Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Makan Malam


__ADS_3

# Di rumah Keluarga Santoso #


"Tidak usah gugup nanti pas ketemu Mami Papi ya, Nin."


Bona mengajak Ninda makan malam di rumahnya. Kedua orangtuanya selalu mendesak Bona agar memperkenalkan calon istrinya. Papinya muak mendengar berita banyak wanita yang singgah di kehidupan putranya. Ia tidak ingin sampai Bona membuat malu nama keluarga Santoso, jadi lebih baik cepat menikah saja meskipun ide ini ditolak Bona mentah-mentah.


"Hissss.... Ngapain juga aku gugup, kan bukan sungguhan," timpal Ninda.


Sekarang Ninda sudah berhadapan dengan orangtua dan kedua adik kembar Bona di meja makan yang besar. Dalam penilaian Ninda, keluarga pemilik klub malam terbesar di ibukota sangat baik dan welcome, tidak seperti dugaan sebelum ia bertemu dengan mereka.


"Ninda, selamat datang di keluarga kami, Nak. Saya, maminya Bona, ini papinya Bona dan mereka adalah adik kembar Bona, Milla Milly, masih kelas 2 SMA."


Maminya Bona memperkenalkan semua anggota Keluarga Santoso, saling bertukar senyum adalah awal yang baik.


"Bona sudah menceritakan tentangmu, semoga saja kamu nyaman bersamanya, mengingat --"


Kalimat Henry Santoso, ayah Bona, - pemilik ritel pakaian yang cukup ternama di negeri ini - menggantung. Diurungkan kalimatnya melihat wajah Ninda yang polos seperti anak kembarnya.


"Maksud Papi semoga kamu bisa bertahan dengan pergaulan Bona yang tiap hari ke klub, ya karena kantornya di sana," ujar Rista, Mami Bona melanjutkan.


Ninda bingung mau menjawab apa selain tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Kak, Kakak baru lulus SMA ya?" tanya salah satu adik kembar Bona.


Lagi-lagi Ninda disangka anak SMA, dia melirik ke Bona yang berbisik padanya, "Berarti mata adikku rusak hahahahaha..."


"Apa wajahku terlihat seperti anak SMA ya?"


Milla dan Milly mengangguk.


"Hihihihihihi.... kalau begitu Kakak masih pantas bermain dengan kalian. Lain kali kalau hang out ke mall bareng Kakak ya," kekeh Ninda yang disoraki Milla dan Milly.


Suasana makan malam di rumah keluarga Bona berjalan sesuai dengan rencana Bona dan Ninda, mereka sangat piawai bermain peran, Ninda pun dengan mudah mengambil hati orangtua dan kedua adik kembar Bona.


"Semoga kamu senang makan malam bersama kami ya, Nin," ucap Rista menutup perjumpaan sembari tersenyum mencium pipi kanan dan kiri Ninda.


"Sampai jumpa lagi Kakak Bonda."


Semuanya memandang Milla, yang badannya lebih tinggi dari Ninda. Menuntut penjelasan apa maksud dari seruannya barusan.


"Bonda, Bona dan Ninda. Bagus kan?" tanya Milly meminta pendapat.


Tentu saja, semua tertawa mendengarnya. Nampak kekanak-kanakkan tapi terdengar bagus juga.


"Daripada Borin, aneh .... "


Celetukan Milly di sambut sikutan Bona, menyuruhnya tutup mulut karena Ninda mendelik heran.


"Mi, Pi, aku antar pulang calon istriku dulu ya. Ayo Sayang, kau pasti sudah lelah."


Bona langsung menggeret Ninda ke mobilnya, ia tidak mau adik kembarnya itu keceplosan mengenai Airin, wanita pertama dan satu-satunya yang ia perkenalkan pada keluarganya sebelum Ninda.

__ADS_1


"Pi, kali ini Bona tidak salah pilih. Ninda terlihat anak baik yang tidak suka dunia malam, tidak seperti yang lalu," bisik Rista pada Henry ketika Bona dan Ninda meninggalkan mereka. Henry menanggapinya dengan anggukan setuju.


"Oh iya, kalau Bonda, Bona Ninda. Borin ... Bona Rin ...."


Kalimat Ninda menggantung saat mobil melaju di jalan raya. Bona terlihat tidak nyaman namun ia tidak bisa menghindari kalimat yang tersirat pertanyaan untuknya.


"Airin ... Dia perempuan yang pernah kubawa ke rumah untuk kuperkenalkan pada keluargaku."


"Ooooo ...."


"Apa itu cukup menjawab rasa penasaranmu jadi kau tidak bertanya lebih lanjut?" Bona membathin.


"Aku tidak peduli dan tertarik dengan kehidupan pribadimu sebelumnya, aku hanya penasaran saja Rin siapa, ternyata namanya Airin, kukira Rina atau Rini."


Ninda bersandar malas di kursi mobil, matanya berat menahan ngantuk yang sebenarnya sudah melandanya dari tadi. Tidak tahan lagi sampai akhirnya ia tertidur, wajahnya menghadap ke arah pengemudi mobil.


"Kau tidur?!? Memangnya aku supir --"


Omelan Bona terhenti demi melihat wajah Ninda yang tengah pulas dan sedikit rambut yang menutupi pipinya yang nampak kemerahan . Matanya tertutup berhiaskan bulu mata panjang nan lentik. Bibirnya yang masih ada sisa lipstik sedikit terbuka menggoda hasrat Bona. Betapa manis wajah Ninda di mata Bona, serasa ia ingin menggigitnya dan menjilatinya bagai permen.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Pagi itu Litha berada di kampus Z menunggu dosen pembimbingnya untuk konsultasi Bab I skripsi yang akan dibuat. Diantara teman-teman seangkatannya, Litha merupakan salah satu mahasiswi yang akan menyelesaikan masa studinya selama 3,5 tahun dari normalnya empat tahun.


Otaknya yang encer, sifatnya yang rajin dan tekun membuat Litha sebenarnya disukai oleh siapapun di kampus itu, hanya saja rumor yang beredar sejak awal membuat image Litha hancur sampai sekarang meski sudah tidak ada 'daddy sugar' lagi yang menjemputnya.


"Litha sekarang kayaknya udah gak laku ya? Pulangnya naik taksi sekarang, gak kayak dulu hahahahaha..."


"Buru-buru amat nyusun skripsinya. Emang ngaruh di tarif ya kalau lulusan cumlaude hahahahahaha ...."


Sindiran-sindiran seperti itu mampir di telinganya, namun ia sudah tidak peduli. Justru ia ingin menyelesaikan studi secepat mungkin agar tidak lagi mendengar rumor tentang dirinya .


Diliriknya pergelangan tangan kiri, jarum menunjukkan pukul 09.45, Pak Munir belum terlihat juga padahal janji yang disepakati adalah jam 08.00 waktu setempat.


Litha mengambil ponselnya ingin menelepon dosen pembimbing sekaligus dosen walinya. Sebelum melakukan tujuannya, tiba-tiba matanya melihat ada notifikasi pesan teks dari Pak Is.


'Nona, Nyonya Besar sekarang berada di rumah sakit. Tadi shubuh tiba-tiba terkena serangan jantung.'


Litha terpaku, ditatapnya pesan dari Pak Is yang juga disertai sharelock. Tangannya sedikit bergetar, segera ia memanggil ojek online supaya cepat sampai dan terhindar dari kemacetan.


Tap ... tap ... tap .....


Litha berlari di lorong rumah sakit milik yayasan Pradipta. Di ujung lorong terdapat ruangan VVIP, banyak pengawal yang menjaga ruangan tersebut. Litha tertahan agak jauh dari ruangan tempat Nyonya Besar dirawat.


"Nona, wilayah ini steril, hanya Keluarga Pradipta saja yang bisa masuk," kata seorang pengawal menahan langkah Litha.


"Tapi --"


Litha tidak bisa menjelaskan siapa dirinya, tentu saja kalau ia mengatakan ia pelayan Nyonya Besar, ia tidak akan diperbolehkan masuk.


"Tolong, Pak .... saya ingin melihat keadaan Nyonya Besar, karena kemarin Nyonya terlihat baik-baik saja."

__ADS_1


Litha berusaha memohon untuk diijinkan masuk, hasilnya tetap sama, ia tidak diperbolehkan masuk. Ingin rasanya Litha menerobos barikade para pengawal, tapi ia tidak ingin menimbulkan keributan dan membuat para pengawal itu mendapat masalah dengan pekerjaannya, bagaimanapun mereka hanya bekerja secara profesional.


Akhirnya Litha mundur, mencari dinding untuk bersandar. Begitu ia mendapatkan yang dicari, tubuhnya melorot ke lantai, matanya masih memandang ruangan di ujung lorong.


🍀 flashback on 🍀


Hari sebelum Nyonya Besar terkena serangan jantung, seperti biasa Litha menemani Nyonya Besar di taman barat pada sore hari hingga senja kemudian dilanjutkan makan malam sebelum Litha pulang.


"Litha, hari ini kamu masak apa?" tanya Nyonya Besar melirik piring makan Litha di atas meja, keduanya bersiap akan makan malam.


"Oh, ini hanya sisa-sisa bahan daging, Nek, dari dapur belakang."


"Aromanya sangat menggugah selera."


"Hehehehe... iya, Nek, Litha numis bumbunya pakai mentega jadi aromanya sedap."


"Biarkan aku makan masakanmu! Selama kau menemaniku makan belum pernah sekalipun aku mencicipi masakanmu, padahal aku ingin sekali memakannya. Karena ada lelaki tua itu yang selalu mengawasiku tiap makan, aku hanya jadi meneguk liur saja. Ayo, mumpung Is tidak disini, aku ingin mencobanya."


"Nenek kenapa tidak bilang? Kalau Nenek mau, Litha bisa masakkan buat Nenek yang sesuai menu sehat Nenek," cegah Litha, masakan yang dibuatnya malam ini sangat beresiko bagi riwayat jantung Nenek.


"Tidak apa-apa. Kapan lagi Iskhak tidak mengawasi makanku seperti sekarang. Dia sangat cerewet dan suka melaporkan ke Firza dan Ray mengenai apa yang kumakan."


"Tapi Nek --"


"Sudah tidak apa-apa. Mari sini, dekatkan kursimu denganku. Suapi aku dari piringmu," perintah Nyonya Besar.


Litha tidak bisa menolak, aura Nyonya Besar sangat mirip dengan Rayyendra kalau memerintah, tidak menerima penolakan.


Litha bangun dari duduknya, menarik kursi mendekati Nyonya Besar lalu mengambil piringnya. Nyonya Besar tersenyum melihat Litha menyendok makanan dan menyuapnya.


"Aku sangat senang, kau mau menyuapiku, seandainya Ray yang melakukannya. Ah.... kuanggap kau mewakilinya, sama saja."


"Nenek kenapa tidak bilang dari dulu? Kalau Nenek berkenan Litha akan menyuapi Nenek malam ini dan seterusnya."


"Tidak perlu, sekali saja sudah cukup. Hmmmm.... masakanmu sangat enak, Litha. Siapapun nanti yang jadi suamimu pasti akan menyukai masakanmu," puji Nyonya Besar.


"Nenek bisa saja. Kelak nanti suami Litha memang harus menyukainya, kalau tidak, Litha tidak akan memasakkannya lagi."


"Litha, masakkanlah lelaki 'itu' dengan citarasa yang gurih, manis namun sedikit pedas."


Kalimat Nyonya Besar mengandung arti terselubung, tapi Litha mana tahu kalau wanita tua yang disuapinya ini memiliki maksud tertentu.


"Litha, Nenek minta maaf, jika suatu saat nanti kau akan tersakiti karena Nenek. Bukan Nenek sengaja, tapi ingatlah, Nenek melakukannya karena Nenek sangat menyayangimu seperti cucu kandung Nenek sendiri," kata Nyonya Besar sendu menatap manik Litha yang teduh.


"Anak ini punya kedamaian di hatinya, padahal ada banyak riak di permukaannya. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Litha."


🍀 flashback off 🍀


Litha masih menatap nanar ruangan di ujung lorong, kantung matanya sudah penuh dengan air. Sedikit saja disenggol, dapat dipastikan langsung tumpah.


"Neneeeeekkkkk ..... "

__ADS_1


Tangis Litha pecah seketika melihat ke arah para pengawal di ujung ruangan terlihat bergerak cepat dan panik disertai suara raungan juga teriakan nyaring berkumandang sampai di telinga Litha.


- Bersambung -


__ADS_2