Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

*** Firza ***


Sungguh pria bermata teduh itu merasa terperosok jatuh ke dalam kerak bumi mendengar apa yang diwasiatkan Neneknya.


Menikah ... Ray dan Litha ....


Kenapa???


Apa maksudnya ini???


Segala macam prasangka berkecamuk di kepalanya. Hebatnya, dia mampu menguasai diri, sekalut apapun jiwanya, penampakan dirinya masih sangat tenang, seperti ketika ia menyadarkan Litha diantara lamunan dan tangisan yang tidak berhenti dengan sentuhan lembut di bahu Litha.


"Istirahatlah. Pulihkan dulu keterkejutanmu baru kau buka surat dari Nenek," sahut Firza menyodorkan sepucuk surat.


Litha mengangguk pelan. Hati Firza sakit melihat mata indah Litha harus menganak sungai.


"Terima kasih Pak Prasojo atas bantuannya," ucap Firza menjabat tangan pengacara keluarga Pradipta setelah Litha meninggalkan ruangan.


"Sama-sama Tuan. Hmmmmpfhhh.... sebenarnya saya sangat berat untuk membacakan wasiat Nyonya Besar, tapi inilah amanat yang harus saya lakukan."


"Kami memakluminya, Pak. Tapi bolehkah saya bertanya, apa Pak Prasojo tahu alasan Nenek menulis wasiat seperti itu?"


Pak Prasojo menggeleng pelan dan berkata,


"Saya tidak tahu pasti. Secara mendadak Nyonya Besar datang ke kantor dan menulisnya di hadapan saya, Tuan. Nyonya hanya berkata pada saya, sebenarnya juga ia tidak sampai hati menulis wasiat ini bahkan Nyonya sempat menangis, lihat, tinta yang sedikit luntur ini disebabkan airmata Nyonya jatuh saat menulisnya. Tidak tahu apa yang Nyonya pikirkan tapi pasti itu hal yang sangat berat buatnya."


Benar, beberapa kata tintanya memudar terkena air, Firza termangu sejenak, berusaha menjadi Nenek di posisi saat itu agar mengerti maksud ia menulis wasiat aneh ini.


"Baik, Pak Prasojo, kami mengerti."


Setelah Firza mengantarkan Pak Prasojo keluar ruangan, ia menuju kamarnya di lantai dua. Semua tertata rapi dan bersih meski ia tidak lagi mendiami sejak ia bekerja di Pradipta Group.


Ada foto Firza dan Rayyendra kecil memeluk Nenek di meja console kamarnya, foto itu diambil dua bulan sebelum ia menerima nama Pradipta.


"Seandainya aku tahu bahwa nama Pradipta adalah tembok antara aku dan Ray, aku tidak akan mau menerimanya, Nek." Firza berbicara sendiri melihat foto itu.


Diambilnya surat dari saku kanan jasnya, hatinya bimbang untuk sejenak sebelum membuka lipatan surat.


Sayangku Firza....


Maafkan Nenekmu yang di akhir usia sangat egois, menuntut budi balasmu.


Tidak, jangan kau sangka Nenek pamrih dengan apa yang Nenek berikan untukmu. Rasa sayang Nenek padamu tulus dari hati Nenek.


Kau anak lelaki yang kini tumbuh bijaksana, Nenek sangat bangga padamu, bahkan Ray harus banyak belajar dari kedewasaanmu, tapi kau tahu sendiri kan, anak itu keras kepalanya melebihi batu. Namun bukankah sebuah batu lama-kelamaan akan terkikis jika tiap hari ditetesi air?


Firza, bukan tanpa alasan Nenek ingin menikahkan Ray dan Litha, meski itu akan menyakitkan bagi semua orang khususnya engkau, Nak.


Nenek bukan pula tidak tahu perasaanmu pada Litha, tapi Nenek mohon biarlah kali ini dia memutuskan sendiri dengan apa yang Nenek minta.

__ADS_1


Jika Litha menolak, maka rebutlah hatinya, jadikan ia wanitamu sesuai keinginanmu. Namun, jika Litha menerimanya, Nenek yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan. Nenek percaya padamu, Nenek bisa memegang janjimu.


Firza, kau tahu, kau seperti pelita di gelapnya hati Nenek setelah suami dan anak Nenek pergi. Kau yang menerangi Nenek dan Ray untuk tetap bergandengan tangan. Nenek menyayangimu dengan segenap jiwa raga Nenek.


Terima kasih untuk kesetiaan dan pengabdianmu untuk Keluarga Pradipta terutama untuk wanita tua ini yang kau sebut Nenek.


Sekali lagi Firza, ingatlah, Nenek selalu menyayangimu...


Entah apa yang dirasakan Firza dalam hatinya setelah membaca surat itu, yang jelas ada sakit yang tak berdarah.


Lama ia memandang ke arah taman barat tempat biasa ia melihat Nenek dan Litha bercengkrama. Moment yang sangat ia sukai dalam hidupnya, melihat dua orang kesayangannya saling berbagi tawa. Namun kini dua orang itu memberi perih dalam hidupnya yang harus ia obati sendiri.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar diketuk, Pak Is mengatakan kalau makan malam sudah siap. Firza mengangguk. Ketika ia tengah bersiap untuk turun, suara notifikasi pesan teks terdengar,


'Kak, apa aku bisa bertemu dengan Kakak sekarang?'


Dahi Firza mengernyit, sedikit heran tapi diketik juga balasan,


'Aku akan kesana. Tunggulah.'


Segera ia mengambil jas mantel dan kunci mobil, setelah ia berpamitan dan memohon maaf untuk tidak jadi makan malam di rumah pada Pak Is, Firza langsung menuju lokasi yang telah dikirim.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Litha menengok, tersenyum karena mendapati wajah tampan Firza yang menenangkan.


"Tidak juga Kak, saya hanya butuh udara segar, meski sekarang yang ada udara malam hehehehehe..."


"Kau sudah lebih baik dari tadi siang?"


Litha mengangguk.


"Kak ...."


"Hemmm... "


"Apa Kakak masih menyukaiku?"


Firza terhenyak, mengapa tiba-tiba Litha menanyakan perasaannya.


"Kenapa?" Firza tidak menjawab tapi malah balik bertanya.


"Karena jawaban Kakak yang akan jadi penentu jawabanku atas wasiat Nenek."


Glek....


Firza yang awalnya menatap Litha kini melepas pandangannya ke langit yang sudah gelap. Ia menghindari netra Litha, ia tidak akan bisa berbohong jika melakukannya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Setidaknya aku bisa memilih hidup dengan orang yang bisa menghargai aku."


Litha menjawabnya dengan tertunduk, kali ini ia ingin memutuskan dengan memikirkan dirinya sendiri. Meski perasaannya ke Firza saat ini hanyalah sebatas kakak, namun ia yakin ia bisa menumbuhkan perasaannya kelak.


"Ray akan menghargaimu, Litha."


"Jawaban apa ini!!! Kau membohonginya, Firza!" teriak hati kecilnya.


"Apa menurut Kakak, aku harus menuruti Nenek, menikah dengannya?"


Litha makin tertunduk, matanya berkaca-kaca. Firza, yang ia harapkan sebagai pertahanan terakhirnya untuk menghilangkan rasa bersalahnya pada Nenek dengan menolak permintaannya kini runtuh sudah.


"Nenek yang aku kenal, tidak akan memikirkan sesuatu tanpa sebab."


"Jadi apa alasan Nenek meminta Tuan Rayyendra untuk menikah denganku?" suara Litha bergetar.


"Karena kau bisa mengisi kekosongan dalam jiwa Ray."


"Kekosongan jiwa? Heh ... yang ada semua ini hanya omong kosong buatku!"


Firza kembali menatap Litha, agak terkejut melihatnya kembali berderai air mata.


"Litha, putuskanlah baik-baik tanpa kau melihat perasaanku. Apapun itu, aku akan selalu mendukungmu."


Firza ingin meraih tangan Litha, menguatkan hatinya, tapi diurungkan niatnya, ketika dengan cepat Litha menggerakkan tangannya menghapus airmata di pipinya.


"Ya, kau benar, Kak. Ini hidupku, jadi aku yang harus memutuskannya menerima Rayyendra sebagai suamiku atau tidak, menerima takdirku sebagai istri dari Tuan Pradipta yang dibencinya atau tidak."


Litha mengatakannya dengan jelas, namun justru membuat Firza merasa terkoyak. Matanya kini yang nampak berkaca-kaca, ditahannya sekuat tenaga agar kaca-kaca itu tidak pecah.


Litha menyesap sisa minuman coklat yang sudah dingin, lalu berkata,


"Aku mau pulang Kak."


Firza tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya ikut bersiap pulang mengikuti Litha.


"Kak, untuk terakhir kalinya kita disini, katakan kau masih menginginkanku, kau tidak ingin aku menikah dengan Rayyendra, Kak, kumohon.... agar aku tidak menyimpan rasa bersalah ini." pinta Litha dalam hati.


"Came on, Firza. Ini kesempatan terakhirmu. Katakan kau mencintainya, kau tidak ingin dia bersedia menikah dengan Ray. Ayo Firza, katakan..." suara hati Firza menjerit.


Litha memakai jaketnya, merogoh kunci di dalam tas selempangnya. Tanpa suara, hanya berpamitan dengan saling menganggukkan kepala.


Litha pulang mengendarai sepeda motor dengan rasa hampa. Dibelakang mobil Firza mengikutinya, tidak mendahului meski motor didepan berjalan pelan.


Kaca di mata Firza pun berserak. Ia menatap nanar punggung ramping gadis yang pada akhirnya tidak bisa ia miliki karena janji yang telah ia ikrarkan.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2