
Berat rasanya kaki Litha melangkah masuk ke dalam rumah kostnya meski kamarnya berada di deretan paling depan.
"Diantar siapa, Tha?" tanya Mbak Gina, salah satu penghuni kost yang bekerja di pabrik tekstil.
"Eng ...."
Suara Litha menggantung, bingung mau menjawab apa, majikan bukan, teman apalagi.
"Kalau dilihat dari gayanya gak main-main loh. Ketemu dimana, Tha? Boleh dong dikenalin sama kita, jangan dimakan sendiri."
Kali ini Mbak Titin, teman sekamar Mbak Gina yang juga bekerja di pabrik tekstil ikut berkomentar. 'Di makan' ? Kenapa kata ini di telinga Litha terdengar kasar ya? Atau mungkin Litha moodnya lagi sensitif.
"Oh ya, Tha, dengar-dengar tadi malam ada percobaan pemerkosaan di ujung gang minimarket. Kamu hati-hati ya, biasanya kan kamu pulang kerjanya malam." sahut Mbak Yanti, paling senior di rumah kost putri ini.
"Iya Mbak. Litha masuk kamar dulu ya."
Litha pamit membuka pintu kamarnya, masih terdengar mereka membicarakan Litha, entah apa itu, Litha tidak peduli, lebih baik ia tidak mendengar sehingga ia tidak mengambil hati ucapan mereka.
Didapati Ninda masih tertidur padahal sore mau berakhir. Ia juga tidak peduli, Litha hanya ingin peduli dirinya sendiri di saat orang lain acuh padanya.
Diambilnya handuk yang menggantung di rak handuk, Litha ingin mandi, menyegarkan hatinya yang sebenarnya sudah tidak berbentuk.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Nona Litha izin tidak menemani sore ini, Nyonya, katanya tiba-tiba tidak enak badan," ujar Pak Is melapor ketika Nyonya Besar memasuki rumah utama.
Seharian ia keluar bersama Pak Sas ke kantor Prasojo Law Firm kemudian dilanjutkan ke Rumah Sakit milik Pradipta Corp.
"Tidak apa. Mungkin dia lelah karena pesta semalam. Apa ada yang ingin kau sampaikan lagi, Is?
"Ini, Nyonya,"
Pak Is memberikan ponselnya yang berisi rekaman video siang tadi di dapur rumah utama. Video yang berdurasi lumayan lama, mulai dari Litha membawa semangkuk besar telur puyuh sampai dengan Firza memukul keras meja marmer dapur.
"Hmmmppfhh ...." Nyonya Besar menghela nafas panjang.
"Nona Litha pulang diantar Tuan Rayyendra, Nyonya," lapor Pak Is lagi.
"Ya, terima kasih informasinya Pak Is. lalu sekarang di mana Firza?"
"Tuan Firza juga pulang tidak lama setelah Nona Litha masuk ke dalam mobil Tuan Rayyendra, Nyonya."
Nyonya Besar mengangguk, Pak Sas yang disampingnya bertanya, "Nyonya, apa sebaiknya ditangguhkan saja?"
"Tidak, Sas. Aku yakin ini lah yang terbaik, meski awalnya akan sulit."
"Tapi-- "
"Percaya padaku, jalankan saja apa yang kuperintahkan. Jaga Litha seperti kau menjagaku dan jangan tampakkan ke orang lain meski itu Ray dan Firza, bahkan Litha sendiri."
Ada misi rahasia jangka panjang yang harus dilaksanakan Pak Is dan Pak Sas dari Nyonya Besar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Setelah mandi Litha mengambil ponselnya, ia ingin menelepon Paman Tino yang cuti pulang kampung tanpa memberitahukannya.
"Halo," Litha memulai sambungan teleponnya.
"Ya, Litha."
__ADS_1
"Paman cuti pulang kampung ya? Kok gak bilang-bilang ke Litha sih?"
"Oh, iya, maaf Litha, Paman terburu-buru soalnya."
"Terburu-buru? Ada apa Paman? Apa ada yang terjadi dengan Ibu atau Bibi?"
Litha keheranan dengan alasan Paman Tino.
"Eng-- eng-- Tidak, semua baik-baik saja, Litha."
Tiba-tiba suara samar seorang wanita terdengar di belakang suara pamannya.
"Apa itu Ibu, Paman?" ujar Litha.
"Litha ... ini kamu, sayang? Apa kamu baik-baik saja?"
Suara Ibu menggema di ponselnya, tanpa dirasa airmata Litha luruh seketika, satu demi satu tanpa henti.
Hiks .... hiks .... hiks ....
Litha serasa ingin memeluk ibunya, menceritakan beberapa kejadian yang bagi dirinya sangat memalukan dan menodai harga dirinya sebagai seorang wanita. Tapi, ia urungkan, Litha tidak mau ibunya sedih dan memikirkan dirinya di ibukota, karena tentu akan berpengaruh pada kesehatan Ibu yang tak kunjung membaik.
"Baik, Ibu."
Litha menjawab lirih, ada pilu di suaranya, ia mengelap airmata dengan telapak tangannya.
"Ibu bagaimana disana? Apa Ibu masih menjalani kemoterapi?"
"Masih Litha, beruntung kamu bekerja di rumah Nyonya Besar dengan gaji yang sangat bagus, Ibu bisa menjalani kemoterapi dengan rutin, semoga hasilnya baik."
"Litha -- " Suata ibunya menggantung berat di sana.
"Kamu anak baik Litha, sangat baik. Ibu sangat bersyukur memiliki anak sepertimu. Tetaplah seperti ini ya, Nak, meski garis takdirmu terikat. Ibu minta maaf padamu Litha ... Semoga kebaikan-kebaikanmu membawa ikatan takdir yang baik untukmu. Maaf, Nak ... Huhuhuhuhuhuhuhu .... "
Suara ibunya di sebarang sana tiba-tiba pecah oleh tangisan, Litha sedih dan bingung. Sedih mendengar tangisan ibunya yang sangat menyayat hatinya, tangisan yang sama saat kakak perempuannya hilang kewarasan dan ayahnya kehilangan nyawa. Bingung, ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan ibunya. Tidak pernah sebelumnya ibunya berkata yang mengandung maksud tersirat. Ada apa dengan kata 'Maaf'?
"Litha ... Litha ... sudah dulu ya, Nak. semua disini baik-baik saja. Ibumu hanya rindu saja denganmu, soalnya Paman pulang tidak mengajakmu. Ibumu sangat terharu dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini. Jaga kesehatan dan dirimu di sana dan sementara Paman titip Tisha dulu ya."
Paman Tino mengambil alih dan menyudahi telepon di sana. Litha tidak diberikan kesempatan untuk bertanya apa yang terjadi, dia hanya diyakinkan bahwa keluarga di kota asalnya dalam keadaan baik, tidak lebih.
Ninda terbangun dari tidurnya, entah ia bermimpi apa sampai tidak mendengar apapun di sekitarnya.
"Tha, udah pulang?"
"Iya."
"Kamu habis nangis ya? Matamu sembab? Ada apa?"
Ninda bangun dari tidurnya dan duduk menghampiri Litha.
"Tidak ada apa-apa, Nin. Aku tadi habis telepon Paman Tino, dia pulang kampung tidak ngabar-ngabari. Aku juga sempat ngobrol sama Ibu tadi, ya hanya kangen saja."
Ninda mengelus pundak sahabatnya, ia tahu sesuatu terjadi pada Litha, tapi ia juga tidak ingin menanyakannya jika bukan Litha sendiri yang cerita padanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di dalam mobil Rayyendra, posisi yang tadi di duduki Litha sekarang digantikan oleh Ramona.
"Mau makan malam dimana?" tanya Rayyendra.
__ADS_1
"Grey Savanna."
"Tidak bosan?"
"Aku suka suasana romantis di sana. Cocok buat kita, Ray."
"Terserah saja."
Ray mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu yang ditujukan untuk Abyan, asistennya.
'Yan, kau pulang saja, tidak usah menungguku. Ramona mencegatku di loby kantor. Aku akan makan malam dengannya dan langsung pulang setelah selesai.'
Ramona sangat senang sekali, ia makan malam berdua dengan kekasih yang dicintainya, biasanya sangat sulit untuk memasukkan agenda makan malam di jadwal kegiatan Rayyendra, semua waktunya hanya untuk urusan pekerjaan.
"Lihat, Sayang ... Indah sekali pemandangan dari sini di malam hari, membuatku tidak ingin pulang," celoteh Mona manja, tangannya bergelayut mesra di lengan Rayyendra.
Rayyendra mengikuti kemauan Ramona malam ini untuk menebus rasa bersalahnya karena Mona merasa terhina di pesta ulang tahun kemarin. Ia tidak punya kuasa menentang kemauan neneknya yang membuat Ramona sedih.
Makan malam dilewati dengan begitu romantis, sampanye pun disajikan dengan elegan agar sepasang kekasih bisa memadu asmara dengan sempurna.
"Minumlah sendiri, Mona. Kau tahu kan, aku tidak minum jika bersama seorang wanita."
Rayyendra memperingati Ramona ketika kekasihnya itu menyodorkan paksa gelas yang berisi minuman beralkohol itu di bibirnya. Ditepisnya gelas itu dan diletakkan di atas meja.
"Itu kalau wanita lain, Ray! Aku kekasihmu sendiri, kau tidak perlu menjaga dirimu. Kalaupun terjadi ya sudah, itu artinya hubungan kita semakin erat dan menyatu, semakin tidak terpisahkan."
Ramona masih saja terobsesi untuk tidur dengan CEO tampan itu. Apalagi kemarin malam setelah pulang diantar Ray, ayahnya menggila dan menekan dirinya untuk menjerat Ray secara emosional.
"Mon, aku tidak ingin ada skandal Presdir Pradipta Corp."
"Tidak ada skandal kalau denganku, Ray. Aku kekasihmu yang kelak akan menjadi istrimu."
"Tetap saja! Aku tidak ingin resiko sekecil apapun untuk membuat nama Pradipta menjadi bulan-bulanan publik. Nama Pradipta sudah terjaga sejak awal, aku tidak ingin merusaknya. Paham!!!"
Rayyendra menekankan kata 'Paham' agar otak wanita yang duduk di depannya benar-benar paham. Ia tidak ingin minum bersama wanita. Sejatinya, Ray hanyalah lelaki normal pada umumnya, ia takut tidak bisa mengontrol hasrat di bawah pengaruh alkohol. Jika itu sampai terjadi, itu akan bisa mempengaruhi citranya di publik dan juga pasti akan mempengaruhi nama besar Pradipta Corp.
Ramona tidak bisa berbuat apa-apa, Ray tidak bisa dipaksa, ibarat tongkat kristal jika dipaksa bengkok, maka akan patah, dan Mona sama sekali tidak ingin mengambil resiko. Ia akan memikirkan cara lainnya nanti.
Makan malam dilewati biasa saja, hanya Mona yang sedikit dibawah pengaruh alkohol, ia menghabiskan sebotol sampanye sendirian karena sangat kesal Ray tidak mau diajak minum.
"Sudah sampai," kata Ray menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Ramona.
"Ray ... berikan aku ciuman!." Mona sedikit mabuk.
"Disini," sambungnya menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Ray tersenyum, diangkatnya dagu Ramona, bibirnya menyentuh bibir kekasihnya. Gadis bertubuh ramping itu langsung bereaksi dengan liar ******* dan menghisap bibir Ray seperti kesetanan. Alis Ray mengkerut, namun dia tetap saja mengikuti sampai dimana kemauan Ramona.
Begitu Ramona meminta lebih dengan menciumi leher pria beraroma maskulin itu, Rayyendra segera melepaskan dan berkata, "Cukup."
"Cih," Ramona mendecih tidak suka.
"Turunlah segera. Aku lelah, ingin istirahat." Ray membukakan pintu mobil dari dalam agar kekasihnya segera keluar dari mobilnya.
"Baiklah. Kau yang rugi mengabaikan ciumanku yang bisa menghangatkan malammu yang dingin," sahut Ramona sembari menutup pintu mobil. Ia berjalan memasuki gerbang rumahnya dengan sedikit sempoyongan.
"Heh ... Bubur polos tadi siang yang kudapatkan lebih hangat dari ciumanmu barusan," gumam Rayyendra melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ramona.
- Bersambung -
__ADS_1