
"Ada apa ini?" tanya Abyan terkejut melihat sepasang suami istri yang bertengkar didepannya, mata sang suami menahan marah sedangkan sang istri penuh rasa benci.
"Kuharap Tuan Muda bisa mempercepat waktu proses pengalihan harta Nyonya Besar agar hubungan kita sebagai suami istri segera berakhir. Selama itu juga aku akan melakukan tugas sebagai pelayan pribadimu seperti biasa dan setelah Tuan Muda mendapatkan apa yang Tuan inginkan jangan lupa isi perjanjian kita," pungkas Litha.
Hati Ray tersentak mendengar ketegasan Litha, sapaan Tuan Muda, bukan Tuan Muda Suamiku memberi tahu bahwa Litha memberi jarak dan membangun tembok tinggi antara mereka.
"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku keluar."
Ray mengepal kuat kedua tangannya, rahangnya mengeras dan urat-urat di pelipisnya kian kentara. Abyan tidak pernah melihat Ray menahan amarahnya seperti sekarang. Ia menjaga jaraknya, karena bisa jadi setelah Litha keluar dari ruangan ini, Ray menggila.
Prangggg .... Prangggggg ....
Benar saja, setelah Litha menutup pintu ruang kerja, suara barang pecah terdengar. Ray sengaja menunggu Litha keluar agar tidak menambah sakit hati istrinya melihat ia membanting sarapan yang sudah susah payah dibuat.
Litha tidak kuat juga, ia terisak di depan pintu, Pak Is yang melihatnya langsung menghampiri dan membawa Nyonya Mudanya ke dapur. Diberikannya teh manis hangat, dari sejak bangun, perut Litha belum terisi apapun.
"Nyonya ... Minumlah," bujuk Pak Is.
Litha hanya diam memandangi gelas, ia menggeleng.
"Pak Is, aku lelah. Aku ingin beristirahat sebentar, tapi aku tidak mau tidur di kamar. Apa ada kamar lain di rumah ini yang bisa kupakai?"
"Ada Nyonya."
"Tapi aku juga tidak mau di kamar tamu yang Ramona pakai kemarin."
"Baik Nyonya, disini ada empat kamar tamu, Nyonya. Saya akan segera menyiapkan."
Litha mengangguk. Selagi Litha menunggu Pak Is menyiapkan kamar, Abyan menghampiri Litha.
"Maaf Nyonya, apa saya mengganggu waktu Nyonya?" tanya Abyan. Litha menjawabnya dengan menggeleng pelan.
Abyan ijin keluar meninggalkan ruang kerja agar Ray bisa menenangkan diri. Ia melihat Litha duduk di meja dapur sendiri, entah apa yang terjadi pada mereka tapi yang jelas Abyan tidak bisa membiarkan Litha disakiti tanpa alasan oleh Ray karena ia sudah berjanji pada ibunya Litha.
"Nyonya baik-baik saja?"
Litha mengangguk, tersenyum sedikit.
"Apa Tuan Muda menyakiti Anda, Nyonya?"
Litha menatap manik asisten suaminya, ia bertanya atas nama siapa, suaminya atau dirinya sendiri? Kalau atas nama suaminya, ia akan segera meninggalkan Abyan tapi kalau atas nama dirinya sendiri, mengapa ia begitu peduli? Bukankah ia tangan kanan suaminya yang selalu berpihak padanya?
"Saya mengerti keraguan Nyonya dengan saya menanyakan keadaan Nyonya. Tuan Muda memang majikan saya tapi dia juga teman saya. Dia bisa saja salah tapi saya tidak akan membenarkannya."
Litha menghela nafasnya panjang seakan ingin melepas semua beban sedih di hatinya.
"Asisten Yan, selama yang kau kenal Tuan Muda, apa dia pernah menyakiti wanita?"
"Tidak. Nyonya Besar selalu mengajarkan padanya untuk menjunjung tinggi harkat martabat wanita. Jadi meskipun watak Tuan Muda kasar dan dingin, ia tetap menghargai seorang wanita."
"Heheheheh .... Berarti aku tidak dianggapnya wanita, Asisten Yan," ujar Litha sembari berdiri dan beranjak pergi menuju kamar yang di depannya sudah ada Pak Is yang berdiri siap.
Abyan makin bingung, niat awalnya mencari tahu apa yang terjadi, tapi malah kebingungan yang didapat. Litha sama halnya dengan Ray, tidak mau membahas kejadian semalam pada orang lain.
"Bagaimana aku menolongmu, Nyonya, kalau kau sama dengan Ray, mengunci mulut kalian sangat rapat. Hhhhh ... sebenarnya kalian sangat cocok dan kompak sebagai pasangan." bathin Abyan menatap Litha yang berjalan pelan.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Sasmita pagi-pagi sekali sudah keluar dari rumah utama, mobilnya menuju salah satu rumah mewah di tengah ibukota.
"Sas, kau tidak tahu ini jam berapa?" protes Si Tuan Rumah disambangi pagi-pagi.
"Maaf, Pras."
"Ada apa?"
"Aku melakukannya."
"Melakukan apa?"
__ADS_1
"Menggunakan obat itu pada mereka."
"Apa?!? Kau sudah gila, Sas."
Pria paruh baya yang di sapa Pras oleh Sasmita seketika gusar. Ia paham apa maksud dari perkataan temannya itu.
"Kau berikan pada Tuan Muda dan Nyonya Muda?"
"Ya, kucampurkan di kedua minuman mereka, tapi hanya Tuan Muda yang meminumnya."
"Jadi, Nyonya Muda tidak meminumnya? Itu artinya--"
Kalimat Prasojo menggantung, wajahnya menegang. Ia tidak bisa bayangkan jika Tuan Muda Pradipta memaksa istrinya untuk memuaskan hasratnya.
"Ckckckckck... tega sekali kau Sas." Prasojo menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Terpaksa, Pras. Tuan Muda tidak mau menyentuh Nyonya, dan Nona Ramona semakin agresif dan pasti akan semakin agresif karena Sebastian sudah dipecat. Dia akan memanfaatkan putrinya sendiri."
"Tapi apa kau tidak membayangkan bagaimana perasaan Nyonya saat ini? Pasti ia akan kecewa sekali dengan Tuan Muda dan itu akan melebarkan jarak antara mereka."
"Makanya aku minta kau ulur lagi waktu pengalihan kekayaan Nyonya Besar ke Tuan Muda. Paling tidak tunggulah 3 bulan lagi untuk memastikan Nyonya Muda mengandung atau tidak."
"Tidak bisa, Sas. Aku tidak bisa menundanya lagi. Kemarin Tuan Muda sendiri yang menanyakan langsung."
"Tundalah selama mungkin yang kau bisa Pras. Aku mohon."
"Oh iya, Pras. Kekayaan Nyonya Besar 'bagian abu-abu' tidak diketahui siapapun, kan? termasuk Tuan Muda."
"Tidak. Sesuai permintaan mendiang Nyonya Besar, 'bagian abu-abu' itu akan diberikan ke Nyonya Muda jika ia melahirkan anak Tuan Muda. Tapi, Sas apa kau tahu pengalihan warisan Nyonya Besar ke nama Tuan Muda hanya 80 persen. Sisanya ke nama Tuan Firza."
"Apa Nyonya Besar berkata seperti itu?"
"Tidak. Dalam wasiat Nyonya Besar, yang dibagi langsung hanyalah anak Tuan Muda dan Nyonya Muda jika ada. Untuk Tuan Muda dan Tuan Firza tidak disebutkan. 20 persen ini permintaan Nyonya Muda sebagai syarat ia bersedia dinikahi Tuan Muda."
Sasmita terbelalak kaget, "Apa yang membuat Nyonya meminta syarat seperti itu?"
"Entahlah. Ku kira Abyan memberitahumu."
"Hhhhhh .... anak-anak itu sekarang makin pintar menyembunyikan sesuatu dari kita, Sas. Kelak masa mereka akan jauh lebih kuat dari masa kita."
Sasmita mengangguk setuju. Ia, Iskhak dan Prasojo adalah orang-orang kepercayaan Nyonya Besar untuk mengawal secara diam-diam Edwin Pradipta, ayah Rayyendra, sekarang giliran putranya yang dijaga oleh mereka.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Rayyendra duduk di ruangan VVIP Amore Club & Party. Ia masih tidak habis pikir bahwa ia yang selalu bisa mengontrol diri, mengapa bisa hasratnya tidak bisa terbendung melihat Litha tanpa busana. Bahkan sekarang pikirannya semakin liar, tubuh polos istrinya di tempat tidur sangat memacu gairahnya, hanya saja wajah sedih dan airmatanya yang mengalir membuat kepala Ray pusing.
"Ray, ada apa? Ceritakan pada kami, biar kami bisa membantumu," ujar Bona.
Ray hanya diam saja, ia menatap gelas yang berisi minuman keras, tidak juga diminumnya. Senyumnya mengembang membayangkan Litha yang menggemaskan, tidak lama wajahnya berubah sedih dengan memorinya yang memaksa Litha memuaskan hasratnya. Setelah itu matanya menyalang marah mengingat istrinya menyebut nama orang yang dibencinya, Firza, Firza, dan Firza.
"Apa kubunuh saja dia biar namanya tidak kudengar lagi di telingaku."
"Yan, ada apa sih? Ray sudah seperti gila sendiri, sebentar-sebentar senyum, sebentar-sebentar sedih, sebentar-sebentar lagi marah."
Abyan yang ditanya hanya mengedikkan bahunya, ia juga tidak tahu ada masalah apa antara Ray dan Litha, Ray yang seperti tidak waras dan Litha seperti orang frustasi.
"Bon, mereka itu sudah terjebak sama kontrak yang mereka buat sendiri," kata Abyan menyimpulkan.
"Maksudnya?"
"Menurutku ya, ini menurutku saja, mereka tidak sadar kalau mereka saling menyukai."
"Ahh ... yang benar saja kamu, Yan. Ray kan, menikahi Litha hanya karena wasiat Nenek."
"Awalnya memang begitu, tapi mereka masuk dalam perangkap yang mereka buat sendiri."
"Lah, terus nasibnya Mona gimana? Dia masih menunggu Ray. Dia masih mencintai Ray."
"Ray dan Mona sudah tidak ada hubungan apapun sejak Ray berangkat ke Kota A untuk menikahi Litha. Hanya saja Mona tahu, pernikahan mereka hanya pernikahan sementara dan Mona tetap ingin menunggu Ray. Apa Ray berhak melarang keinginan hati seseorang?"
__ADS_1
"Hhhhhh ... wanita ... wanita, memang mahluk Tuhan satu ini susah ditebak maunya apa. Bikin kepala pening. Yan, apa kau pernah menyukai seseorang?"
"Hahahahahahaha ... tidak usah mengurus diriku, urus saja Ninda-mu hahahahaha ...." Abyan tergelak nyaring, anehnya Ray masih saja tidak bergeming menatap gelas. Apa dia benar-benar audah tidak waras?
"Yan, kau temani dia. Jangan sampai dia tiba-tiba menghancurkan tempatku hanya karena suasana hatinya tidak senang," ucapnya setelah membalas pesan teks di ponsel.
"Kau mau kemana?"
"Aku ada urusan di bawah. Nanti aku akan kembali."
"Oke."
Bona kemudian keluar untuk menemui Evan yang sudah menunggunya di lantai bawah.
"Selamat malam Tuan Bona," sapa Evan. Bona mengangguk.
"Sebenarnya malam ini aku mau meminta bantuanmu agar Ninda datang ke sini. Susah sekali untuk bertemu dan berbicara dengannya. Tapi, aku tunda besok malam saja karena aku harus menemani teman baikku yang sedang ada masalah. Malam ini kau bebas menikmati klubku, silahkan bersenang-senang tanpa batas."
"Wah ... benarkah? Kau memang yang terbaik, Tuan. Aku heran bagaimana Tuan bisa begitu tertarik dengan sepupuku yang culun itu?"
"Kau yang membawanya padaku pertama kali, kau ingat, kau dipukuli dengan tasnya waktu itu?"
"Ya ... ya ... dia selain culun juga galak. Tuan jangan tertipu dengan wajah lugunya hahahaha ... Tapi --"
Kalimat Evan menggantung. Ia memang brengsek dan peminum tapi kalau sudah berkaitan dengan sepupu perempuan satu-satunya di keluarganya, ia tidak bisa tinggal diam.
"Tuan tidak akan mempermainkannya kan?"
"Hah! Kenapa memangnya? Kau sudah dapat yang kau inginkan, kan?"
"Mohon maaf, Tuan. Ninda tidak sama dengan gadis lain. Kalau niat Tuan hanya ingin menjadikannya mainan, aku tidak akan membantumu."
Bona terdiam, awalnya ia kira Evan ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan. Ternyata ia salah, Ninda dan Evan saling melindungi satu sama lain, bahkan Ninda rela menumbalkan dirinya hanya untuk menyelamatkan Evan dari laporan di pihak berwajib.
"Tidak. Aku tidak akan mempermainkannya, aku hanya ingin berteman saja dengannya, tapi dia selalu menghindariku. Apa dia punya pacar sekarang?"
🙋 Ah, Bona, siasat andalanmu hanya 'berteman'. Tidak kreatif hahahaha .... 🙋
"Setahuku tidak."
"Bagaimana kau yakin? Bisa saja dia tidak memberitahumu?"
"Hahahahahaha ... temannya tidak banyak apalagi laki-laki. Bisa jadi ada laki-laki yang tertarik dengannya tapi dia selalu menghindar, seperti menghindarimu."
"Oh, ya? Apa dia anti laki-laki?"
"Tidak. Jika ia menghindar artinya --"
Evan terhenti melanjutkan kalimatnya. Matanya tengah memperhatikan seseorang yang sudah lama tak bertemu.
"Renata?" Evan meyakinkan diri ketika matanya menangkap salah satu meja yang berisi sekelompok orang.
"Ya, dia member VIP disini. Dia artis yang lagi naik daun, tentu saja kau mengenalnya."
"Heheh ... aku sangat mengenalnya sebelum dia terkenal, Tuan."
Bona mengernyit. Evan tanpa canggung menceritakan hubungannya dengan Renata di masa lalu dan sebab musababnya.
"Tidak kusangka dia seorang perundung, citranya yang baik di media berbanding terbalik dengan kenyataan," gumam Bona.
"Karena dia aku mengenal dunia malam seperti ini, dia juga yang mencekokiku pertama kali dengan shabu-shabu."
"What! Kau pemakai? Ini klub legal, Van. Kalau kau ingin mendapatkan barang haram itu disini, kau salah tempat," ujar Bona mengingatkan bahwa klubnya memang menyediakan semua berbagai jenis minuman keras tapi tidak dengan narkoba dan sejenisnya, itu syarat mutlak yang harus dipatuhi dari Rayyendra jika ia ingin Ray menjadi investor di klub miliknya.
"Hahahahaha ... berkat Ninda aku sudah tidak menjadi pemakai lagi."
Ninda ....
Bona semakin tertarik.
__ADS_1
- Bersambung --