kita akan semakin dikenal masyarakat." jelas Ray dengan alasan logis.


"Iklan untuk produk lama atau baru launching?"


"Lama dan baru. Tapi 90 persen produk lama, pembaharuan iklan yang kontrak talent-nya akan berakhir 3 bulan lagi."


"Apa statistik penjualan produk yang akan diiklankan menurun dalam beberapa bulan terakhir?"


Ray tersenyum senang melihat tanda bekas gigitan mesranya tadi pagi tetap terlihat jelas di leher istrinya, meski Litha sudah mengenakan baju dengan kerah yang menutup dan rambut yang hanya diikat sebagian di bagian belakang, sisanya mengurai indah membentuk gelombang alami di ujung rambut panjangnya.


"Aku suka menandaimu di bagian yang bisa terlihat, biar semua yang melihatmu tahu kau sudah ada pemiliknya"


Ray sedang ditanya serius oleh Litha, tapi pikirannya terbang ke waktu tadi pagi saat ia mengungkung istrinya dengan nafas memburu, pembakaran kalori yang sangat ia gemari sebelum memulai hari.


"Eh, iya, kenapa?"


"Hishh, apa kau memikirkan sesuatu?" selidik Litha.


"Tentu saja, kau selalu memenuhi di setiap bagian otakku."


"Tidak ada," sahut Ray cepat sebelum istrinya berpikir macam-macam.


Litha mencebik kesal tapi ia ulang juga pertanyaannya, "Apa statistik penjualan produk yang akan diiklankan menurun dalam beberapa bulan terakhir?"


"Tidak. Setiap bulannya penjualan bagus dan angkanya selalu naik.*


Abyan tersenyum, ia tahu Litha punya pemikiran sendiri. Ia seperti mendapat tontonan menarik secara live.


"Menurut Mas sehebat apa Pradipta Corp.?"


"Perusahaan terbesar dan terbaik di negeri ini, menaungi berbagai sektor usaha dari-- "


"Tidak usah dijelaskan, aku tahu profil Pradipta Corp. dan siapa juga yang tidak mengenalnya, yang aku maksud sehebat apa perusahaan ini menurut Mas?"

__ADS_1


Ray bingung mencerna maksud pertanyaan istrinya, ia butuh bantuan Yan menerjemahkan, tapi langsung di sela Litha, "Apa Mas tidak percaya diri dengan nama besar Pradipta Corp.? Perusahaan dengan nama keluarga Mas sendiri, nama yang akan diteruskan pada keturunan Mas nantinya."


Ray diam memperhatikan istrinya, selama ini mereka biasa bertukar pendapat dari topik berat hingga obrolan ringan namun tidak pernah membicarakan tentang perusahaan milik keluarganya. Bukan tidak pernah, tapi setiap Ray menyinggung tentang apapun yang berkaitan dengan Pradipta Corp. istrinya selalu menghindar secara halus tanpa mengatakan alasannya. Sedangkan bagi Litha ia tidak ingin mencampuri urusan Pradipta Corp. bahkan untuk sekedar menjadi bahan obrolan. Litha sangat menjaga agar jangan sampai ada prasangka yang mengatakan dirinya menikah dengan pewaris tunggal kekayaan Keluarga Pradipta karena harta.


"Kalau alasan Mas menggunakan mereka sebagai bintang iklan, karena mereka sedang naik daun sehingga akan berdampak pada penjualan produk, itu menandakan Mas tidak percaya diri dengan nama besar Pradipta."


Ray mengerutkan keningnya, tidak terima dikatakan tidak percaya diri pada perusahaannya sendiri. Abyan yang ikut menyimak sangat antusias melihat Litha terang-terangan menuding Ray seperti itu. Kalau bukan Litha orangnya, mungkin orang itu sudah habis dihajarnya.


"Tanpa bintang iklan pun, produk perusahaan Mas sudah dikenal masyarakat karena sudah dipercaya sejak dulu. Meski iklan hanya berupa tulisan tanpa adanya talent, produk sudah memiliki peluang 65 persen dipilih konsumen. Jadi seharusnya Mas berpikir kalau produk Mas lah yang mendongkrak popularitas si bintang iklan nantinya, bukan produk yang nebeng bekennya si artis. Selain itu cost untuk iklan dapat ditekan pada nilai kontraknya. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan nilai kontrak antara artis yang sedang naik daun dan yang tidak naik daun. Bahkan untuk pendatang baru sekalipun selama ia komersial, perusahaan bisa menggunakan mereka untuk menekan cost lagi, karena ada nilai jaminan naiknya popularitas di dunia entertainment ke depan buat si pendatang baru yang bisa ditawarkan oleh Mas dalam bernegoisasi.


Bukankah tujuan utama prinsip ekonomi adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian yang sekecil-kecilnya? Jadi kendali tetap ada di pihak perusahaan, selain itu, perusahaan mendapat bonus jangka panjang yaitu image iklan yang eksklusif dan prestisius. Tapi, semua itu tidak berlaku untuk produk yang baru launching, tetap dibutuhkan popularitas artis yang berfungsi sebagai pengenal produk. Selain terkenal tentu saja attitude-nya harus baik agar produk bisa diterima konsumen. "


"Wow!!! Nyonya, Anda luar biasa! Seharusnya Nyonya yang menjadi Presdir, Macan Betina Pradipta Corp. telah kembali."


Buff ...


Rayyendra melempar bantal sofa ke Abyan sambil berdecak tidak suka. Tapi ia harus akui pemikiran istrinya memang patut diacungi jempol, yang ia sesali kenapa selama ini istrinya seperti menutup diri terhadap Pradipta Corp. tidak seperti saat ini, mengeluarkan segala pemahamannya dengan tajam.


"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud-- " Litha baru menyadari kalau ia sudah memasuki area yang selama ini ia hindari. Semua karena rasa cemburu yang mendominasi hati dan pikirannya barusan.


Namun suaminya malah tersenyum, "Aku tahu. Tidak apa-apa, Abyan biasa melihatku dikuliti, dulu Nenek sekarang istriku. Aku memang bertekuk lutut di hadapan kedua wanita itu, tidak bisa membantah kalau mereka sudah bertitah dan berargumen. Hanya saja aku kaget, selugas itu kau bisa bicara tentang Pradipta Corp. karena setahuku kau tidak pernah mau membahasnya."


Telinga Litha seperti tersengat, memerah, ada pujian ada juga sindiran buatnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Sasha membuka pintu dan menyampaikan bahwa utusan dari AutoTech Inc. sudah datang. Litha merapikan baju dan rambutnya lagi, tiba-tiba suaminya membisikinya, "Aku menyuruhmu mengganti baju dengan leher yang tertutup dan tidak mengikat rambutmu, kau melakukannya dengan baik. Aku suka kepatuhanmu, Sayang ... "


"Hehehehe ... kau juga sengaja kan, membuat banyak tanda kepemilikan tadi pagi, jadi aku memang harus menutupinya dengan kerah yang tertutup dan mengurai rambut."


Ray dan Litha berdiri akan menyambut utusan Mr. Anderson, selanjutnya mereka berdua saling memandang tidak percaya akan siapa yang dilihatnya. Andrew Laurent memamerkan senyum menawannya.


*"Halo, Mr. Laurent, apa kabar? Saya tidak menyangka bertemu dengan Anda lagi."*


Tiba-tiba terdengar suara istrinya menyapa duluan sang tamu. Rayyendra kesal sampai di ubun-ubun yang mengetahui fakta bahwa Si Bule ternyata COO AutoTech Inc.


*"Jika saja aku tahu bahwa utusan Mr. Anderson adalah Mr. Laurent yang bersikap tidak tahu malu, saya akan menolak pertemuan ini,"* ujar Ray menatap tajam mata Si Bule yang masih tersenyum, tangannya masih dieratkan di pinggang istrinya.


"Mas, tidak sopan berkata seperti itu. Bukankah Pradipta Corp. yang menawarkan kerjasama duluan. Mana sikap profesional yang tadi Mas katakan? Jangan membuat standar ganda." desis Litha berbisik tapi suaranya cukup jelas masuk di telinga Abyan yang ada di samping Ray. Wajah lelaki bermata tegas itu terlihat masam dan tekukannya sangat kentara.


Pppppffffttttttt


"Kena kau, Ray!"


Abyan tersenyum puas melihat gelisah sahabatnya, kini api cemburu itu berpindah di mata Rayyendra.


- Bersambung -

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


tanda bintang yang menutup tanda petik dialog, dimaksudkan dalam bahasa Inggris ya ☺️😁


__ADS_2