Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Presdir yang Posesif


__ADS_3

Dua hari kedepan adalah hari ulang tahun Pradipta Corp., maka hari ini akan digelar rapat evaluasi kinerja triwulan sekaligus penentu apakah Rayyendra masih dianggap mampu untuk memimpin perusahaan besar tersebut sejak rumor foto mesranya. Walaupun sudah dibantu Nezar dibalik layar secara diam-diam, tidak serta merta citra Tuan Muda kembali 100%. Namun berbeda dengan istri Tuan Muda, dimata publik ia mendapat citra yang sangat positif dan menjadi role model seorang istri yang baik.


"Apapun yang terjadi nanti, Mas tetap suami yang aku cintai. Tidak akan berubah sedikitpun."


Litha menghibur hati suaminya yang gusar saat ia bantu memakaikan setelan kantor. Litha sangat memahami arti perusahaan itu bagi suaminya, Pradipta Corp. adalah hidupnya.


"Tapi, aku kok sakit hati ya, Lith, karena aku tidak melakukan kesalahan yang fatal. Aku sudah berusaha memperbaikinya, hanya saja waktu satu bulan tentu tidak cukup untuk mengembalikan seperti semula."


Litha tersenyum, menangkup wajah suaminya dengan kepala yang ia dongakkan, "Suamiku sayang, jangan berprasangka buruk terhadap apapun apalagi takdir Tuhan. Karena Tuhan akan mengikuti apa yang menjadi prasangka hambanya. Hadapilah dengan berjiwa besar jika memang pada akhirnya tidak seperti yang kau harapkan. Karena belum apa yang terlihat buruk di depan akan menjadi buruk di akhir. Kita sendiri lah penentunya untuk yang menjadikan akhir itu baik atau buruk."


Hati Ray terasa hangat, istrinya tahu bagaimana cara untuk membuatnya tenang. Ia memeluk Litha, "Terimakasih sudah menguatkanku, Sayang. Selama kau ada di sampingku, aku tidak perlu takut menghadapi apapun."


"Tetap tunjukkan kharisma Mas seperti biasa, yang membuat orang merasa segan dengan wibawamu ... Rayyendra Putra Pradipta, meski nanti bukan lagi Presdir Pradipta Corp. tapi selamanya ia menjadi Presdir di hati Navia Litha Sarasvati."


Cup, sebuah ciuman ringan di bibir lembab Ray dari istrinya meyakinkan bahwa hidup tidak berakhir jika ia tidak lagi menjabat Presiden Direktur.


.


.


.


Litha melayani suaminya sarapan dengan telaten. Lidya yang melihatnya kembali menyindir putranya, "Hhhh ... Kapan Abyan bisa dilayani seperti Nyonya melayani Tuan. Apa dia tidak malu menumpang sarapan dan makan malam disini terus?"


Uhukk...


Abyan tersedak oatmeal yang ada di dalam mulut, "Mulai lagi," keluhnya.


"Hahahahahaha ... Bibi akan membuatnya menolak untuk makan malam disini malam ini," gelak Ray.


Abyan mendengus sebal. Hampir tiap pagi ia sarapan dengan sindiran ibunya.


"Bibi, jangan seperti itu. Asisten Yan pasti akan mendapatkan cinta sejatinya suatu hari nanti," timpal Litha membela Asisten Yan.


"Suatu hari itu mungkin ibunya sudah mati."


Uhukk..


Kali ini, Rayyendra yang tersedak, Litha sampai berdiri dan menepuk-nepuk pundak suaminya, "Makanlah pelan-pelan."


"Kalau dia belum menikah juga, Bibi tuliskan saja wasiat dia menikah dengan siapa. Dia pasti tidak akan menolak dan akhirnya bahagia seperti kami," sahut Ray menggenggam tangan istrinya yang sudah duduk kembali.


"Sialan kau, Ray!" umpat Abyan dalam hati.


"Baiklah, Bibi akan mengikuti saran Tuan."


Abyan semakin dongkol mendengar ibunya berkata demikian, tapi ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada sahabatnya itu.


"Ray, Nyonya juga akan mengikuti rapat evaluasi hari ini."


"Apa?!? Tapi kenapa?" Ray menghentikan sarapannya.


"Tadi malam aku diberitahu untuk menyampaikan padamu jika rapat evaluasi ini harus diikuti Nyonya Pradipta, alasannya sendiri aku kurang tahu. Mungkin mereka penasaran dengan Nyonya," jawab Abyan.


"Apa yang akan kulakukan disana , Asisten Yan?"


"Saya juga tidak tahu Nyonya, mungkin ingin melihat langsung Nyonya, karena BeautyHeartPradipta makin populer."


"BeautyHeartPradipta?" tanya Ray dan Litha bersamaan.


"Itu fanbase Nyonya yang dibuat oleh seseorang karena orang itu sangat mengidolakan Nyonya, ya kurang lebih seperti Shortpink FC yang mengidolakanku," ucap Abyan bangga.


"Cih. Akhirnya kau bangga juga dengan celana pinkmu," kata Ray sebal.


"Buat apa diidolakan tapi tidak ada pasangan." Lidya menyindir lagi.


Abyan menghela nafasnya lagi, lebih baik dia diam daripada membalas sindiran ibunya


"Kenapa mereka membuat fanbase untukku, Asisten Yan? Aku kan bukan artis atau selebgram?"


"Nyonya memiliki pengagum rahasia."


Spontan Ray tersengat, wajah dan telinganya memerah istrinya dikagumi orang lain.

__ADS_1


"Aku tidak suka istriku dilihat orang lain apalagi sampai dikagumi. Yan, tutup fanbase itu. Aku tidak suka."


Abyan tergelak melihat wajah Ray memerah menahan marah karena cemburu.


.


.


.


Rayyendra berjalan menuju ruang rapat diikuti Litha dari belakang. Penampilan Litha yang sederhana dengan dress bermodel resmi tanpa blazer berwarna biru dongker yang kontras dengan warna kulit terangnya, sepatu flat warna coklat susu dan tas tangan warna senada membuatnya anggun dan dapat mengimbangi wibawa suaminya. Rambutnya diurai rapi dengan dihiasi jepitan mutiara untuk menutupi jejak merah kepemilikan suaminya di sekitar leher dan dada. Make-up tipis dengan lipstik warna pink muda menjadikan wajahnya segar dan manis.


Seluruh peserta seperti terhipnotis melihat Nyonya Pradipta yang malu-malu berjalan menggandeng lengan suaminya. Perutnya yang besar dengan tinggi badan tidak terlalu tinggi membuat siapapun melihatnya merasa gemas, sampai Ray berdehem keras beberapa kali untuk menghentikan pandangan mereka memperhatikan Litha.


.


.


.


"Atas pertimbangan dewan direksi dan para pemegang saham, kami masih mempercayai Tuan Rayyendra Putra Pradipta memegang tampuk kepemimpinan Pradipta Corp., sehingga jabatan Presiden Direktur akan tetap dipegang olehnya."


Ray mengerjap tidak percaya Firza menyampaikan keputusan yang tidak berani ia harap, "Be-- benarkah?" bathinnya.


Abyan terharu dengan keputusan tersebut, begitu juga Litha yang langsung berdiri dan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada semua orang yang hadir di ruangan rapat.


"Terimakasih tak terhingga kepada Bapak dan Ibu yang masih memberikan kesempatan kepada suami saya untuk memimpin perusahaan ini. Saya yakin Tuan Rayyendra akan lebih bijak dan memberikan yang terbaik bagi Pradipta Corp. sehingga ke depannya perusahaan ini akan semakin berjaya dan kuat."


Ray terhenyak, sepanjang ia memimpin Pradipta Corp ia tidak pernah melakukan hal seperti istrinya, berdiri, memberi hormat dan berterima kasih pada petinggi perusahaan yang sebagian besar adalah kawan ayahnya.


Bukan Ray saja tetapi seluruh peserta rapat juga bingung dengan sifat rendah hati Nyonya Pradipta yang berbanding terbalik dengan suaminya. Tidak lama kemudian, Firza berdiri dan memberikan tepuk tangan dan diikuti semuanya.


Ray canggung, tapi Litha mengkode melalui ekor matanya agar suaminya itu melakukan hal yang sama dengannya. Dengan berat hati ia mengikuti kemauan Litha daripada nanti malam ia tidur dipunggungi olehnya..


"Tuan Muda, mungkin Anda heran kami meminta Nyonya Pradipta hadir di rapat ini. Kami ingin Nyonya menjadi icon Pradipta Corp. karena sosok Nyonya memberi banyak dampak positif bagi perusahaan terutama di sektor usaha yang berkenaan dengan wanita," kata Tuan Wicaksana.


"Maksudnya?"


"Tidak! Istriku bukan aset perusahaan!" sergah Ray tiba-tiba.


"Mas ..." Litha menyentuh tangan suaminya yang mulai diliputi emosi.


"Enak saja kalian meminta istriku dipertontonkan pada orang banyak! Justru aku akan menutup fanbase sialan itu dan mencari siapa orang mendirikannya, akan aku kuliti dia hidup-hidup. Istriku hanya milikku, bahkan saat ini kalian sangat beruntung melihatnya langsung. Kalau saja aku tahu niat kalian seperti ini, aku tidak akan membawanya kesini, tidak peduli ada hubungannya atau tidak dengan ditetapkannya kembali aku sebagai Presdir. Yang jelas, istriku hanya milikku, bukan untuk kalian, apalagi orang banyak--"


"Mas ..." Litha mengeraskan suaranya agar suaminya ini berhenti meracau kemana-mana.


Abyan menundukkan kepalanya menahan senyum, "Dasar bucin akut! Apa kau tidak sadar kalau kau sedang memperlihatkan kecemburuanmu. Hahahaha... "


Semua orang terperangah, yang biasanya mereka takut dengan ucapan Ray, kali ini justru terlihat sangat menggelikan, Firza pun menepuk keningnya berkali-kali.


"Tuan, maksud kami adalah meminta kesediaan Nyonya mengisi posisi Direktur Prad's Fashion&Style yang saat ini kosong. Sentuhan dan citra Nyonya yang positif tentu akan memberikan nilai yang berbeda."


"Apa?!? Kalian meminta istriku bekerja di perusahaan? TIDAK!!!" kata Ray lantang, ia melihat wajah istrinya yang terkejut, mata membulat yang sangat disukainya.


"Aku tidak mengizinkannya bekerja, cukup aku saja sebagai kepala rumah tangga yang bekerja. Bagaimana kalau dia kecapekan bekerja lalu tidak bisa melayaniku di malam hari? Bagaimana kalau dia dipandangi terus oleh lawan bicaranya saat bekerja dan aku tidak ada di sampingnya. Kemarin saja ingin rasanya kucongkel mata Mr. Laurent yang terus menatap is--"


"MAS!!"


Litha bukan tidak tahan ocehan posesif suaminya yang sangat sering ia dengar di rumah, tapi Litha sangat malu dengan senyuman penuh arti orang-orang di ruang rapat.


"Ya Tuhan ... Ray! Kau sudah menelan*jangi dirimu sendiri hahahahahaha ... Kau lihat muka istrimu sudah seperti kepiting rebus. Hahahahaha ..." Abyan tidak dapat menahan tawanya, terlihat dari bahunya yang berguncang-guncang.


"Dasar Bocah! Lihat-lihat situasi kalau cemburu. Kau cukup mengatakan 'tidak' kalau memang tidak mengizinkan istrimu bekerja. Hahahaha ..." ejek Firza dalam hatinya dengan tertawa tanpa suara.


Rayyendra baru menyadari ucapannya, ia canggung dan malu. Baru kali ini ia melakukan hal ceroboh dan memalukan dalam rapat.


"Tuan Rayyendra, maafkan kami. Kami hanya terlalu excited pada citra Nyonya yang saat ini mampu mendongkrak popularitas Pradipta Corp. setelah sempat terpuruk karena tersebarnya foto-foto Anda. Bahkan saat zoom meeting dengan Mr. Anderson kemarin, ia mengatakan dengan jujur bahwa ia menerima tawaran kerjasama kita karena video presentasi Nyonya yang memukau dan sikap posesif yang Anda tunjukkan pada Mr. Laurent. Artinya, kami melihat Nyonya juga mempunyai kemampuan yang patut diperhitungkan. Namun, keputusan tetap ada di tangan Tuan Rayyendra selaku suami Nyonya."


Akhirnya Firza menjelaskan dengan sangat detail maksud dan tujuan mereka. Alhasil, Ray semakin salah tingkah dan tidak bisa berkata-kata lagi, apalagi dilihatnya Litha menghela nafas sembari mengelus-elus perutnya.


"Mati kau Ray, hahahahaha ..." umpat Abyan kegirangan.


"Bapak dan Ibu sekalian, terimakasih atas apresiasinya terhadap saya. Saya merasa sangat tersanjung sekali begitu pun suami saya. Tentunya saya sangat ingin bergabung bersama Pradipta Corp. secara langsung dengan memberikan kontribusi yang berarti. Namun, sebagai istri tetap izin saya berada di tangan Tuan Rayyendra," kata Litha pada akhirnya.

__ADS_1


Rayyendra kembali didapuk menjadi Presdir Pradipta Corp. lantaran pengaruh dari istrinya. Jadi benar adanya bahwa rejeki yang diperoleh suami sejatinya milik istri yang diberikan Tuhan melaluinya. Karena Tuhan melihat keikhlasan hati Litha yang kemudian menggerakkan hati para petinggi perusahaan untuk tetap mempercayai seorang Rayyendra menjadi pemimpin Pradipta Corp.


...***...


Sebastian meradang mengetahui putranya sudah ditetapkan sebagai tersangka pada kasus tindak pidana 5 tahun lalu yang dibuka kembali oleh Pak Prasojo, berkasnya pun sudah dilimpahkan pada instansi berikutnya yang lebih berwenang sebelum ke pengadilan, tidak lagi di kepolisian.


Winda Riguna menangis tidak berhenti meratapi nasib putranya yang sejatinya sudah tidak punya kehidupan.


"Seandainya kau tidak melarangnya untuk bertanggungjawab 5 tahun yang lalu, Lucas tidak akan seperti ini," raung Winda menyalahkan suaminya.


Ramona hanya tertawa sinis, di dalam hatinya membenarkan. Tapi tidak Sebastian, ia tidak mau disalahkan,


"Dia yang bodoh. Harusnya Lucas bisa mencari yang lebih baik daripada dengan wanita gila itu. Apa kau mau kita punya menantu gila, ha!!" hardik Sebastian, Istrinya semakin menangis.


Sejahat apapun, seorang Ibu tidak akan tega melihat cahaya kehidupan di wajah putra kandungnya hilang. Rasa bersalah Lucas telah memakan semangat hidupnya. Ketakutan pada ayahnya 5 tahun lalu telah membuatnya salah dalam mengambil keputusan, keputusan yang ia sesali seumur hidup. Andai saja waktu bisa diputar kembali, ia akan bersimpuh dan merengkuh di kaki kekasih dan juga keluarganya untuk memohon ampunan dan kesempatan memperbaiki, sayangnya jarum jam hanya bisa bergerak ke kanan, tidak pernah ke kiri.


"Mona, kau masih ingin melampiaskan dendammu kan?" tanya Sebastian pada putrinya. Ramona hanya mendelik jengah.


"Ja*lang itu berhasil mengacaukan perasaan putraku. Tidak akan kubiarkan dia hidup. Hah!!!" teriak Sebastian.


"Stop! Jangan kau menambah kekacauan lagi! Semua hal buruk terjadi karena kau terlalu tamak. Dan gilanya aku selalu mengikuti kemauanmu seperti mengadop--"


"Hentikan ocehanmu, Winda!" Sebastian langsung mencengkram kuat dagu istrinya, mencegah kalimat selanjutnya yang akan membuka rahasia putrinya.


"Ayah! ... Ibu kesakitan! ... Lepaskan!" Ramona berusaha melepaskan cengkraman tangan ayahnya di dagu ibunya yang sudah kemerahan.


"Baik! Akan aku lepaskan. Tapi kau ikut aku!" kata Sebastian pada Mona.


"Kemana?"


"Anak bodoh! Tentu saja memberi pelajaran buat wanita yang merebut kekasihmu. Bukankah kau sangat membencinya, hah! Dan juga lelaki itu yang mencampakkanmu."


"Ti--tidak Ayah. Aku tidak membenci Ray, aku mencintainya."


"Cinta! ... Cinta! ... CINTA!!!! ... Persetan dengan cinta! Cinta hanya akan membuatmu sengsara. Sekarang kita lihat wanita hamil itu bisa apa tanpa suaminya."


"A-- Ayah, apa maksudnya?"


"Dasar dungu! Tentu saja Ayah melalukan ini untukmu. Kalau ja*lang itu mati, kau bisa menggantikan tempatnya, bukankah itu yang kau mau."


Ramona diam sejenak berpikir.


"Setelah ja*lang itu mati, Ramona akan menjadi istri Tuan Muda Sialan, lalu akan kuhabisi dia menyusul si Ja*lang. Hahahaha ... Otomatis semua kekayaan Pradipta akan jatuh pada Ramona."


Sebastian melanjutkan rencananya dalam hati, tidak mungkin ia mengatakan akan menghabisi Rayyendra karena Mona akan langsung menolaknya. Ia akan memanfaatkan kebenciannya pada istri Tuan Muda untuk membantu dan menjadi tameng sekaligus kambing hitam akan perbuatan jahatnya.


"Apa kau melakukannya untukku, Ayah?" tanya Mona pelan.


"Tentu saja, kau putri Ayah satu-satunya, kebetulan dia juga yang membuat Lucas menderita dan masuk penjara. Sebagai Ayah kalian aku harus membela anak-anakku," bujuk Sebastian.


Hati Mona menghangat dibela ayahnya, ia lalu mendekati Winda dan berkata, "Ibu, berhenti menangis. Ayah akan melakukan sesuatu untuk kami. Tenanglah."


"Tidak Mona, jangaaan ..." Winda berkata pelan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mona, ambilkan Ibumu minum di dapur."


Mona mengangguk dan berjalan ke dapur. Selagi Mona mengambilkan air, Sebastian mencekik Winda dengan kejam.


"Sekali saja kau berkata yang membuat Ramona mengurungkan niatnya menghabisi wanita hamil itu, kau yang akan kuhabisi. Biarkan akau melakukannya tanpa mengotori tanganku."


"Jangan ... kasihan Mona."


"Kenapa harus kasihan? Dia bukan anak kandungku," bisik Sebastian di telinga Winda yang masih mengucurkan airmata tanpa suara, kali ini bukan karena sedih tapi lebih takut ancaman suaminya.


"Ibu, ini minumnya."


Mona menyodorkan segelas air. Sebastian yang mengambilnya dan menyuruh istrinya minum, dengan ketakutan yang sangat besar Winda menurut saja pada Sebastian.


"Aku akan menghubungi John dan Nick, maka bersiaplah, kita akan menyusun rencana malam ini," ujar Sebastian menyeringai lebar.


...***...


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2